Sajak-sajak Mustafa Ismail

02/11/2008 § Tinggalkan komentar

Sumber: Jurnal Nasional, Minggu 2 November 2008

MATA TEDUH

aku melintasi rumahmu siang itu dengan mata
mencari-cari. di manakah tersimpan mata teduh
beserta cerita masa lampau: desir angin dari
pantai dan liukan tanganmu di senja temaram
menebar cahaya di keheningan

menitipkan pagi di matamu, anak-anak rambutmu
seketika terbang, seperti tarian rumput di hening subuh
bersijengkat dengan butiran embun yang luruh
semalam kita bermimpi lebih awal: bocah-bocah lucu
bermain di halaman

aku ingin berbaring dalam desir angin yang
menulis riwayat kita di atas batu
membangunkanmu seperti subuh itu
dengan ketap mulut dari luar pagar
lalu kita menatap pagi dengan cerita sekarang

tapi di manakah sisa hujan yang membentuk
titik-titik rumah di rambutmu
dengan sepetak danau membentang di halaman
dan angsa-angsa mirip perahu kapas berkejaran
menembus sore yang dingin

aku melintasi rumahmu sambil mencari-cari:
kau berdiri di tepi jendela dengan seekor merpati
mengibas-ngibas sayap putihnya
aku berhenti dan langit sekejab menjadi malam
kau menjelma burung-burung yang terbang jauh

Banda Aceh, Maret 2006

MENULIS PANTAI

ketika langit seterang inilah, sambil menelusuri jalanan,
kita bersenda gurau, membincangkan cahaya

aku tak hafal lagi siapa namamu: mawarkah
yang semerbak tiap pagi, menelusup hati di yang pedih

aku ingat, di kampungmu sempat meletus perang
orang-orang pergi dengan mata memerah

pantai ini pun sempat ditinggal pergi
orang-orang membikin pantai baru di tengah sawah

di manakah kau ketika langit penuh percik api
dan jalanan adalah tandu kematian

kau pun mungkin sedang memendam gelisah:
banyak orang pergi, malam jadi mati

ketika langit seterang inilah, pada satu siang,
kita telusuri jalan-jalan kecil di kotamu

menggambar pengantin, membayangkan danau
di kehijauan musim

seperti melukis perjalanan yang jauh
tak pernah membayangkan malam mencekam

Pantai Sigli, 8 Maret 2006

JEJAK SORE
: musmarwan

aku menelusurimu lewat kabel telepon yang terputus,
dari kepingan-kepingan puzle yang tercecer,
lewat cerita pendek yang belum kau tuliskan

aku menulusurimu dengan keharuan pejalan jauh,
datang dengan sederet kenangan: bulat bulan penuh di atas
jembatan Tiro dan anak-anak muda kembali bergitar

aku membayangkanmu kembali menulis cerita tentang
lelaki muda yang kehilangan matahari oleh rumah-rumah
baru tanpa halaman, yang berjejal seperti lautan kubus

aku lihat matamu menyimpan perih sore kemarin:
tangis bocah, ratap ibu, malam gelap, juga tarian ombak
yang meraup rumah-rumah

aku membayangkan cerita-cerita itu menjejak di matamu
membentuk puncak gunung dengan pohon rimbun
gemericik sungai mengalir di kakinya.

Pantai Sigli, 8 Maret 2006

SAREE

di bawah rimbun rambutmu, pohon-pohon
menarikan musim yang berganti
setelah malam-malam menegangkan itu lewat.

Pegunungan Seulawah, Aceh, 8 Maret 2006

MEMONARA

di beranda itu, kita pernah duduk membicarakan laut:
perahu yang sendiri dan angin senyap

pantai berdebur tak jauh dari situ
aku ingin mengajakmu berlayar, mengayuh perahu,
menari di tengah laut

mungkin kita terdampar di Balohan
atau di tepi bukit yang memagari laut
dengan pohon-pohon rindang

lalu kita bikin dangau beratap daun
di atasnya tiap pagi kau mengeringkan rambut
sehabis bercinta semalaman

di beranda itu, kita duduk membicarakan laut
tapi tak pernah membayangkan laut merenggut
beranda itu pun tak luput

Pantai Ulee Lheue, 12 Maret 2006

SEPERTI MIMPI KECIL

mobil siapakah selalu
mengganggu nyenyak kita ibu, tanyamu.

kau jengah,
begitu banyak senyum berseri,
beratus-ratus orang singgah,
tapi kau tetap terperosok sunyi

desember itu seperti mimpi kecil
tak ada yang membuatmu tersenyum

kecuali bayangan demi bayangan,
datang silih berganti
kau tetap menghadapi mimpi buruk:
tubuhmu makin kecil didera angin

kau selalu mengangankan rumah,
dengan jendela menghadap matahari,
tiap pagi kau bersenandung tentang
padang rumput dan laut raya

tapi ibu, tanyamu, mengapa cuma tanah lapang,
kita membasuh keringat di depan mata orang
kau pun bersetubuh hanya ditutup kain panjang,
di bawah malam redup.

mengapa desember seperti mimpi kecil,
padahal luka kita begitu panjang

Depok, 20 Desember 2005.

RUMAH BIRU

aku membayangkan rumah itu berwarna biru
halamannya menjadi tepi pantai

jejak kanak-kanak mengepul, bagai pelangi,
menancap dari Meue hingga ruang tidurku

mengirim sejuta wajah: mak di sawah,
abu chik mengayuh sepeda kumbang,

malam mencekam, sampan menggigil,
sawah retak, anak-anak kehilangan bapak,

juga wajah Chik Man yang ketakutan
di depan peminta-minta

kemarin, ombak meninggi dan
orang-orang berlarian. Rumah itu sunyi

aku membayangkan rumah itu berwarna biru
menungguku datang, menyiram halaman.

Depok, 2 Maret 2006

BATU

di atas batu ini, laut teramat jauh,
matahari redup

kita meniti dengan mata nanar
waktu tak bergerak

anak-anak bermain di atas mimpi
pagi begitu lusuh

kita menanam padi, kangkung,
dan sebatang pohon

tiap pagi yang tampak adalah
daun kering dan batang terkulai

hujan tak datang,
panas tak lekang

Depok, 11 April 2006

BAYANGAN DESEMBER

— ke ulee lheue bersama saiful bahri

bayangan hitam desember
berarak, menjelma gelombang
membikin rumah jadi batu

kabut kerap menutup pantai
di tengah laut, awan membentuk galah panjang
menancap ke langit.

itu awan pembawa hujan, kataku,
tapi kau terdiam
wajahmu kusut, matamu nanar.

kami tak lagi datang ke pantai
pada hari minggu, katamu,
karena laut menyimpan gelombang

Pantai Ulee Lheue-Banda Aceh, 12 Maret 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sajak-sajak Mustafa Ismail at .

meta

%d blogger menyukai ini: