Ketika Guru Berdialog dengan Sastrawan

28/06/2011 § Tinggalkan komentar

JAKARTA – Sumber ide menulis puisi, cerpen maupun novel, bisa didapat dari lingkungan di sekitar pengarang. “Ide untuk menulis tidak perlu dicari jauh-jauh ke gunung atau pantai, tapi cukup dicari dari lingkungan di sekitar sastrawan,” kata Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, dalam Dialog Guru dan Sastrawan, di Hotel Ratu Bidakara, Serang, Banten, kemarin (27/6).

Dialog yang diadakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Depdiknas bekerja sama dengan Kantor Bahasa Provinsi Banten itu juga menampilkan beberapa sastrawan sebagai pembicara, antara lain Ahmadun Yosi Herfanda, dan Dianing Widya Yudhistira. Acara juga diisi pembacaan puisi oleh Diah Hadaning, Asrizal Nur, Mustafa Ismail, dan Rukmi Wisnu Wardani, serta pembacaan fragmen cerpen oleh Go A. Gong.

Pada zaman dulu, tambah Suninto, pengarang suka menunggu ilham untuk menulis. Jika hanya menunggu, pengarang tidak akan produktif. Pengarang sebaiknya proaktif untuk menjemput ide atau menciptakan ide. “Ide menulis cerpen, misalnya, bisa berasal dari pengalaman masa kecil, cerita kawan, atau berita surat kabar yang dikemas ulang secara kreatif menjadi cerpen, “ tambah Ahmadun. “Setangkai bunga yang ditemukan di tepi jalan pun dapat direkayasa kisahnya menjadi cerpen,” tambah penyair “Sembahyang Rumputan” yang juga banyak menulis cerpen ini.

Dianing, yang tampil pada sesi terakhir, juga memiliki pengalaman yang sama. Novelnya, Sintren, sebagai contoh, diangkat dari pengalaman kawan sekolahnya menjadi sintren, kemudian diperkaya dengan cerita tentang tradisi Sintren di Batang, dan dikembangkan menjadi novel. “Pengalaman apapun dapat menjadi sumber ide untuk novel,” katanya.

Acara dialog berlangsung pada 26—28 Juni 2011, dihadiri oleh 40 orang yang terdiri atas guru, sastrawan, budayawan, dan masyarakat pelaku sastra di wilayah Serang Banten. Acara dibuka oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Wadiyo, didampingi oleh Kepala Subbidang Pembinaan Tenaga Kebahasaan dan Kesastraan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dra. Dad Murniah, M.Hum dan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten, Dra. Ovi Soviaty Rifay, M.Pd.

Kegiatan Dialog Guru dan Sastrawan diselenggarakan untuk memberikan kesempatan kepada guru untuk berinteraksi langsung dengan sastrawan dan menggali wawasan tentang kesastraan, menumbuhkan minat guru terhadap sastra sehingga guru mempunyai bekal untuk mengajarkan sastra di sekolah.

Suminto berbicara tentang Proses Kreatif Penulisan Puisi, Ahmadun tentang Proses Kreatif Penulisan Cerpen, dan Dianing tentang Proses Kreatif Penulisan Novel. Para narasumber didampingi para sastrawan Jakarta dan daerah Serang Banten, antara lain Diah Hadaning, Mustafa Ismail, Rukmi Wisnu Wardani, Asrizal Nur, Firman Venayaksa, dan Gol A Gong. (Serang, Banten) ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ketika Guru Berdialog dengan Sastrawan at .

meta

%d blogger menyukai ini: