Arogansi

24/05/2008 § 2 Komentar

Kamus Besar Bahasa Indonesia( versi online ) menulis begini: aro·gan a 1. sombong; congkak; angkuh; 2. Psi mempunyai perasaan superioritas yg dimanifestasikan dl sikap suka memaksa atau pongah: dl dunia yg penuh manusia — dan kepalsuan ini, kemampuan melihat dan merasakan kekuasaan dan kebesaran Allah akan menyebabkan seseorang memiliki jiwa besar . Sedangkan untuk arogansi tertulis: aro·gan·si n kesombongan; keangkuhan.

Sory, saya menarik nafas dulu. Soalnya, saya menulis ini sambil menyaksikan televisi. Dan saya agak tersedak melihat tayangan berita Global TV malam ini pukul 20.08 yang memperlihatkan bagaimana sejumlah pengunjuk rasa menolak kenaikan BBM dipukuli polisi. Hati saya miris: kok polisi begitu brutal menangani unjuk rasa. Tadi pagi, berita di internet dan televisi juga memperlihatkan aksi brutal polisi itu di kampus Universitas Nasional (Unas) di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sekitar pukul 05.45 WIB.

Di universitas yang didirikan pada 15 Oktober 1949, itu polisi sampai memasuki kampus. Tayangan televisi memperlihatkan suasana kampus kampus universitas tertua di Jakarta dan ke dua di Indonesia itu berantakan. Ada kaca-kaca yang berantakan, juga ruang yang berantakan, bahkan ada mobil yang juga ikut jadi korban. Tak hanya itu, polisi juga memukul mahasiswa dan menangkap 100 mahasiswa. Menurut berita itu juga, polisi, seperti dikutip Detik.com, mengaku pihaknya membubarkan demonstrasi karena mahasiswa menutup jalan dan saat dibubarkan mereka menyerang polisi dengan bom molotov.

“Mereka membakar ban di jalan. Itu menganggu ketertiban umum sehingga kami bubarkan. Pada saat pembubaran itu ada yang melempar aparat dengan bom molotov,” kata Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira kepada kepada detikcom, Sabtu (24/5/2008). Juru bicara Presiden Andi Mallarangeng mengatakan polisi berwenang masuk kampus. Tapi persoalannya apakah polisi berwenang untuk brutal?

Saya miris menonton tayangan televisi itu. Bahkan wartawan pun menjadi korban. Saya tambah tak mengerti ketika Jusuf Kalla, sang wakil presiden, mengatakan “siapa yang menutup jalan, tangkap!” Mungkin subtansi persoalan yang dikatakan Kalla benar—siapa pun tidak punya hak untuk menutup jalan alias lakukanlah demontrasi secara tertib dan tidak menganggu orang lain. Tapi masalahnya, apakah perlu melakukan kekerasan? Tidak adakah cara yang lebih persuasif?

Ah, saya makin bingung melihat cara kerja pemerintahan ini: kembali menghalalkan cara-cara refresif untuk menyelesaikan masalah. Saya tiba-tiba teringat kata “arogan” dan “arogansi” yang tadi saya temukan di kamus besar bahasa Indonesia itu. Tapi, sory, saya tak ingin mengomentari lebih jauh cara-cara represif itu. Saya tidak berani bilang bahwa arogansi sedang diperlihatkan kini. Saya hanya ingin mengucapkan sebuah kata: purba!

§ 2 Responses to Arogansi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arogansi at .

meta

%d blogger menyukai ini: