“Ajak Aku Melihat Kunang-kunang di Aceh”

05/06/2008 § 2 Komentar

Suatu siang, Februari 2008 lalu, sebuah pesan singkat mampir di ponselku, isinya: “Ajak aku melihat kunang-kunang di Aceh.” Terdiam sejenak, aku langsung tahu maksud si pengirim SMS itu. Ia pasti sedang, atau sudah, membaca sebuah cerpenku berjudul Ajak Aku Melihat Kunang-kunang. Aku mengingat-ingat, kemana cerpen itu pernah kukirim. Ternyata, cerpen itu kukirim ke Suara Pembaruan dan pekan itu dimuat di edisi Minggu.

Pengirim SMS itu adalah seseorang yang banyak menulis puisi. Namanya Mutia Sukma. Penyair ini lahir di Yogyakarta pada 1988 dari ibu asal Jatim dan ayah dari Aceh. Dalam beberapa SMS, ia mengatakan ingin sekali pulang ke Aceh dan belum kesampaian. “Sungguh mati aku ingin mengenal kampung mama dan kampung papa,” tulis Sukma dalam blognya.

Tadi malam, secara tidak sengaja, aku menemukan puisinya muncul di
Suara Karya. Aku tertarik berbagi membaca dengan teman-teman di sini. Selamat membaca.

Puisi Puisi
MUTIA SUKMA

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 31 Mei 2008

Di Rahim Pandan Berduri

pandan berduri
kelahiran…
alamat paling mengerikan
untuk sampai pada limas;
duri… duri…
daun pandan yang tercecap wanginya
pada seorang batik
yang mengekalkanku pada warna dunia
dan mengajarkan bahasa angin
bahasa air yang serupa gelombang rambutku
lalu mereka yang mengintipku mandi itu
ingin berenang di dalamnya.

jenang perkasa
julela… julela…
ramalan mana yang kau baca
sebagai tanda terang di depan
yang membuatmu silau di belakang
dan membuatku selalu menggigau
tentang sampan
di laju gelombang yang
menghentikan akupada pelabuhan paling tepi
serupa rambut dara

sampailah aku

o… sungai yang perawan
kutemukan ikan wewarni
berliuk di antara batu beraroma lumpur
dan perutnya pun tambun
oleh cinta.

mantang
maka jadilah aku
jadilah mapoi
jadilah kelong
yang dituntun menyusuri jalan lurus

serupa alis
yang menyimpan doa pada tiap bulunya
bintan… bintan
utara, barat, timur
terjagalah

– busur dan anak panah
tiba juga pada hari libur-

2007

Pada Percakapan
-kepada daeng liwang

pada percakapan malam yang memanjang
nama yang sudah kukenal lama
suara serta debaran terjaga di sini

tak ada tanda
pada sebuah pertemuan yang riang
hanya kadang terbayang
seperti anak muda yang gagah
menggerakan tangannya sendiri

“kita telah berkerumun bersama
di antara gulma yang gemuk
dan kudapati engkau tersenyum
di tepi telaga
setelah aku tak lamalama terpesona.”
godamu

tiap hari yang habis dilewati
kita akan menengadah tangan bersama
agar hari menjadi sepuluh
atau seratus kali lebih lama dari biasanya

tak ada hari libur yang ditunggu
sebab rindu tak mengenal
tanggal merah dan minggu.

2007

Pesta Mempelai
mempelai lisya
untaianuntaian melati dikondemu
menjadi untaian yang tak selesaiselesai
dikarang. kau pervaya itu?
mereka berlalulalang membawa doa
atau entah membawa apa
merapatkan tangannya ke tanganmu
dan kunci telapak katupmu terbuka
saat itu juga,
kau menjadi paling intim pada keramaian.

memepelai arma
inikah saat yang kau tunggu?
seperti halnya guru;
ingin menjadi kepala sekolah
dan kau ingin menjadi kepala juga
meski di rumah saja.
menebus seluruh lucu kanak
lugu remaja yang kenal perawan
di sepasang kursi merah.

sepasang mempelai di malam yang bulannya
mengingatkan pada semangka dibelah
sama rata cicakcicak bunting
kerumunan orang tertawa
para modin tidak juga aku
mau menjadi saksi
siapa yang punya air mata
semalam ini,
akan kalian tebus dengan segala pesta.

april 2007

Tarian Bunga

kata mama;
aku indah bagai sekuntum bunga

suatu soredipermainan raturatuanku
aku membayangkan
bergaun ibu peri
bersepatu kaca
memakai mahkota di kepala
ada pangeran berkuda datang
pendekar akan melamar
serta yang lainnya berebut mendekat.
:kupikir itulah bunga.

di sore lainnya
aku menari di antara ribuan lelaki
baju, sepatu dan mahkota bayanganku
ada di sini
mereka -para lelaki itu- membuka
sedikit mulutnya
-bilanglah terpesona
lalu lebih indah dari kuntum bunga
ditiupi angin
aku semakin menjadi.
batang rokok para lelaki lupa dihisap
tuaktuak beruap disengat matahari
semua diam melihatku
terus menari.

“lacur.” suara seorang lelaki dari kerumunan
paling belakang dnegan tibatiba”bunga!”
balasku – mengingat kata mama.
para lelaki lainnya tak percaya
lalu buruburu mencatatnya sebagai
nama baruku.

aku tetap menari
tapi mereka bergerak pergi.

inikah takdir bunga itu, mama?

2007

§ 2 Responses to “Ajak Aku Melihat Kunang-kunang di Aceh”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading “Ajak Aku Melihat Kunang-kunang di Aceh” at .

meta

%d blogger menyukai ini: