Memoria Hujan

16/04/2007 § Tinggalkan komentar

Sumber: Republika, Minggu, 22 Desember 2002

Sajak-sajak Mustafa Ismail

aku basah kuyup sehabis bersamamu menikmati lukisan dan
tarian aneh jari-jari Mella, di ruang penuh buku dan bangunan tua
dan kau dengan tekun memandang artefak-artefak itu, seperti menikmati sebuah masa silam

tetapi ada satu hal yang harus kau catat: waktu adalah kegelisahan
seperti menghadapi Toni yang kasmaran, atau kota Barcellona
yang ramai, siap menenggelamkan bekas di wajahmu yang
memerah

namun kita tidak bisa bercermin: masih bergunakah kau menjelajah
artefak-artefak itu, sekedar membuktikan tikungan-tikungan di depanmu
adalah hidup yang nyata dan siap kau susun menjadi rumah-rumah
yang manis di hatimu, sejuk dan sendiri

Jakarta, 11 Juli 2002

sajak lain (Oase Kegelapan, Pesan, Memolita Pantai, Buket Rata, dll)

OASE KEGELAPAN

kau menulis langit, tahukah kau di mana langit itu, oase-oase kegelapan
yang selalu membuat kita kangen dan terharu, hadir dalam setiap
tidur, dan kita seperti terjaga menulis teks-teks yang tak pernah terbaca
matahari tidak terbit di ruang ini, selain bayang-bayang cahaya

ini perjalanan aneh, dan kau terus mencatat setiap bayangan yang
terkelebat, bagai melukis kembali mimpi kanak-kanak
aku ingin sendiri, katamu, jalanan ini tidak harus dilalui dengan
perasaan bersalah. Kita bebas memilih
tetapi adakah yang lebih menentramkan selain sebuah rumah
dan beranda tempat bersenda gurau

Sawangan, 16 Juli 2002

PESAN DARI SEBUAH MALAM

aku baca pesan singkat, pagi ini, kau kirim dari sebuah malam
yang gerimis: suatu saat sebuah perjalanan siap ditempuh
untuk menjawab semua tanya, ketika itu tarian mungkin berakhir

tetapi ada yang kau lupa: tikungan-tikungan itu makin membuat
kita terpenjara, dalam gugusan pulau yang menampung seluruh
gelisah, dan tarianmu bakal lebih panjang

jakarta, juga udara sejuk kota itu, tak pernah
memahamimu, selain makin mengekalkan gedung-gedung,
tugu, serta pesta mabuk kaum behomian

Sawangan, 16 Juli 2002

MEMOLITA PANTAI

mungkin sore itulah terakhir kita menelusuri pantai itu
berangkat dari dermaga ketika matahari akan terbenam
ada hawa aneh: adakah kau lihat sebatang pohon tumbuh
di langit?

kita kemalaman sampai di rumah. Entah berapa mil,
jarak yang tidak singkat, kita habiskan sekali pandang
malam makin membuat kita lupa
dan tergoda

Setelah itu kita memilih waktu, sambil menyaksikan laut
yang terpenjara, mengais-ngais cinta dalam tidur
ada pulau yang terbelah, laut segera membentang
milik siapakah?

dan kini, kita hanya menyaksikan perjalanan itu
dalam buku-buku bisu, tak ada lagi yang bercakap-cakap
apalagi senda gurau
di luar ada yang menangis, hidup siapakah yang berakhir

kabut berarak, dan pantai itu menjadi gaib
tempat cinta menjadi batu nisan, dingin dan gelisah
bersama air mata yang terus memancur
menjadi sungai di kampung-kampung

Lhokseumawe 1996-Jakarta 2002

BUKET RATA

lelah belum sepenuhnya lenyap, ketika kita kembali bercakap
sore itu, di sebuah sudut di kampusmu, tentang cahaya yang
berkilatan, di kaki Buket Rata

ini menu semusim, mungkin kau ingin mengatakan itu,
ketika kita saling memandang, menghadapi hidangan
di meja makan, di tepi jalan raya yang sibuk

sebentar lagi aku akan berangkat, setelah matahari jatuh
tetapi bus-bus tidak ada yang mau pergi
jalan raya menjadi misteri, malam membeku

dan satu hal yang pasti, tidak ada darah yang menetes
dari pohon-pohon di bukit itu, seperti kini

Lhokseumawe 1995-Sawangan 2002

PERSONIFIKASI WAKTU

katakanlah, bagaimana harus mengulang sejarah itu: sore yang
basah, angin semilir, langit yang hening, kita tempuh jalan-jalan
kampung, hingga matahari benar-benar beranjak
dan kita kemalaman

aku masih ingin bercakap sambil mengantarmu sampai di rumah
melewati sawah dan kebun kelapa, tanpa suara-suara aneh
yang membuat mata kita perih dan waktu menjadi terhenti

kita ingin menjadi kitasendiri, menulis huruf-huruf
di kertas putih, bukan di batu nisan

Sawangan, 5 Mei 2002

BERITA KEPULANGAN

mungkin inilah terakhir kita melihat tempat ini menjadi istana rakyat,
kata seseorang, dengan getir, sambil menunggumu berbenah
hari itu, kau memang akan kembali pulang, dari sebuah tempat yang telah
membuatmu terluka dan terpenjara

Batang, 27 Juli 2001

CATATAN PERGANTIAN TAHUN
— kilas balik dari kampung air mata

kita sambut tahun, bulan entah di mana
matahari masih jauh. Kita hanya menemukan jasad orang mati
membusuk dalam jam kerja

tidak ada embun, apalagi hujan, menyimpan daun-daun
yang berguguran, hidup menjadi teramat dingin
kalender meleleh di meja makan

mungkin itu sampai tahun terus berganti
dan terompet tak lagi dibunyikan

Jakarta, 1 Januari 2002

link:
http://202.155.15.208/koran_detail.asp?id=107789&kat_id=102&kat_id1=&kat_id2=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Memoria Hujan at .

meta

%d blogger menyukai ini: