Saung di Depan Rumah

30/07/2007 § 1 Komentar

Cerpen Mustafa Ismail

Sumber: Jurnal Nasional, Mei 2007

KETIKA tsunami datang menggulung kampung, kami berpikir rumah itu sudah tidak ada, dilahap gelombang dahsyat itu. Namun, kami bersyukur sekali, rumah kami hanya dilintasi air, tidak sempat terbawa. Kata Abucut Suman, keponakan ibu, rumah itu masih utuh. Hanya di dalamnya yang berantakan menjadi kubangan lumpur. Kami tidak pulang saat itu, karena tidak punya cukup uang.
Bang Jamil, yang menempati rumah kami, tidak memberi kabar apa pun. Ayah sempat mengirim surat lewat orang pulang, tapi tidak ada balasan. Semua baru jelas setelah Abucut Suman yang pulang ke kampung, kembali ke Jakarta menceritakan semuanya tentang rumah itu, juga tentang sanak-famili kami yang terkena tsunami. Sudah pasti rumah itu sudah tidak bisa lagi ditempati, tanpa dibetulkan di sana-sini.
Kami ikhlas dengan apa yang terjadi. Meskipun rumah itu menyimpan banyak sejarah hidup kami. Di rumah itulah aku menghabiskan masa kecil. Aku masih ingat bagaimana ayah membangun rumah itu. Ayah mengutang ke sana-sini untuk menyelesaikannya, karena tabungannya tidak cukup untuk itu. Ibu ikut membantu, misalnya, menimbun bagian dalam rumah itu, sehingga tidak perlu diupahkan kepada orang.
Rumah itu memang menyimpan banyak kenangan bagi kami. Dulu, ketika aku kecil, di saung di depan rumah, aku kerap duduk bersama kakek. Ia kerap bercerita tentang laut di belakang rumah kami. Katanya, laut di belakang rumah kami dulunya jauh, tapi perlahan-lahan bibir pantai makin mendekat. “Kakek dulu kalau melaut harus berjalan dulu sampai lima ratus meter dari tepi pantai sekarang,” katanya. Kakek seorang nelayan, yang setelah tua beralih profesi menjadi pedagang ikan.
Kakek juga sempat bercerita bahwa di pantai belakang rumah kami itu dulu pernah menjadi tempat eksekusi orang-orang yang dituduh ikut partai terlarang. Tiap tengah malam, kata kakek, jalan di depan rumah kami sekarang itu, yang bersebelahan dengan rel kereta api, dilintasi oleh truk-truk besar menderum ke arah timur. Truk itu berjalan sangat cepat, seperti berebut satu-sama lain.
Tak jauh dari rumah kami, ada sebuah jalan kecil menuju ke pantai. Di tepi kiri-kanan jalan itu kebun tanpa penghuni. Di situlah truk-truk itu berhenti. Tak lama, terdengar suara-suara bentakan, terkadang suara cambukan, yang diikuti oleh suara jeritan minta ampun. Tidak hanya suara laki-laki, terkadang terselip juga suara perempuan yang menangis. “Orang-orang yang tinggal di sekitar situ tidak ada yang berani keluar rumah,” kata kakek.
Pada masa-masa itu, kakek yang rumahnya persis di samping rumah kami sekarang, sering tidak bisa tidur. “Setelah orang-orang itu dibawa ke pantai, suara minta tolong dan raungan itu makin ramai terdengar. Itu berselang-seling dengan suara orang mengaji, berdoa, dan melafalkan rateb. Sesekali ditingkahi debur ombak. Tak jarang terdengar letusan senjata. Suara-suara itu baru hilang menjelang subuh.”
Kemudian truk-truk itu, yang diparkir di pinggir jalan, menderum kembali dan melaju ke arah barat. Truk-truk itu seperti berebut, dipacu sekencang-kencangnya. Suaranya memecah kegelapan hingga jauh. “Setelah itulah baru kakek bisa tidur,” ujarnya. Dan, kejadian-kejadian itu suka melintas dalam mimpi kakek. Kadang-kadang, kakek bermimpi ada orang yang menangis memanggil-manggil. Ada perempuan yang cuma tangannya menyembul di pasir dan melambai-lambai seperti minta tolong.
