Etno Nasionalisme Sastra

12/04/2009 § 3 Komentar

Azhari
[… Catatan: tulisan ini ditemukan di sebuah blog, diposting disini karena dianggap cukup menarik… ]

Tragik sastra bagi nasionalisme Indonesia ialah yang membayangkan sekaligus yang meruntuhkan. Konteks yang membayangkan, dalam histografi kebangsaan Indonesia, sastra dipuja-puji sebagai tangan tak terlihat dalam mendorong proses pemersatuan kampung-kampung, puak, suku-suku di Nusantara dalam nation keindonesiaan. Sastra ibarat sihir yang terus-menerus memberikan spirit magis bagi revolusi fisik, seolah ada semacam kepercayaan bahwa revolusi pra-Indonesia tidak akan terwujud jika an sich diperjuangkan lewat konfrontasi bersenjata atau diplomasi internasional.

Dan betapa kebutuhan terhadap legitimasi geografi mutlak dilakukan lewat kata-kata yang berpretensi sloganistik, menghasut, memberikan impresi secara intens bagi penduduk di Nusantara, yang secara ideologis akan mengeraskan betapa pentingnya kampung-kampung di Nusantara untuk berkumpul dalam sebuah rumah besar yang teduh, yang kelak dalam term modernisme disebut dengan nation-state. Itu diserukan lewat puisi atau prosa (cerpen, novel, atau drama). Dan, sastra menjadi juru kampanye kebangsaan yang signifikan.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, bagaimana sastra dapat merengkuh seluruh khalayak di Nusantara dalam menyerukan betapa mendesaknya ikhtiar pembentukan rumah Indonesia. Bukankah pada fase-fase tersebut penyebaran bentuk-bentuk kertas cetakan sangat terbatas, dan beredar di kalangan terbatas pula, pada segelintir orang yang dapat tulis-baca. Bukankah perihal ini menjadi kontradiksi tersendiri terhadap klaim bahwa kesusasteraan Indonesia memberikan pengaruh besar bagi penyadaran dan pemupukan nasionalisme Indonesia.

Seperti diktum yang disampaikan dengan baik oleh Ben Anderson dalam Imagined Communities yang masyhur itu, yang menjadi referensi absolut sosiolog, antropolog, dan kritikus-kritikus sastra Indonesia kontemporer. Ataukah justru perjalanan kesusastraan Indonesia terlanjur dipolitisasi sebagai pembentukan kesadaran berbangsa– seperti halnya pembabakan kesusasteraan Indonesia dalam konteks angkatan ini, angkatan itu. Betapa kelahiran angkatan sastra selalu diawali dengan suatu peristiwa politik tertentu. Seperti tentara saja! Agar ia (dapat) berarti dan ada, minimal sebagai warna tersendiri dalam grand narrative keindonesiaan. Ihwal kontradiksi tersebut tak akan didedah dalam tulisan ini.

Bukankah klaim bahwa kesusasteran memberikan kontribusi yang tidak bisa dibilang sedikit dalam membayangkan nasionalisme Republik terlanjur dirayakan. Saya tak ingin berbantah akan hal itu. Dalam pelbagai tulisan yang menyangkut hubungan sastra dengan nasionalisme, konteks pendekapan tersebut seolah menjadi keniscayaan. Agus R Sarjono, misalnya, dalam tulisan pembukanya di buku Pembebasan Budaya-Budaya Kita, menyorot secara romantik bagaimana karya-karya sastra pra- Indonesia seperti novel Salah Asuhan, Siti Nurbaya, Jalan Tak Ada Ujung, Keluarga Gerilya, dan cerpen-cerpen Idrus menjadi komparasi kritis bagaimana idealnya bangunan rumah Indonesia kelak. Seandainya hamparan wacana mengenai perlawanan kaum muda terhadap tradisi asal tidak ditulis dalam hamparan karya sastra, dan menyentuh hati pembaca untuk dijadikan bagian dari wacana bersama, bukan tidak mungkin ajakan untuk menyatukan diri dalam Sumpah Pemuda akan beroleh hasil yang lain sama sekali, seberapa keras pun agitasi penyatuan itu dikobarkan ke kalangan yang demikian beragam latar politik maupun latar tradisinya. Jadi, alangkah dahsyat dan pentingnya tuah sastra dalam sejarah kebangsaan Indonesia.

* * *

Sesungguhnya nasionalisme Indonesia, seperti halnya komunitas- komunitas post-kolonial lainnya, di mana kesepakatan untuk ‘membangsa’ adalah semacam anomali sejarah yang terus dipersoal-sengketakan, setidaknya dalam pandangan tokoh-tokoh etno-nasionalisme. Pada batas ini, kesusasteraan belumlah mengalami pergeseran sikap terhadap konsep nasionalisme. Bahkan, kesusasteraan bisa dikatakan masih setia pada posisi yang terus memberi terhadap pengayaan bentuk-bentuk sastra nasional.

Tetapi, ketika nasionalisme Indonesia tidak lagi diterjemahkan sebagai rumah yang menjaga semangat, dan kenyataan pluralitas kebudayaan di Nusantara, dan dalam paruh waktu yang relatif lama coba dimanipulasikan oleh kekuasaan menjadi akidah bernegara dan berbangsa secara rigid. Tentu dalam tafsiran nasionalisme yang demikian, apa pun bentuk negasi dan pembangkangan terhadapnya, semisal selera etno-nasionalisme kedaerahan (separatisme), sah untuk dihancurkan. Kita tahu bahwa gugatan-gugatan terhadap nasionalisme Indonesia bukan saja sebab kontradiksi-kontradiksi historis dalam membentuk komunitas awal pra- Indonesia, barangkali itu menjadi tidak penting dan dianggap sudah ‘selesai’. Tapi, lebih dari itu ialah persoalan keadilan, kesejahteraan, dan ketertindasan.

Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang menindas sub-sub kebudayaannya, nasionalisme yang telah menggairahkan rakyat Papua untuk segera merdeka, nasionalisme yang telah menyisakan dendam abadi kanak-kanak di Aceh, nasionalisme yang telah menyengsarakan kehidupan orang-orang di Timur Nusantara.

Nasionalisme yang kiranya diseberang apa yang dibayangkan dan diniatkan Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, ataupun Keluarga Gerilya–semua itu kini telah berwujud mitos dalam sejarah kesusasteraan Indonesia. Tuah itu kini runtuhlah sudah. Tuah tak terpisahkan antara sastra dan nasionalisme Indonesia.

Kenyataan yang telah mendorong kelahiran etno-nasionalisme sastra. Keinginan untuk meninjau ulang keabsahan nasionalisme keindonesiaan lewat wilayah kesusasteraan –sejenis subversi yang telah awal dilakukan melalui ranah politik.

Representasi dari fenomena etno-nasionalisme sastra dapat disimak dari perkembangan sastra mutakhir di Aceh (1998-2002). Aceh seperti kita ketahui adalah wilayah yang tak pernah senja dari pertikaian politik. Tolak- tarik antara pilihan untuk ‘terus membangsa’ dan niat–yang pada awalnya keinginan segelintir orang–untuk memberaikan diri dari kontrak politik dengan Indonesia mendominasi arah ‘pertikaian’ selama ini. Pertikaian yang disikapi dengan kehadiran beribu-ribu tentara, pe-label-an Daerah Operasi Militer (DOM), dan kengototan untuk memenangkan nasionalisme dengan membabi-buta, yang akhirnya berdampak pada pelanggaran HAM dalam kuantitas yang fantatis –dan negara menjadi terdakwa utama di dalamnya, negara dalam kapasitasnya sebagai representasi paling mendekati, untuk tidak mengatakan tepat, daripada nasionalisme itu sendiri.

Dalam konteks ini, munculah tema-tema etno-nasionalisme dalam karya- karya penyair Aceh. Puisi-puisi dengan judul seperti; Indonesia Apalagi yang Kau Minta (Wiratmadinata), Seperti Belanda (Fikar W Eda), Masih Indonesiakah Kau (Rosni Idham), Jangan Biarkan Air Mata Kami Menjelma Mata Rencong (Maskirbi), Menggugat Indonesia (A A Manggeng), Mengapa Aku Angkat Senjata (din saja), Inong Balee (D Kemalawati), Seumangat (A A Manggeng), 1999 Aceh (Salman Yoga), Satu Ton Airmata (Nurdin F Joes), Kita Berteriak Merdeka (Mustafa Ismail), Kita Telah Diajarkan Sejarah (Nurgani Asyik), Sajak Kemerdekaan (Nurgani Asyik), Gumam (Wina Sw1), Tetapi Aceh 1 (Salman Yoga), Aceh Dalam Bahaya (din saja) untuk menyebut beberapa, tidak bisa dikatakan sebatas dalam konteks meneriakan bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat di Aceh, ataupun sebagai bentuk-bentuk ketidakpuasan akan rasa keadilan yang diartikan sebagai eksploitasi Pusat (Negara) terhadap sub-nasionnya, tetapi lebih dari itu, yakni kemunculan pada tataran kesadaran para sastrawan Aceh terhadap entitas etno-nasionalisme (etnisitas keacehan) sebagai antitesis nasionalisme politik atau konsep-konsep negara integralistik –yang dalam pandangan tersebut telah kehilangan pesona persuasifnya, dan bukankah aparatus nasionalisme represif telah menyuburkan penderitaan permanen terhadap klaim-klaim teritorialnya?.

Pada akhirnya kesadaran terhadap etno-nasionalisme muncul dari ranah sastra! –mengikuti jejak kesadaran terhadap etno-nasionalisme keacehan yang lebih dulu booming melalui gerakan politik, semisal GAM dan tuntutan referendum. Seperti yang telah disingung di atas, gugatan etnisitas terhadap komunitas post-kolonial dominan dilakukan melalui gerakan politik; seperti ASNLF (Aceh-Indonesia), SIRA (Aceh-Indonesia), CNRT (Timor Leste), Moro (Filipina), Kashmir (India), Karen (Birma), Tamil (Sri Lanka), dan lain-lain. Dan hal tersebut merupakan reaksi global atas rapuhnya konsep nasionalisme.

Gejala etno-nasionalisme sastra dapat dikatakan semacam titik-balik dalam lintasan ‘kepercayaan’ pra-nasionalisme bahwa sastra mempunyai peran yang signifikan dalam membayangkan sebuah komunitas. Titik balik itu, yakni proses dekonstruksi tekstual terhadap apa yang disebut Ben Anderson dengan Imagined Communities-nya yang konon sangat berperan dalam membentuk bayangan akan pentingnya komunitas besar dan permanen di gugusan yang mengalami derita refresi kolonialisme, seperti Indonesia. Dan kelihatannya konteks gugatan berkelin dan tetap pada latar belakang yang sama, realitas penindasan! Seperti halnya ketidakadilan- ketidakadilan yang dilakukan sang kolonial terhadap Hindia Belanda.

Nah, lebih jauh, disebabkan secara historis Aceh juga ikut terbentuk pada pengalaman dan lingkaran yang sama (ikut membayangkan Indonesia sebagai komunitas bangsa), maka kesadaran terhadap pembongkaran (saya menyebutnya mempertimbangkan komunitas-komunitas terbayang) yang dilakukan lewat ranah sastra menjadi menarik, terlebih lagi kesadaran tersebut justru melahirkan pembayangan-pembayangan baru, tetapi dalam scope ‘kebangsaan’ yang sesungguhnya lama, karena tak dapat lepas dari sentimen romantik-nostalgik bahwa Aceh dulunya adalah entitas utuh sebagai sebuah bangsa –ihwal ini setidaknya untuk saat ini dirayakan sebagai klaim historis.

Jika kesadaran etno-nasionalisme ke-aceh-an, atau ke-papu-an, ke-riau-an yang diniatkan lewat pembayangan kehadiran komunitas, meminjam istilah Romo Mangun, sesudah-Indonesia, apakah sebatas kesadaran etno- nasionalisme politik, pembayangan yang disebabkan oleh realitas penindasan, ketidakadilan, ataupun kemiskinan, lalu membayangkan sebuah komunitas baru yang ‘mooi’. Atau justru melambung ke paradigma tentang kesadaran nasionalisme kultural, yang tidak pernah didapatkan dalam pembayangan-pembayangan keindonesiaan, sekalipun untuk itu Siti Nurbaya harus diracun, Keluarga Gerilya harus merelakan rumah-tangga mereka luruh untuk rumah yang lebih besar –rumah Indonesia, dan Hanafi terkutuk di muka tradisi, karena pembayangan keindonesian berhenti pada tapal nasionalisme politik, yang terbukti menggerus dan mereduksi potensi keberagaman kebudayaan.

Artinya, kalau pembayangan etno-nasionalisme sastra terbatas dan berhenti pada pembayangan etno-nasionalisme politik an sich, kasusnya akan berulang serupa dengan nasionalisme Indonesia, yang menghasilkan rush kebangsaan yang temporer, dan nyaris gagal. Jadi, teruslah membayangkan.******

Penulis adalah cerpenis dan penyair tinggal di Banda Aceh.

§ 3 Responses to Etno Nasionalisme Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Etno Nasionalisme Sastra at .

meta

%d blogger menyukai ini: