<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>jalansetapak</title>
	<atom:link href="http://jalansetapak.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jalansetapak.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Nov 2009 02:56:23 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='jalansetapak.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/fa0413bb838723922afae7c49dda9a05?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>jalansetapak</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Khatulistiwa Award untuk F Rahardi</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/11/khatulistiwa-award-untuk-f-rahardi/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/11/khatulistiwa-award-untuk-f-rahardi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 02:56:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=795</guid>
		<description><![CDATA[Tadi malam (Selasa, 10 November 2009), ada sejumlah acara. Ada pengumuman Khatulistiwa Literary Award di Plaza Senayan, pidato kebudayaan oleh Ignas Klenden di Graha Bhakti Budaya di TIM, pentas teater &#8220;Bunga Semerah Darah&#8221; karya Rendra untuk mengenang sang tokoh itu oleh Teater Tanah Air pimpinan Jose Rizal Manua, terus ada satu lagi pemutaran perdana film [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=795&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tadi malam (Selasa, 10 November 2009), ada sejumlah acara. Ada pengumuman Khatulistiwa Literary Award di Plaza Senayan, pidato kebudayaan oleh Ignas Klenden di Graha Bhakti Budaya di TIM, pentas teater &#8220;Bunga Semerah Darah&#8221; karya Rendra untuk mengenang sang tokoh itu oleh Teater Tanah Air pimpinan Jose Rizal Manua, terus ada satu lagi pemutaran perdana film <em>Emak Ingin Naik Haji</em>. Semua acara itu, tentu saja, menggoda. </p>
<p>Tapi, tentu tidak mungkin menghadiri semua acara dalam waktu bersamaan. AKhirnya, aku memilih ke TIM bersama seorang teman kantor. Kami berangkat sekitar pukul tujuh kurang sedikit, dengan harapan begitu sampai kawasan Sudirman sudah tidak lagi terkena &#8220;3 in 1&#8243;. Lagi pula, menurut pengalamanku selama ini, berangkat lebih awal atau berangkat pukul tujuh, toh sama saja sampainya. Bagaimana bisa?<span id="more-795"></span></p>
<p>Kalau berangkat lebih awal, aku harus melewati jalan lain yang macet, karena &#8220;tidak kuat&#8221; membayar joki 3 in 1. Nah, kalau berangkat pas selesai &#8220;3 in 1&#8243;, jalanan Sudirman itu masih sangat longgar. Jadinya sampainya bahkan lebih cepat. Dan benar, gak sampai setengah jam, kami sudah sampai di Taman Ismail Marzuki. Dan sempat susah juga nyari parkir, karena parkirannya padat.</p>
<p>Masuk ke Graha Bhakti Budaya, dari lobi, terdengar suara musik. &#8220;Sudah mulai ya Mas?&#8221; tanyaku kepada petugas di meja penerima tamu setelah mengisi buku tamu. &#8220;Ya,&#8221; katanya. &#8220;Tapi pidatonya belum kan?&#8221; tanyaku lagi. &#8220;Belum.&#8221; Setelah mampir sebentar di kamar kecil, kami naik ke atas. Begitu membuka pintu yang ditutup tirai hitam, wah, ternyata gedung itu penuh. Sejumlah orang berdiri di belakang bahkan ada yang duduk di koridor. Di panggung, Gilang Ramadhan dan kawan-kawan tengah beraksi.</p>
<p>Sekitar pukul 20.30, setelah Gilang dan kawan-kawan  &#8212; memainkan musik yang dipadu dengan improvisasi nan dahsyat  &#8212; turun panggung, wakil dari Dewan Kesenian Jakarta yang menjadi penyelenggara acara itu naik ke panggung memberi sambutan. Dalam kesempatan itu, ia juga membacakan nama-nama anggota Dewan Kesenian Jakarta yang baru, antara lain Ahmadun Yosi Herfanda, Diah Hadaning, Zen Hae, Alex Sihar, Jabatin Bangun, Firman Ichsan dan Marco Kusumawijaya. </p>
<p>Aku sempat bertanya-tanya, ketuanya siapa? Sebab, Firman Ichsan &#8212; yang mewakili DKJ memberi kata sambutan dan mengumumkan nama-nama itu &#8212; tidak menyebutkan nama ketua. Selesai acara, aku ketemu Diah Hadaning di lobi GBB dan menanyakan hal itu. &#8220;Belum ada,&#8221; kata Mbak Diah, begitu biasa kami memanggil penyair perempuan itu. Zen Hae, juga ketemu di lobi, mengatakan hal serupa. &#8220;Nanti akan dipilih melalui pleno. Plenonya belum,&#8221; tutur Zen Hae di tempat yang sama. </p>
<p>&#8220;Jadi yang melaksanakan acara ini pengurus yang sekarang, bukan pengurus baru?&#8221; tanyaku. &#8220;Iya,&#8221; jawab Zen. Sebab, pengurus baru memang belum dilantik. Menurut Zen, seharusnya kepengurusan sekarang sudah berakhir pada Juli 2009, genap tiga tahun. Proses penjaringan anggota DKJ baru sendiri sudah berlangsung sejak Mei 2009. Jadi kapan pelantikannya? Ia pun tidak bisa menjawab pasti.</p>
<p>Kembali ke pidato kebudayaan Ignas. Selesai Firman Ichsan turun dari panggung, baru Ignas Kleden naik panggung dan berdiri di podium. Ia memakai baju batik. Membuka naskah pidato berjudul &#8220;Seni dan Civil Society (Dengan Referensi Khusus Kepada Penyair Rendra)&#8221;, lalu membacakannya. &#8220;Membicarakan kedudukan seni dalam hubungannya dengan civil society merupakan suatu tantangan yang tidak mudah dijawab, juga pada kesempatan ini&#8230;.&#8221; Dalam pidato itu, ia banyak mengutip sajak Rendra untuk menjelaskan konteks yang dibicarakan. <em>(Ada yang punya soft copy naskah pidatonya, silakan berbagi disini. Tq).</em></p>
<p>Pidato selesai sekitar pukul 21.30, dan pengunjung dipersilakan mencicipi hidangan yang telah disediakan di lobi. Disitu, aku ketemu beberapa teman. Selain Diah Hadaning dan Zen Hae, ada Irmansyah, Imam Imam Ma&#8217;arif (Planet Senen), dan lain-lain. </p>
<p>Dalam perjalanan pulang, aku bertanya-tanya siapakah yang terpilih sebagai pemenang Khatulistiwa Literary Award? Akau mau menelpon teman kantor, Heru Triyono dan Amandra, yang datang ke sana, tapi sudah terlalu malam. Pagi-pagi, aku mencari koran, ternyata tidak ada berita tentang Khatulistiwa. Lalu, aku membuka web Tempo Interaktif, dan ternyata ada berita di sana. Ini dia berita yang kukutip dari Tempo Interaktif itu [ http://tempointeraktif.com/hg/seni/2009/11/10/brk,20091110-207629,id.html ]:</p>
<p><em><br />
<strong>Sastrawan F Rahardi Raih Khatulistiwa Literary Award<br />
</strong><br />
Selasa, 10 November 2009 | 21:18 WIB</p>
<p>TEMPO Interaktif, Jakarta &#8211; Khatulistiwa Literary Award atau Anugerah Sastra Khatulistiwa kesembilan digelar di Plaza Senayan, Jakarta, malam ini (10/11). F Rahardi meraih gelar untuk kategori Prosa Terbaik dengan karya berjudul Lembata, sementara  penulis asal Bali, Sindu Putra,  memenangkan kategori Puisi Terbaik untuk karyanya yang berjudul Dongeng Anjing Api. Sedangkan penulis muda berbakat terbaik dimenangkan oleh Ria N Badaria untuk karya berjudul Fortunata. </p>
<p>Menurut Ketua Juri Anugerah Sastra Khatulistiwa 2009 Robertus Robert, pemenang dipilih berdasarkan nilai universalitas dan kebaruan. &#8220;Juga ke-khas-an dari si penulis. Misalnya Sindu dengan tulisan yang menonjolkan karakter orang Bali,&#8221; kata Robertus. </p>
<p>Penghargaan khusus juga diberikan kepada Sihar Ramses Simatupang untuk karyanya yang berjudul Bulan Lebam di Tepian Toba oleh Metropoli d&#8217;Asia, penerbit asal Italia. Karya Sihar nantinya diterbitkan dan dipublikasikan di Italia. HERU T| AMANDRA MM<br />
 </em></p>
<p>Pagi ini, aku pun tergoda untuk mengisi status di Facebookku [ http://www.facebook.com/musismail ] dengan judul berita di Tempo Interaktif itu. Selamat untuk F Rahardi! <strong>MUS</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/795/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=795&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/11/khatulistiwa-award-untuk-f-rahardi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khatulistiwa Award Sebentar Lagi Diumumkan</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/03/khatulistiwa-award-sebentar-lagi-diumumkan/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/03/khatulistiwa-award-sebentar-lagi-diumumkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 01:50:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=791</guid>
		<description><![CDATA[Dengar kabar &#8212; mudah-mudahan tidak ada perubahan &#8212;  pemenang penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award 2009 akan diumumkan pada 10 Nopember 2009. Upacara pengumuman, seperti tahun-tahun sebelumnya, diadakan di Plaza Senayan, Jakarta. Nah, siapakah yang jadi pemenang?
Jika mau menebak-nebak, tentu berdasarkan pembacaan, silakan saja. Ini dia karya-karya yang masuk lima besar, yang kemudian dipilih masing-masing [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=791&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dengar kabar &#8212; mudah-mudahan tidak ada perubahan &#8212;  pemenang penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award 2009 akan diumumkan pada 10 Nopember 2009. Upacara pengumuman, seperti tahun-tahun sebelumnya, diadakan di Plaza Senayan, Jakarta. Nah, siapakah yang jadi pemenang?</p>
<p>Jika mau menebak-nebak, tentu berdasarkan pembacaan, silakan saja. Ini dia karya-karya yang masuk lima besar, yang kemudian dipilih masing-masing satu untuk dimenangkan. Untuk kategori prosa ada <em>Meredam Dendam</em> (Novel Gerson Poyk), <em>Sutasoma</em> (Novel Cok Sawitri), <span id="more-791"></span><em>Lembata</em> (Novel F. Rhardi), Lacrimosa (Kumpulan Cerita Pendek Dinar Rahayu), dan <em>Tanah Tabu</em> (Novel Anindita S. Thayf).</p>
<p>Untuk kategori puisi: <em>Dongeng Anjing Api</em> (Sindu Putra), <em>Kolam</em> (Sapardi Djoko Damono), <em>Partitur, Sketsa, Potret dan Prosa</em> (Wendoko), <em>Puan Kecubung</em> (Jimmy Maruli Alfian), Perahu Berlayar Sampai Bintang (Cecep Syamsul Hari). </p>
<p>Sementara untuk kategori penulis muda berbakat adalah:<br />
<em>Kartini Nggak Sampai Eropa</em> (Sammaria), <em>Aku Lelah Menjadi Cantik</em> (Koko P. Bhairawa), <em>9 Matahari</em> (Adenita), <em>Lika Liku Luka</em> (Celinereyssa), <em>Etzhara</em> (Rino Styanto), <em>Pengantin Subuh</em> (Zelfeni), <em>Separuh Bintang</em> (Evline), Fortunata (Ria N. Badaria).</p>
<p>Bagaimana, sudah bisa menebak siapa yang menang? ****</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>ini dia blog panitia khatulistiwa:<br />
~~~ http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com/2009/10/</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/791/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=791&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/03/khatulistiwa-award-sebentar-lagi-diumumkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siapa Berani Melawan Weton</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/02/melawan-weton/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/02/melawan-weton/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 17:39:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=787</guid>
		<description><![CDATA[
Hati-hati! Sepasang kekasih bisa terancam batal menikah jika kemudian diketahui wetonnya tidak cocok. Weton, inilah yang diangkat  Dianing Widya Yudhistira dalam novelnya yang keempat, diterbitkan Grasindo pada Oktober 2009. Dalam tradisi Jawa,  weton adalah sesuatu yang berkaitan dengan hari lahir. Segala aktivitas masyarakat, termasuk perjodohan dan perkawinan, ditilik dari sisi weton. 
Di Jawa, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=787&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://inlinethumb63.webshots.com/29502/2853627040103615336S600x600Q85.jpg" width="420" alt="novel weton" /></p>
<p>Hati-hati! Sepasang kekasih bisa terancam batal menikah jika kemudian diketahui wetonnya tidak cocok. <span id="more-787"></span>Weton, inilah yang diangkat  <a href="http://dianing.wordpress.com"><strong>Dianing Widya Yudhistira</strong></a> dalam novelnya yang keempat, diterbitkan <a href="http://grasindo.co.id">Grasindo</a> pada Oktober 2009. Dalam tradisi Jawa,  <a href="http://novelweton.co.cc"><strong>weton</strong></a> adalah sesuatu yang berkaitan dengan hari lahir. Segala aktivitas masyarakat, termasuk perjodohan dan perkawinan, ditilik dari sisi weton. </p>
<p>Di Jawa, weton memang memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Jika dilanggar, dipercaya akan menyebabkan timbulnya masalah. Lalu, masalah apa yang dialami oleh tokoh-tokohnya dalam novel ini dan bagaimana mereka mencari jalan keluar? Apakah sepasang kekasih harus batal menikah hanya karena weton yang tidak cocok?  </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/787/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/787/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/787/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/787/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/787/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/787/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/787/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/787/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/787/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/787/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=787&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/02/melawan-weton/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inlinethumb63.webshots.com/29502/2853627040103615336S600x600Q85.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">novel weton</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Novel Terbaru Dianing: &#8220;Nawang&#8221; dan &#8220;Weton&#8221;</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/10/26/dua-novel-terbaru-dianing-nawang-dan-weton/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/10/26/dua-novel-terbaru-dianing-nawang-dan-weton/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 17:24:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=785</guid>
		<description><![CDATA[Dalam waktu berdekatan, dua novel Dianing Widya Yudhistira  terbit: &#8220;Nawang&#8221; dan &#8220;Weton&#8221;. Nawang diterbitkan oleh penerbit Republika pada Mei 2009. Novel ini, mendapat apresiasi yang antusias dari pembaca, baik lewat sms, email, facebook, maupun lewat blognya (blog pribadi dan maupun blog novel Nawang). Para pembaca itu mengaku merasa terdorong untuk menjadi lebih maju. Mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=785&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dalam waktu berdekatan, dua novel Dianing Widya Yudhistira  terbit: &#8220;Nawang&#8221; dan &#8220;Weton&#8221;. Nawang diterbitkan oleh penerbit Republika pada Mei 2009. Novel ini, mendapat apresiasi yang antusias dari pembaca, baik lewat sms, email, <a href="http://facebook.com/dianingwy">facebook</a>, maupun lewat blognya (<a href="http://dianing.wordpress.com">blog pribadi</a> dan maupun blog <a href="http://novelnawang.co.cc">novel Nawang</a>). Para pembaca itu mengaku merasa terdorong untuk menjadi lebih maju. Mereka terinspirasi dengan tokoh Nawang yang tidak mengenal menyerah untuk mewujudkan impian-impiannya. </p>
<p>Dianing &#8212; seperti dia ungkapkan dalam bedah novelnya Sabtu (24/10) lalu di ruang Anggrek Istora Senayan, Jakarta &#8212; memang menghadirkan tokoh Nawang sebagai sosok yang getol dan begitu bersemangat untuk memperjuangkan hidup. Ia tidak pernah menyerah pada keadaan yang membelenggunya. Justru belenggu itu menjadi cambuk untuk membuatnya lepas dari sana. &#8220;Perempuan harus kuat. Perempuan harus kokoh, tidak boleh lemah. Perempuan harus menjadi subjek yang mandiri,&#8221; kata Dianing.<span id="more-785"></span></p>
<p>Ia mengaku memasukkan kilasan-kilasan masa kecilnya di kota kecil bernama Batang: dimana dia melihat sebagian perempuan akhirnya hanya menjadi istri dan mengurus rumah tangga. &#8220;Sekolah pun mereka terbatas. Orang tua lebih memperhatikan pendidikan anak laki-laki daripada anak perempuan,&#8221; tuturnya dalam kesempatan bedah buku itu. Bahkan, hingga kini pun, ia masih menyaksikan, ada sebagian perempuan tidak punya semangat untuk maju. Alasan kemiskinan dan ketidaaan seolah menjadi pembenaran untuk mereka menyerah pada nasib. </p>
<p>Padahal, nasib dan keberuntungan harus diperjuangkan, bukan datang secara simsalabin. Ia berharap perempuan yang membaca novel ini akan terdorong dan tergugah untuk memperjuangkan keinginan dan impian-impiannya serta selalu berpikir positif dan optimistik. &#8220;Tapi, novel ini bukan cuma untuk perempuan, juga untuk dibaca laki-laki,&#8221; katanya menjawab seorang pembaca buku itu. </p>
<p>&#8220;Apakah Nawang dalam novel itu adalah Mbak Dianing sendiri?&#8221; Pertanyaan itu dilontarkan seorang pembaca dalam diskusi itu. &#8220;Bukan,&#8221; jawab Dianing. &#8220;Saya hanya mengumpulkan serpihan-serpihan apa yang saya saksikan, lihat, dan dengar, baik dari masa kecil saya, maupun kenyataan kini.&#8221; </p>
<p>Ia memang banyak bertolak dari kenyataan. Bahkan, nama-nama tempat atau settingnya pun benar-benar nyata. &#8220;Kalau sesekali jalan ke kampung saya di Batang, tanyalah nama-nama tempat yang saya sebutkan di novel itu, pasti akan ketemu.&#8221; </p>
<p>WETON</p>
<p>Sementara Weton (Bukan Salah Hari) adalah novel terbarunya, yang terbit pada Oktober 2009. Penerbitnya adalah Grasindo (kelompok Kompas-Gramedia). Weton menceritakan sebuah mitos di Jawa yakni weton &#8212; sesuatu yang berkaitan dengan hari lahir. Dalam masyarakat Jawa, ada tradisi untuk melihat sesuatu dengan memadukan hari lahir seseorang dalam kalender Jawa.</p>
<p>Karena masalah weton yang tidak cocok misalnya, seseorang bisa jadi batal kawin. Ada pula pasangan yang wetonnya tidak cocok satu sama lain tapi nekat kawin, lalu ia pun banyak menemui masalah dalam keluarga. Disinilah Dianing mencoba menempatkan weton dalam kerangka rasional &#8212; lewat drama-drama kehidupan tokoh-tokohnya, terutama dalam kaitan antara kesialan dan keberuntungan. </p>
<p>Tentu saja ini novel yang unik, sesuatu yang jarang dilirik oleh novelis lain. Ini kemudian menjadi satu kekuatan yang luar biasa dan memberi warna yang berbeda terhadap novel-novel yang ada. Pembaca diajak untuk mengarungi samudra kearifan lokal Jawa dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala penerimaan dan kontroversinya.</p>
<p>Dianing memang teguh dan begitu bersemangat mengolah gagasan-gagasan dari kehidupan keseharian di Jawa ke dalam karya-karyanya. Dua tahun lalu, salah satu  novelnya yang mengangkat kearifan lokal yakni &#8220;Sintren&#8221; (Grasindo, 2007) masuk dalam jajaran lima besar Khatulistiwa Literary Award. Ini adalah ajang penghargaan bergengsi untuk buku-buku sastra di Indonesia. Sintren kemudian banyak dibicarakan para pengamat serta dijadikan bahan skripsi oleh mahasiswa.</p>
<p>Novelnya yang lain adalah &#8220;Perempuan Mencari Tuhan&#8221; (Republika, 2007). Novel ini mengangkat perihal seseorang yang kehilangan Tuhan &#8212; lalu berusaha menemukan Tuhan dengan caranya sendiri. Tentu saja, ini juga tema yang sungguh menarik.  </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/785/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=785&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/10/26/dua-novel-terbaru-dianing-nawang-dan-weton/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/10/25/779/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/10/25/779/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 06:07:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/2009/10/25/779/</guid>
		<description><![CDATA[
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=779&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://img30.imageshack.us/img30/4909/bedahbukunawang1blogoke.jpg" width="420" alt="bedah novel nawang"></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/779/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=779&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/10/25/779/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img30.imageshack.us/img30/4909/bedahbukunawang1blogoke.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bedah novel nawang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khatulistiwa Award Lagi</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/10/08/khatulistiwa-award-lagi/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/10/08/khatulistiwa-award-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 03:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=777</guid>
		<description><![CDATA[Khatulistiwa Literary Award telah merilis daftar panjang (10 besar) karya yang sedang dijaring untuk dipilih masing-masing satu pemenang. Seperti sebelumnya, kali ini juga menyuguhkan tiga kategori: puisi, prosa, dan pengarang muda berbakat. Nama-nama calon pemenang itu diumumkan di blog Khatulistiwa Literary Award. 
Namun, ada yang mengejutkan. Nama-nama nominasi pengarang berbakat kemudian diralat. &#8220;Ini dikarenakan kesalahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=777&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Khatulistiwa Literary Award telah merilis daftar panjang (10 besar) karya yang sedang dijaring untuk dipilih masing-masing satu pemenang. Seperti sebelumnya, kali ini juga menyuguhkan tiga kategori: puisi, prosa, dan pengarang muda berbakat. Nama-nama calon pemenang itu diumumkan di blog <a href="http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com/2009/10/">Khatulistiwa Literary Award</a>. </p>
<p>Namun, ada yang mengejutkan. Nama-nama nominasi pengarang berbakat kemudian diralat. &#8220;Ini dikarenakan kesalahan teknis yang menyangkut data para peserta yang masuk kategori Penulis Muda Berbakat (yaitu harus karya fiksi yang pertama kali diterbitkan dan penulis berusia maksimal 30 tahun). Kami akan umumkan hasil RALAT secepatnya setelah diproses oleh para Juri,&#8221; tulis panitia dalam blog itu. <span id="more-777"></span></p>
<p>10 Besar Anugerah Sastra Khatulistiwa ke 9, 2009</p>
<p>Di bawah adalah judul-judul dan nama-nama penulis yang karyanya terpilih dalam 10 Besar Khatulistiwa Literary Award ke 9, 2009. Dalam urutan tidak teratur:</p>
<p><strong>10 Besar Puisi:<br />
</strong></p>
<p>1.Kolam/Sapardi Djoko Damono</p>
<p>2. Akar Berpilin/Gus Tf Sakai</p>
<p>3. Dongeng Anjing Api/Sindu Putra</p>
<p>4. Partitur, Sketsa, Potret dan Prosa/Wendoko</p>
<p>5. Perahu Berlayar Sampai Bintang/Cecep Syamsul Hari</p>
<p>6. Pastoral Kupu2/Made Suantha</p>
<p>7. Telimpuh/Hasan Apsahani</p>
<p>8. Pemetik Bintang/Soni Farid Maulana</p>
<p>9. Lagu Cinta Para Pendosa/Zaim Rofiqi</p>
<p>10. Puan Kecubung/Jimmy Maruli Alfian</p>
<p><strong>10 Besar Prosa:<br />
</strong></p>
<p>1. Meredam Dendam/Gerson Poyk/Novel</p>
<p>2. Sutasoma/Cok Sawitri/Novel</p>
<p>3. Lembata/F.Rahadi/Novel</p>
<p>4. Lacrimosa/Dinar Rahayu/Kump Cerita</p>
<p>5. Tanah Tabu/Anindita Thayf/Novel</p>
<p>6. Juru Masak/Damhuri Muhammad/Kump Cerita.</p>
<p>7. Bulan Lebam/Sihar Simatupang/Novel</p>
<p>8. Kidung/M. Sobary/Novel</p>
<p>9. Usaha Menjadi sakti/Gunawan Maryanto/Kump Cerita</p>
<p>10. Metropolis/Windi Ramadhina/Novel</p>
<p><strong>10 Besar Pengarang Muda Berbakat (Umur maksimal 30 tahun):</strong><br />
(CATATAN: List ini kemudian diralat oleh panitia, lihat penguman lengkapnya di <a href="http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com/2009/10/07/stop-press-ralat-10-besar-penulis-muda-berbakat/">blog panitia</a> atau di bagian bawah posting ini.</p>
<p>1. Fortunata/Ria N. Badaria</p>
<p>2. Separuh Bintang/Evline Kartika</p>
<p>3. Aku Lelah Menjadi Cantik/Koko P. Bhairawa</p>
<p>4. Goloso Geloso/Tanti Susilawati</p>
<p>5. Etzhara/Rino Styanto</p>
<p>6. Lika Liku Luka/Celinereyssa</p>
<p>7. Bintang Bunting/Valiant Budi</p>
<p>8. Ai/Winna Efendi</p>
<p>9. Tanril/Nafta S. Meika</p>
<p>10. Kartini Nggak Sampai Eropa/Sammaria</p>
<p>Pengumuman 5 Besar Khatulistiwa Literary Award akan segera dilakukan dalam waktu dekat.</p>
<p>Khusus kategori Prosa, karya-karya novel akan dinilai oleh sebuah panel juri yang dipilih oleh penerbit Metropoli D’Asia, salah satu penerbit terbesar di Italia. Dan sebuah hadiah khusus akan diberikan pada malam Anugerah Sastra Khatulistiwa di Plaza Senayan, Jakarta, jam 7 pm, tanggal 10 Nopember, 2009.</p>
<p>Kepada penulis novel yang karyanya masuk 10 Besar kategori Prosa, harap mengisi form perjanjian dengan Metropoli D’Asia yang sudah kami kirimkan. Bila belum menerima form tersebut, harap email saya di richoh2007@gmail.com</p>
<p>Semua penulis diharapkan kehadirannya pada malam perayaan sastra Indonesia ini.</p>
<p>Catatan: Karena kekurangan dana, maka tahun ini, para finalis, yakni mereka yang masuk lima besar namun tidak menang, tidak akan diberikan hadiah uang yang biasanya diberikan setiap tahun.</p>
<p>http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com/2009/10/</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><strong><font color="blue">STOP PRESS: RALAT 10 BESAR PENULIS MUDA BERBAKAT</font><br />
</strong><br />
STOP PRESS<br />
RALAT</p>
<p>Dengan ini diberitahukan kepada seluruh peserta Anugrah Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2009 dan kepada khalayak, bahwa ada RALAT untuk daftar karya yang masuk 10 Besar Kategori Penulis Muda Berbakat. Ini dikarenakan kesalahan teknis yang menyangkut data para peserta yang masuk kategori Penulis Muda Berbakat (yaitu harus karya fiksi yang pertama kali diterbitkan dan penulis berusia maksimal 30 tahun). Kami akan umumkan hasil RALAT secepatnya setelah diproses oleh para Juri. Mohon maaf atas kekeliruan ini. Terima kasih.</p>
<p>Panitia KLA 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/777/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=777&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/10/08/khatulistiwa-award-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Baca Puisi di Atas Perahu</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/08/13/baca-puisi-di-atas-perahu/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/08/13/baca-puisi-di-atas-perahu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 01:43:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/2009/08/13/baca-puisi-di-atas-perahu/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Harian Rakyat Aceh, Senin, 3 Agustus 2009

Banda Aceh-Sekitar 50 penyair atau sartrawan Indonesia dan asing akan baca puisi di atas perahu Krueng Aceh, 6 Agustus pukul16.00 WIB. Kemudian, mereka juga tampil dalam acara Panggung Sastra Pinto Khop, pada 5 Agustus pukul 20.00 WIB.
Sastrawan asing yang hadir, dari Austria, mewakili Eropa, Jerman, Italy, Australia, Malaysia, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=776&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Sumber: <a href="http://www.rakyataceh.com/index.php?open=view&amp;newsid=12588&amp;tit=Berita%20Utama%20-%20Baca%20Puisi%20di%20Atas%20Perahu">Harian Rakyat Aceh, Senin, 3 Agustus 2009</a><br />
</em></p>
<p>Banda Aceh-Sekitar 50 penyair atau sartrawan Indonesia dan asing akan baca puisi di atas perahu Krueng Aceh, 6 Agustus pukul16.00 WIB. Kemudian, mereka juga tampil dalam acara Panggung Sastra Pinto Khop, pada 5 Agustus pukul 20.00 WIB.</p>
<p>Sastrawan asing yang hadir, dari Austria, mewakili Eropa, Jerman, Italy, Australia, Malaysia, Cina. Sedangkan dalam negeri, Aceh, Medan, Padang, Solo, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Kudus, Bali, cirebon.<span id="more-776"></span></p>
<p>Agenda sastra lainnya, seminar satra, di museum tsunami 6 Agustus pukul 09.00 WIB dengan topik pembahasan Aceh dalam peta politik komunitas sastra Indonesia,pembicara, pengamat satra asal Jerman, Katering Bandel.</p>
<p>Selanjutnya, juga ttampil sastra Aceh sejak Hamzah Fansuri, sampai generasi terkini, pembicara profesor Maman Mahayana dari Universitas ndonesia, Jakarta. Pembicara ketiga sastra Aceh kini, pembicara D Kemalawati, penyair wanita Aceh.</p>
<p>Selain itu diluncurkan antologi sastra Krueng Aceh di Pinto Khop 5 Agustus pukul 20.00 WIB malam. Acara ini diberinama Aceh Internastional literary Festival (Festival sastra Aceh Internasional) dalam PKA V 2009.</p>
<p>Ketua Penyelenggara Sastra, Fikar W Eda didampingi Sekretaris Mustafa Ismail mengatakan, event ini untuk memberi warna PKA karena sejak PKA tahun 1958 tidak ada acara khusus sastra, padahal Aceh adalah tanah para sastrawan.</p>
<p>&#8220;Kita akan terus mendukung program Pemerintah Aceh dalam mengembangkan budaya Aceh di pentas internasional,&#8221; ungkap Fikar. (imj)	 </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/776/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=776&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/08/13/baca-puisi-di-atas-perahu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PKA-5, Aceh International Literary Festival, dan Tukang Obat (1)</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/08/01/pka-5/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/08/01/pka-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 03:37:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/2009/08/01/pka-5/</guid>
		<description><![CDATA[Aku tiba lebih awal di Bandara Soekarno Hatta, Jumat pagi itu. Pengemudi taksi yang kupesan mengetuk-ngetuk pagar rumah pukul 04.40, ketika saya buru-buru mau mandi. Istri kemudian buru-buru ke depan dan meminta &#8220;Bapak Taksi&#8221; itu menunggu. 
Sempat kudengar suara sang pengemudi itu, &#8220;Portalnya ditutup, Bu. Nggak bisa masuk.&#8221; Aku lalu berkata kepada istri, &#8220;Nggak usah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=774&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Aku tiba lebih awal di Bandara Soekarno Hatta, Jumat pagi itu. Pengemudi taksi yang kupesan mengetuk-ngetuk pagar rumah pukul 04.40, ketika saya buru-buru mau mandi. <a href="http://dianing.co.cc">Istri</a> kemudian buru-buru ke depan dan meminta &#8220;Bapak Taksi&#8221; itu menunggu. </p>
<p>Sempat kudengar suara sang pengemudi itu, &#8220;Portalnya ditutup, Bu. Nggak bisa masuk.&#8221; Aku lalu berkata kepada istri, &#8220;Nggak usah dibuka. Aku aja yang jalan ke depan lorong nanti.&#8221; Setelah itu aku buru-buru mandi. Pagi itu, aku memang bangun terlambat. Taksi yang kutelpon sekitar pukul 01.00, kuminta datang pukul 04.30. <span id="more-774"></span></p>
<p>Tapi, jam segitu, aku baru bangun &#8212; dengan terpaksa. Kubilang terpaksa, karena aku dibangunkan istri dan mengatan, &#8220;Bang, sudah setengah lima.&#8221; Aku pun seperti terlonjak dari kasur. Tak lama, taksi datang. Setelah mandi buru-buru, aku pamit. Anakku yang terkecil, Edgin, ikut bangun. Mereka mengantarku hingga mulut lorong, tempat taksi menunggu.</p>
<p>*  *  *</p>
<p>Jalanan masih sepi. Taksi seperti kuda yang kesurupan. Ia bergerak cepat, melewati Muncul, BSD, terus ke Tangerang, lalu   ke Bandara. Tidak sampai satu jam sudah sampai di Bandara. Gelap pelan-pelan beringsut. Aku turun taksi, membayar ongkosnya (Rp. 110 ribu, Pamulang-Bandara lewat BSD-Tangerang), aku melangkah ke bangku tunggu. Ngapain buru-buru masuk, pikirku. </p>
<p>BERSAMBUNG</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/774/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/774/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/774/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/774/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/774/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/774/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/774/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/774/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/774/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/774/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=774&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/08/01/pka-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aceh International Literary Festival</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/07/25/aceh-international-literary-festival/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/07/25/aceh-international-literary-festival/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 16:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=771</guid>
		<description><![CDATA[Hmm, akhirnya selesai juga kerja maraton membaca, memilih, merapikan dan mengurutkan karya-karya teman sastrawan untuk antologi sastra Krueng Aceh. Buku ini akan diluncurkan di Banda Aceh menandai panggung sastra terapung yang kami namai Aceh International Literary Festival. Acara ini bagian dari Pekan Kebudayaan Aceh ke-5 yang berlangsung pada 2-11 Agustus 2009 di Banda Aceh.
Ada lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=771&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hmm, akhirnya selesai juga kerja maraton membaca, memilih, merapikan dan mengurutkan karya-karya teman sastrawan untuk antologi sastra <em>Krueng Aceh</em>. Buku ini akan diluncurkan di Banda Aceh menandai panggung sastra terapung yang kami namai Aceh International Literary Festival. Acara ini bagian dari Pekan Kebudayaan Aceh ke-5 yang berlangsung pada 2-11 Agustus 2009 di Banda Aceh.</p>
<p>Ada lebih 30 sastrawan dalam dan luar negeri yang memastikan hadir dan menyertakan karyanya dalam buku itu. Saya dan Fikar W Eda, yang menggagas festival sastra itu, gembira sekali dengan sambutan teman-teman untuk menghadiri acara ini. Tugas kami selanjutnya adalah memastikan tempat pelaksanaan acara agar tertata sesuai harapan.<span id="more-771"></span></p>
<p>Ada empat tempat bersejarah untuk kegiatan AILFest – singkat saja begitu nama acara ini – yakni baca puisi dan cerita di Krueng Aceh, Pinto Khob,  Kapal Apung Tsunami, dan seminar sastra Museum Tsunami pada 5-6 Agustus 2009. Krueng Aceh adalah sungai yang membelah kota Banda Aceh yang pada zaman Iskandar Muda ramai dilaluli kapal-kapal penumpang dan pedagang dari luar negeri.</p>
<p>Krueng Aceh memang menyimpan sejumlah kisah penting. Selain sebagai lalu lintas kapal-kapal, sungai itu &#8212; mengutip catatan Dr. Kamal A.Arif, M.Eng, tokoh majelis adat masyarakat Aceh di Bandung  – dulu diyakini berkhasiat  menyembuhkan berbagai macam penyakit. Banyak orang dari berbagai daerah yang punya penyakit datang untuk mandi di sungai itu.</p>
<p>Seorang peneliti Aceh asal Eropa, Francois Martin, menduga khasiat menyembuhkan penyakit itu karena di hulu sungai Krueng Aceh terdapat tanaman obat-obatan seperti kamper dan benzoat. Tidak seperti kini, air sungai Krueng Aceh dulu jernih dan sehat. Jadi, pemilihan sungai itu sebagai salah satu tempat itu adalah bagian dari upaya mengenang sejarah sekaligus melestarikan sungai itu.</p>
<p>Tempat lain, Pinto Khob, juga menyimpan sejarah penting. Pinto Khob, sebuah situs sejarah di kota Banda Aceh, dibangun pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda disebut pula Pintu Biram Indrabangsa. Pintu ini merupakan tempat beristirahat Putri Phang atau Putroe Phang, permasuri Sultan Iskandar Muda dari Pahang. Disini, para sastrawan juga akan melafadzkan karya-karyanya.</p>
<p>Dua tempat lain sungguh bersejarah karena merupakan salah<br />
satu penanda peristiwa tsunami di Aceh.  Pertama,<br />
adalah Kapal apung milik PLN dengan berat sekitar 3600 ton yang dibawa oleh tsunami dan bersarang di Punge. Sebelum tsunami, kapal ini berada di laut, pelabuhan Uleelheue,  Banda Aceh. Isi kapal apung adalah generator listrik. Ketika di laut, kapal ini memasok listrik untuk kota Banda Aceh.</p>
<p>Kedua, adalah Museum Tsunami yang terletak pusat kota Banda<br />
Aceh, tepatnya di sebuah jalan di kawasan Blang Padang.<br />
Museum ini dibangun untuk mengenang peristiwa tsunami pada<br />
26 Desember 2004. Seminar sastra di sini menghadirkan pembicara Katrin Bandel, pengamat sastra berkebangsaan Jerman, Maman S Mahayana dari Universitas Indonesia dan D.Keumalawati dari Aceh.</p>
<p>Oke teman-teman, sampai ketemu di Banda Aceh. [MIS]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/771/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/771/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/771/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/771/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/771/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/771/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/771/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/771/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/771/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/771/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=771&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/07/25/aceh-international-literary-festival/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Polemik PKA Masih Berlanjut</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/07/23/polemik-pka-masih-berlanjut/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/07/23/polemik-pka-masih-berlanjut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 01:58:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Polemik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=768</guid>
		<description><![CDATA[
Ternyata polemik tentang Pekan Kesenian Aceh (PKA) masih berlanjut. Minggu (19/7) lalu, Jauhari Samalanga menulis di koran Serambi Indonesia dan menyebut PKA V sebagai moment pembodohan masyarakat. Sejauh itu?  Entahlah. Saya tidak ingin mengomentari. 
Saya cuma berpendapat: mengukur sesuatu sebaiknya kita menggunakan alat ukur yang tepat dan proporsional. Tanpa alat ukur yang tepat dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=768&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://acehtourism.info/images/pka_ke_5.jpg" width="200" align="left" alt="Logo PKA5" /></p>
<p>Ternyata polemik tentang Pekan Kesenian Aceh (PKA) masih berlanjut. Minggu (19/7) lalu, Jauhari Samalanga menulis di koran Serambi Indonesia dan menyebut PKA V sebagai moment pembodohan masyarakat. Sejauh itu?  Entahlah. Saya tidak ingin mengomentari. </p>
<p>Saya cuma berpendapat: mengukur sesuatu sebaiknya kita menggunakan alat ukur yang tepat dan proporsional. Tanpa alat ukur yang tepat dan pasti, yang terjadi adalah berbicara tanpa dasar. Jangan lupa, PKA punya banyak sekali kegiatan dan event, termasuk kegiatan dagang itu. <span id="more-768"></span></p>
<p>Tulisan terakhir datang dari Herman RN (<a href="http://serambinews.com/news/pka-proyek-keributan-seniman-aceh">Serambi Indonesia, Rabu 22 Juli 2009</a>). Herman lebih menyorot sikap sebagian seniman terhadap PKA. Tapi, lagi-lagi tulisan ini gagal menjelaskan kelompok mana yang mendukung dan kelompok mana yang tidak. Buat saya, tulisan itu lebih sebagai penghilatan dari jauh sebuah persoalan.</p>
<p>Tapi apa pun, semua pendapat mesti dihargai. Maka itu, kita simak saja kedua tulisan terbaru tentang polemik PKA ini. </p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>DKA, IKA dan PKA V</strong><br />
Oleh Jauhari Samalanga</p>
<p><a href="http://serambinews.com/news/dka-ika-dan-pka-v">Sumber: Serambi Indonesia, 19 Juli 2009</a></p>
<p>ADA tiga lembaga kesenian yang menyeret profesionalisme pemerintahan Aceh, yaitu Dewan Kesenian Aceh (DKA), Institut Kesenian Aceh (IKA) dan event Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Lewat lembaga dan even itulah sebenarnya upaya membangun seni dan budaya Aceh diusung. Sayangnya ketiga hal ini tak bisa diharapkan.</p>
<p>Kita sebut saja DKA, sebagai representati dari pemerintah Aceh, seharusnya mengakomodir seniman di Aceh, namun cenderung hanya sebagai underbow pemerintah Aceh sejak dulu. Sedangkan IKA sebagai bentukan pemerintahan Aceh setali tiga uang. Malahan sempat diperdebatkan lantaran ‘kebodohan’ atau tak profesionalnya lembaga itu setelah memberikan wewenang itu kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bukan pada Dinas Pendidikan layaknya sebuah lembaga pendidikan. </p>
<p>Sekarang yang lagi anyar dibicarakan tentang pelaksanaan PKA yang menurut Barlian AW dinilai sebagai event “pekan kedai Aceh” atau menurut plesetan Ampuh Devayan (baca Serambi, red) sebagai “peukaten” Aceh” dengan menender bak proyek bisnis, tidak ada satu yang bisa diproyeksikan sebagai gerakan kebudayaan Aceh. Event itu hanya diukur secara fisik, misal panggung kayu, sound toa, Ligthing handscraf dan iming-iming ‘wah’ yang menjadi tolak ukur keberhasilannya. Jika begitu jadinya, maka ini akan lebih gawat. Pemerintah Aceh harus menanggung ‘malu’ yang luar biasa, lantaran kabupaten/kota di Aceh telah membeli produksi murahan dengan harga yang begitu mahal.</p>
<p>Lewat tulisan singkat ini, saya mengingatkan kita agar tak usah berkeluh kesah. Kita lihat saja apa yang akan dilakukan pemerintah Aceh yang menjadi sutradaranya. Kita hanya bisa berharap bagaimana memformat seni dan budaya Aceh menjadi satu ikon perubahan dalan tatanan sosial masyarakat di Aceh. Bila itu gagal harus disambut baik, karena asumsi awal memang dinilai gagal, kecuali aspek bisnis dari event tersebut.</p>
<p>Sejatinya, pemerintah menyadari kekeliruan selama ini, terutama melakukan rehabilitasi terhadap tiga hal (DKA, IKA, dan event PKA) dengan program-program mereka yang tidak memiliki frame secara jelas. Apalagi DKA yang hanya main tunjuk, seharusnya diserahkan kepada forum kesenian lewat DK di tingkat kabupaten/kota. Karena merekalah yang lebih tahu kapasitas kepengurusan DKA. </p>
<p>Selama ini DKA hanya melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat musiman. Ini berarti, DKA telah mengfungsikan dirinya sebagai Event Organizer, bukan organizer pencairan kegiatan untuk kabupaten kota, layaknya sebuah lembaga dewan. Pemerintahg Aceh seharusnya mengambil-alih kepengurusan DKA, dengan mengeluarkan surat perintah dilaksanakan musyawarah besar yang memang sudah lewat dari masa kepengurusan mereka. Demikian juga niat baik mendirikan Institut Kesenian Aceh (IKA) harus dikaji ulang. Bagaimana mungkin lembaga itu bisa berkreatif, jika sampai saat ini tim perumus yang dibentuk tidak bekerja sama sekali. “Seharusnya sudah renstra apa yang akan dilakukan,” gugat Sulaiman Juned SSn.,M.Sn, pelaku seni dan Dosen tetap STSI Padang Panjang.</p>
<p>Sementara event PKA V, tak lebih sebagai moment pembodohan masyarakat yang dikemas dengan seni budaya. Seperti tulisan saya sebelumnya, PKA kali ini cenderung sebagai event mumpungi alias bagi-bagi ‘jatah’ proyek. Dimana seluruh dinas yang ada di Aceh terlibat mengurusi PKA, padahal sebenarnya keberadaan itu tidaklah efektif, kecuali memunculkan kecurigaan. Semestinya PKA diundurkan dan dilaksanakan dengan waktu yang tepat. Apalagi EO yang di SK kan Gubernur, sama sekali tidak professional dalam menuyiapkan event yang memakan dana miliaran rupiah itu. Kita berharap bisa mengakhiri pembodohan ini, Kita mesti berani menuding diri untuk membuka lembaran budaya Aceh yang baru. Jika tidak maka bersiaplan menjadi keledai yang mengulang-ulang pekerjaan dan selalu terperosok pada lubang yang sama. </p>
<p>* Penulis adalah Direktur Forum Seni dan Budaya Aceh (SeBA) dan aktivis seni. </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>PKA, Proyek Keributan (Seniman) Aceh</strong><br />
Oleh Herman RN</p>
<p>Sumber: <a href="http://serambinews.com/news/pka-proyek-keributan-seniman-aceh">Serambi Indonesia, 22 Juli 2009</a></p>
<p>PKA, “proyek keributan (seniman) Aceh, sengaja saya pilih ketika PKA bergeser dari makna sejatinya atau singkatan “Pekan Kebudayaan Aceh”. Seperti halnya Ampuh Devayan dan Barlian AW (baca Serambi, 12 dan 13 Juli) yang berhak memaknai PKA, maka tak salah pula jika saya punya cara tersendiri memaknai singkatan PKA semisal Proyek Kesenian Aceh.</p>
<p>Alasan menyatakan kalau PKA menjadi Proyek Kesenian Aceh, karena ajang akbar atasnama kebudayaan Aceh itu ditenderkan dan gemingnya terkesan hanya pada beberapa penampilan kesenian etnis Aceh yang mungkin nanti akan ‘digagahi’ dari kesenian sebelah gunung. Ini pula sebenarnya awal dari keributan proyek kesenian tersebut. </p>
<p>Ketika PKA akan ditender, sejumlah pegiat seni di Aceh sudah mulai atur stragtegi memenangkan tender. Desas-desus tak suka kemudian mulai jadi bisikan yang tujuannya kepada pemerintah Aceh yang memberikan peluang menang kepada EO dari luar Aceh, meskipun kemudian diketahui dalam perusahaan EO itu sebenarnya orang Aceh juga. Kebetulan saja mereka sudah lama berdomisili di luar Aceh.</p>
<p>Setelah menyadari bahwa kemenangan EO dari luar itu sah dengan segala prosedur yang telah diikuti, sejumlah seniman di Banda Aceh atur strategi berikutnya. Tujuannya sekarang menjadi dua: selain ingin dapat bergabung dalam ajang tersebut sebagai panitia kecil, juga memiliki hasrat untuk mengacaukan pelaksanaan PKA lima (kalau bisa gagalkan pada tahun ini) sehingga berserabutanlah desas-desus tentang ketidakbecusan kerja EO. Mungkin alasan yang kedua ini terlalu picik, tetapi inilah yang tertangkap dari cang panah satu warung kopi ke warung kopi lainnya. </p>
<p>Untuk mengantisipasi agar tak terjadi ‘demo seniman’, beberapa nama seniman Aceh (di dominasi seniman yang berada di Banda Aceh/Aceh Besar) akhirnya dimasukkan di SK panitia yang dikeluarkan oleh pemerintahan Aceh. Permainan pun dimulai. Kisruh ini tidak hanya setingkat EO dan seniman, tapi berlanjut pada dinas-dinas yang ada di pemerintahan. </p>
<p>Kita tahu bahwa PKA sudah ditenderkan dalam artian sudah menjadi tanggungjawab pemenangnya, tetapi unsur pemerintahan juga mencari celah masuk dalam proyek akbar atasnama kebudyaan ini. Sebut saja salah satunya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh. Untuk even angerah budaya, Disbudpar ingin menangani sendiri secara langsung, meskipun mereka sadar even itu sudah dimasukkan dalam paket kegiatan PKA lima tahun ini. Sejatinya, kalaupun dinas ingin tetap terlibat, ya sekedar membantu saja. Artinya, kerjasama, tidak ambil alih sepenuhnya salah satu cabang kegiatan yang terkesan ‘bagi tugas’ antara dinas dan EO. Inilah salah satu penyebab lambannya kerja EO dalam mempersiapkan segala sesuatunya di PKA nanti.</p>
<p>Dalam beberapa hal, EO masih memikirkan ada dinas yang akan melaksanakan beberapa persiapan kegiatan. Sebaliknya, pihak dinas menganggap semua persiapan menjadi tanggung jawab EO. Hal ini dapat kita lihat dari tumpukan sampah di Taman Ratu Safiatuddin yang merupakan lokasi pelaksanaan PKA lima. Menurut EO, taman itu dikelola di bawah dinas sehingga masalah kebersihan menjadi tanggungjawab dinas. Sementara itu, dinas sendiri belum bertindak apa-apa untuk itu karena ada anggapan taman ratu sudah di tangan EO pelaksana PKA.</p>
<p>Beginilah jika even kebudayaan dijadikan proyek. Sana-sini mesti dapat ‘dikorek’. Kalau perlu, minta sedekah kepada fakir miskin yang hendak menjajakan sebungkus rokok atau permen di sana nantinya. Seperti diketahui, walaupun dana lebih dari Rp1,5 miliar untuk melaksanakan perhelatan akbar ini, kepada penjual kelontong tetap dikenakan biaya ‘mencekik’ untuk sewa lapak yang hasil penjualannya belum tentu dapat sebanyak itu. Apalagi, sampai memperoleh laba. Saya khawatir, karena ulah menjadikan PKA sebagai proyek, taman Ratu Safiatuddin itu bakal sepi nanti pada hari “H” nanti, kecuali hanya orang-orang yang haus hiburan.</p>
<p>Kecimplung ribut<br />
Melihat PKA sudah menjadi lahan proyek, tak salah Zulfikar Sawang (ZS) ikut-ikutan kecimplung ribut demi kepeduliannya terhadap even tersebut (baca Serambi, 17/07/09). Sayangnya, ZS lupa, ada yang mestinya lebih penting dipikirkannya sekarang ini daripada ikut meributkan PKA lima, yakni Musyawarah Besar (Mubes) Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB). Hemat saya, ZS lebih baik segera mempersiapkan Mubes DKB daripada ikut mencimplungkan diri-mengatasnamakan Ketua Dewan Kesenian pula lagi-terkait masalah PKA. Sungguh saya tidak tahu, apakah tulisan ZS kemarin sebagai pintu masuk agar DKB dapat proyek PKA juga, karena ada nada dalam tulisan dia itu bahwa baikya perhelatan PKA diberikan kepada Dewan Kesenian. Jika memang demikian, saya ucapkan selamat ikut proyek dan teruslah berebut proyek, tak usah sadari bahwa ada tanggungjawab yang lebih penting daripada proyek yang mesti diributkan. Namun, kalau boleh saya memberikan sebuah pepatah, tapeuseuleusoe dilee jabatan, bek malee geutanyoe dalam kawan.</p>
<p>* Penulis, alumnus FKIP Unsyiah, pemerhati kesenian.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/768/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/768/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/768/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/768/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/768/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/768/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/768/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/768/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/768/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/768/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=768&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/07/23/polemik-pka-masih-berlanjut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://acehtourism.info/images/pka_ke_5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Logo PKA5</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>