Ketika itu, kakek selalu gelisah. Tapi kakek tidak berani ke pantai. Itu memang bukan bagian pantai yang kerap digunakan nelayan untuk berlabuh. “Kami suka berlabuh di kuala, sekitar satu kilometer dari situ. Tidak ada orang yang berani melintas ke situ. Mereka semua tahu, tempat itu menjadi tempat hukuman terhadap orang yang dianggap anggota partai terlarang,” suara kakek lagi.
Bahkan, melintas di jalan yang menuju ke pantai itu saja orang tidak berani. “Kalau malam-malam, dari jalan kerap terdengar ada orang yang menangis, membaca ayat-ayat Al-Quran, berdoa dan sebagainya. Terutama kalau malam-malam Jumat. Itu terjadi sampai sekarang,” ujar kakek.
“Makanya sampai sekarang tempat itu sepi. Kebun di kiri-kanan jalan kecil menuju ke pantai sampai sekarang tidak laku dijual. Orang semua tahu kejadian dulu.” “Beberapa tahun kemudian, orang-orang yang melintasi di pantai kerap menemukan tulang-belulang manusia dipermainkan lidah ombak,” kakek melanjutkan.
Sebetulnya, ujar kakek, kami tidak setuju ketika ayahmu membeli tanah di sini. Ini dekat sekali dengan tempat hukuman orang-orang partai terlarang dulu. Kakek sempat khawatir, berumah di sini bisa membuat kurang tenang. Sebab, suara-suara dari pantai itu kadang-kadang masih terdengar, padahal peristiwa itu berlangsung puluhan tahun lalu.
Kakek sudah menyediakan sepetak tanah untuk rumah kami, tapi ayah menolak. Ayah takut dengan ulah anak kakek yang paling bontot, adik ibu, yang kelakuannya kurang menyenangkan di hati ayah. Ia kerap berlaku sesukanya dan terkadang suka mengancam orang tua. Ayah khawatir, kalau menerima tanah pemberian kakek, bakal terjadi hal-hal tidak menyenangkan di belakang hari.
Ibu pun setuju dengan penolakan ayah. Karena ibu tahu betul sifat adiknya yang pemarah dan kerap mau menang sendiri itu. Alasan ayah pada waktu itu, tanah yang disediakan kakek tidak bisa masuk mobil, sehingga akan sulit memasukkan material kalau membangun rumah di sana. Lagi pula, kata ayah, ada tanah yang sudah terlanjur dibeli ayah dan harganya cukup murah dan letaknya di pinggir jalan besar, bersisian dengan jalur rel kereta api.
Kakek akhirnya mengalah dan bisa memaklumi alasan ayah. Tapi, kakek tetap menghibahkan sepetak tanah buat ibu dan ayah, dan itu disetujui oleh anak-anak kakek yang lain. Belakangan, pemberian kakek itu digugat oleh anak kakek yang paling bontot itu, dan terjadi pertengkaran hebat antara kakek dan anak kesayangannya itu. Abucut, begitu aku memanggil pamanku itu, memang seperti ingin menguasai semuanya.
Setelah itu barulah ayah menjelaskan sejujurnya mengapa dulu ayah tidak bersedia membangun rumah di tanah yang disediakan kakek, takut digugat oleh Abucut. Kakek pun baru sadar akan hal itu. Belakangan, tanah itu dijadikan tempat berkebun oleh ibu. Ibu menanam bayam, kangkung, tomat dan cabe. Hasilnya sebagian dijual, sebagian lagi buat dimakan sendiri. Lumayan juga, tidak perlu membeli sayur-sayuran. Dan itu cukup membantu. Sebab, gaji ayah sebagai guru SMP tiap bulan nyaris tidak cukup, mesti mencicil utangnya yang timbul ketika membangun rumah.
* * *
Ketika kampung kami gonjang-ganjing dan operasi keamanan, saung depan rumah kemudian menjadi sepi. Tidak ada yang berani lagi duduk di luar rumah malam-malam. Apalagi, di kampung kami kerap diberlakukan jam malam, yang mengharuskan orang sejak magrib sampai pagi untuk berada di dalam rumah. Bahkan, kalau ada orang sakit pun tidak ada yang berani memanggil dokter.
Ketika gonjang-ganjing itu pula, malam-malam jika sedang berada di kampung, aku tidak bisa tidur. Pikiranku selalu was-was. Aku menjadi tidak betah di kampung. Apalagi, kudengar banyak orang tiba-tiba hilang dan ketika ditemukan sudah tidak bernyawa, dengan bekas siksaan atau beberapa lubang peluru di tubuhnya.
Terkadang, malam-malam, aku seperti mendengar kembali apa yang pernah diceritakan kakek: suara orang menangis, minta tolong dan letusan. Itu semua datang dari arah pantai. Aku tidak berani memastikan apakah itu suara orang benaran atau hanya imajinasiku yang liar karena takut. Sampai suatu kali, aku mengajukan usul kepada ayah: “Kita jual saja rumah ini. Kampung sudah tidak enak buat ditinggali.”
Ayah hanya tertawa mendengar kata-kataku. “Kalau kita jual, kita akan tinggal di mana?”
“Kita beli rumah lain di Banda Aceh,” kataku.
“Kamu pikir harga rumah di sana murah. Hasil penjualan rumah kita pasti tidak cukup untuk membeli sebuah rumah.”
“Tapi lama-lama aku tidak berani pulang ke sini. Saya takut nanti dituduh macam-macam. Anak-anak muda di sini saja banyak yang pergi merantau ke Belawan. Bahkan ada yang ke Jakarta.”
“Kalau kamu tidak berani pulang, nanti biar ayah dan ibu yang tiap bulan ke tempatmu di Banda Aceh.”
Aku tidak dapat menyakinkan ayah pada waktu itu. Tapi ketika aku lulus kuliah dan melanjutkan kuliah lanjutan di Jakarta, bertepatan dengan ayah pensiun, justru ide pindah dari kampung datang dari ayah. Ayah bilang ingin bersama-samaku di Jakarta. Aku kaget bukan kepalang, tidak biasanya ayah mau meninggalkan rumah, yang kerap dikatakan ayah, dibangun dengan mengikat pinggang lebih kuat dan keringat yang bercucuran.
“Apakah tempat tinggalmu cukup luas untuk kita tinggal bersama-sama. Kalau tidak, tolong cari rumah lain untuk kita kontrak. Ayah dan ibu sudah tidak tahan lagi tinggal di kampung. Suasananya makin meresahkan. Selain itu, ibumu ada masalah dengan pamanmu yang ingin menguasai semua tanah warisan kakekmu. Pamanmu sempat pula mengancam ibu,” tulis ayah dalam suratnya.
Pada satu malam yang sepi, ayah dan ibu pun meninggalkan rumah, berangkat naik bus ke Jakarta. Tidak ada yang tahu kepergian mereka. “Tetangga dekat pun tidak tahu. Itu supaya pamanmu tidak mencegah ibu. Sebab, ia sudah mengancam ibu agar menyerahkan surat tanah hibah dari kakekmu itu kepadanya. Ibumu takut paman menggunakan cara kekerasan,” kata ayah.
“Bagaimana dengan rumah?”
“Rumah ditempati oleh Jamil, tetangga kita yang baru menikah. Kebetulan ia belum punya rumah. Ya sudah, ditempati saja, daripada kosong. Yang penting ia menjaga rumah itu dan seluruh barang-barang kita. Ayah sempat membikin surat perjanjian sewa-menyewa, tapi sebetulnya rumah itu ayah tidak menarik sewa dari dia.”
“Apakah rumah itu akan aman ditempati Bang Jamil?”
“Sejauh ini Jamil orang baik dan jujur. Kami percaya sama dia.”
* * *
SETAHUN setelah tsunami datang menggulung kampung, aku mendengar kabar bahwa Bang Jamil mengaku kepada orang-orang bahwa rumah kami telah menjadi miliknya. Ia mengaku telah membeli rumah itu beberapa bulan sebelum tsunami. Maka, ia merasa berhak menerima bantuan rumah tsunami, sebagai korban tsunami.
Ayah hanya geleng-geleng kepala mendengar kabar itu. “Orang gila,” umpat ayah. “Kalau kita pulang, pasti ia segera waras.” ***

§ One Response to Saung di Depan Rumah

  • ery mengatakan:

    bagus banget mas… ceritanya agak bikin penasaran di bagian si kakek mendengar suara2 orang hukuman itu. cerita nyata ya mas?

    ————

    terima kasih atas apresiasinya. inspirasinya memang dari kejadian nyata yang diceritakan kakekku dulu, tapi kukemas menjadi fiksi alias kufiksikan. salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Saung di Depan Rumah at .

meta

%d blogger menyukai ini: