Wajah Sastra Jakarta Mutakhir

01/04/2007 § Tinggalkan komentar

Sumber: Koran Tempo, Rabu, 24 Desember 2003

JAKARTA — Selama tiga hari, 19-21 Desember, wajah sastra kota, khususnya Jakarta, dikupas tuntas untuk mendapat gambaran bentuk, aliran, dan temanya dalam Temu Sastra Jakarta. Hajatan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki Jakarta ini tergolong istimewa. Puluhan sastrawan, penyair, kritikus sastra, akademisi, dan pegiat sastra dihadirkan dari berbagai kota. Tema yang dibahas lumayan beragam. Mulai tema perempuan dan seks dalam sastra, konflik dalam karya sastra, institusi pendidikan sastra, sastra dan buruh, sampai antologi sastra kota. Sebagian besar tema bahasan bermuara pada persoalan sastra di Jakarta.

Pilihan tema ini tak lepas dari keberadaan sastra sebagai media ungkap pesoalan individual dan sosial masyarakat Ibu Kota. Meskipun persoalan individual kadang tidak sejalan dengan persoalan sosial, namun keduanya juga bisa bertemu. Setidaknya, dalam beberapa karya sastra pada lima tahun terakhir menunjukkan kecenderungan itu. “Secara garis besar ada kecenderungan yang mengarah pada dua soal tadi,” kata Jamal D. Rahman, Ketua Komite Satra DKJ.

Kecenderungan tadi setidaknya terlihat dari antologi cerita pendek (cerpen) Kota yang Bernama dan Tak Bernama dan antologi puisi Bisikan Kata Teriakan Kota yang dua-duanya diterbitkan Bentang pada Desember ini bersamaan dengan kumpulan makalah diskusi Sastra Kota dan biografi ringkas sastrawan Jakarta Leksikon Sastra Jabotabek. Dua buku ini menjadi pijakan Jamal mengungkap wajah sastra Jakarta. “Ada kekhususan kenapa saya memilih keduanya,” katanya. Salah satunya, penulis dan penyairnya hidup di Jakarta dan kota sekitarnya seperti Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Jakarta menjadi konteks bagi proses kreatif mereka. Selain itu karya tersebut ditulis dalam lima tahun terakhir meski konteks waktu masa itu hanya fenemona sebagian sastra Indonesia.

Daya tarik lain adalah latar belakang para penyair dan penulis cerpen tadi yang berasal dari luar Jakarta. Mereka adalah kaum urban yang relatif baru menjejakkan kaki di belantara Ibu Kota. Dalam masa itu mereka secara daryata (intens) mengintegrasikan diri dengan denyut kehidupan Jakarta. Sebagian berhasil dan sebagian lain justru gagap. Tak heran jika tema yang diangkat sebagian besar keresahan kaum urban. Secara sadar atau tidak mereka masih memiliki jarak dengan selera hidup metropolitan yang serba sibuk dan hiruk-pikuk. Para penyair dan penulis cerpen itu sudah menjadi warga Jakarta, namun belum bisa melepaskan diri dari masa lalu sebagai “orang luar” Jakarta.

Keresahan kaum urban biasanya memunculkan kesan negatif tentang kota yang diselaminya. Kesan itu tampak pada karya 36 penyair dalam Bisikan Kata Teriakan Kota. Ibu Kota digambarkan sebagai kota yang penuh konflik, tak ramah, kaya masalah sosial, “Dan direkonstruksi sebagai kota yang terkutuk,” kata Jamal. Tak ada hal positif, apalagi solusi di dalamnya. Semua merekam kota dengan 8 juta penduduk ini dengan gerutuan bahkan kekesalan. Simak petikan puisi Gita Romadhona ….jadi kita pergi malam ini/meninggalkan kota yang berkarat pada keangkuhan….

Gambaran Jakarta sebagai kota terkutuk ini rupanya menjadi tema empuk para penyair dan penulis cerpen. Meski memilih kota metropolitan sebagai pilihan hidup, uniknya mereka kerap memandangnya secara negatif. Jakarta tak ubahnya rumah fisik belaka, tapi bukan rumah batin dan kreativitasnya. “Masalah ini sebenarnya kegagalan mereka sendiri dalam menyatukan diri dengan denyut kota,” kata Ibnu Wahyudi, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Mereka, kata Ibnu, seharusnya mampu berkompromi tanpa memandang sinis pola hidup masyarakat kota yang berbeda dengan kampung halamannya.

Kegagalan menyatu dan mengintegrasikan diri tadi berdampak pada bahasa yang digunakan. Puisi tentang Jakarta sama sekali tidak mencerminkan “bahasa kota” yang berbau Jakarta. Padahal bahasa yang berkembang dalam dialog masyarakat kota merupakan estetika sastra kota yang layak dicoba. Apa salahnya mencoba bahasa gaul dalam puisi? Dalam tataran tertentu “bahasa kota” ini tetap menghadirkan estetika bahasa yang wajib disorongkan dalam puisi.

Yang menarik, para penyair, lewat antologinya, bisa merasa lebih dekat dengan kota lain meski baru sekali dikunjungi. Sumber inspirasi dan darah daging kepenyairan mereka tetaplah luar Jakarta. Wajah Jakarta yang mereka tulis bukan lagi wajah kota yang sebenarnya, tapi pengalaman personal tentang Ibu Kota. “Problem Jakarta ternyata tidak dijadikan sumber inspirasi karya kreatif,” kata Jamal. Akhirnya, puisi yang lahir cenderung liris dengan idiom non-kota yang kaya dan kuat. Seperti tampak pada karya Tulus Widjanarko, Rukmi Wisnu Waardani, Agung Yudha, dan lain-lain. Puisi Tulus berjudul Pigura Hitam, misalnya, mengandung citraan dan asosiasi yang amat pekat dan pahit.

Kaum urban yang menceburkan diri dalam kepenyairan itu, kata Jamal, ibarat bunga-bunga asing di taman bernama Jakarta. Dengan segala keragaman dan latar belakang, mereka justru melempar pertanyaan lain kenapa tak cukup banyak “bunga” Jakarta di taman itu? Mungkin Jakarta bisa mengubah karakter seseorang, membentuknya menjadi manusia urban yang berkultur urban pula. Sayang, gemerlap metropolitan belum mampu mengubah selera para penyair itu menjadi lebih gaul dan segala tetek-bengek yang berbau Jakarta. Mereka lebih asyik menuangkan pengalaman personal daripada carut-marut sosial Ibu Kota.

Kondisi ini jauh berbeda dengan penulis cerpen dalam antologi Kota yang Bernama dan Tak Bernama. Tema buku ini didominasi masalah sosial daripada personal kecuali karya Kurnia Effendi, Kincir Api. Cerpen ini mengisahkan kebahagiaan seorang anak menatap bintang, lalu berkhayal memiliki sayap agar bisa terbang dan bercengkerama dengan bintang di langit. Cerpen Kurnia merupakan satu kemungkinan mengangkat masalah personal di tengah gegap gempita Ibu Kota.

Dari 30 cerpen dalam buku ini, enam judul menampakkan wajah Jakarta yang sebenarnya. Setidaknya tema yang diangkat merupakan kehidupan warganya. Sekilas mereka lebih berhasil mengintegrasikan diri dalam kehidupan lingkungan barunya. Namun, bisa pula karena cerpen lebih memungkinkan mengungkap seluk-beluk Jakarta apa adanya. Tema dan cara bercerita bersinergi membentuk satu gambaran tentang kondisi masyarakat. “Jadi, persoalannya bukan cuma pada bahasa, tapi juga keleluasaan memanfaatkan media ungkap,” kata Ibnu.

Meski begitu tema yang diangkat lima dari enam cerpen tadi masih berkutat pada masyarakat kelas menengah bawah. Cerpen Membunuh Bayangan karya Mustafa Ismail mengangkat kisah politikus yang ingin menjadi presiden. Status sebagai masyarakat elite dipaparkan sebagai dasar bercerita. Sedangkan lima cerpen lainya masih berkutat pada persoalan nomor buntut (Percakapan Nomor-nomor), kehidupan di gerbong kereta api (Keluarga Gerbong), dan lainnya masih di lingkung masyarakat bawah itu.

Pilihan tema tadi cukup menarik karena menggambarkan wajah Jakarta dari sudut pandang lain. Setidaknya bukan wajah Jakarta yang disorongkan sinetron televisi yang selalu glamor, gemerlap, dan penuh hura-hura. Pilihan para cerpenis ini juga menujukkan empati dan kepekaan sosial mereka. Di sisi lain, tema ini juga sebuah sikap kritis pada kesenjangan yang terjadi di sekitar mereka.

Dua antologi tadi memang bukan cermin sesungguhnya dari wajah sastra Jakarta. Paling tidak, dua antologi itu cermin dari kecenderungan karya puisi dan cerpen yang diciptakan dalam lima tahun terakhir. Dua karya tadi juga menggambarkan aspek hubungan sastrawan yang hidup di Jakarta dan kompleksitas kehidupan kota. “Jangan lupa juga sejauh mana kota ini menjadi inspirasi berkarya,” kata Jamal.

Wajah Jakarta dalam sorotan penyair dan cerpenis tadi tak lebih tempat berpijak sebagai lahan kehidupan, tapi belum memberikan warna pada proses kreatif mereka. Mereka belum benar-benar menyatu dengan pola hidup kaum metropolitan. Jika Jakarta telah menjadi darah daging, begitu banyak masalah sosial yang sebenarnya merangsang mereka untuk berkarya. Hanya saja harapan itu belum terwujud karena, “Mungkin mereka merasa asing di tengah kehidupan Jakarta,” kata Jamal. arif firmansyah

———–
http://www.korantempo.com/news/2003/12/24/Budaya/51.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Wajah Sastra Jakarta Mutakhir at .

meta

%d blogger menyukai ini: