Nonton Harry Potter Sampe Nyasar

Dengan niat mau menulis resensi Harry Potter, Kamis malam lalu (16/7), saya bertolak dari kantor di kawasan Kebayoran Lama ke Pondok Indah Mall 2. Saya lihat disana ada jadwal pemutaran pukul 21.30 dan 22.00. Sampai di sana sudah pukul 21.40. Praktis, saya pun ambil sesi pemutaran pukul 22.00. (lagi…)
Add comment 19/07/2009
Hmm, PKA Sebentar Lagi, Apa Kata Mereka?

Pekan Kebudayaan Aceh sebentar lagi: 2-11 Agustus 2009. Tinggal menghitung hari. Barusan saya melongok web koran Serambi Indonesia. Saya membaca sejumlah tulisan terkait PKA. Ada yang ditulis oleh Ampuh Devayan, Barlian AW, dan Zoelfikar Sawang. Secara umum, ketiga penulis itu pesimis dengan kualitas PKA mendatang.
Pelaksanaan PKA kali ini memang memasuki cara baru. Kalau dulu dikelola secara swakelola oleh Pemda Aceh, kini pelaksananya dipercayakan kepada event organizer (PT Dimeta Internusa, Jakarta). Ada yang setuju dengan pola ini, ada pula yang tidak. Semua sah, tentu. Tapi bagaimana persisnya pemikiran ketiga penulis itu? (lagi…)
1 comment 19/07/2009
Sastrawan Luar Negeri Baca Puisi di PKA
JAKARTA – Seniman dari Austria, Werner Schulze, telah memastikan hadir dan tampil dalam acara pembacaan puisi “Panggung Sastra Perahu” di Krueng Aceh dalam rangka Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 5, 2-11 Agustus 2009 mendatang. Kepastian kehadiran sastrawan Austria tersebut disampaikan dalam surat balasan kepada panitia PKA.
“Pak Werner akan berada di Banda Aceh selama tiga hari,” kata Mustafa Ismail, representatif panitia PKA di Jakarta, Minggu. Werner Schulze adalah seorang seniman musik dan guru besar pada University of Music and Dramatic Arts Vienna (Internationales Harmonik-Zentrum). (lagi…)
Add comment 16/07/2009
Nyanyian Sunyi Kardy Syaid
Bagi generasi terbaru kepenyairan dan kesenian di Aceh, boleh jadi nama Kardy Syaid tidak dikenal. Maklum, ia memang angkatan lama. Sebelum hijrah ke Jakarta pada 1982, ia memimpin Federasi Teater Aceh. Ia juga pendiri sekaligus memimpin Teater Kuala dan Teater Aremba, Banda Aceh.
Nama aslinya Fachrurazi Syaid, berdarah Aceh-Minang, lahir di Pariaman pada 11 Desember 1956. Alumni Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) pada 1980 ini hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah pada STIA LAN dan lulus pada 1986. Disela-sela itu, ia juga kuliah di Fakultas Film & Televisi Institut Kesenian Jakarta. Kini memimpin sebuah PH dan sekolah akting Aksineas di Jakarta. (lagi…)
1 comment 28/06/2009
Malam dan Kopi Din Saja
Sejumlah teman suka mengirim puisi lewat pesan singkat (SMS). Adakalanya, puisi itu langsung saya baca. Namun terkadang, karena keadaan tertentu, puisi itu saya simpan dulu. Salah seorang teman penyair yang kerap mengirimkan puisi lewat SMS itu adalah Din Saja. Berikut dua puisinya yang dikirim dalam waktu terpisah. (lagi…)
Add comment 23/06/2009
Dunia Masa Depan
FILM INI MENGHADIRKAN KISAH AWAL SERIAL STAR TREK: KIRK DAN SPOCK KECIL HINGGA REMAJA
Sumber: Koran Tempo, Senin 8 Juni 2009
Bayi lelaki itu lahir dalam sekoci penyelamat. Ayahnya, George Kirk (Chris Hemsworth), tewas ketika menyelamatkan pesawat USS Kelvin dan awaknya dari serangan manusia Romulan. Ibunya, yang sedang mengandungnya, berhasil diselamatkan. Ia lalu tumbuh sebagai anak yang ugal-ugalan, suka kebut-kebutan, dan berantem. Namanya James T. Kirk. (lagi…)
Add comment 11/06/2009
Mewujudkan Impian Nawang
![]()
Nawang adalah sebuah novel yang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Menurut Nawang, perempuan tak sekedar pelengkap dalam rumah tangga. (lagi…)
1 comment 05/06/2009
KUNANG-KUNANG
Sajak Mustafa Ismail
Sumber: Kompas, Minggu 10 Mei 2009
maafkan aku bila pada satu sore aku
menemukanmu dalam gelas kopi dan meminumnya
stasiun tugu dan kali code memang telah jauh
tapi aku takut kau makin dekat,
masuk dalam darah dan menjadi kunang-kunang
di tengah padang (lagi…)
1 comment 11/05/2009
Pasar
Mustafa Ismail
WARTAWAN TEMPO
Sumber: Koran Tempo, 30 April 2009
Pasar dan idealisme di Indonesia merupakan dua wilayah yang kerap dikesankan berseberangan. Mereka seolah berada berjauhan. Pasar identik dengan produk-produk yang laris, sedangkan idealisme adalah sebuah menara gading–sesuatu yang bertolak dari hal-hal ideal, bahkan sebuah cita-cita luhur.
Dalam dunia seni, termasuk film, pasar kerap menggeser idealisme. Menjamurnya film-film horor di layar bioskop Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, di mata pengusaha film, merupakan bagian dari kehendak pasar. Mereka tak mau rugi untuk memproduksi film yang belum teruji bakal laku di pasar. (lagi…)
Add comment 01/05/2009

