Sastra sebagai Agen Perubahan Budaya

21/07/2008 § 4 Komentar

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda
Ini makalah yang disampaikan pada seminar Pesta Penyair Nusantara Kediri, 30 Juni – 3 Juli 2008.

ahmadun yosi herfanda

Sastra, sudah lama diakui, memiliki potensi besar untuk membawa masyarakat ke arah perubahan, semacam perubahan sosial dan budaya. Sastra bahkan sudah lama diakui dapat menjadi sumber spirit kebangkitan suatu bangsa, spirit cinta pada tanah air, dan sumber semangat patriotik untuk melawan segala bentuk penjajahan. Ini adalah ‘keyakinan estetik’ yang bersifat pragmatik tentang sastra, bahwa karya sastra dapat menjadi sumber inspirasi dan pendorong kekuatan moral bagi proses perubahan social-budaya dari keadaan yang terpuruk dan ‘terjajah’ ke keadaan yang mandiri dan merdeka.

Kalangan pragmatik — yang cenderung memandang karya sastra dari sisi manfaat non-literernya – berkeyanikan bahwa karya sastra yang bagus memang tidak hanya memancarkan pesona estetik (keindahan) tapi juga mampu memberikan pencerahan batin dan intelektual kepada pembacanya. Dalam bahasa pers, ia mampu membangun semacam opini publik. Jika bangunan opini publik itu menguat dan meluas, maka dari situlah proses perubahan sosial-budaya dapat digerakkan.
Jika paradigma tersebut dirujukkan kepada pemikiran Abrams (1981) tentang orientasi penciptaan sastra, maka tujuan kebermanfaatan sastra itu sesuai dengan orientasi kedua. Berdasarkan tujuan penciptaannya, Abrams mengelompokkan karya sastra ke dalam empat orientasi. Pertama, karya sastra sebagai tiruan alam atau penggambaran alam. Kedua, karya sastra sebagai media untuk mencapai tujuan tertentu pada pembacanya. Ketiga, karya sastra sebagai pancaran perasaan, pikiran, ataupun pengalaman sastrawannya. Dan, keempat, karya sastra sebagai sesuatu yang otonom, mandiri, lepas dari alam sekelilingnya, pembaca maupun pengarangnya.
Sebenarnya, apapun orientasi penciptaan karya sastra, karena merupakan sekumpulan sistem tanda yang menyimpan makna, maka ia akan memiliki kemampuan tersembunyi (subversif) untuk mempengaruhi perasaan dan pikiran pembacanya. Banyak orang, misalnya, meyakini bahwa karya-karya besar seperti Max Havelar (Multatuli), Uncle Tom Cabin (Beecher Stower), dan sajak-sajak Rabindranat Tagore telah menginspirasi perubahan sosial di lingkungan masyarakat pembacanya masing-masing. Max Havelar menginspirasi gerakan politik etis di Hindia Belanda, sajak-sajak Tagore mendorong gerakan pembebasan bangsa India dari penjajahan Inggris, dan Uncle Tom Cabin menginspirasi gerakan anti-perbudakan di Amerika Serikat.
Dapat disebut juga sajak-sajak cinta tanah air Mohammad Yamin dan Ki Hajar Dewantara yang ikut memupuk rasa kebangsaan anak-anak muda generasi 1920-an dan 1930-an dan sangat mungkin menjadi salah satu sumber inrspirasi lahirnya Sumpah Pemuda. Sementara, sajak-sajak patriotik Chairil Anwar, seperti Diponegoro, Kerawang-Bekasi, Kepada Bung Karno, ikut menyemangati generasi 1940-an untuk merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda.
Di dalam khasanah sastra Islam, sajak-sajak Mohammad Iqbal juga disebut-sebut ikut mendorong proses rekonstruksi pemikiran Islam. Sedangkan sajak-sajak Jalaluddin Rumi, Ibnu Arabi, dan Hamzah Fansuri, ikut mendorong proses rekonseptualisasi tasawuf. Bahkan, menjadi sumber rujukan penting para peneliti tasawuf, mengingat fungsi puisi sebagai sarana pengajaran dan ekspresi penghayatan sufistik para tokohnya.
Jadi, ada semacam keyakinan bahwa karya sastra merupakan sumber nilai yang memiliki kekuatan pencerahan sekaligus sumber inspirasi bagi proses perubahan social-budaya. Tokoh-tokoh seperti Kuntowijoyo, Abdul Hadi WM, dan Emha Ainun Najib bahkan meyakini karya sastra tidak sekadar mampu merefleksikan realitas masyarakatnya, tapi juga dapat menjadi salah satu agen perubahan.

Komitmen estetik
Sebagai agen perubahan, peran sastra sering berevolusi sesuai dengan kondisi masyarakat. Apa yang sedang dibutuhkan masyarakat, sastra sering memberikan jawabannya. Namun, dalam hal ini yang terpenting adalah bagaimana ‘komitmen estetik’ dan orientasi penciptaan sastrawan atau kreatornya. Jika orientasi penciptaannya adalah ‘seni untuk seni’ (lart pour lart), maka akan sulit diharapkan peran maksimal sastra, karena yang terpenting adalah kepuasan sang pengarang sendiri. Untuk menegaskan peran sastra sebagai agen perubahan, maka diperlukan orientasi penciptaan yang bersifat pragmatik, yakni orientasi pada kebermanfaatan sastra sebagai media pencerahan dan pencerdasan masyarakat.
Dalam hal ini, masih relavan untuk menyimak prinsip bersastra Sutan Takdir Alisyahbana, sang tokoh renaisans Indonesia. Dalam bersastra (menulis novel) STA memiliki prinsip, bahwa seni (sastra) bukan sekadar untuk seni, tapi untuk kebermanfaatan intelektual dan pencerdasan masyarakat. Karena itu, sastra (novel), menurut STA tidaklah bisa bermewah-mewah dengan keindahan untuk mencapai kepuasan seseorang dalam mencipta, tetapi harus dilibatkan secara aktif dalam seluruh pembangunan bangsa. Sastra, harus membuat orang (pembaca) lebih optimis dan menghadapi hidup dengan semangat juang yang tinggi untuk mengatasi berbagai masalah dan situasi kritis. Dan, ini dibuktikannya melalui novel Layar Terkambang serta Kalah dan Menang. Komitmen yang kurang lebih sama juga dipraktekkan oleh Rendra, Kuntowijoyo, Taufiq Ismail, Abdul Hadi WM, dan Emha Ainun Nadjib – sekadar menyebut beberapa nama.
Persoalan kebudayaan adalah juga persoalan kebangsaan, karena kebudayaan, sebagai sebuah sistem nilai, memerlukan wadah kebangsaan yang utuh dan bersatu, lengkap dengan tanah air dan negaranya, untuk dikembangkan bagi pemberdayaan masyarakat. Pada masa Mohammad Yamin, masalah kebangsaan yang dihadapi adalah bagaimana menyadarkan dan kemudian membangkitkan rasa kebangsaan masyarakat. Maka yang lahir adalah sajak-sajak cinta tanah air yang romantik, karena ketika itu memiliki tanah air yang merdeka masih sebatas ‘impian’. Sajak menjadi salah satu media bagi kalangan pergerakan nasional untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya memiliki satu tanah air dan satu bangsa yang merdeka.
Di tataran filsafat dan kebudayaan, Sutan Takdir Ali Syahbana dan Ki Hajar Dewantara kemudian mengentalkan rasa kebangsaan itu melalui proses kristalisasi konsep budaya bangsa. Tidak hanya melalui sajak-sajak dan novel-novelnya Takdir mencoba meletakkan dasar-dasar kebudayaan bangsa, tapi juga melalui sebuah polemik yang sangat terkenal – Polemik Kebudayaan – yang hingga kini masih menjadi rujukan bagi banyak pemikir budaya dalam meninjau ulang dan mencari arah terbaik kebudayaan bangsa ke depan.
Pada medio awal dasawarsa 1940-an, Chairil Anwar menangkap semangat kemerdekaan yang mengkristal sejak masa kebangkitan pergerakan nasional itu ke dalam sajak-sajak heroik dan penuh etos pemberontakan. Dengan semangat ‘binatang jalang’ ia melahirkan sajak-sajak yang tidak hanya membawa pemberontakan estetik, tapi juga memompa semangat pemberontakan terhadap penjajah Belanda untuk mencapai kemerdekaan. Ini sangat terasa, misalnya, pada sajak-sajak Diponegoro, Kerawang-Bekasi, dan Persetujuan dengan Bung Karno. Evolusi kebangsaan dalam karya-karya Chairil Anwar adalah evolusi yang sudah sampai pada tahap pembebasan. Kesadaran akan rasa kebangsaan telah mengkristal begitu keras, hingga tinggal menunggu saatnya untuk diledakkan. Bentuk ledakannya adalah proklamasi kemerdekaan, yang dibacakan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, dan yang siap dibela oleh rakyat yang telah mengalami pencerahan, sampai titik darah terakhir.
Pasca-kemerdekaan sastra seperti kehilangan momentum untuk berbicara tentang patriotisme, nasionalisme dan pemupukan rasa kebangsaan. Dari sinilah kemudian Taufiq Ismail menerjemahkan perannya pada pembangunan bangsa melalui sajak-sajak kesaksian sejarah di seputar pergeseran kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru. Peran ini pula yang secara lebih kritis dan tajam diambil oleh Rendra dengan sajak-sajak kritik sosialnya dalam Potret Pembangunan Dalam Sajak. Namun, jika rasa nasionalisme dapat diterjemahkan sebagai rasa cinta dan kepedulian pada nasib bangsa, maka karya-karya Taufiq dan Rendra dalam dimasukkan ke dalamnya.
Pada sastrawan generasi 1970-an (baca: yang produktif menulis pada tahun 1970-an), semangat kebangsaan – sekaligus semangat untuk membangun kebudayaan bangsa –berevolusi menjadi ‘semangat untuk kembali ke nilai-nilai budaya Timur’. Pengaruh nilai-nilai budaya Barat, yang dalam sastra tampak pada aspek tematik maupun estetik, menyadarkan mereka akan pentingnya menggali kekayaan nilai-nilai budaya Timur. Bukan hanya sebagai penyeimbang, tapi juga sebagai perlawanan budaya (counter culture). Sebab, dominasi nilai-nilai (Barat) sama saja dengan ‘penjajahan budaya’ – wajah imperialisme baru yang boleh jadi lebih berbahaya dan sulit dilawan daripada penjajahan konvensional berupa pendudukan suatu wilayah.
Semangat untuk menggali nilai-nilai budaya Timur sangat kuat pada era 1970-an, dengan tokoh-tokoh seperti Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Danarto, Kuntowijoyo, Linus Suryadi AG, Darmanto Jatman, Umar Kayam, Ibrahim Sattah, dan Wisran Hadi. Sutardji dan Ibrahim menggali dan mereaktualisasikan estetika mantra – salah satu induk puitika Melayu. Abdul Hadi meraktualisasi estetika sufistik. Danarto menggali nilai-nilai Islam kejawen. Darmanto, Linus dan Kayam menggali tradisi Jawa. Wisran menggali akar budaya Melayu. Sedangkan Kuntowijoyo mengembangkan sastra profetik bernuansa Jawa. Semangat kebangsaan berevolusi menjadi semangat untuk mempertahankan nilai-nilai Timur dari dominasi nilai-nilai Barat. Sastra mencoba menegaskan kembali perannya sebagai agen perubahan budaya.

Evolusi Kontemporer
Sastra Indonesia kontemporer (terkini) ditandai oleh maraknya fiksi seksual. Pada sisi lain memang menguat pula fenomena fiksi Islami, dan di antara keduanya masih terus ditulis karya-karya sastra humanisme universal dan karya-karya sastra bernuansa lokal, namun akibat ‘pembesaran media’ fenomena fiksi seksual menjadi terasa sangat dominant. Tokoh-tokoh ‘sastra wangi’, yang lebih banyak bermain di wilayah ‘lokal-lokal saja’, seperti Ayu Utami, Jenar Maesa Ayu, dan Dinar Rahayu pun menjadi sangat popular, karena kontroversi karya-karyanya.
Pada karya-karya Ayu, Jenar, dan Dinar, saya kira agak sulit untuk menemukan semangat kebangsaan. Memang terasa ada semangat untuk ‘mengubah’ masyarakat pada karya-karya mereka, terutama pada karya Ayu dan Jenar. Tapi, yang hendak mereka ubah justru nilai-nilai penguat jati diri bangsa. Dengan jargon ‘pembebasan kaum perempuan’, mereka melawan batas-batas ketabuan dan moralitas seks yang dianut masyarakat Timur. Jadi, agak sulit untuk mengatakan, misalnya, bahwa semangat kebangsaan pada karya-karya mereka berevolusi menjadi ‘semangat pembebasan’, sebab kebebasan yang mereka inginkan lebih pada kebebasan seksual yang justru membuka peluang lebih lebar bagi masuknya nilai-nilai Barat yang hedonis dan sekuler.
Dengan kata lain, semangat pembebasan yang mereka perjuangkan melalui fiksi-fiksi seksual, semacam Saman dan cerpen-cerpen Jenar, itu adalah semangat pembebasan yang kehilangan jati diri. Karya-karya mereka berkembang bersama kecenderungan sajak-sajak dan cerpen yang hanya mengejar keunggulan estetik, miskin rasa kebangsaan dan cinta tanah air, serta miskin kepedulian pada nasib bangsanya, dan bahkan menyeponsori ‘penghancuran’ pada nilai-nilai budaya bangsa. Dalam orientasi seperti ini akan sulit berharap karya sastra akan mampu menjadi sumber inpsirasi bagi proses perubahan social-budaya ke arah yang positif, apalagi menjadi spirit baru kebangkitan kebudayaan bangsa.
Meskipun begitu, terlalu gegabah untuk mengatakan bahwa sastra Indonesia kontemporer tidak akan dapat memberikan sumbangan atau menjadi sumber inspirasi bagi proses perubahan social-budaya ke arah yang lebih baik. Sebab, fiksi seksual hanyalah salah satu mainstream sastra Indonesia kontemporer yang sebenarnya terlalu dibesar-besarkan untuk kepentingan kelompok liberal dan pasar industri penerbitan. Di luar fiksi-fiksi seksual masih terus ditulis karya-karya sastra yang mencerahkan, yang peduli pada peningkatan harkat dan martabat pembacanya. Masih terus ditulis karya-karya sastra yang meyakini bahwa kebudayaan adalah upaya yang terus menerus untuk meningkatkan kemanusiaan manusia. Bukan sebaliknya!
Jakarta, 20 Mei 2008

Daftar Rujukan
1. Abrams, MH, A Glossary of Literary Lamps, Holt Rinehart and Winston, New York, first edition, 1981
2. Cahyono, Imam, Cendekiawan dan Perburuan Kekuasaan, artikel pada Harian Kompas, Kamis, 11 November, 2004, halaman 4.
3. Hasanuddin WS, Prof, Dr, Mhum, Ensiklopedi Sastra Indonesia, Penerbit Titian Ilmu, Bandung, cetakan pertama 2004.
4. Herfanda, Ahmadun Yosi, Drs, MTI, Antara Kecendekiaan dan Budaya Berkarya, makalah untuk Simposium Pemberdayaan Ummat, ICMI Orsat Kairo, di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, Kairo, 19 April 2002.
5. Heryanto. Ariel, MA, Perdebatan Sastra Kontekstual, Penerbit Rajawali, Jakarta, cetakan pertama, 1985.
6. Selden, Raman, A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory, Harvester-Wheatsheaf, University of Lancaster, 1985.

Biografi:

AHMADUN YOSI HERFANDA, lahir di Kaliwungu, Kendal, 17 Januari 1958. Alumnus FPBS IKIP Yogyakarta ini menyelesaikan S-1 pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Yogyakarta (1986) dan S-2 Jurusan Magister Teknologi Informasi pada Universitas Paramadina Mulia, Jakarta. Ia pernah aktif sebagai pengurus Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Inslam (HMI), dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Juga pernah menjadi Ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia (HISKI, 1993-1995), dan ketua Presidium Komunitas Sastra Indonesia (KSI, 1999-2002). Selain itu, sempat menjadi anggota Dewan Penasihat dan (kini) anggota Mejelis Penulis Forum Lingkar Pena (FLP). Tahun 2006 terpilih menjadi anggota DKJ, tapi kemudian mengundurkan diri. Kini dipercaya menjadi ketua umum Komunitas Cerpen Indonesia. Sehari-hari kini ia bekerja sebagai redaktur sastra Harian Umum Republika Jakarta.
Ahmadun banyak menulis puisi, cerpen dan esei serta kolom. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri. Antara lain, Horison, Ulumul Qur’an, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana (Brunei), antaologi puisi Secreets Need Words (Harry Aveling, ed, Ohio University, USA, 2001), Waves of Wonder (Heather Leah Huddleston, ed, The International Library of Poetry, Maryland, USA, 2002), jurnal Indonesia and The Malay World (London, Ingris, November 1998), The Poets’ Chant (The Literary Section, Committee of The Istiqlal Festival II, Jakarta, 1995). Beberapa kali sajak-sajaknya dibahas dalam Sajak-Sajak Bulan Ini Radio Suara Jerman (Deutsche Welle). Cerpennya, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing memenangkan salah satu penghargaan dalam Sayembara Cerpen Kincir Emas 1988 Radio Nederland (Belanda) dan dibukukan dalam Paradoks Kilas Balik (Radio Nederland, 1989). Tahun 1997 ia meraih penghargaan tertinggi dalam Peraduan Puisi Islam MABIMS (forum informal Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura).
Ahmadun sering diundang untuk menjadi pembicara dalam berbagai diskusi dan seminar sastra nasional maupun internasional. Tahun 1998 ia membacakan sajak-sajaknya dalam Festival Kesenian Perak di Ipoh, Malaysia. Tahun 1997 ia menjadi pembicara dalam Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) IX Padang. Tahun 1999 ia mengikuti PSN X di Johor Baharu, Malaysia, dan menjadi pembicara pada Pertemuan Sastrawan Muda Nusantara Pra-PSN di Malaka. Tahun 2002 ia menjadi pembicara dan membacakan sajak-sajaknya dalam festival kesenian Islam di Universitas Al Azhar, Cairo, Mesir. Agustus 2003 ia diundang untuk membacakan sajak-sajaknya dalam simposium penyair The International Society of Poets di New York, AS. September 2004 menjadi pembicara dalam PSN XIII di Surabaya. Oktober 2006 ia membacakan sajak-sajaknya dalam International Poetry Festival di Taman Budaya Palembang dan Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Maret 2007 ia menjadi pembicara utama dan membacakan sajak-sajaknya dalam The 1st International Poetry Gathering di Medan.
Buku-bukunya yang telah terbit adalah Sang Matahari (puisi, Nusa Indah, Ende, 1984), Sajak Penari (puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, Yogyakarta, 1991), Fragmen-Fragmen Kekalahan (puisi, Penerbit Angkasa, Bandung, 1996), Sembahyang Rumputan (puisi, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1996), Sebelum Tertawa Dilarang (cerpen, Balai Pustaka, Jakarta, 1997), Ciuman Pertama Untuk Tuhan (puisi dwi-bahasa, Logung Pustaka, 2004), Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (cerpen, Being Publishing, 2004), Badai Laut Biru (cerpen, Senayan Abadi Publishing, Jakarta, 2004), dan The Worshipping Grass (puisi dwi bahasa, Bening Publishing, Jakarta, 2005). Buku-buku barunya yang sedang dalam proses terbit, antara lain Resonansi Indonesia (kumpulan puisi), Kolusi (kumpulan cerpen) dan Koridor yang Terbelah (kumpulan esei). Karya-karya dan tentang dirinya dapat ditemukan di http://www.wikipedia.com, http://www.poetry.com, http://www.yahoo.com, http://www.google.com, dan http://www.cybersastra.net. Kini tinggal di Vila Pamulang Mas Blok L-3 No. 9, Phone/Fax (62-21)-7444765, Pamulang, Ciputat 15415, Indonesia. Email: ahmadun21@yahoo.com. Mobile: 081315382096.*

§ 4 Responses to Sastra sebagai Agen Perubahan Budaya

  • Qinimain Zain mengatakan:

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  • adzhieyz mengatakan:

    Koq GA ada contoh contoh PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA?

  • pia mengatakan:

    kok ENGGA ada contoh – contoh tentang PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA sih ?!? padahal saya sangat butuh. TERIMA KASIH.

  • jalansetapak mengatakan:

    untuk bertanya lebih lanjut tentang isi artikel ini silakan kontak penulisnya melalui email: ahmadun21@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sastra sebagai Agen Perubahan Budaya at .

meta

%d blogger menyukai ini: