Puisi Cinta tentang Pluralisme

19/06/2012 § 3 Komentar

Review terhadap puisi Romi dan Yuli dari Cikeusik karya Denny JA

Oleh: Mustafa Ismail

Mengapa aku tak bisa memiliki keduanya?

Ah, yang seorang umat Ahmadiyah

 Seorang lagi Muslim garis keras.

Membaca puisi esai Romi dan Yuli dari Cikeusik, kita akan langsung teringat pada kisah Romeo dan Juliet karya William Shakespeare[1]. Puisi-esai yang terhimpun dalam buku “Atas Nama Cinta” ini (selanjutnya disebut puisi) berisi kisah cinta yang diwarnai permusuhan dua keluarga karena beda paham agama: antara keluarga Romi dan Yuli. Romi digambarkan sebagai warga Ahmadiyah, yang habis-habisan ditentang oleh kelompok Muslim garis keras yang diwakili keluarga Yuli.

Tentu ada perbedaan mendasar antara tragedi Romeo dan Juliet karya William Shakespeare dengan tragedi Romi dan Yuli dari Cikesik karya Denny JA ini. Jika karya Shakespeare lebih kuat mengungkapkan persoalan perjuangan cinta, namun dalam puisi Romi dan Yuli dari Cikeusik lebih mengungkap persoalan keberagamaan atau pluralisme. Denny lebih masuk untuk merefleksikan persoalan toleransi beragama ketimbang persoalan cinta itu.

Kita tahu, persoalan toleransi kini seperti memasuki babak kritis. Konflik-konflik karena keyakinan terus terjadi. Klaim kebenaran seperti dimonopoli oleh satu pihak, yang merasa kuat, sementara pihak lain yang lemah, dan minoritas, harus pasrah pada keadaan. Dan hal itu seperti didukung oleh negara. Kasus-kasus intoleransi, sebut saja salah satunya kasus Cikesik, pelakunya hanya divonis ringan oleh pengadilan: tiga bulan hingga enam bulan penjara. [2]

Penyebabnya peristiwa itu!

Tanggal 6 bulan Februari tahun 2011

Kampung Romi di Cikeusik dilanda huru-hara.

Ketika Jemaah Ahmadiyah sedang mengadakan pertemuan

Massa menyerang –

Dan nyawa empat orang

Melayang!

 

Ketegangan antara kelompok Muslim garis keras makin memuncak ketika MUI mengeluarkan fatwa pada 2005 bahwa Ahmadiyah sesat[3]. Untuk membentangkan sejarah itu, dalam puisi ini, Denny pun menulis.

Konon, sumber kekerasan adalah sebuah fatwa:

Ahmadiyah dinyatakan sesat tahun 2005.

Dan sejak itulah

Azab-sengsara menimpa para Ahmadi.

Sejak fatwa itu keluar, konflik demi konflik terjadi. Warga Ahmadiyah terus mendapat cercaan dan perlakukan kekerasan dari sebagian kelompok Muslim. Apalagi ketika keluar Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan  Jaksa Agung pada Juni 2008. Isinya meminta Ahmadiyah menghentikan semua kegiatannya. SKB itu, kemudian, seperti memberi ruang bagi sekelompok Muslim untuk terus melakukan berbagai upaya mendiskreditkan Ahmadiyah.

Sebenarnya, secara semiotik[4], puisi Romi dan Yuli dari Cikesik  tidak hanya berbicara tentang persoalan Ahmadiyah, juga merefleksikan persoalan-persoalan lain, utamanya kekerasan, yang dilakukan oleh sebagian kelompok dengan dalih moral dan agama. Mereka melakukan klaim kebenaran dengan cara pandang mereka sendiri, yang tentu saja, sering bertentangan dengan undang-undang dan hak asasi manusia. Mereka menisbikan kebenaran pihak lain.

Belum lama ini, misalnya, diskusi buku Irshad Manji dilarang di sejumlah tempat di Jakarta dan Yogyakarta. Bahkan, diskusi buku “Allah: Liberty and Love” itu di Lembaga Kajian Ilmu Sosial (LKIS) Yogyakarta diwarnai dengan kekerasan yang dilakukan oleh  sekelompok kalangan Muslim yang menolak Manji. Ironisnya, hingga kini, kasus penyerangan yang menyebabkan kantor LKIS ikut rusak itu seperti senyap. Boleh jadi, para pelaku kekerasan kini bisa melenggang bebas.

Inilah, sebetulnya, yang menjadi ancaman pluralisme. Pada satu sisi, kita mendeklarasikan sebagai bangsa menjunjung tinggi pluralisme lewat semboyan bhinneka tunggal ika, namun pada sisi lain aksi-aksi anti-pluralisme terus terjadi. Padahal, Islam – yang sejumlah wacananya kerap didefinisikan secara sepihak oleh sebagian kelompok – memuat konsep otentik tentang toleransi: lakum dinukum wailyadin (untukmu agamamu untukku agamaku).

Harusnya, hal itulah dasar bagi setiap pemeluknya untuk merentangkan kehidupan secara damai bersama para pemilik keyakinan berbeda. Penentangan terhadap keyakinan lain, apalagi pakai kekerasan, justru tak sesuai dengan semangat Islam rahmatan lil ‘alamin.[5] “Hakikat keimanan seseorang ditentukan sejauhmana ia bisa melakukan aksi-aksi keselamatan, sehingga apa pun persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat bisa diselesaikan dengan jalan damai. (Q.49:9)”[6]

Puisi Romi dan Yuli dari Cikesik  berada dalam koridor untuk mendorong semakin tumbuhnya kesadaran terhadap toleransi dan pluralisme itu. Dalam puisi ini, persoalan cinta hanya bungkus alias kemasan untuk mengajak publik betapa pentingnya saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Denny JA sedang mengkritik sebuah sikap beragama yang lebih mengandalkan otot daripada otot, lebih mengedepankan kebencian daripada kasih sayang.

Lewat puisi ini, pembaca diajak menjelajah kisah cinta Rokhmat alias Romi dengan Juleha alias Yuli, yang dramatik, sekaligus menggugah. Romi, putra seorang pengurus Ahmadiyah, digambarkan sebagai sosok yang terpelajar. Dan berkat kecerdasannya ia peroleh beasiswa/Belajar ilmu bisnis ke mancanegara. Ia tidak hanya belajar ilmu ekonomi, juga mempelajari filsafat dan pengetahuan Barat. Karena lahir dalam lingkungan Ahmadiyah, ia pun menjadi seorang Ahmadi.

Namun, tidak fanatik ia!

Semua agama warisan dunia

Bisa diikuti siapa saja

Bisa diambil inti sarinya

Untuk kebaikan semua,

 Begitu selalu katanya.

Sementara Yuli, asli Betawi, adalah putri seorang aktivis Islam garis keras. Mereka bertemu di taman kampus dalam sebuah pergelaran seni antar universitas.  Yuli terdengar melafalkan sajak Kahlil Gibran,/Bila cinta tlah memanggilmu, ikutlah jalannya walau mungkin berliku/ Dan bilamana sayapnya mendekapmu… Yuli seorang mahasiswa, sementara Romi seorang pengusaha franchise dan dosen muda dari universitas berbeda.

Dari situ, kisah cinta mereka mengalir. Semua terasa indah. Bahkan, mereka bersiap menikah. Kedua keluarga yakni pihak kelurga Romi dan Yuli pun bertemu, bermufakat, untuk menentukan waktu pernikahan. Undangan pernikahan segera disiapkan. Namun Yuli maupun keluarganya tidak pernah tahu bahwa Romi adalah putra seorang tokoh Ahmadiyah. Buat Romi, tidak penting menceritakan itu kepada Yuli. Sampai tragedik Cikesik pada 6 Februari 2011 itu terjadi.

Romi menahan air matanya, lalu dikatakannya,

Maafkan aku Yuli,

Aku tak pernah cerita itu;

Bagiku perbedaan paham agama

Tak perlu menjadi sengketa.

Semua kemudian buyar. Pembaca lalu dibawa pada ketegangan demi ketegangan hubungan Romi dan Yuli, sikap orang tua Yuli yang membatalkan rencana pernikahan, juga kondisi Yuli yang memburuk. Mirip dengan kisah Romeo dan Juliet karya Shakespeare, kisah Romi dan Yuli dalam puisi ini juga berakhir tragis. Dalam kisah milik Shakespeare, Romeo lebih duluan “pergi” setelah minum racun karena mengira Juliet – yang pingsan – telah mati. Lalu, ketika Juliet siuman, dan melihat Romeo telah mati, Juliet juga mengakhiri hidupnya.

Sementara dalam puisi Denny, Juliet digambarkan meninggal karena sakit. Penyakit lama Yuli kambuh./Kanker getah bening stadium dua, Kata dokter, ia masih bisa disembuhkan/Asalkan pikirannya lebih tenang. Namun meski akhirnya, setelah melalui berbagai ketegangan ideologis orang tua Yuli, kisah cinta itu disetujui, namun terlambat. Ketika kamar Yuli diketuk./ Dan ketika pintu dibuka paksa/ Mereka menyaksikan akhir sebuah cerita:/ Yuli sudah tergeletak/ Tanpa nyawa, Yuli sudah menghadap/ Yang Mahakuasa.

Lalu bagaimana nasib Romi? Denny membiarkan ending kisah ini menggantung. Puisi ini sangat mirip sebuah cerita pendek. Ia menggunakan struktur cerita pendek. [7] Di sana ada konflik, drama, plot, suspense, dan ending – yang dalam teori cerita pendek terbagi dua yakni ending terbuka dan tertutup. Ending terbuka membiarkan kisah itu diselesaikan pembaca, sementara ending tertutup penulis sendiri yang menyelesaikan ceritanya. Dan dalam kisah ini, Denny memilih ending terbuka.

Sehingga, membaca puisi ini, kita seperti diajak menelusuri jalan berliku kisah dua anak manusia itu, penuh suka-duka. Puisi ini berhasil menghadirkan kisah tragik secara sinematik dalam imajinasi pembaca, sehingga begitu meyakinkan dan seolah hadir dalam pikiran kita.[8] Ia tidak seperti sedang menghadirkan puisi – yang kerap dipersepsikan sebuah dunia yang gelap dan sulit dipahami – tapi sebuah gambar hidup ke hadapan pembaca.

Denny, dengan bahasa terang berderang, menyajikan fakta-fakta betapa sikap intoleransi bukan saja makin membuat kita makin terpuruk dalam pemikiran sempit dan menciptakan banyak musuh, juga melahirkan korban-korban sia-sia. Maka ia pun, lewat puisi ini, berupaya mengkampanyekan: mari hidup damai, mari saling mencinta, meski kita berbeda-beda. ***


[1] Romeo dan Juliet  karya William Shakespeare  mengisahkan sepasang muda-mudi yang saling jatuh cinta, namun terhalang karena keluarga mereka saling bermusuhan.  Di Indonesia, karya itu diterjemahkan Trisno Sumardjo ke dalam bahasa Indonesia.

[2] Majelis Hakim Pengadilan Negeri  Serang, Kamis (28 Juli 2011), menjatuhkan vonis tiga bulan hingga enam bulan potong masa tahanan bagi 12 terdakwa kasus Cikeusik. Dengan vonis itu, terdakwa yang sebelumnya ditahan segera bisa dibebaskan.

[3] Fatwa MUI yang dikeluarkan pada 28 Juli 2005 Nomor 11/MUNAS VII/MUI/15/2005 itu pada point pertama menyatakan:  Menegaskan kembali keputusan fatwa MUI dalam Munas II Tahun 1980 yang menetapkan bahwa Aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam).

[4] Semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda (simbol) dalam kehidupan manusia (Benny H. Hoed, Semiotik & Dinamika Sosial Budaya, Depok, 2011).

[5] “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

[6]  Budhy Munawar-Rachman dalam Islam dan Liberalisme, Friedrich Naumann Stiftung, Jakarta, Agustus 2011, halaman 104. Ia mengutip Mun’im A Sirry (ed). Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis, h. 180.

[7] Jakob Sumardjo dalam “Catatan Kecil tentang Menulis Cerpen”  (Pustaka Pelajar, 1997, hal. 59-60) mengatakan struktur cerpen secara mudah dapat digambarkan meliputi bagian permulaan, tengah dan bagian akhir. Pada bagian permulaan disajikan apa, siapa, dimana,  kapan dan munculnya konflik. Bagian tengah memuat perkembangan konflik. Sementara bagian akhir adalah ending.

[8] Joseph V. Mascelli dalam “The Five C’s of Cinematography” (IKJ, 2010) menyatakan citra-citra yang dihadirkan dalam film haruslah merupakan reproduksi kehidupan sesungguhnya atau sesuatu dunia kepura-puraan yang meyakinkan.

Iklan

§ 3 Responses to Puisi Cinta tentang Pluralisme

  • Bagus sekali puisi dan uraiannya; hmmm…. saya suka membacanya….

  • hamzah berkata:

    i like that

  • hamzah berkata:

    malu saya fitnah ahmadiyah, karena apa yang saya katakan pada mereka itu ternyata tidak benar.
    jelas suudah syahadat mereka sama, kitab suci mereka Al-Qur’an, mereka puasa shalat 5 waktu juga, naik haji ke ka’abah juga hanya saja pemerintah kalo tau mmelarangnya. yang membedakan mereka dan kita adalah nabi Isa mereka sudah turun sedang kita masih menunggu…. dimana nabi Isa kita, yang katanya akan turuun diakhir zaman, dan dimana imam mahdi kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Puisi Cinta tentang Pluralisme at .

meta

%d blogger menyukai ini: