Novel “Akhirnya Senja” Sulaiman Tripa

04/06/2008 § 1 Komentar

Dua pekan lalu, novelis dari Aceh, Sulaiman Tripa, menelpon saya dan mengabarkan dia sedang di Jakarta. “Saya di Jatibening,” katanya. Ia rupanya datang ke Jakarta untuk mengikuti kursus tingkat lanjutan tentang hukum di Universitas Indonesia, Depok. Ini terkait dengan pekerjaannya sehari-hari sebagai dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Kursus itu diikuti oleh dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Siangnya, saya mengirim SMS: bagaimana kalau kita ketemu di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki. Kebetulan hari itu, Jumat 16 Mei 2008, di PDS ada acara gelar sastra Indonesia-Malaysia berisi peluncuran buku sastrasan Indonesia dan Malaysia, yakni kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri (karya sastrawan Malaysia, Ibrahim Ghaffar), dan kumpulan cerpen Perempuan Bergaun Putih (karya Sawali Tuhusetya dari Indonesia). Tapi ternyata, sorenya dalam perjalanan ke TIM, ketika saya telpon, rupanya SMS ajakan ketemu di TIM itu tidak masuk ke telepon genggam dia.

Ya sudah, akhirnya kami sepakat ketemu Senin 19 Mei di Warung Apresiasi Bulungan, tempat acara berlangsung acara “Malam Puisi Kebangkitan” yang digagas oleh Chavchay Saifullah dan kawan-kawan. Dalam acara itu, saya salah seorang yang diagendakan untuk membaca puisi (tapi kemudian saya tidak jadi membaca puisi karena saya harus pergi dari situ pukul 22.00, dan saat saya sudah menghidupkan kendaraan nama saya baru dipanggil). Saya dan Sulaiman bertemu di situ. Singkat cerita kami ke rumah.

Di rumah, ia menanyakan apakah saya sudah dapat novel terbarunya, “Akhirnya Senja” (2008). Saya jawab: belum. Ia pun membuka tas dan memberi dua eksemplar buku itu. Sebelum dijadikan buku, novel pendek ini (novelet) pernah memenangkan karya terbaik III Lomba Cerber Majalah Femina 2007. Setelah dinyatakan sebagai pemenang dan menerima hadiah (saya dan Mas Ahmadun Yosi Herfanda sempat diajak makan mie Aceh malam-malam di daerah Ciputat setelah dia menang itu), cerita panjang itu dimuat bersambung di Femina (edisi 5 Juli sampai 1 Agustus 2007).

Saya belum sempat baca novel ini, jadi saya belum bisa mengatakan apa-apa tentangnya (baik memuji maupun mengkritik). Yang dapat saya ceritakan (ini pun diceritakan sekilas oleh Sulaiman dulu, sebelum novel itu diikutkan sayembara itu), novel itu bercerita tentang masa-masa konflik di Aceh. Ia mengetengahkan tokoh utama seorang perempuan yang menjemput sendiri suaminya korban konflik.

Novelet ini tidak murni fiksi. Sulaiman menulis ini berangkat dari kisah yang benar-benar nyata: kisah seorang perempuan yang menjemput sendiri suaminya yang hilang dan ditemukan tergantung di pohon pinang, dengan tubuh yang sudah beku dan lumuran darah di tubuhnya sudah mengering. DEPOK, 4 JUNI 2008 PUKUL 08.50. MUS.

§ One Response to Novel “Akhirnya Senja” Sulaiman Tripa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Novel “Akhirnya Senja” Sulaiman Tripa at .

meta

%d blogger menyukai ini: