Pemenang Novel DKJ 2010

16/01/2011 § Tinggalkan komentar

Jumat malam lalu (14/1/2011), Dewan Kesenian Jakarta mengumumkan para pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010. Seperti tahun lalu, tahun ini juga tidak ada juara utama. Yang adalah empat pemenang unggulan. Keempat karya unggulan itu adalah novel “Presiden” (karya Wisran Hadi), “Memoar Alang-Alang” (karya Hendri Teja), “Lampuki” (karya Arafat Nur) dan Jatisaba (karya Ramayda Akmal). Para pemenang menerima piagam dan uang hadiah masing-masing Rp 7,5 juta. Berikut adalah pertanggungjawaban juri terhadap pilihannya itu.

Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Menulis Novel
Dewan Kesenian Jakarta 2010

Seperti akan sepi peminat hingga sebulan menjelang batas akhir penerimaan naskah, sayembara penulisan novel DKJ 2010 ini akhirnya menerima 277 naskah dari para peserta yang berdomisili di berbagai kota di Indonesia, bahkan di luar negeri. Sebagian besar naskah masuk pada hari terakhir. Itu lumrah. Setiap pekerjaan, apa pun jenisnya termasuk menulis novel, memang selalu akan menghabiskan seluruh waktu yang disediakan.

Karena itu lomba penulisan novel menjadi penting artinya untuk mendorong orang menyelesaikan karyanya—sebab ada deadline di sana. Dan deadline selalu merupakan anasir penting yang bisa memaksa penulis merampungkan pekerjaannya. Kita tahu, tidak banyak orang yang bisa menentukan deadline bagi dirinya sendiri kapan harus merampungkan penulisan novel, kecuali ia sangat disiplin. Maka, inilah salah satu pencapaian terpenting lomba penulisan novel: ia mendorong banyak orang merampungkan penulisan novel mereka, mendorong lahirnya banyak karya.

Menghadapi tumpukan 254 naskah yang harus dinilai, kami dewan juri sempat berharap akan ada satu atau dua, syukur-syukur tiga, di antaranya yang menawarkan kejutan. Namun kejutan itu tak ada. Sebagian besar karya yang masuk adalah novel-novel yang akan tumbang pada halaman-halaman awal karena gagal mengikat pembaca untuk terus melanjutkan pembacaan. Beberapa cerita mampu menyajikan pembukaan yang menarik, tetapi kemudian berkembang menjadi lanturan yang bertele-tele dan kehilangan arah.

Mekanisme Penjurian dan Dasar Pertimbangan

Dalam penjurian yang berlangsung tiga bulan, dewan juri mengadakan tiga kali rapat. Rapat pertama untuk menyepakati poin-poin penilaian dan mekanisme penentuan pemenang. Rapat kedua masing-masing juri datang dengan menyodorkan 10 unggulan. Rapat ketiga untuk memutuskan pemenang.

Mengenai kriteria penjurian, Komite Sastra DKJ selaku panitia menyerahkan sepenuhnya kepada tiga orang juri yang mereka pilih. Dalam pembicaraan bertiga di antara dewan juri, akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa masing-masing dari kami—Anton Kurnia, A.S. Laksana, dan Sapardi Djoko Damono—memiliki pertimbangan sepenuhnya untuk memilh unggulan dan memberikan alasan untuk mempertanggungjawabkan pilihan tersebut.

Pada rapat kedua di mana setiap juri memilih 10 karya unggulan, urusannya masih mudah dan lancar. Jika pilihan masing-masing juri berbeda, maka ke-30 novel hasil seleksi awal ini akan dipertarungkan dalam penilaian akhir untuk menentukan satu pemenang utama dan empat unggulan. Secara kebetulan, seleksi tahap pertama ini menghasilkan 20 judul novel dengan rincian sebagai berikut: 2 novel ada dalam daftar unggulan semua juri, 6 novel dipilih oleh 2 juri, dan sisanya 12 novel dipilih oleh satu juri.

Perdebatan yang cukup alot terjadi pada rapat terakhir ketika tiap-tiap juri memberi argumen untuk mempertahankan pilihan masing-masing. Dalam rapat yang berlangsung selama tiga setengah jam itu dewan juri akhirnya bersepakat untuk memilih hanya empat unggulan dan tanpa pemenang utama. Keempat unggulan tersebut adalah naskah nomor 6 (Persiden), nomor 26 (Lampuki), nomor 39 (Jatisaba), dan nomor 130 (Memoar Alang-Alang). Ada hal-hal menarik pada masing-masing novel tersebut, namun ada kekurangan-kekurangan yang tidak memungkinkan kami menetapkan salah satunya menjadi pemenang utama. Berikut adalah catatan singkat tentang keempat novel unggulan dalam sayembara kali ini:

‘Persiden’ karya Wisran Hadi
Novel berlatar budaya Minangkabau yang mencoba mengangkat lokalitas dan persoalan-persoalan adat dengan cara pandang dan bentuk baru yang kritis. Tradisi dipertanyakan dan dibenturkan dengan kenyataan dan modernitas, bukan dimamah dan ditelan mentah-mentah. Alur bercabang di bagian akhir membuat novel ini lebih menarik dan tak konvensional.

Mengadopsi gaya kelisanan masyarakat Minang, yang suka meledek apa saja, dalam beberapa hal novel ini terasa menyegarkan. Namun seringkali terasa bahwa teknik kelisanan yang digunakan oleh penulis membawa risiko tersendiri: cerita menjadi melantur dan bertele-tele.

‘Lampuki’ karya Arafat Nur
Berlatar Aceh pada masa DOM, novel ini adalah satir cerdas tentang gebalau konflik TNI-GAM yang pada ujungnya menyengsarakan rakyat kecil. Dengan bahan cerita yang sangat emosional bagi rakyat Aceh, Lampuki mampu menjaga penokohan tidak menjadi hitam-putih, kendati karakterisasi tokoh utama/narator terasa kurang pendalaman. Upaya menyiasati bentuk tampak pada alur dan penokohan yang tak linear.

Ditulis dengan rasa humor yang cukup baik, dengan kalimat-kalimat yang beres, kadang terasa bahwa penulisnya agak kurang gigih mempertahankan kekuatan diksi. Pembaca bisa menemukan di sana-sini istilah yang tidak memiliki kekuatan literer, misalnya “pemerintah terkait”, “hidup makmur serba berkecukupan, dan sebagainya. Hal lain yang menjadi ganjalan utama, cerita berjalan sangat lambat.

‘Jatisaba’ karya Ramayda Akmal
Beragam karakter dimunculkan dalam cerita ini dan tertangani cukup baik. Hanya tokoh Sitas, perempuan kasar dan tukang bergunjing, kadang-kadang bersuara terlalu cerdas untuk karakter yang mendekati dungu. Menggarap masalah trafficking, yang dilakukan dengan kedok pengiriman TKI, novel ini dituturkan melalui sudut pandang si pelaku kejahatan, seorang perempuan yang sebelumnya juga menjadi korban kejahatan tersebut. Perempuan itu kembali ke desanya yang melarat dan kacau oleh situasi politik pilkades, mengkhianati kenangannya sendiri, mengkhianati kawan-kawan lama, dengan siapa ia sesungguhnya selalu ingin bersama-sama.

Ada kompleksitas masalah dalam masyarakat yang sederhana dan semua itu dituturkan secara enteng, seperti nyaris tanpa pemihakan atau emosi yang berlebihan. Bab I, yang merupakan kopian saja dari bagian tengah bab XX, harus ditulis ulang, atau dihilangkan saja. Masalah lain adalah kecenderungan yang tak tertahankan untuk menyelipkan bahasa lokal (terlalu sering dan terlalu banyak) dan itu sungguh mengganggu pembacaan.

‘Memoar Alang-alang’ karya Hendri Teja
Novel berlatar historis ini diilhami oleh kisah hidup tokoh faktual Tan Malaka (1896-1949). Penulis tampak berupaya melakukan riset untuk menghidupkan latar awal abad kedua puluh di Sumatra, Jawa, dan Belanda, serta atmosfer pergerakan nasional di tengah kungkungan kolonialisme. Sejumlah kejadian penting yang membangun watak, melandasi pilihan politik dan sikap hidup karakter utama berhasil dihidupkan dalam adegan-adegan yang menarik. Bangun cerita yang disusun lumayan memikat. Kisah cinta segi tiga yang disusupkan di antara jalinan utama cerita menghindarkan novel ini dari keterjerumusan menjadi sebuah risalah propaganda yang kering.

Kelemahan novel ini terletak pada penyusunan kalimat-kalimat yang sering rancu. Upaya terus-menerus untuk menggambarkan latar tempat dalam deskripsi yang statis membuat cerita berjalan lambat, sesuatu yang agak bertentangan dengan gejolak zaman dan pergolakan batin tokoh utama yang kelak menjadi tokoh pergerakan.

Catatan Umum atas Naskah-Naskah Peserta Sayembara

Hasil akhir di atas menyampaikan pesan yang cukup jelas, yakni bahwa harapan kami untuk mendapatkan satu saja karya yang istimewa tidak terpenuhi. Setidaknya, dalam pandangan kami dewan juri, tidak ada satu naskah yang benar-benar kuat untuk ditetapkan sebagai pemenang utama. Alih-alih menemukan satu atau dua yang istimewa, kami justru mendapati bahwa sebagian besar naskah yang disertakan dalam lomba kali ini mengecewakan dalam beberapa hal. Pertama, dalam hal keperajinan. Ini persoalan yang menjadi catatan utama dewan juri sayembara menulis novel DKJ dua tahun lalu. Dan tampaknya catatan itu masih harus diperpanjang sampai hari ini. Beberapa masalah pada keempat cerita di atas, yang terpilih sebagai unggulan, setidaknya bisa agak mewakili gambaran tentang lemahnya keperajiinan itu. Tentu saja ini adalah masalah mendasar yang harus segera dibereskan oleh para penulis itu sendiri. Tanpa kecakapan yang memadai, anda tahu, gagasan sebagus apa pun tidak akan menjadi karya yang menarik dibaca orang.

Kedua, sejumlah besar naskah menunjukkan kepada kita bahwa para penulisnya kurang membaca, atau kurang meluaskan minat terhadap bacaan. Ini berakibat pada miskinnya strategi literer yang mereka gunakan untuk membangun cerita. Dengan kata lain, kebanyakan dari mereka menulis dengan rujukan yang amat terbatas dalam hal teknik penceritaan, gaya bertutur, dan dalam mengupayakan berbagai kemungkinan bentuk. Sebagaimana dalam urusan-urusan lain, dalam penulisan pun kita perlu belajar banyak dari orang-orang yang lebih dulu dari kita. Mereka bisa dari mana saja dan kecakapan yang kita butuhkan bisa kita pelajari dari banyak sumber, dari banyak tempat.

Ketiga, ada kecenderungan luas untuk menjadikan sebuah karya sebagai kendaraan pengangkut dakwah, baik dakwah agama maupun dakwah sekuler, sehingga terasa bahwa para penulis hanya menunggangi cerita dan setiap karakter di dalamnya untuk kepentingan mereka sendiri, yakni menyampaikan petuah dan ajaran. Novel mereka dimaksudkan sebagai tanggapan langsung, yang nyaris tanpa pengendapan, dan sekaligus koreksi atas situasi hari ini. Ia memuat ide-ide besar, pernyataan-pernyataan besar, tetapi lupa membangun ceritanya menjadi dunia rekaan yang kokoh. Tampaknya, sebagian pengarang berhasrat menjadi reformer atau penggerak masyarakat.

Tentu saja niat apa pun dibolehkan dalam penulisan. Setiap penulis berhak menulis apa saja sekehendak hatinya. Namun setiap cerita yang baik selalu memperlihatkan kepada kita bahwa penulisnya memiliki kematangan teknis dan kepiawaian mengolah bahan dengan seluruh kecakapan dan pengetahuan yang ia miliki. Setiap cerita yang baik dengan demikian selalu menjadi dunia rekaan yang layak dipercaya: ia valid dan realistis menurut logika cerita itu sendiri, bahkan sekalipun yang diceritakan adalah dunia yang absurd atau kejadian-kejadian yang serba fantantis.

Itu tantangan umum bagi setiap penulis.

Tantangan lebih khusus yang menurut hemat kami perlu dijawab oleh penulis adalah bagaimana sebuah novel bisa memikat pembaca kita hari ini. Kita tahu, sekarang ini sebuah novel tidak hanya bertarung dengan novel-novel lain yang ditulis oleh penulis-penulis lain. Pertarungan lebih keras adalah melawan dongeng-dongeng lain yang lebih sanggup melayani zaman yang serba sibuk dan orang-orang yang tak memiliki banyak waktu. Anda bisa mendapatkan cerita menarik hanya dalam dua jam melalui sebuah film. Anda bisa mendapatkan cerita secara “gratis” melalui sinetron-sinetron.

Jadi apa yang membuat orang bertahan membaca novel? Apa yang bisa membuat orang mau bertekun dengan satu novel selama berjam-jam atau berhari-hari untuk menyelesaikan cerita dari halaman pertama hingga halaman akhir? Bagaimana sebuah novel bisa menarik perhatian pembaca yang sempit waktunya dan begitu beragam perhatiannya? Bagaimana bentuk penceritaan yang tepat utuk khalayak yang dirasuki oleh ide-ide tentang segala yang instan sementara novel sama sekali bukan sesuatu yang bisa diselesaikan secara instan?

Tampaknya hal-hal semacam itu belum menjadi perhatian para penulis peserta sayembara. Di luar naskah-naskah remaja yang terasa memindahkan kecerewetan sinetron ke dalam bentuk tertulis, banyak sekali novel yang pengisahannya begitu lambat dan berlarut-larut, seolah-olah tidak peduli apakah pembacanya punya waktu atau tidak. Seorang pembaca dengan minat yang baik terhadap bacaan mungkin tidak akan berkeberatan membaca naskah setebal 500 halaman—jika 500 halaman itu adalah ketebalan yang paling pas bagi novel tersebut. Artinya, novel itu tak mungkin ia diringkas-ringkas lagi.

Namun, jika novel 500 halaman bisa diringkus menjadi 150 halaman, misalnya, itu berarti ada kemubaziran sepanjang 350 halaman. Hal-hal mubazir inilah yang pada umumnya membuat cerita menjadi sangat lambat dan berlarut-larut, selain lemahnya kecakapan si penulis untuk menggerakkan cerita. Secara simpel kita bisa menganalogikan sebuah novel sebagai “riwayat hidup” yang sudah diringkas sedemikian rupa, yang sudah dibuang bagian-bagian buruknya, sehingga yang tersisa hanyalah hal-hal terbaik dari riwayat “tokoh(-tokoh) utama cerita itu”. Karena itu mestinya ia tidak mengizinkan di dalamnya bagian-bagian yang kedodoran. Salah satu yang paling bisa kita persalahkan dalam urusan kelambanan penuturan dan kemubaziran adalah kecakapan yang tidak memadai untuk menggerakkan cerita.

Dari segi tema cerita, naskah-naskah yang masuk dalam sayembara kali ini sebenarnya menawarkan keragaman yang menggambarkan luasnya lingkup perhatian para penulis terhadap persoalan di masyarakat kita hari ini. Kita bisa mendapati tema-tema politik, kebobrokan moral, eksploitasi di tiap jenjang terhadap TKI, trafficking, kegagalan reformasi, perbenturan tradisi dan modernitas, gugatan terhadap institusi keagamaan, dan sebagainya. Selain itu, cukup banyak juga penulis yang mengolah materi lokal, baik sejarah maupun dongeng, dan membaurkannya dengan situasi hari ini.

Dari sisi itu, kita bisa bersyukur bahwa ada upaya melakukan eksplorasi lebih luas untuk menggarap tema dan mengolah sumber-sumber unik dengan penguasaan yang baik dan rinci terhadap bahan yang dijadikan sumber.

Masalahnya, materi yang menarik tidak dengan sendirinya akan menghasilkan cerita yang baik. Ia membutuhkan prasyarat lain yang sangat mendasar, yakni keperajinan, dan kekayaan strategi literer. Ini adalah batu sandungan pertama yang akan menggelincirkan setiap upaya untuk menghasilkan karya yang baik. Lemahnya keperajinan telah membuat sejumlah novel yang dimaksudkan sebagai respons atas situasi aktual, misalnya kondisi politik pasca-reformasi atau kebobrokan moral di masyarakat, gagal mencapai bentuk terbaiknya. Dalam kedua jenis novel itu, sebagian menjadi alat penyampai petuah dan sebagian lagi menjadi semacam laporan jurnalistik yang tidak meyakinkan.

Bagaimanapun, dalam pekerjaan tulis-menulis, ada unsur pertukangan yang mestinya harus betul-betul dikuasai oleh penulis. Ini menyangkut penguasaan teknis atas pelbagai perangkat kebahasaan. Juga ketepatan penggunaannya.

Kita ambil satu contoh, dalam kecakapan deskripsi misalnya. Pada suatu masa di abad kesembilan belas, kehebatan seorang pengarang diukur dari kemampuannya melukiskan secara amat rinci segala hal. Sekarang, apa yang pada saat itu dianggap sebagai kepiawaian, mungkin akan menjadi hal yang menjemukan jika kita terapkan dalam penulisan hari ini. Kemampuan untuk melukiskan secara rinci tentu saja masih diperlukan, tetapi penulis hari ini harus melakukannya dengan strategi yang berbeda agar cerita tidak terasa mandek.

Penutup

Begitulah pandangan umum dewan juri dan pertimbangan kami dalam memilih empat naskah unggulan. Terlepas dari catatan yang berisi sejumlah “keberatan” terhadap naskah-naskah yang menjadi peserta sayembara menulis novel kali ini, kami mengucapkan terima kasih kepada setiap peserta yang telah mengirimkan naskahnya. Ucapan terima kasih juga sudah sepatutnya kita berikan kepada Dewan Kesenian Jakarta yang terus mempertahankan tradisi penyelenggaraan sayembara menulis novel ini. Tidak dalam setiap lomba kita akan mendapatkan karya pemenang yang istimewa. Namun lomba semacam ini terbukti telah merangsang lahirnya banyak karya.

Jika nasib kita mujur, dari sebuah lomba kita bisa mendapatkan karya pemenang yang benar-benar kuat, bahkan dari penulis yang sebelumnya tak pernah kita kenal. Dalam kasus seperti ini, kita bisa mengatakan bahwa lomba seringkali menjadi jalan pintas bagi penulis untuk dibicarakan orang. Pertarungan di media-media besar, kita tahu, membutuhkan waktu panjang dan ketekunan dan daya tahan sampai akhirnya seseorang membuktikan diri layak dapat tempat. Dan ada satu hal yang sering membuat frustrasi para pemula, yakni munculnya anggapan bahwa media sering lebih mengutamakan nama-nama yang sudah mapan. Gugatan semacam ini masih sering terdengar dalam pelbagai forum, terutama oleh para penulis yang merasa dipinggirkan.

Tanpa mempersoalkan benar tidaknya gugatan itu, kami berpendapat bahwa sayembara penulisan sebagaimana yang rutin diselenggarakan oleh DKJ ini akan merupakan kesempatan baik bagi para penulis untuk bertarung dalam situasi yang lebih fair. Para juri hanya memeriksa naskah tanpa nama, tanpa identitas penulisnya, sebab semuanya diganti dengan angka. Maka, dalam riwayat sayembara DKJ, kita sering mendapati bahwa para pemenang dan unggulan adalah nama-nama yang sama sekali baru. Beberapa bertahan dan semakin matang, beberapa hilang. Dan kita akan mendapatkan gantinya melalui lomba yang akan datang.

Jakarta, 14 Januari 2011

Dewan Juri
Anton Kurnia
A.S. Laksana
Sapardi Djoko Damono

———

Baca pula:
Pengarang Aceh Menangi Sayembara Sastra DKJ

Empat Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel DKJ 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pemenang Novel DKJ 2010 at .

meta

%d blogger menyukai ini: