<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>...........jalansetapak journal</title>
	<atom:link href="http://jalansetapak.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jalansetapak.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Nov 2009 01:21:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='jalansetapak.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/fa0413bb838723922afae7c49dda9a05?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>...........jalansetapak journal</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Selamat Jalan Wan Anwar</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/23/selamat-jalan-wan-anwar/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/23/selamat-jalan-wan-anwar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 09:55:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Obituari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=841</guid>
		<description><![CDATA[Tadi pagi, istri saya (Dianing Widya) menerima kabar menyentak dari seorang rekan penulis, Husnul Khuluqi: Mohd Wan Anwar telah tiada pagi tadi. Dianing lalu memberi tahu saya. Saya sempat terdiam beberapa saat. Innalillahi Wainnai Ilaihi Rajiun. Semoga almarhum mendapat tempat paling layak di sisi-Nya. Sakit apa? Lulu, begitu panggilan Khuluqi, pun tidak tahu ketika ditanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=841&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tadi pagi, istri saya (<a href="http://dianing.co.cc">Dianing Widya</a>) menerima kabar menyentak dari seorang rekan penulis, Husnul Khuluqi: Mohd Wan Anwar telah tiada pagi tadi. Dianing lalu memberi tahu saya. Saya sempat terdiam beberapa saat. Innalillahi Wainnai Ilaihi Rajiun. Semoga almarhum mendapat tempat paling layak di sisi-Nya. Sakit apa? Lulu, begitu panggilan Khuluqi, pun tidak tahu ketika ditanya Dianing dalam SMS selanjutnya.  </p>
<p>Wan Anwar adalah seorang penggiat sastra. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai. Alumnus jurusan Sastra Indonesia IKIP Bandung (1997) dan S2 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini adalah redaktur di Majalah Sastra Horison dan pengajar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). <span id="more-841"></span></p>
<p>Wan Anwar lahir di Cianjur (Jawa Barat) pada 1971. Menikah dengan gadis Banten, lalu ia tinggal di Serang.  Buku puisinya &#8220;Sebelum Senja Selesai&#8221; (2002), kumpulan cerpen  &#8220;Sepasang Maut&#8221; (2004) dan &#8220;Kuntowijoyo dan Dunianya&#8221; (2006).  </p>
<p>Ingin menyimak puisinya? Saya menemukan beberapa puisinya yang ditayangkan di situs <a href="http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=575">Rumah Dunia</a>:</p>
<blockquote><p>
Moh. Wan Anwar<br />
1.<br />
BEJALAN KE UTARA</p>
<p>berjalanlah lurus ke utara, di melintasi rimbun asam<br />
dan masa silam, kau akan tahu darat dan laut<br />
seperti bibir sepasang kekasih saling memagut<br />
seperti maut yang tiap waktu terus beringsut</p>
<p>pulau-pulau kecil, tempat burung-burung hijrah<br />
dari musim ke musim, gemetar di kejauhan<br />
sisa bakau merunduk muram, kawanan ikan mengenangkan pertemuan<br />
seperti penduduk yang dihantam gelombang daratan</p>
<p>berlayarlah dengan perahu kayu, menyisiri utara<br />
mengendus panu para nelayan, kau akan bertemu kenyataan<br />
sisa ikan busuk, ceceran solar, muatan kayu dari seberang<br />
daki dan kapal inspeksi yang asing berputar-putar sendirian</p>
<p>berjalanlah terus ke utara, menyapa sunyi yang beranak di tambak<br />
membayangkan pelabuhan kenangan masa silam</p>
<p>2005</p>
<p>***</p>
<p>2.<br />
PERTANYAAN DI STASIUN KERETA</p>
<p>jika timur itu hari depan, mengapa laju kereta kembali ke masa silam<br />
bahwa stasiun ini peninggalan residen, tentu saja kami tahu<br />
juga deret pohon asam, irigasi, dan gedung-gedung pemerintahan</p>
<p>begitulah, bukankah tuan-tuan hanya sanggup membangun mall<br />
jurang antara cahaya lampu kristal dan temaram perkampungan<br />
kami hamba tuan-tuan, sudah lama bosan dalam penantian</p>
<p>tuan-tuan mengobral janji, mengganggu tidur dan mimpi kami<br />
maka kini izinkan kami bertanya, peti-peti yang siang malam diangkut kereta<br />
milik siapa? kemilau lampu di jalan raya untuk siapa!</p>
<p>kami tahu tuan-tuan tak akan menjawab, karena tuan-tuan<br />
sedang meluncur ke masa silam, jadi izinkan kami mendakwa<br />
kami tak tahan lagi mendengar dan menyaksikan mulut tuan-tuan<br />
berbusa, nganga, dan amat hina</p>
<p>2005</p>
<p>***</p>
<p>3.<br />
KASIDAH BANTEN</p>
<p>aku datang<br />
tetapi dari mana aku datang<br />
aku pergi<br />
tetapi kemana aku pergi</p>
<p>kau sambut aku dengan kasidah<br />
tempat berdiam segala kisah<br />
kupersembahkan padamu denting kecapi<br />
tempat sunyi menggali diri</p>
<p>dua tanda dua nama<br />
bertemu dalam nestapa</p>
<p>karena aku telah datang<br />
kauterima cinta di ujung pedang<br />
karena kau telah menjemput<br />
kuterima hatimu semurni maut</p>
<p>dua tanda dua nama<br />
bertemu dalam nestapa</p>
<p>jika kau dan aku adalah rumah<br />
rumah siapakah kita<br />
jika kau dan aku jadi penghuni<br />
siapakah yang akan kita hadapi</p>
<p>2005</p>
<p>Saya juga menemukan puisinya yang lain di sebuah milis:</p>
<p>Moh Wan. Anwar<br />
SEPERTI ADA RINTIH</p>
<p>seperti ada rintih dalam reruntuhan benteng itu bukan,<br />
mungkin bukan kesedihan, karena laju waktu &#8212; siapapun<br />
toh tak bisa menahannya. Di arah utara bulan telah<br />
menggaris tanda, menunjuk jejak dulu sebuah negeri<br />
memancarkan warna pelangi</p>
<p>tapi seperti ada rintih, seperti ada teriak dan<br />
kata-kata yang tak tercatat &#8212; ringkik kuda erang<br />
pujangga, serapah prajurit, gumam tak menentu para<br />
pembantu. Selebihnya komando, senyum licik, tipu daya<br />
dan kini seluruhnya tinggal cerita</p>
<p>seperti ada rintih, juga hari ini, ketika bulan<br />
menyisir gelap pasir dan kita tak letih-letihnya<br />
menafsir membayangkan begaimana sebuah negeri dibangun<br />
kemudian lantak di puncak nikmat. Seperti ada rintih<br />
dan kita tak sanggup lagi mengenangnya.</p>
<p>CG Serang, 2002</p></blockquote>
<p>Tak hanya penulis yang produktif, ia juga analis sastra yang kritis. Saya ingat suatu kali ketika menjadi pembicara peluncuran dan bedah novel &#8220;Sintren&#8221; (Grasindo 2007) karya Dianing Widya Y, ia tidak hanya mengungkapkan kekuatan novel itu, juga mengkritiknya. &#8220;Di bagian awal novel ini berjalan lambat,&#8221; begitu kira-kira katanya dalam acara yang diadakan di Perpustakaan Wilayah Banten itu. Pembicara lain dalam acara itu Kurnia Effendi dan moderator Binhad Nurohmad.</p>
<p>Tapi kini Wan Anwar telah pergi. Selamat jalan&#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/841/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=841&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/23/selamat-jalan-wan-anwar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kereta Kencana Rendra di TIM</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/22/kereta-kencana-rendra-di-tim/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/22/kereta-kencana-rendra-di-tim/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 20:43:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=836</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari lalu, saya menerima pesan singkat dari seorang teman penulis, Yanthi Razali. Isinya: &#8220;Drama Kereta Kencana karya Rendra di Graha Bhakti Budaya TIM, Kamis 26 Nov jam 19.30, sutradara Putu Wijaya, pemeran Ikranegara, Niniek L. Karim. Gratis.&#8221;
Saya belum ngecek, apakah pertunjukan ini memang gratis. Yang jelas, di Taman Ismail Marzuki pada 22-28 November 2009 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=836&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beberapa hari lalu, saya menerima pesan singkat dari seorang teman penulis, Yanthi Razali. Isinya: &#8220;Drama Kereta Kencana karya Rendra di Graha Bhakti Budaya TIM, Kamis 26 Nov jam 19.30, sutradara Putu Wijaya, pemeran Ikranegara, Niniek L. Karim. Gratis.&#8221;</p>
<p>Saya belum ngecek, apakah pertunjukan ini memang gratis. Yang jelas, di Taman Ismail Marzuki pada 22-28 November 2009 memang diadakan Festival Rendra. Salah satu mata acaranya adalah pertunjukan Kereta Kencana itu. Acara ini diadakan oleh PKJ-Taman Ismail Marzuki dan Dewan Kesenian Jakarta. <span id="more-836"></span></p>
<p>Festival ini bertujuan untuk memperkenalkan kembali sosok Rendra kepada publik, &#8220;Bukan hanya kepada seniman, tetapi juga masyarakat luas, kaum muda yang tidak secara langsung mengenal Rendra dan karya-karyanya,&#8221; tulis panitia dalam <a href="http://tamanismailmarzuki.com/kalendar/26-11-2009.html">situs resmi TIM</a>.</p>
<p>Festival Rendra diisi dengan berbagai kegiatan. Selain pertunjukan Kereta Kencana, ada pameran, diskusi, workshop &amp; pentas Bip Bop, pembecaan puisi, cerpen, esai Rendra, musikalisasi puisi dan  monolog oleh Putu Wijaya.</p>
<p>Ini rincian acara yang termaktub dalam situs TIM itu: Workshop BEEP BOP (22 &#8211; 25 November pukul  14.00 – 18.00 di Sanggar Baru, Lomba Baca Puisi (26-28 November 2009 pukul 10.00 – 15.00) di halaman parkir, Arak-Arakan Pembukaan (26 November pukul 14.00 – 15.30) di Plaza TIM, diskusi (26 -28 November pukul 15.00 – 17.00) di Lobby Teater Kecil, Pembukaan Mengenang 100 Hari Rendra (26 November pukul 16.00 – 17.30) di Graha Bhakti Budaya.</p>
<p>Lalu ada pula Pertunjukan Laskar Panggung-Bandung (27 November pukul 19.30 – 22.00) di Teater kecil, Pertunjukan Musik SLTA (28 November pukul 16.00 – 18.00) di halaman parkir. Pada 27-28 November pukul 16.00 – 22.00 ada pembacaan puisi, cerpen, dan musikalisasi puisi di Plaza TIM, serta pertunjukan Putu Wijaya di Teater Kecil pada 28 November pukul 19.30 – 22.00. 	</p>
<p>Tadi malam, sastrawan senior LK Ara juga mengirim SMS yang isinya: &#8220;Tlg info kegiatan teater salihara apa ada acara dlm seminggu ini. Tksh.&#8221; Saya mengingat-ingat, ada acara apa ya di Salihara pekan depan. Saya mesti mengecek lagi. Untuk menjawab segera, saya pun langsung forwardkan SMS dari Yanthi Razali kepada Pak Ara, begitu kami biasa memanggilnya, tentang pentas Kereta Kencana itu &#8212; yang pada 6-7 November 2009 lalu  dipentaskan di Salihara. <strong>MIS</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/836/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=836&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/22/kereta-kencana-rendra-di-tim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Festival Film Pendek di TIM</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/20/festival-film-pendek-di-tim/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/20/festival-film-pendek-di-tim/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 02:27:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Fillm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=826</guid>
		<description><![CDATA[Baru ngeh, ternyata Festival Film Pendek Konfiden 2009 yang digelar Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki sudah berlangsung sejak kemarin, 19 Nopember. Masih ada dua hari sih kalau ingin nonton, sampai 22 November. Pemutarannya dilakukan di dua venu, yakni di Galeri Cipta III dan Kineforum. 
Tahun ini, festival itu mengambil tema &#8220;Berbagi&#8221;. Ini, menurut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=826&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Baru ngeh, ternyata Festival Film Pendek Konfiden 2009 yang digelar Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki sudah berlangsung sejak kemarin, 19 Nopember. Masih ada dua hari sih kalau ingin nonton, sampai 22 November. Pemutarannya dilakukan di dua venu, yakni di Galeri Cipta III dan Kineforum. </p>
<p>Tahun ini, festival itu mengambil tema &#8220;Berbagi&#8221;. Ini, menurut panitia, &#8220;Berbagi untuk merayakan sekaligus membaca ulang prinsip saling berbagi sebagai sebuah gagasan dan realitas keseharian jejaring komunitas perfilman Indonesia,&#8221; tulis mereka dalam <span id="more-826"></span> blog <a href="http://kineforum.wordpress.com/2009/11/17/festival-film-pendek-konfiden/">kineforum</a>. </p>
<p>Film-film pendek yang dibagi dalam beberapa bagian, yakni  program kompetisi, program khusus nonkompetisi, program khusus film pendek Prancis, dan program khusus Lagu Gambar Gerak. Ini dia film-film yang diputar itu yang sudah dikelompokkan dalam bagian-bagian itu &#8212; dikutip dari situs <a href="http://konfiden.or.id/index.php/festival/post/id/2009/3/59/Daftar-Program-FFPK-2009">konfiden</a>:</p>
<p><em><strong>Program Pembuka<br />
</strong><br />
</em></p>
<p><strong>Lagu Gambar Gerak</strong></p>
<p>Total Durasi: 44.26<br />
Diputar: Pembukaan FFPK 2009<br />
Kamis, 19 November 2009 pk. 20.00<br />
Dark | 09.34</p>
<p>Musik: Candyfloss | EP: Hope, Guts and Loneliness | Tambourine Records | 2008<br />
Video: Muhammad Akbar | Bandung<br />
Cukup dalam Hati | 04.02</p>
<p>Musik: Anda | Album: In Medio | Sendiri Records | 2008<br />
Video: Joko Narimo | Solo<br />
Manekin Bermesin | 00.46</p>
<p>Musik: Zoo | EP: Kebun Binatang | Yes No Wave Music | 2007<br />
Video: Beni Wicaksono | Surabaya<br />
Blues Iblis | 03.43</p>
<p>Musik: Adrian Adioetomo | Album: Delta Indonesia | My Seeds Records | 2007<br />
Video: Cyka | Yogyakarta<br />
Tiba-tiba Hamil | 04.34</p>
<p>Musik: Bite | EP: BITE | Firecatz Records | 2009<br />
Video: Isha Hening | Bandung<br />
Punyaku Sendiri | 05.31</p>
<p>Musik: Cozy Street Corner | Album: Cozy | CUPU Records | 1999<br />
Video: Bayu Bergaswaras | Purwokerto<br />
Marginal Decay | 04.38</p>
<p>Musik: Riza Trioscapes | Rizatrioscapes2 | Riza Publishing/demajors | 2009<br />
Video: Damar Ardi | Semarang<br />
Madat | 04.05</p>
<p>Musik: Shark Move | Album: Ghede Chakra&#8217;s | 1970<br />
Video: Gentur Galih Surya Sukeni | Yogyakarta<br />
Herr Wulf&#8217;s | 02.28</p>
<p>Musik: Lull | Demo | 2009<br />
Video: Ari Rusyadi | Jakarta<br />
Untitled | 05.01</p>
<p>Musik: Backyard Folks | Demo | 2009<br />
Video: Astu Prasidya | Malang<br />
Program Kompetisi</p>
<p><em><strong>Program Kompetisi 1:</strong><br />
</em></p>
<p><strong>Sejarah<br />
</strong></p>
<p>Total Durasi: 65.00<br />
Klasifikasi: 15+<br />
Diputar:<br />
1.Jumat, 20 November 2009 pk. 19.30<br />
2.Sabtu, 21 November 2009 pk. 13.30<br />
Fronteira</p>
<p>Emil Heradi | FFTV-IKJ | Jakarta<br />
Fiksi | 2008 | 26.00</p>
<p>Seorang tentara Timor Leste dan tentara Indonesia terjebak di ladang ranjau. Percakapan panjang terjadi&#8230;<br />
Sabotase</p>
<p>Hadrah Daeng Ratu | FFTV-IKJ | Jakarta<br />
Fiksi | 2009 | 15.00</p>
<p>Penggusuran dan penempatan lahan tidak resmi memicu terjadinya konflik antara pemilik lahan dengan warga. Hal ini memicu tindak sabotase berupa penghancuran dan pengusiran pada warga setempat.</p>
<p>Tan Malaka<br />
Erik Wirawan | FFTV-IKJ | Jakarta<br />
Fiksi | 2008 | 24.00</p>
<p>Tan Malaka adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia yang sangat kontroversial. Baik di mata penjajah Belanda maupun di mata pemerintah Indonesia pada masa itu (setelah 1945).</p>
<p><strong>Kompetisi 2:<br />
</strong></p>
<p>Waktu<br />
Total Durasi: 62.30<br />
Klasifikasi: 15+<br />
Diputar:<br />
1.Jumat, 20 November 2009 pk. 16.30<br />
2.Sabtu, 21 November 2009 pk. 15.00</p>
<p>Sampai Besok<br />
Lucky Kuswandi, Naya | fridayni8htfilms | Jakarta<br />
Fiksi | 2009 | 24.00</p>
<p>Sepasang kekasih muda menghabiskan hari terakhir mereka bersama di dalam rumah, menjalankan rutinitas mereka seperti biasanya dengan harapan agar hari esok tidak akan tiba.</p>
<p>Nemesis<br />
William Chandra | RGB Pictures | Jakarta<br />
Fiksi | 2009 | 14.10</p>
<p>Sebuah ketidakadilan, di mana hukum berat sebelah. Sehingga seorang bapak menuntut keadilan dengan caranya sendiri terhadap anak seorang pengacara mapan yang telah memperkosa anak perempuannya.</p>
<p>The First Nation on Mars<br />
Nala | FFTV-IKJ | Jakarta<br />
Fiksi | 2008 | 08.20</p>
<p>Sam, seorang astronot Warga Negara Asing melewati perjalanan ke Mars bersama rekannya Ben yang bertugas sebagai pendokumentasi. Ketika tiba di Mars Sam merasa sangat bangga akan dirinya dan Amerika yang sudah dapat sampai ke Mars sebagai yang pertama. Namun penelusuran mereka di Mars tidak berjalan mulus.</p>
<p>Hide and Sleep<br />
Ismail Basbeth | Hide Project | Yogyakarta<br />
Fiksi | 2008 | 16.00</p>
<p>Ramlan kebingungan ketika mendapati beberapa wanita dalam kamarnya saat bangun dari tidur. Dalam ingatannya, dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi semalam. Semua terlihat aneh dan janggal. Mungkinkah Ramlan menemukan penyebab kejadian ini?</p>
<p><strong>Kompetisi 3<br />
</strong><br />
Kenangan</p>
<p>Total Durasi: 59.00<br />
Klasifikasi: 15+<br />
Diputar:<br />
1.Jumat, 20 November 2009 pk. 13.30<br />
2.Sabtu, 21 November 2009 pk. 18.00</p>
<p>Kabar Gembira<br />
Nicholas Yudifar A.W. | FFTV-IKJ | Jakarta<br />
Fiksi | 2008 | 23.00</p>
<p>Nazarudin, 50 tahun, seorang supir mobil jenazah yang menerima kabar dari istrinya bahwa putra pertama mereka akan segera lahir bermaksud pulang ke kampung halamannya di Lampung. Namun ia masih harus mengantar satu jenazah lagi ke Pandeglang yang kebetulan alamatnya searah dengan kampungnya.</p>
<p>Hujan Tak Jadi Datang<br />
Yosep Anggie Noen | 56 Films | Yogyakarta<br />
Fiksi | 2009 | 16.00</p>
<p>Sepasang pegawai toko perabot rumah harus mengantarkan sofa kepada pembeli. Tapi mereka terjebak dalam situasi perselingkuhan yang tidak matang. Si lelaki menyukai si perempuan yang juga sedang mencoba mencari tahu tentang perasaannya kepada si lelaki. Di sofa mereka menguak kebenaran-kebenaran itu.</p>
<p>Anak-anak Lumpur<br />
Danial Rifki | FFTV-IKJ | Jakarta<br />
Fiksi | 2009 | 20.00</p>
<p>Cerita tentang anak-anak korban lumpur panas Lapindo yang berusaha mempertahankan &#8220;harta&#8221; yang masih mereka miliki.</p>
<p><strong><em>Program Non Kompetisi<br />
</em></strong></p>
<p><strong>Program Non Kompetisi 1<br />
</strong></p>
<p>Bahasa yang Terlampau Baku</p>
<p>Total Durasi: 61.59<br />
Klasifikasi: 15+<br />
Diputar: Jumat, 20 November 2009 pk. 18.00</p>
<p>Akar-akar Tembakau<br />
Deny Setiawan | FFTV-IKJ | Jakarta<br />
Fiksi | 2009 | 05.59</p>
<p>Tina, anak yang ingin merasakan sensasi merokok namun dihukum oleh orang tuanya. Namun karena orang tua yang merupakan perokok, hukuman itu tidak membuatnya jera dan justru membuat adiknya menjadi ingin merasakan sensasi merokok juga.</p>
<p>Cheat Chat Bingo<br />
Jason Iskandar | Gambar Darurat | Jakarta<br />
Dokumenter | 2009 | 30.00</p>
<p>Film dokumenter yang menelisik kecenderungan mencontek di kalangan siswa SMA Kanisius serta risiko yang harus ditanggung. Film ini juga menelusuri pengalaman Tigor, seorang siswa Kanisius yang dikeluarkan dari sekolah atas dugaan mencontek tanpa ada proses pengadilan bahkan pembuktian.</p>
<p>Cinta Sama Dengan Cindolo Na Tape<br />
Rusmin Nuryadin | Rumah Media Makassar | Makassar<br />
Fiksi | 2009 | 26.00</p>
<p>Timi mempunyai seorang sahabat bernama Ian, melewati suka duka pertemanannya di tengah kompleks perumahan menengah. Di kompleks itu hampir tidak ada anak-anak sebaya mereka sehingga mereka harus mengkonstruksikan dunianya sendiri dengan pola pikir dan cara pandang (terutama tentang cinta) mereka.</p>
<p><strong>Program Non Kompetisi 2<br />
</strong></p>
<p>Sutradara yang Bukan Tuhan</p>
<p>Total Durasi: 59.50<br />
Klasifikasi: 15+<br />
Diputar: Jumat, 20 November 2009 pk. 15.00</p>
<p>Cinta di Kala Senja<br />
Mulyadi Witono | Kamar Film | Jakarta<br />
Fiksi | 2009 | 12.00</p>
<p>Cinta bisa datang kapan saja dan di mana saja. Namun apakah cinta harus menunggu? Bagio (69 tahun) merasakan &#8220;cinta&#8221; kembali. Apakah ia berhasil atau sekadar mimpi?</p>
<p>Midnight Cell<br />
Samanta Limbrada | CahyadalamGlap | Jakarta<br />
Fiksi | 2009 | 20.00</p>
<p>Film ini bercerita tentang dua cerita cinta yang saling bersinggungan meskipun tidak berhubungan. Ini adalah sebuah adaptasi bebas dari sebuah film Hongkong dan merupakan tribute (sangat) kecil untuk sutradaranya. Apakah kita bisa memiliki cinta tanpa waktu yang tepat?</p>
<p>The Last Journey<br />
Endah WS | Jakarta<br />
Dokumenter | 2008 | 27.50</p>
<p>Salih (biasa dipanggil Dogel) mempunyai empat proyektor film, lebih dari 200 film 35mm, dan beberapa karyawan yang setia menjadi operator di Perusahaan Layar Tancap terakhir yang bertahan di Jakarta kepunyaannya. Namun sekarang ia dihadapkan pada kenyataan bahwa masyarakat lebih suka menonton film di teater, DVD player, atau televisi. Lebih buruk lagi, masyarakat lebih memilih Organ Tunggal sebagai hiburan untuk acara penting daripada layar tancap.</p>
<p><strong>Program Non Kompetisi  3<br />
</strong></p>
<p>Pijakan yang Tidak Kokoh</p>
<p>Total Durasi: 45.00<br />
Klasifikasi: 18+<br />
Diputar: Sabtu, 21 November 2009 pk. 19.30</p>
<p>Pabrik Dodol<br />
Ari Rusyadi | FFTV-IKJ | Jakarta<br />
Dokumenter | 2009 | 10.00</p>
<p>Proses pembuatan dodol Garut masa kini. Modern dan tradisional.</p>
<p>Karena Aku Sayang Markus<br />
Danial Rifki | FFTV-IKJ | Jakarta<br />
Fiksi | 2007 | 18.00</p>
<p>Markus menderita HIV sejak kecil. Teman dan tetangga menolak kehadirannya. Bahkan sekolah sengaja mengeluarkannya. Hanya Ajeng yang menyayanginya dengan tulus.</p>
<p>Traffic Jam<br />
Tam Notosusanto | Salto Films | Jakarta<br />
Fiksi | 2008 | 17.00</p>
<p>Jalanan kota besar. Mobil-mobil terjebak dalam macet. Enam orang yang terperangkap dalam kungkungan sepeda motor dan kendaraan-kendaraan lain mulai merasa geram dan gelisah. Lalu satu per satu kejadian mulai bermunculan.</p>
<p><strong><em>Program Khusus</em><br />
</strong></p>
<p>Film Pendek Sinema Besar</p>
<p>Total Durasi: 54.00<br />
Klasifikasi 15+<br />
Diputar: Sabtu, 21 November 2009 pk. 16.30</p>
<p>Charlotte et Véronique, ou Tous les garçons s&#8217;appellent Patrick<br />
Jean-Luc Godard<br />
Fiksi | 1957 | 21.00</p>
<p>Taman, buku, dan kafe dalam lingkaran perempuan dan pertemuannya dengan semua lelaki bernama Patrick.</p>
<p>Le Lion Volatil<br />
Agnès Varda<br />
Fiksi | 2003 |12.00</p>
<p>Agar pikiran tetap sehat, tak ada salahnya hanyut dalam imajinasi untuk kemudian memaknainya di tengah rutinitas yang menghimpit.</p>
<p>Afrique sur Seine<br />
Mamadou Sarr, Paulin Vieyra<br />
Dokumenter | 1957 | 21.00</p>
<p>Sebuah dokumenter tentang kehidupan orang-orang Afrika di Paris. Dikenal luas sebagai film pertama sutradara Afrika (Senegal). Pada masa film ini diproduksi, otoritas koloni—masa itu merupakan wilayah koloni Prancis—tidak mengizinkan Paulin Vieyra mengambil gambar di Senegal. Film ini tidak saja menjadi tonggak munculnya film Senegal—merdeka pada 1960—tetapi juga Afrika. Paulin Vieyra selain membuat lebih dari selusin film juga menulis sejumlah buku, salah satunya berjudul Le Cinema et L’Afrique.</p>
<p>Ini dia sekretariat panitia &#8212; jika anda mau tanya-tanya info lain:<br />
Jl. Cilandak Tengah No. 59, Jakarta12430, Indonesia, Telepon: 021-70637941, Faksimili: 021-7662268, E-mail: festival@konfiden.or.id, http://konfiden.or.id.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/826/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/826/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/826/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/826/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/826/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/826/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/826/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/826/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/826/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/826/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=826&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/20/festival-film-pendek-di-tim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lomba Puisi-Prosaik Krakatau Diperpanjang</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/19/lomba-puisi-prosaik-krakatau-diperpanjang/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/19/lomba-puisi-prosaik-krakatau-diperpanjang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 02:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=818</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, saya menerima SMS dari penyair Yogyakarta Mutia Sukma. Isinya: &#8220;Lomba cipta puisi-prosaik Krakatau Award 2009 diperpanjang smpi 30 nov 09 (cap pos). Tema prwsta n budaya lmpung. Krim nskh rangkap 4 ke Panitia Krakatau Award 2009, Dewan Kesenian Lampung, Kompleks GOR Sumpah Pemuda, Way Halim-Bandar Lampung.&#8221;
Tadinya, deadline pengiriman naskah adalah 2 Oktober [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=818&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beberapa waktu lalu, saya menerima SMS dari penyair Yogyakarta Mutia Sukma. Isinya: &#8220;Lomba cipta puisi-prosaik Krakatau Award 2009 diperpanjang smpi 30 nov 09 (cap pos). Tema prwsta n budaya lmpung. Krim nskh rangkap 4 ke Panitia Krakatau Award 2009, Dewan Kesenian Lampung, Kompleks GOR Sumpah Pemuda, Way Halim-Bandar Lampung.&#8221;</p>
<p>Tadinya, deadline pengiriman naskah adalah 2 Oktober 2009. Dalam penjelasan panitia yang dirilis beberapa media menyebutkan: peserta maksimal mengirim tiga naskah puisi-prosaik dalam bentuk print out rangkap empat karya asli, bukan jiplakan tidak sedang diikutsertakan pada perlombaan lain, dan  tidak pernah dipublikasikan. Persyaratan lain?<span id="more-818"></span></p>
<p>Naskah diketik dengan jarak baris 1,5 spasi dan maksimal 10 halaman, dilengkapi biodata peserta dalam lembar terpisah, dan dilampirkan fotokopi kartu identitas (KTP/SIM/kartu pelajar/kartu mahasiswa). </p>
<p>Dewan Juri akan memilih empat puisi-prosaik terbaik dan enam nominasi. Hadiahnya? Hmm, lumayan juga. Juara pertama akan mendapatkan Rp 2 juta, juara kedua Rp 1,5 juta, juara ketiga Rp 1 juta, dan keempat Rp 500 ribu. Para juara juga diundang pada acara Festival Kesenian Lampung pada November. MIS</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/818/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=818&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/19/lomba-puisi-prosaik-krakatau-diperpanjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mempertanyakan Weton</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/19/mempertanyakan-weton/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/19/mempertanyakan-weton/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 18:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=815</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Koran Tempo, 18 Oktober 2009
Judul Buku: Weton (Bukan Salah Hari)
Penulis: Dianing Widya Yudhistira
Penerbit: Grasindo, 2009
Dalam masyarakat Jawa, weton adalah sesuatu yang berkaitan dengan hari lahir. Setiap nama hari (Senin-Minggu) dalam kalender Jawa memiliki pasangannya, yakni Wage, Pon, Legi, Kliwon, dan Pahing. Dalam sejumlah peristiwa sosial, weton memegang peranan penting. Misalnya soal perkawinan. Jika seseorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=815&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><em>Sumber: Koran Tempo, 18 Oktober 2009</em></strong></p>
<p>Judul Buku: Weton (Bukan Salah Hari)<br />
Penulis: Dianing Widya Yudhistira<br />
Penerbit: Grasindo, 2009</p>
<p>Dalam masyarakat Jawa, weton adalah sesuatu yang berkaitan dengan hari lahir. Setiap nama hari (Senin-Minggu) dalam kalender Jawa memiliki pasangannya, yakni Wage, Pon, Legi, Kliwon, dan Pahing. Dalam sejumlah peristiwa sosial, weton memegang peranan penting. Misalnya soal perkawinan. Jika seseorang menikah dengan pasangan yang hari lahirnya secara weton tidak bagus, dipercaya ia akan menemui banyak masalah dalam keluarga nanti. <span id="more-815"></span></p>
<p>Novel terbaru karya Dianing Widya Yudhistira ini dengan baik mengangkat persoalan itu. Ada tokoh-tokoh yang menikah dengan weton yang tidak cocok, yang kemudian berakibat buruk. Tapi tidak semua orang percaya pada weton. Novel ini menyajikan pertentangan itu: antara yang percaya dan yang tidak. Dan bagi yang tidak percaya, tentu, ada konsekuensinya. Apa itu? Inilah yang dijawab satu per satu dalam novel ini. </p>
<p>Ini novel keempat Dianing, yang juga dikenal sebagai penyair dan penulis cerpen. Novel pertamanya, Sintren (Grasindo, 2007), juga mengangkat persoalan lokal di Jawa, yakni tari Sintren, dan masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2007. Novel lainnya, Perempuan Mencari Tuhan (Republika, 2007) dan Nawang (Republika, 2009). l DODY</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
CATATAN JALANSETAPAK:</p>
<blockquote><p>Buku ini sudah bisa diperoleh di toko-toko buku Gramedia dan toko buku lain, juga di toko buku online seperti <a href="http://www.bukabuku.com">http://www.bukabuku.com</a>, <a href="http://www.dinamikaebooks.com">http://www.dinamikaebooks.com</a>, <a href="http://bukukita.com">http://bukukita.com</a>, dan lain-lain. Bisa pula langsung ke penerbit Grasindo di <a href="http://www.grasindo.co.id">http://www.grasindo.co.id</a>. Untuk mengetahui lebih jauh tentang  novel ini atau proses kreatif penulisannya silakan mengunjungi web <a href="http://novelweton.co.cc">http://novelweton.co.cc</a></p></blockquote>
<p></em></font></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/815/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=815&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/19/mempertanyakan-weton/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/18/831/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/18/831/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 06:46:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/21/831/</guid>
		<description><![CDATA[
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=831&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://perdanakeren.co.cc"><img src="http://img43.imageshack.us/img43/7084/banneriklanutkjalanseta.gif" width="400" alt="http://perdanakeren.co.cc" /></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/831/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=831&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/18/831/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img43.imageshack.us/img43/7084/banneriklanutkjalanseta.gif" medium="image">
			<media:title type="html">http://perdanakeren.co.cc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Naskah Pidato Kebudayaan Ignas Kleden</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/18/naskah-pidato-kebudayaan-ignas-kleden/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/18/naskah-pidato-kebudayaan-ignas-kleden/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 01:35:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=810</guid>
		<description><![CDATA[
Ini adalah naskah pidato kebudayaan Ignas Kleden di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 10 November lalu.  Naskah ini saya temukan dalam sebuah blog, yang ternyata blog itu mengutip pula dari blog lain. Silakan disimak.
SENI DAN &#8216;CIVIL SOCIETY&#8217;
 (Dengan Referensi Khusus Kepada Penyair Rendra)

Oleh Ignas Kleden
I 
Membicarakan kedudukan seni dalam hubungannya dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=810&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://img42.imageshack.us/img42/2108/ignaskleden.jpg" width="420" alt="ignas kleden. foto: jalansetapak" /></p>
<p>Ini adalah naskah pidato kebudayaan Ignas Kleden di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 10 November lalu. <span id="more-810"></span> Naskah ini saya temukan dalam <a href="http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/11/pidato-kebudayaan-dewan-kesenian.html">sebuah blog</a>, yang ternyata blog itu mengutip pula dari <a href="http://www.penulislepas.com/bahasa-dan-sastra/245-pidato-kebudayaan-2009-qseni-dan-civil-societyq-oleh-dr-ignas-kleden.html">blog lain</a>. Silakan disimak.</p>
<p><strong>SENI DAN &#8216;CIVIL SOCIETY&#8217;</strong><br />
<strong> (Dengan Referensi Khusus Kepada Penyair Rendra)<br />
</strong></p>
<p>Oleh Ignas Kleden</p>
<p>I </p>
<p>Membicarakan kedudukan seni dalam hubungannya dengan civil society merupakan suatu tantangan yang tidak mudah dijawab, juga pada kesempatan ini. Tantangan ini telah saya terima sebagai sebuah penugasan dari Dewan Kesenian Jakarta, meskipun saya tidak terlalu paham mengapa tema ini dijadikan pokok pidato kebudayaan pada hari ini. Tugas ini telah saya terima semata-mata karena pertimbangan bahwa kesenian sebagai suatu sektor penting dalam kebudayaan, dapat dijadikan contoh soal untuk melihat masalah yang lebih besar yaitu hubungan kebudayaan dan civil society. </p>
<p>Sebagai titik-tolak dapatlah dikatakan begitu saja bahwa kesenian dan setiap ekspresi seni, pada dasarnya, adalah ekspresi pribadi seorang seniman, yang sangat personal sifatnya. Tentu saja seorang seniman menerima pengaruh dari lingkungan hidupnya, dan terlibat dalam pergaulan dengan berbagai pihak dalam suatu masyarakat. Tiap-tiap lingkungan mungkin saja memberikan pengaruh tertentu kepada seniman, dan dari pergaulannya dengan berbagai pihak muncul rangsang yang berbeda-beda yang menyentuh sensitivitas seniman tersebut. Namun demikian segala pengaruh dan bebagai rangsang itu mengalami proses pencernaan mental dalam diri seorang seniman, sehingga terhadap setiap pengaruh dan rangsang dari luar, seorang seniman dalam ekspresinya, selalu memberikan suatu respons yang personal dan unik. Patut ditambahkan, hal ini bukanlah sesuatu yang hanya terdapat pada diri para seniman. Setiap orang, setiap individu, akan memberikan respons yang bersifat pribadi kepada suatu stimulus dari luar. Namun yang khas pada seorang seniman ialah bahwa respons pribadi itu selalu merupakan sebuah respons yang artistik sifatnya, yang tidak selalu bisa diberikan oleh seorang yang bukan seniman. </p>
<p>Terhadap tekanan politik dan ancaman penjara, para aktivis yang berani bisa menyatakan perasaan tak takut atau sikap tak gentar. Tetapi tidak setiap orang bisa menyatakannya dengan artistik seperti yang dilakukan oleh Rendra ketika dia berkata:</p>
<blockquote><p>Sebuah sangkar besi / tidak bisa mengubah seekor rajawali / menjadi seekor burung nuri.</p>
<p>Rajawali adalah pacar langit /dan di dalam sangkar besi / rajawali merasa pasti / bahwa langit akan selalu menanti </p>
<p>(kutipan dari “Sajak Rajawali”) 1
</p></blockquote>
<p>Secara umum sebuah ekspresi artistik akan tergantung sekurang-kurangnya pada dua kondisi. Yaitu otentisitas pesan yang disampaikan, yang mempersyaratkan penghayatan pribadi secara intens terhadap suatu soal, dengan melibatkan berbagai seluruh kemampuan mental seseorang, lebih dari sekedar olah pikir atau olah rasa, sehingga sebuah pesan menjadi ungkapan seluruh kepribadian. Kedua, orisinalitas medium penyampaian, yaitu suatu cara penyampaikan yang unik, yang hampir tak mungkin diubah atau ditransposisikan ke dalam bentuk penyampaian lain atas cara yang sama indah dan sama kuatnya.</p>
<p>Dengan uraian pendahuluan ini saya ingin mengatakan bahwa seni pada dasarnya hidup dan berkembang dalam suatu ruang pribadi yang privat sifatnya, dan bukan produk suatu ruang publik. Muncul masalah di sini, bagaimana menghubungkan seni yang merupakan atribut ruang privat dengan civil society yang merupakan ruang publik? Atau dapatkah kita berpikir sebaliknya, bahwa ruang publik dapat menghasilkan suatu jenis kesenian yang lain dari yang kita kenal?</p>
<p>Dari satu segi ruang privat perlu dipertahankan dan dipelihara karena ruang ini merupakan tempat kebebasan pribadi digarap dan diolah, dan menjadi benteng yang melindungi kebebasan seseorang dari campurtangan yang berlebihan dari pihak negara mau pun intervensi lembaga-lembaga sosial. Dia merupakan tempat seseorang mengolah cita-cita hidup sesuai dengan impian, keinginan dan selera pribadinya. Para ahli mengatakan bahwa ruang privat menjawab pertanyaan tentang hidup yang baik atau “the question of good life”. Termasuk di sini keinginan yang berhubung dengan kehidupan cinta dan pandangan religius serta cita-cita spiritual, selera makan dan pandangan tentang kebersihan dan kesehatan, cara berpakaian, cita-cita tentang tempat tinggal, dan selera estetik dan apresiasi kesenian. Semua hal tersebut terdapat dalam ruang privat diatur dan diselenggarakan berdasarkan nilai-nilai budaya. </p>
<p>Sebaliknya, ruang publik yang kita namakan civil society adalah tempat di mana keadilan dipertahankan dan dibela. Ruang ini hadir untuk menjawab pertanyaan yang berhubung dengan “the question of justice”, dan diatur oleh hukum negara. Hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum mempunyai tujuan agar setiap orang memperoleh keadilan yang menjadi haknya, dengan kewajiban pada orang lain untuk menghormatinya. Keadilan menjadi faktor yang membuat masing-masing orang mendapat tempat dalam suatu kehidupan bersama, di mana kebebasan seseorang tidak melanggar atau mengorbankan kebebasan orang lain.2</p>
<p>Dengan demikian, berlaku hemat dan menabung penting sekali untuk kehidupan yang aman secara ekonomis, tetapi tiap orang bebas untuk melakukan atau tidak melakukannya, tanpa mereka bisa dipaksa oleh negara. Akan tetapi membayar pajak adalah sesuatu yang berhubung dengan keadilan, berupa kewajiban kepada kehidupan umum, yang diatur oleh hukum positif, dan dapat dipaksakan oleh negara. Demikian pun mendidik anak dalam keluarga dengan disiplin dan kasih sayang, merupakan persiapan pertama untuk pembentukan warga negara yang matang, mandiri dan bertanggungjawab. Namun demikian, pendidikan anak adalah urusan domestik keluarga, dan termasuk dalam ruang privat. Negara atau lembaga sosial tidak dapat memaksa suatu keluarga mendidik anak-anaknya atas cara yang dipaksakan dari luar. Namun demikian, kekerasan kepada anak oleh orang tuanya, dapat menimbulkan reaksi publik dan campur tangan negara, karena di sana ada pelanggaran terhadap hak seorang anak untuk mendapatkan protective security. Pada titik inilah terdapat suatu perbedaan hakiki antara negara demokratis dan negara-negara totaliter yaitu bahwa demokrasi memberi ruang bagi ruang publik dan ruang privat, sementara sistem totaliter melindas ruang privat dan hanya mengakui ruang publik.3</p>
<p>Seterusnya, dalam suatu ruang politik, kehidupan bersama diatur bukan saja oleh hukum tetapi oleh kekuasaan yang ada pada negara. Tidaklah mengherankan bahwa ahli sosiologi seperti Max Weber mengatakan bahwa negara ditandai oleh satu-satunya hak istimewa yang tidak ada pada lembaga lainnya, yaitu monopoli untuk mempergunakan kekerasan atas cara yang legal.4 Di samping negara tidak ada lembaga lain mana pun yang dibenarkan menyelesaikan suatu soal dengan memakai kekerasan. Hak untuk memakai kekerasan ini ada pada negara agar dia dapat memaksakan ketundukan tiap orang terhadap hukum yang berlaku.5</p>
<p>Secara tipologis kita bisa mengatakan bahwa dalam ruang privat seseorang mengembangkan dirinya menjadi individu, menjadi pribadi dan menjadi anggota suatu komunitas, dalam ruang publik dia mengembangkan dirinya menjadi warga suatu negara, dan dalam ruang politik dia menjelma menjadi rakyat suatu pemerintahan yang syah.</p>
<p>Hubungan di antara ruang publik dan ruang politik atau di antara civil society dan negara bersifat regulatif, karena kekuasaan yang ada pada negara dan monopoli penggunaan kekerasaan yang dimiliki negara, harus tunduk kepada pengaturan dan pembatasan oleh hukum positif. Sebaliknya, hubungan di antara ruang politik dan ruang privat atau antara negara dan komunitas-komunitas budaya, bersifat subsidiair. Negara diijinkan masuk dalam ruang privat apabila dibutuhkan bantuannya. Kalau para seniman memerlukan sebuah pusat kesenian, negara dapat diminta bantuan untuk mengadakannya, tetapi negara tidak dibenarkan memaksakan pembangunan sebuah pusat kesenian karena kebetulan ada dana untuk itu, apalagi memaksa para seniman agar memanfaatkan gedung kesenian dan fasilitas yang telah disiapkan oleh negara, atas cara yang ditentukan oleh negara.</p>
<p>Adalah menarik bahwa hubungan di antara ruang privat dan ruang publik atau di antara komunitas-komunitas budaya dan civil society, bersifat sangat kreatif. Sudah jelas bahwa ruang publik diatur juga oleh nilai-nilai publik, seperti persamaan, keadilan, transparansi dan akuntabilitas. Namun demikian, munculnya ruang publik tidak dengan sendirinya, dan tidak harus menjadi saingan yang menggeser atau menggusur adanya ruang privat dalam komunitas-komunitas budaya. Hal ini dimungkinkan karena hampir semua nilai yang diterima dalam ruang publik dan kemudian berlaku di sana, diambil dari komunitas-komunitas budaya dan kemudian ditransformasikan menjadi nilai publik, setelah semua atribut dan nomenklatur yang bersifat komunal ditanggalkan, sambil substansi nilai itu tetap dipertahankan. Ini perlu dilakukan supaya suatu diskusi publik dapat dilakukan.</p>
<p>Sebuah analogi kiranya dapat menjelaskan hal ini. Bahasa Indonesia telah diresmikan sebagai bahasa nasional, sedangkan bahasa itu diambil dari bahasa Melayu Riau yang sejak berabad-abad berfungsi sebagai lingua franca. Kita tahu, suatu bahasa menjadi lingua franca kalau bahasa itu digunakan sebagai sarana komunikasi tetapi tidak berperan lagi sebagai penunjuk identitas suatu kelompok orang. Seseorang yang fasih berbahasa Inggris dewasa ini, tidak dengan sendirinya berasal dari San Fransisco atau Liverpool. Atau seorang profesor yang memberi kuliah dalam bahasa Spanyol tidak harus berasal dari Madrid. Inilah rupanya sebab yang jarang diungkapkan, mengapa bahasa Melayu dengan mudah diterima sebagai bahasa nasional karena bahasa itu tidak lagi menjadi representasi suatu identitas etnis tertentu, dan telah menjadi sarana komunikasi di antara berbagai kelompok etnis sejak ratusan tahun. Lain halnya kalau bahasa Jawa, bahasa Sunda atau bahasa Bugis diusulkan sebagai bahasa nasional. Mungkin timbul lebih banyak kontroversi dan pertentangan karena bahasa-bahasa besar itu menunjuk dan menjadi penanda suatu identitas etnis tertentu, yang mungkin sekali menimbulkan penolakan dari kelompok etnis lainnya.</p>
<p>Atas cara yang sama kita bisa berbicara tentang nilai-nilai publik. Apabila suatu komunitas budaya hendak menyumbangkan seperangkat nilai-nilainya ke dalam kehidupan publik, maka atribut-atribut dan nomenklatur komunal perlu dihilangkan (tanpa menghilangkan substansi nilai yang dikandungnya) agar supaya nilai tersebut dapat dipahami dan diterima oleh kelompok lainnya, karena nilai publik itu telah menjadi suatu nilai bersama meskipun nilai-nilai itu telah lahir dan dikembangkan dalam suatu komunitas budaya tertentu. Etos kapitan perahu yang secara tradisional berlaku di daerah-daerah pesisir di Sulawesi, dilegitimasi oleh nilai-nilai budaya setempat, dan legitimasi itu dilaksanakan karena alasan-alasan sosial atau kosmologis yang berhubung dengan kebudayaan setempat.6 Namun demikian substansi etos itu dapat dibawa ke ruang publik, dan dapat diusulkan sebagai alternatif terhadap budaya politik Indonesia, yang umumnya diambil dari latarbelakang daerah pertanian. Kecenderungan kepada pola kepemimpinan feodal, atau hubungan patron klien dalam politik Indonesia, jelas berasal dari latar belakang masyarakat dan kerajaan-kerajaan yang berdasarkan pertanian.</p>
<p>Sebagai alternatif terhadap kecenderungan tersebut etos kapitan perahu dapat diusulkan ke dalam diskusi dalam ruang publik, setelah segala alasan budaya yang menjadi dasar dari etos tersebut dan setelah nomenklatur yang bersifat komunal ditanggalkan. Karena pada dasarnya substansi etos itu – sekali pun tanpa disertai alasan-alasan budaya yang bersifat komunal &#8212; dapat diterapkan dalam politik Indonesia, sebagai negara dengan sifat maritim yang kuat. Ahli sejarah maritim, Prof. Adrian B. Lapian, pernah mengeritik penamaan Indonesia sebagai negara kepulauan, karena nama itu tidak menunjukkan aspek laut yang merupakan bagian terbesar dari negeri ini. Istilah kepulauan masih memperlihatkan orientasi ke daratan, sedangkan istilah negara kelautan lebih tepat menunjukkan watak negeri ini sebagai kawasan maritim.</p>
<p>Istilah ‘negara kepulauan’ merupakan padanan dalam bahasa Indonesia dari pengertian archipelagic state. Jika kita menyimak arti sesungguhnya dari kata archipelago, maka (menurut kamus Oxford dan Webster) kata ini berasal dari bahasa Yunani yakni arch (besar, utama) dan pelagos (laut). Jadi archipelagic state sebenarnya harus diartikan sebagai ‘negara laut utama’ yang ditaburi dengan pulau-pulau, bukan negara pulau-pulau yang dikelilingi laut. Dengan demikian paradigma perihal negara kita seharusnya terbalik, yakni negara laut yang ada pulau-pulaunya.7</p>
<p>Dalam kaitan dengan negara kelautan, maka etos kapitan perahu dapat menunjukkan orientasi baru dalam budaya politik Indonesia. Pertama, dalam etos kapitan perahu, seorang pemimpin perahu tidak mungkin didrop begitu saja dari atas, tetapi harus bertumbuh dari bawah dan mencapai pengetahuan dan kematangan tertentu yang dipersyaratkan. Dropping tentu saja bisa dilakukan, akan tetapi risikonya akan sangat tinggi, karena kapitan perahu yang tidak menguasai pengetahuan tentang navigasi, alur pelayanan, arah angin, tanda badai, cara menetapkan arah perahu dengan membaca letak bintang, tidak akan sanggup membawa perahu dan penumpangnya sampai ke tempat tujuan, atau perahunya segera menabrak karang dan tenggelam. Ibaratnya, dia harus membawa perahunya dari Surabaya ke Makasar, tetapi perahunya terdampar di Cilacap.</p>
<p>Kedua, dalam etos ini diharuskan proses pengambilan keputusan yang cepat dan kemampuan mengoreksi keputusan dalam waktu singkat. Ketika menghadapi topan di tengah laut seorang kapitan perahu tidak bisa mengajak berunding para awak dalam musyarawarah selama dua tiga jam. Dia harus memutuskan dengan cepat, misalnya pada pukul 23.00 malam, dan kemudian kalau keputusannya terbukti keliru, dia harus mengoreksinya pada pk. 23.05. Keragu-raguan dalam mengambil keputusan, dan kelambanan atau keengganan untuk mengoreksi keputusan yang salah akan berakibat fatal bagi keselamatan perahunya dan hidup para penumpang perahu.</p>
<p>Ketiga, dalam menghadapi bahaya karamnya perahu maka seorang kapitan perahu akan menjadi orang terakhir yang meninggalkan perahu, setelah penumpang lain mendapat kesempatan menyelamatkan diri atau mendapat pertolongan yang semestinya. Secara tradisional dia dilarang meninggalkan perahunya apabila masih ada penumpang yang membutuhkan pertolongan. Tentu saja seorang kapitan perahu bisa juga ketakutan menghadapi bahaya dan dapat meluputkan dirinya sebelum penumpang lainnya selamat. Akan tetapi hal itu akan merupakan aib yang diceritakan turun-temurun di kampung halamannya, dan turunannya harus menanggung malu untuk waktu yang lama, karena ada kapitan perahu yang demikian pengecut menyelamatkan diri sambil meninggalkan penumpang perahu terkatung di tengah laut, dihempas ombak dan meninggal ditelan badai.</p>
<p>Tentu saja lukisan tersebut lebih merupakan tipe ideal atau ideal types dalam pengertian Max Weber, yaitu suatu tipe yang dilukiskan dalam kesempurnaan logisnya, sebagai referensi normatif bagi apa yang sesungguhnya terdapat dalam kenyataan empiris. Jadi ada kapitan perahu yang sangat dekat dengan tipe ideal dan ada pula yang sangat jauh dari tipe ideal tersebut, tetapi kita mempunyai pegangan tentang bagaimana seorang kapitan perahu harus berlaku dan bertindak apabila dia berada dalam kondisi ideal untuk menjalankan tugasnya.</p>
<p>Apa yang dikemukakan di sini tentang etos kapitan perahu, dapat menjadi ilustrasi bahwa seperangkat nilai yang dikembangkan dalam suatu komunitas terbatas, dan dilegitimasi dengan alasan-alasan budaya dalam komunitas itu, dapat ditransfer dan diterapkan di ruang publik, asal saja segala alasan dan atribut yang bersifat komunal telah ditanggalkan (agar supaya dapat dipahami oleh publik yang lebih luas), sambil tetap dipertahankan substansi nilai yang dapat diterapkan juga di luar komunitas itu.</p>
<p>Contoh lain yang mungkin lebih aktual bagi kita adalah masalah hak asasi manusia. Saya yakin bahwa tiap agama dapat mengajukan alasan yang diambil dari ajaran teologinya untuk membenarkan penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan kewajiban tiap orang membela hak tersebut. Akan tetapi dalam debat di DPR atau dalam proses di pengadilan tentang pelanggaran HAM orang tidak bisa lagi mengajukan alasan-alasan teologis dari agamanya masing-masing untuk membela pendapatnya. Karena alasan-alasan teologis termasuk dalam ruang privat tiap agama, sedangkan pengadilan negara mengharuskan suatu rujukan bersama kepada hukum positif.</p>
<p>Namun demikian pentingnya HAM dan sikap militan para aktivis HAM dalam membela hak ini dapat diterangkan dengan latarbelakang religius dari mana paham itu telah mendapat inspirasinya.8 Untuk mengambil sebuah contoh, dalam tradisi kebudayaan Barat yang Kristen, ada teologi yang mengakar kuat bahwa tiap orang diciptakan seturut citra Allah, imago Dei, das Bild Gottes, atau the image of God. Dalam teologi ini dianut kepercayaan bahwa citra Tuhan itu adalah sesuatu yang suci yang tetap ada dalam diri seseorang, sekali pun dia seorang pencuri, pembunuh, atau seorang yang tidak percaya lagi kepada Tuhan. Kesucian citra ini dalam diri tiap orang tetap harus dihormati karena dua alasan. Pertama, citra itu diberikan oleh Tuhan sendiri dan bukan prestasi orang bersangkutan. Kedua, citra itu tetap hadir dalam diri tiap orang dengan seluruh kesuciannya, meskipun seseorang melakukan perbuatan kriminal yang ekstrim. Setelah mengalami proses sekularisasi yang panjang, konsep citra Tuhan ini tidak begitu kedengaran lagi di Barat, tetapi diganti oleh konsep martabat manusia, yang menjadi sumber segala hak asasi manusia. Nilai yang semula bersifat privat dalam suatu kelompok agama telah menjadi nilai publik dalam civil society.</p>
<p>II<br />
Pandangan bahwa seni termasuk dalam ruang privat, mencapai puncaknya dalam paham dan slogan “seni untuk seni” (art for art’s sake). Paham ini telah muncul dalam kalangan seniman di Barat, dan harus dilihat kemunculannya dalam hubungan dengan perkembangan kebudayaan di Barat juga. Semenjak zaman pertengahan, kehidupan dalam masyarakat Barat praktis dikuasai oleh kendali teologi Kristen katolik, yang ada dalam monopoli gereja Roma katolik. Seni dalam pada itu berkembang sebagai sebuah bagian integral dari kehidupan keagamaan, dan mengabdi kepada keperluan-keperluan yang berhubung dengan pengembangan dan penyempurnaan ibadat. Kesenian, dan khususnya arsitektur Gotik misalnya menjadi dokumen visual tentang hubungan yang erat di antara teologi, kehidupan agama, dan seni. Gagasan tentang Tuhan yang transendental yang berada in excelsis, yaitu berada di tempat yang sangat tinggi, mendapatkan refleksinya secara arsitektural dalam garis-garis vertikal yang sangat dominan dalam arsitektur Gotik, sementara candi-candi katedral dibuat lancip dan runcing menusuk langit, dan mengesankan usaha menggapai sesuatu yang tak terjangkau dari bumi.9 </p>
<p>Ide tentang seni untuk seni adalah usaha pembebasan seni dari tugasnya sebagai kegiatan yang harus melayani tujuan lain di luar dirinya. Contoh tentang seni dan agama dalam abad pertengahan Eropa dan pembebasan dari fungsi keagamaan seni yang berlangsung semenjak renaisans, memperlihatkan kepada kita bahwa dua sektor yang berada dalam ruang privat (yaitu seni dan agama) dapat memperjuangkan otonominya masing-masing.</p>
<p>Persoalan yang menjadi perhatian kita hari ini adalah bagaimana hubungan yang wajar antara seni sebagai suatu sektor privat dengan masalah-masalah yang ada dalam ruang publik yang direpresentasikan dalam civil society. Pada titik ini pun seni dan khususnya sastra Indonesia memperlihatkan berbagai contoh yang menarik. Pertanyaan pertama adalah apakah suatu isu atau masalah publik harus menjadi rujukan dalam berkesenian? Tanpa perlu beragumentasi lebih panjang, dapatlah dikatakan begitu saja, bahwa paham ini jelas ditolak dalam kalangan seniman. Ketegangan dan bahkan permusuhan antara seniman bebas dan seniman Lekra pada tahun-tahun 1950-an hingga 1960-an patut dicatat sebagai pengalaman yang harus dipelajari dalam sejarah sastra Indonesia, bukannya dihapuskan dari memori kolektif bangsa kita.</p>
<p>Puisi misalnya tidak harus ditulis untuk mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat atau perbaikan kesehatan ibu dan anak. Akan tetapi terhadap isu keadilan dan kemiskinan, sastrawan Indonesia memperlihatkan sikap yang berbeda. Penyair Rendra misalnya dengan tegas mengatakan bahwa sekalipun seni umumnya dan sastra khususnya, harus dikembangkan berdasarkan disiplin artistik, namun dalam pesan yang disampaikannya, seni dapat dan bahkan harus memberi respons kepada masalah keadilan, pemerintahan yang bersih, atau pendidikan nasional yang merupakan sektor-sektor publik. Pendapat ini mempunyai dasar dalam paham Rendra, bahwa seorang seniman bukanlah seorang yang cukup bermewah-mewah dengan segala yang indah, tetapi bertugas memberi kesaksian tentang zamannya. Atau dalam kata-kata Rendra sendiri:</p>
<blockquote><p>Aku mendengar suara / jerit hewan yang terluka. / Ada orang memanah rembulan / ada burung terjatuh dari sarangnya. / Orang-orang harus dibangunkan. / Kesaksian harus diberikan / agar kehidupan bisa terjaga
</p></blockquote>
<p>Meski pun demikian dalam memberikan kesaksian ini seniman tetap berpegang pada disiplin artistik yang dimungkinkan dalam dunia seni. Tentang keterlibatannya dalam masalah-masalah publik ini Rendra berkata dalam sebuah sajaknya:</p>
<blockquote><p>Gunung-gunung menjulang / langit pesta warna di dalam senjakala / Dan aku melihat / protes-protes yang terpendam / terhimpit di bawah tilam.<br />
Aku bertanya, / tetapi pertanyaanku / membentur jidat penyair-penyair salon,/ yang bersajak tentang anggur dan rembulan, / sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya, / dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan / termangu-mangu di kaki dewi kesenian</p>
<p>(kutipan dari “Sajak Sebatang Lisong”)11</p>
</blockquote>
<p>Apa yang dinamakan disiplin artistik rupanya mirip fungsinya dengan metode dalam berkesenian. Ini ada konsekuensinya yang berat buat seniman sendiri. Sebagai perbandingan, dalam ilmu-ilmu sosial berlaku asas bahwa tidak semua masalah sosial dapat diteliti dengan satu macam metode (misalnya statistik atau survei). Apa yang akan menentukan metode yang digunakan adalah masalah yang hendak diselidiki dalam suatu penelitian. Jadi bukan metode yang menentukan masalah yang diteliti, tetapi masalah penelitianlah yang menentukan metode apa yang sebaiknya dipergunakan, ibaratnya orang memukul paku dengan martil, tetapi mencabut paku dengan sebuah tang.</p>
<p>Asas ini diterapkan Rendra dalam konsepnya tentang disiplin artistik. Menurut dia. pekerjaan seorang penyair (atau seniman pada umumnya) menjadi berat, karena dia harus cukup sensitif menangkap masalah zamannya dan memberi kesaksian pribadi tentang masalah tersebut, dan sekaligus dituntut menguasai format artistik yang tepat dan sesuai dengan tuntutan pesannya. Demikianlah, untuk melukiskan pengalaman dan kepekaannya terhadap alam, Rendra merasa cukup memakai simbolisme dan imaji-imaji yang diambil dari tembang-tembang Jawa, yaitu sajak-sajak yang kemudian terhimpun dalam Kakawin Kawin dan Masmur Mawar. Tentang pengantinnya dia berkata:</p>
<blockquote><p>Awan bergoyang, pohonan bergoyang / antara pohonan bergoyang malaikat membayang / dari jauh bunyi merdu lonceng loyang</p>
<p>Sepi syahdu, / madu rindu, / candu rindu,/ gairah kelabu / rebahlah, sayang, rebahkan wajahmu ke dadaku</p>
<p>Langit lembayung, pucuk-pucuk daun lembayung / antara dedaunan lembayung bergantung hati yang ruyung / dalam hawa bergulung antara mantra dan tenung</p>
<p>(Dari sajak “Nina Bobok Bagi Penganten”)12
</p></blockquote>
<p>Pada tahapan berikut, khususnya ketika berada di New York, Rendra merasa terpanggil untuk memberikan suatu tes kepada moral umum yang berlaku dalam masyarakat. Untuk keperluan ini dia merasa simbolisme tidak memadai lagi, dan dia harus mencari format artistik lain yang didukung oleh filsafat antropologi dan pengalaman mistik. Disiplin artistik pada tahap ini dikembangkan dari kombinasi dan tegangan antara misteri dan ambiguitas, yang tampil dalam metafor-metafor yang surealistis sebagaimana terlihat dalam kumpulan sajak Blues Untuk Bonnie. Tentang seorang Negro tua yang bernyanyi dengan gitar dalam sebuah café di kota Boston, sambil berkisah tentang gubuk-gubuk tua orang Negro di Georgia, Rendra berkata:</p>
<blockquote><p>Georgia, / Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya / istrinya masih di sana / setia tapi merana / anak-anak Negro bermain di selokan, / tak krasan sekolah. / Yang tua-tua jadi pemabuk dan pembual / banyak hutangnya / Dan di hari Minggu mereka pergi ke gereja yang khusus untuk Negro / Di sana bernyanyi / terpesona pada harapan akherat / karena di dunia mereka tak berdaya</p>
<p>Georgia. / Lumpur yang lekat di sepatu / </p>
<p>Gubuk-gubuk yang kurang jendela. / Duka dan dunia / sama-sama telah tua. / Sorga dan neraka / keduanya asing pula. / Dan Georgia? / Ya, Tuhan / Setelah begitu jauh melarikan diri / masih juga Georgia menguntitnya</p>
<p>(Dari sajak “Blues Untuk Bonnie”)13
</p></blockquote>
<p>Seterusnya antara 1971 dan 1978, menurut pengakuannya sendiri, Rendra memusatkan perhatian pada soal-soal sosial-ekonomi dan sosial-politik, untuk memberikan suatu tes kepada relevansi politis dalam kehidupan publik. Dia menulis beberapa sajak sosial-politis yang kemudian dikumpulkan dalam kumpulan sajak Potret Pembangunan Dalam Puisi dan juga dalam Orang-Orang Rangkasbitung. Untuk keperluan ini dia merasa peralatan estetik dalam metafor-metafor surealistis tidak memadai lagi dan dia mencari format artistik baru melalui analisa struktural ilmu sosial, dan mencoba menggarap metafor-metafor yang lebih grafis dan plastis.14 Dalam melukiskan perjuangan cinta antara Saijah dan Adinda, plastisitas itu tampil dalam format yang mendekati taraf ideal:</p>
<blockquote><p>Adinda! Adinda! / Kemiskinan telah memisahkan kita / sepuluh tahun menahan dahaga asmara / alangkah sulit cinta di zaman edan, / di dalam hidup penuh ancaman. / Semua hak dianggap salah. / Tak punya apa-apa dianggap sampah / Alangkah hina orang yang kalah. / Meskipun miskin tanpa daya / aku toh harus berupaya / karena takut gila / dan dosa</p>
<p>(Dari sajak “Nyanyian Saijah untuk Adinda”)15</p>
</blockquote>
<p>Respons seni terhadap masalah publik tidak selalu mudah dilakukan karena ada tuntutan yang lebih tinggi kepada para seniman, untuk selalu mencari disiplin artistik dan format estetik yang dapat mendukung pesan yang hendak disampaikan. Kesulitan besar akan muncul kalau seorang penyair misalnya, hanya menguasai satu bentuk pengucapan, satu disiplin artistik, dan memaksakan disiplin tersebut sebagai sarana untuk menyampaikan berbagai pesan yang berbeda wataknya. Dalam kasus Rendra, simbolisme yang berhasil mengungkapkan pergaulan penyair dengan alam, barangkali akan menjadi gagap kalau dipaksakan juga menjadi sarana untuk mengekspresikan kesadaran sosial atau kesadaran politis.</p>
<p>Kita bertanya: mengapa gerangan seorang penyair perlu melibatkan dirinya dalam masalah-masalah publik yang muncul dalam civil society dan masalah kekuasaan yang muncul dalam politik? Dalam paham Rendra, ini harus dilakukan karena perlu dilakukan dan dapat dilakukan oleh kesenian, meskipun dia tidak banyak menguraikan mengapa hal ini ini perlu dan dapat dilakukan. </p>
<p>Dalam pandangan saya, seni dapat memainkan peranan penting dalam memberi respons kepada isu-isu publik sekurang-kurangnya karena dua alasan. Pertama, kita mengetahui bahwa baik dalam ruang privat maupun dalam ruang publik selalu ada nilai-nilai yang menjadi pegangan. Namun demikian, realisasi nilai-nilai itu terlaksana melalui berbagai pranata yang melembagakan suatu nilai. Nilai-nilai demokrasi diwujudkan dalam lembaga-lembaga politik seperti Pemilu, DPR, dan kebebasan pers, atau nilai keadilan diwujudkan dalam lembaga-lembaga peradilan. Namun demikian, kesulitan selalu timbul karena hubungan di antara nilai dan lembaga yang mengejawantahkannya bersifat asimetris.</p>
<p>Maka nilai hanya dapat diwujudkan melalui suatu pranata (sebagaimana cinta lelaki perempuan diwujudkan dalam lembaga perkawinan), tetapi adanya suatu pranata tidak dengan sendirinya merealisasikan nilai yang direpresentasikannya (seperti juga tidak setiap perkawinan menjadi tempat penjelmaan cinta lelaki dan perempuan). Pemilu merepresentasikan hak rakyat untuk menentukan sistem pemerintahannya, tetapi pelaksanaan Pemilu tidak dengan sendirinya mewujudkan hak rakyat tersebut (misalnya karena penggunaan pemaksaan dalam pemberian suara, atau karena rakyat dipikat dengan sejumlah uang sogok untuk mendapatkan suara yang diinginkan). Lembaga pengadilan merepresentasikan nilai keadilan, tetapi tidak setiap lembaga pengadilan merealisasikan keadilan bagi para pencari keadilan sebagaimana mestinya, apalagi kalau lembaga-lembaga itu sudah dikuasai oleh semacam jaringan mafia peradilan.</p>
<p>Kedua, setiap orang yang menggunakan pengamatannya dengan cermat dapat melihat kesenjangan antara nilai dan lembaga yang mengejawantahkannya. Namun demikin, ketajaman dalam melihat dan merasakan kesenjangan itu ada secara khusus dalam diri para seniman, Ini bukan karena para seniman lebih saleh, lebih sadar hukum, atau lebih berkomitmen terhadap transparansi, tetapi karena dalam menciptakan karya-karya kreatif yang berhasil, para seniman harus memenuhi tuntutan otentisitas pesan yang hendak disampaikan , dan orisinalitas ekspresi dalam pengungkapan pikiran dan perasaan. Otentik berarti bahwa suatu pesan yang diungkapkan, merupakan hasil pergulatan pribadi yang intens dan total, dan bukan sekedar buah pikiran intelektual atau letupan entusiasme emosional.</p>
<p>Pesan yang otentik berbeda dari pesan yang benar, karena kebenaran pesan diukur berdasarkan kesesuaian antara apa yang dikatakan dan apa yang ditunjuk oleh oleh pesan bersangkutan, sedangkan otentisitas ditentukan oleh kesesuaian antara apa yang dikatakan dan keyakinan serta penghayatan orang yang mengatakannya. Demikian pun orisinalitas berarti bahwa cara mengungkapkan suatu pesan, mencerminkan hasil suatu perjuangan khusus untuk mendapatkan bentuk penyampaian yang unik. Keistimewaan sebuah karya seni ialah bahwa baik isi pesan maupun bentuk penyampaiannya sekaligus merupakan pancaran kepribadian seorang seniman yang memperlihatkan secara ideal keunikan tiap pribadi manusia dan kemampuan tiap pribadi menyampaikan satu aspek kenyataan hidup secara khas.</p>
<p>Tidak mengherankan bahwa para seniman akan sangat peka terhadap segala pesan, juga pesan dan pernyataan yang disampaikan dalam ruang publik dan bahkan dalam ruang politik (misalnya janji politik untuk lebih memperhatikan pendidikan atau pernyataan mengenai kesejahteraan rakyat). Pesan-pesan dan pernyataan tersebut akan diuji berdasarkan kriteria seniman dalam menilai sebuah karya seni, yaitu otentisitas peryataan, dan orisinalitas ekspresi. Sebuah pernyataan yang tidak otentik, hampir dengan sendirinya tidak mencerminkan pikiran dan perasaan orang yang mengucapkannya, mana pula komitmen pribadinya terhadap pernyataannya. Demikian pun sebuah pernyataan yang tanpa orisinalitas hanya merupakan replika ucapan orang lain, atau reproduksi slogan dan wacana umum, sehingga tidak mengesankan sebagai suatu ungkapan pribadi yang telah mengalami pergulatan dalam mencari bentuk ekspresi yang unik. Apa yang tidak otentik menjadi palsu, dan ekspresi yang tanpa orisinalitas menjadi kodian. Tentang kesenjangan ini penyair Rendra membuat semacam deklarasi dalam puisi:</p>
<blockquote><p>Aku tulis pamplet ini / karena lembaga pendapat umum /ditutupi jaring laba-laba / Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk / dan ungkapan diri ditekan / menjadi peng-iya-an</p>
<p>Apa yang terpegang hari ini / bisa luput besok pagi / ketidakpastian merajalela / di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki / menjadi marabahaya / menjadi isi kebon binatang<br />
(Dari sajak “Aku Tulis Pamplet Ini”)16</p>
</blockquote>
<p>Dan tentang otentisitas pernyataan dan orsinalitas ekspresi Rendra berkata:</p>
<blockquote><p>Apakah artinya janji yang ditulis di pasir? / Apakah artinya pegangan yang hanyut di air? / Apakah artinya tata warna dari naluri rendah kekuasaan? / Apakah artinya kebudayaan plastik dan imitasi ini?</p>
<p>(Dari sajak “Ketika Udara Bising”)17</p>
</blockquote>
<p>Kesenjangan antara nilai dan wujud pengejawantahannya adalah jamak dalam kebudayaan. Akan tetapi seni tidak memberikan toleransi kepada diskrepansi ini karena otentisitas akan menuntut bahwa nilai harus dihayati secara total dan tuntas, dan diinternalisasi menjadi personal, sementara orisinalitas tidak berkompromi dengan imitasi, duplikasi, reproduksi dan pretensi. Semua ini tidak berhubung dengan moral umum, tetapi tetapi dengan moral pribadi, yaitu apa yang diyakini sebagai disiplin yang menjamin daya cipta. Namun demikian apa yang oleh kalangan seniman dikemukakan sebagai syarat estetik dapat menjadi referensi bagi kejujuran moral dan akuntabilitas politik.</p>
<p>III<br />
Hubungan di antara ruang privat dan publik tidak selalu jelas, karena kedua bidang itu tidak merupakan dua medan yang terputus, tetapi bersambung secara dinamis. Hubungan itu menjadi kontroversi yang belum selesai sampai hari ini dalam bidang yang kita namakan ekonomi. Apakah ekonomi termasuk dalam ruang privat atau ruang publik?</p>
<p>Semenjak Adam Smith sudah dimaklumkan bahwa yang mengendalikan tingkahlaku ekonomi tidak lain dari kepentingan perorangan, kepentingan pribadi. Penjual roti membuka tokonya bukan untuk memberi makan kepada mereka yang membutuhkan, tetapi untuk mendapat untung bagi dirinya.18 Diandaikan bahwa bila setiap orang bekerja dan berjuang untuk kepentingan dirinya, maka ada tangan tersembunyi yang akan mengatur kepentingan-kepentingan pribadi itu sehingga menguntungkan semua orang. Campur tangan kebijakan publik apalagi intervensi politik dalam pasar, hanya akan mengakibatkan distorsi yang mengganggu kinerja invisible hands, dan pada giliran berikutnya mengganggu kepentingan bersama.</p>
<p>Untuk mempersingkat pembicaraan ini, dapat kita katakan bahwa ekonomi dapat dipandang sebagai ruang privat, tempat setiap orang mencari ikhtiar untuk menciptakan kehidupan yang baik, dan memberi jawaban kepada the question of good life yang menjadi tema dalam ruang privat. Namun demikian, dalam prakteknya impian Adam Smith tidak selalu menjadi kenyataan, karena kemakmuran suatu golongan acapkali tercipta karena golongan lain yang lebih besar disingkirkan dari akses ke sumber daya ekonomi. Pada saat itu muncul ketidakk-adilan, khususnya ketidak-adilan distributif, sehingga ekonomi menjadi persoalan keadilan, persoalan publik. Para ahli ekonomi sendiri sudah sejak lama mengakui bahwa apa yang dinamakan Pareto Optimal tidak pernah ada, yaitu keadaan di mana seorang mendapat keuntungan lebih banyak, tanpa menimbulkan kerugian pada pihak lain.</p>
<p>Dengan cara yang amat disederhanakan dapat dikatakan bahwa sejauh menyangkut kehidupan yang baik atau good life ekonomi termasuk dalam ruang privat, sedangkan sejauh menyangkut keadilan dan ketidak-adilan maka ekonomi masuk dalam ruang publik. Kita tahu, persoalan mengenai sifat privat dan publik dalam ekonomi sudah menjadi bahan perdebatan para ahli dari tahun ke tahun bahkan dari abad ke abad. Dalam negara-negara sosialis ekonomi seluruhnya menjadi masalah publik, sedangkan negara-negara demokrasi selalu berdebat tentang trade-off atau pergeseran antara ekonomi sebagai ruang privat dan ruang publik. Di Indonesia masalah itu menjelma menjadi debat tentang peran pasar dan peran negara dalam ekonomi, dan pilihan antara liberalisasi pasar sebagaimana diusulkan oleh Washington Consensus pada 1994 dan peran kebijakan publik dalam ekonomi. Sementara itu kalau kemiskinan belum menurun, lapangan kerja tetap sulit, dan harga barang terus naik, apakah hal ini harus dilihat sebagai kegagalan pasar atau kegagalan pemerintah?</p>
<p>Masalah ini berada di luar pokok pembicaraan hari ini, tetapi mempunyai implikasi tertentu terhadap persoalan seni dan civil society. Dari satu pihak sudah dikatakan bagaimana seni dapat merespons masalah-masalah dalam civil society. Masalah lain adalah apakah tema-tema kesenian mempunyai semacam akar sosial-ekonomi dan sosial politik, yang kemudian bertunas dan berkembang sebagai sebuah karya kreatif seni? Apakah seorang seniman, disengaja atau pun tidak, dinyatakan atau pun disembunyikan, memperlihatkan sesuatu yang menyangkut latarbelakang dan konteks konteks sosial-ekonomis dan sosial-politisnya, meski pun hubungan itu telah ditransformasi melalui sublimasi estetik dan sofistikasi artistik? Di antara pemikir-pemikir tersebut ada kesepakatan bahwa ada hubungan itu, ada semacam social underpinnings dari tiap karya seni. Masalahnya adalah bagaimana bentuk dan wujud hubungan tersebut?19</p>
<p>Filosof Adorno misalnya beranggapan bahwa bukan hanya karya seni tetapi tiap teori ilmu pengetahuan harus dipandang pertama-tama sebagai teori tentang masyarakat di mana teori tersebut diproduksikan. Namun demikian, dalam hal seni, sebuah karya bukannya menjadi pantulan atau refleksi keadaan sosial ekonomi dan sosial politis masyarakat, melainkan lebih menjadi antitesa terhadapnya dan berada dalam tegangan dialektis dengan masyarakatnya.20 Habermas dengan mengikuti rekannya Walter Benjamin berpendapat bahwa dalam masyarakat borjuis yang kapitalis banyak kebutuhan manusia yang berhubung dengan rasionalitas nilai (Wertrationalitaet) sudah tidak mendapat tempat yang pantas dan bahkan diperlakukan sebagai ilegal, karena tidak memenuhi tuntutan rasionalitas instrumental (Zweckrationalitaet) yang menjadi pedoman satu-satunya dunia industri yang kapitalis. Beberapa dari kebutuhan tersebut adalah pergaulan mimetis dengan alam, pergaulan dengan badan, keinginan untuk hidup solider dengan orang lain, serta keinginan untuk merasakan kebahagiaan menghayati pengalaman komunikasi yang tidak serba pragmatis. Semua ini kemudian tertampung dalam kesenian yang memberi tempat secara real atau secara virtual untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut.21</p>
<p>Paham-paham filosofis dan sosiologis itu dapat ditarik implikasinya untuk kehidupan kesenian di Indonesia. Kalau setiap karya seni mempunyai semacam social underpinnings atau akar kemasyarakatan, maka kosekuensi apa yang dapat kita tarik dari sana?</p>
<p>Pertama, dapatkah dengan mendalami karya-karya seni di Indonesia, kita memperoleh suatu impresi bahkan pengetahuan mengenai perkembangan masyarakat kita, karena kesenian melalui sofistikasi estetis dan sublimasi artistik dapat mengungkapkan berbagai masalah sosial kita atas caranya sendiri, baik dengan menyatakannya maupun dengan menyembunyikannya? Kita tahu bahwa dalam simbolisme seseorang dapat menyatakan sesuatu dengan menyembunyikan, dan dapat menyembunyikan sesuatu dengan menyatakannya. Kedua, sekalipun karya seni dapat menjadi tempat konflik-konflik sosial ekonomi diungkapkan secara tersirat dan tersembunyi, apakah hal ini berarti bahwa seni dapat menjadi tempat seseorang menyembunyikan diri dan menghindari konflik-konflik sosial ekonomi, atau harus menjadi tempat orang mengungkapkan konflik-konflik tersebut sebagai bentuk tanggungjawabnya terhadap perkembangan yang ada dalam masyarakat?</p>
<p>Jawaban terhadap pertanyaan tersebut hanya dapat diberikan oleh para seniman sendiri berdasarkan opsi pribadi yang mereka tentukan sendiri, dan berdaarkan penguasaan mereka terhadap masalah masyarakatnya dan ketrampilan mereka dalam menggunakan format estetik dan disiplin artistik yang mendukung pesan yang hendak disampaikan. Kita dapat berbahagia bahwa ada seniman-seniman kita seperti penyair Rendra telah menyatakan sikapnya secara gamblang, tanpa keraguan:</p>
<blockquote><p>Orang-orang miskin di jalan / yang tinggal di dalam selokan / yang kalah dalam pergulatan,/ yang diledek impian, / janganlah mereka ditinggalkan</p>
<p>(Dari sajak “Orang-Orang Miskin”)22
</p></blockquote>
<p>Pesan penyair ini tentu saja tidak hanya tertuju kepada rekan-rekannya para seniman, dan khususnya para penyair Indonesia, tetapi kepada semua kita sebagai penghuni yang sah dari civil society yang bernama Indonesia.</p>
<p>Jakarta, 31 Oktober 2009</p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p>Ignas Kleden dilahirkan di Waibalun, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 19 Mei 1948. Sempat bersekolah di sekolah calon pastor setelah lulus dengan predikat terbaik di sekolah dasar. Namun keluar dari sekolah tersebut lantaran tidak bisa berkhotbah dengan baik. Ia lalu memilih menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi/ STFT Ledalero, Maumere, Flores (1972), meraih gelar Master of Art bidang filsafat dari Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman (1982), dan meraih gelar Doktor bidang Sosiologi dari Universitas Bielfeld, Jerman (1995).</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Catatan kaki:</p>
<p>Kutipan dari Rendra, Perjalanan Bu Aminah (kumpulan sajak), Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1997 : 1.</p>
<p>Distingsi privat dan publik ini dibuat berdasarkan teori liberal sebagaimana diuraikan oleh Bruce Ackerman dalam bukunya Social Justice in the Liberal State (1980) yang dibahas oleh Seyla Benhabib “Models of Public Space: Hannah Arendt, the Liberal Tradition, and Juergen Habermas” dalam Craig Calhoun (ed.), Habermas And The Public Sphere, Cambridge – Massachusetts – London, The MIT Press, 1992 : 81 -85.</p>
<p>Peter Uwe Hohendahl, “The Public Sphere: Models and Boundaries”, dalam Craig Calhoun (ed.), op.cit.: 100 -101.</p>
<p>Max Weber menamakannya “das Monopol legitimer Gewaltsamkeit” atau monopoli penggunaan kekerasan secara legitim, sebagai hak istimewa negara di samping haknya menarik pajak. Lihat Max Weber, Wirtschaft und Gesellschaft, Tuebingen, J.C.B. Mohr, 1985 (1922) : 821 – 824.</p>
<p>Tentang pembagian ruang privat, ruang publik dan ruang politik lihat Juergen Habermas, Strukturwandel der Oeffentllichkeit, Darmstadt &amp; Neuwied, Luchterhand Verlag, 1980 : 42 – 46.</p>
<p>Konsep “kapitan perahu” dikemukakan oleh Prof. Mattulada berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukannya tentang budaya pesisir di Sulawesi.</p>
<p>Adrian B. Lapian, Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, Jakarta, Komunitas Bambu, 2009 : 2.</p>
<p>T. S. Kuhn, seorang ahli sejarah ilmu pengetahuan, mengemukakan dalilnya bahwa suatu teori ilmu pengetahuan sering menimbulkan sikap militan dalam kalangan penganutnya untuk membelanya. Hal ini disebabkan karena selain isi empirisnya, ada semacam metaphysical underlay dalam setiap teori, yang berhubung dengan pandangan dunia dan pandangan hidup seseorang. Berubahnya sebuah teori ilmu pengetahuan dikuatirkan akan mengganggu pandangan dunia dan pandangan hidup seseorang. Lihat T. S. Kuhn, The Structure of Scientifc Revolution, Chicago, University of Chicago Press, 1962 : 58 -61.</p>
<p>Dr. Wendelin Rauch &amp; Dr. Jakob Hommes (ed.), Lexikon des Katholischen Lebens, Freiburg, Verlag Herder, 1952, sub voce “Kunst”.</p>
<p>Kutipan diambil dari wawancara Hardi dan Rendra “Rendra: Saya Punya Mental Juara”, dimuat dalam Edi Haryono (ed.), Ketika Rendra Baca Sajak, Kepel Press, 2004 : 133 – 134.</p>
<p>Rendra, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Jakarta, Pustaka Jaya, 1993 : 34.</p>
<p>Rendra, Empat Kumpulan Sajak, Jakarta, Pustaka Jaya, 1994 : 44.</p>
<p>Rendra, Blues Untuk Bonnie, Jakarta, Burungmerak Press, 2008 : 18.</p>
<p>Tentang perkembangan disiplin artistik baca uraian Rendra dalam Rendra, Mempertimbangkan Tradisi (diedit oleh Pamusuk Eneste), Jakarta, Gramedia, 1984 : 61 -70.</p>
<p>Rendra, Orang-Orang Rangkasbitung, Depok, Rakit, 2001 : 32 – 33.</p>
<p>Rendra, Potret Pembangunan Dalam Puisi : 31</p>
<p>Rendra, Perjalanan Bu Aminah, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1997 : 19.</p>
<p>Kutipan yang sangat terkenal dari Adam Smith berbunyi: “ It is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest. We address ourselves, not to their humanity but to their self-love, and never talk to them of our own necessities but of their advantages”, Lihat Adam Smith, The Wealth of Nations, vol.I, London, J.M. Dent &amp; Sons Ltd, 1957 : 13.</p>
<p>Masalah ini telah saya bahas dalam tulisan saya yang lain tentang “Pergeseran Moral, Perkembangan Kesenian dan Perubahan Sosial”, dalam Ignas Kleden, Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan, Jakarta, Grafiti &amp; Freedom Institute, 2004 : 367 – 403.</p>
<p>Theodore W. Adorno, Aesthetische Theorie, Frankfurt a.M., Suhrkamp, 1977 : 19.</p>
<p>Juergen Habermas, Kultur und Kritik, Frankfurt a.M., Suhrkamp : 318.</p>
<p>Rendra, Potret Pembangunan Dalam Puisi : 82 82.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/810/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=810&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/18/naskah-pidato-kebudayaan-ignas-kleden/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img42.imageshack.us/img42/2108/ignaskleden.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ignas kleden. foto: jalansetapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/16/809/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/16/809/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 05:07:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/16/809/</guid>
		<description><![CDATA[
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=809&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://novelweton.co.cc"><img src="http://img41.imageshack.us/img41/5684/novelwetonbanner1.jpg" width="390" alt="http://novelweton.co.cc" /></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/809/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=809&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/16/809/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img41.imageshack.us/img41/5684/novelwetonbanner1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">http://novelweton.co.cc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kengerian Kiamat</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/16/kengerian-kiamat/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/16/kengerian-kiamat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 04:19:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=804</guid>
		<description><![CDATA[Isu kiamat 2012 makin hangat dengan pemutaran film ini.


Sumber: Koran Tempo, Minggu 15 Nopember 2009
Kiamat benar-benar terjadi pada 2012. Bukan dalam dunia nyata, melainkan dalam film berjudul 2012. Film yang disutradarai Roland Emmerich ini dengan meyakinkan menggambarkan sebuah tragedi bernama kiamat. Gempa mengguncang, tanah terbelah, lalu amblas. Gedung-gedung roboh. Tsunami mahabesar mengepung daratan.
Orang-orang panik. Mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=804&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Isu kiamat 2012 makin hangat dengan pemutaran film ini.<br />
</em></p>
<p><img src="http://img190.imageshack.us/img190/6830/klipingkengeriankiamatp.jpg" width="420" alt="film 2012" /></p>
<p><a href="http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2009/11/15/INDEX.SHTML?ArtId=024_002&amp;Search=Y">Sumber: Koran Tempo, Minggu 15 Nopember 2009</a></p>
<p>Kiamat benar-benar terjadi pada 2012. Bukan dalam dunia nyata, melainkan dalam film berjudul 2012. <span id="more-804"></span>Film yang disutradarai Roland Emmerich ini dengan meyakinkan menggambarkan sebuah tragedi bernama kiamat. Gempa mengguncang, tanah terbelah, lalu amblas. Gedung-gedung roboh. Tsunami mahabesar mengepung daratan.</p>
<p>Orang-orang panik. Mereka berusaha menyelamatkan diri. Tapi tak mudah. Siapa yang bisa melawan keberingasan alam. Seorang ilmuwan India, Dr Satnam Tsurutani (Jimi Mistry), yang mengetahui lebih dulu sinyal kehancuran itu, pun tidak mudah menyelamatkan diri. </p>
<p>Cerita dimulai di sebuah tambang di India. Satnam menemukan indikasi bahwa suhu inti kulit bumi makin tinggi. Itu adalah efek sebuah ledakan besar di permukaan matahari. Ledakan itu juga bisa menyebabkan gesekan inti bumi. Itu bisa berakibat lempeng bumi yang menopang daratan patah dan memunculkan gempa mahadahsyat. </p>
<p>Sahabat Satnam, Dr Adrian Helmsley (Chiwetel Ejiofor), kemudian melaporkan hal ini kepada pejabat Gedung Putih, Carl Anheuser (Oliver Platt). Presiden Amerika Serikat Thomas Wilson (Danny Glover) segera merespons persoalan ini. Dalam sebuah pertemuan dengan pimpinan negara G-8 pada 2010, ia pun menyampaikan hal ini. </p>
<p>Lalu para pemimpin negara-negara itu pun menyepakati sebuah skenario penyelamatan. Mereka membuat sejumlah bahtera raksasa di Cina. Ini mengingatkan kita pada kisah bahtera Nabi Nuh, yang menyelamatkan kaumnya dari banjir besar. Bahtera inilah yang dicita-citakan akan menyelamatkan manusia dari kehancuran total. </p>
<p>Film ini memang menyuguhkan dua subcerita. Cerita pertama mengisahkan kesibukan Helmsley dan kawan-kawan yang terus memantau perkembangan detik per detik. Cerita kedua berpusat pada Jackson Curtis (John Cusack), yang berusaha menyelamatkan kedua anaknya, Noah (Liam James) dan Lily (Morgan Lily), serta mantan istrinya, Kate (Amanda Peet), bersama pasangan Kate, Gordon Silberman (Tom McCarthy). </p>
<p>Penonton bisa melihat bagaimana Curtis meliuk-liukkan mobilnya di antara tanah yang terbelah dan reruntuhan gedung. Sampai-sampai sesekali kita harus mengurut dada, bertanya-tanya, sekaligus penasaran: mampukah Curtis dan keluarganya keluar dari bencana itu? Mereka berada di ambang hidup dan kehancuran. </p>
<p>Efek visual yang disajikan begitu nyata. Bumi yang terguncang dan terbelah, tsunami yang naik menghantam daratan, serta gunung yang meledak seolah betul-betul terjadi. Penonton seperti sedang menyaksikan sebuah kehancuran mahadahsyat yang sesungguhnya, sebuah kengerian tiada tara. </p>
<p>Aktor-aktris yang bermain dalam film ini begitu matang. Chiwetel Ejiofor sukses memerankan ilmuwan yang cerdas, tangkas, dan berpikir cepat. Ia digambarkan sebagai sosok tekun dan gigih, namun memiliki kepedulian dan empati sosial yang tinggi. </p>
<p>Ini digambarkan sangat berbeda dengan pejabat Gedung Putih, Carl Anheuser, yang pikirannya lebih politis dan cenderung berpikir pragmatis. Oliver Platt pun begitu mantap memainkan peran itu. John Cusack juga bermain cantik sebagai seorang ayah yang tangguh. Begitu pula Danny Glover, yang memerankan Presiden Amerika. </p>
<p>Semua tampak begitu alami dan meyakinkan, termasuk dua bocah kecil yang memerankan anak Curtis, yang digambarkan sebagai anak cerdas tapi tidak bisa menyembunyikan ketakutannya dengan apa yang dilihat detik demi detik. Kedua bocah itu bermain dengan sangat gemilang. </p>
<p>Sisi-sisi manusiawi diperlihatkan dengan kukuh. Lihat, misalnya, ketika Helmsley menelepon ayahnya. Ia begitu khawatir kepada sang ayah. Tapi ayahnya mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Ia lebih baik memfokuskan diri pada pekerjaan besar yang sedang dihadapinya. &#8220;I love you, Dad,&#8221; begitu kata-kata terakhir yang diucapkan Helmsley sebelum menutup telepon. Begitu mengharukan.</p>
<p>Selain itu, sutradara menyuguhkan sebuah pelajaran hidup bagaimana seharusnya seorang pemimpin bertindak. Lihat saja sikap Presiden Amerika Serikat Thomas Wilson yang menolak dievakuasi karena ia ingin bersama rakyatnya dalam kondisi apa pun. Ia menunjukkan contoh pemimpin yang tidak egoistis dan memikirkan diri sendiri. Ketika Helmsley membujuk, sang presiden justru meminta agar ia yang harus menyelamatkan diri. &#8220;Seorang ilmuwan muda lebih berharga daripada 20 politikus tua,&#8221; katanya. </p>
<p>Tidak melulu tegang dan serius, film ini juga berusaha menyisipkan hal-hal jenaka. Lihat, misalnya, ketika Curtis diperlihatkan tentang simulasi kondisi bumi yang bakal kiamat oleh Charlie Frost (Woody Harrelson), penyiar radio yang penampilannya digambarkan mirip orang gila. Simulasi itu dibikin dengan menampilkan animasi yang lucu. &#8220;Aku sendiri yang membikin animasi itu,&#8221; katanya. </p>
<p>Kejutan-kejutan kecil menjadi ketegangan lain di sepanjang film. Dalam sebuah adegan, di tengah ketegangan, diperlihatkan Curtis &#8220;menghilang&#8221;, tapi eh kemudian muncul lagi. Sutradara seperti ingin mengocok emosi penonton. </p>
<p>Tapi bukan berarti film ini sempurna. Ada sejumlah hal yang rada tak masuk akal. Misalnya begitu mudahnya Curtis dan keluarganya menembus segala rintangan. Selain itu, akhir cerita film ini terlalu mudah ditebak. Sutradara seperti tidak berani &#8220;berakrobat&#8221; untuk membalikkan harapan penonton dengan membuat ending yang berbeda. </p>
<p>Lepas dari semua itu, kehadiran film ini sangat ditunggu-tunggu. Itu berkaitan dengan ramalan dan berbagai analisis bahwa kiamat bakal terjadi pada 21 Desember 2012. Pada hari pemutaran pertamanya di Jakarta, Jumat lalu, jumlah penonton di sebuah bioskop di kawasan Blok M yang dipantau Tempo membludak. </p>
<p>Tayangan televisi pun ramai membicarakan mengenai isu kiamat itu. Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) sebenarnya sudah membantah isu itu. Mereka juga membantah analisis terhadap kalender Maya yang berakhir 2012. Bahkan NASA membikin situs khusus untuk menjelaskan persoalan itu. </p>
<p>Tapi, yang jelas, semua itu akan makin mendongkrak jumlah penonton film 2012. l MUS</p>
<p>Judul film: 2012<br />
Sutradara : Roland Emmerich<br />
Penulis : Harald Kloser, Roland Emmerich<br />
Pemain : John Cusack, Chiwetel Ejiofor,<br />
Amanda Peet, Oliver Platt, Thandie Newton,<br />
Woody Harrelson, Danny Glover<br />
Genre: Drama<br />
Produser: Roland Emmerich, Mark Gordon, Harald Kloser<br />
Produksi : Columbia Pictures</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/804/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=804&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/16/kengerian-kiamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img190.imageshack.us/img190/6830/klipingkengeriankiamatp.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">film 2012</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penghargaan untuk Sastrawan Aceh</title>
		<link>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/16/penghargaan-untuk-sastrawan-aceh/</link>
		<comments>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/16/penghargaan-untuk-sastrawan-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 02:25:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak.wordpress.com/?p=797</guid>
		<description><![CDATA[
PAGI ini saya mendapat SMS dari seorang penulis di Aceh, Abdul Qaiyum. &#8220;Siapa aja yg dapat penghargaan penulis sastra besok di bna? Penghargaan dari mana? Trims,&#8221; begitu bunyi pesan singkat itu. 
Sejenak saya berpikir: yang teringat adalah penghargaan untuk para seniman Aceh yang berikan pada Agustus 2009 lalu yang diberikan oleh Pemerintah Aceh lewat Dinas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=797&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://img36.imageshack.us/img36/948/dsci0354x.jpg" width="420" alt="Saiful Bahri" /><br />
PAGI ini saya mendapat SMS dari seorang penulis di Aceh, Abdul Qaiyum. &#8220;Siapa aja yg dapat penghargaan penulis sastra besok di bna? Penghargaan dari mana? Trims,&#8221; begitu bunyi pesan singkat itu. <span id="more-797"></span></p>
<p>Sejenak saya berpikir: yang teringat adalah penghargaan untuk para seniman Aceh yang berikan pada Agustus 2009 lalu yang diberikan oleh Pemerintah Aceh lewat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Ketika penyerahan penghargaan kepada sejumlah seniman itu di pangung Taman Sari Banda Aceh (depan kantor Wali Kota Banda Aceh), saya ikut hadir. </p>
<p>Lalu, masih pada Agustus 2009, pemerintah Aceh juga memberi penghargaan kepada sejumlah seniman budayawan dalam rangka Pekan Kebudayaan Aceh. Dalam bidang sastra, yang menerima penghargaan yang diserahkan di Anjong Mon Mata Banda Aceh itu adalah Fikar W. Eda. Penghargaan mana yang dimaksud? </p>
<p>Lalu, saya pun menjawab SMS Qaiyum. &#8220;Wah, saya malah tidak tahu. Kbr dari mana?&#8221; Tak lama, sang penulis Aceh itu menjawab kembali. &#8220;Dari arafat.&#8221; Arafat dimaksud adalah Arafar Nur, salah seorang penulis sastra di Aceh yang melahirkan banyak novel. Saya lalu membalas kembali pesan singkat itu: Wah, aku malah gak tahu. Ntar cb kutanya teman2, mungkin ada yang tahu.&#8221;</p>
<p>Beberapa saat setelah membalas SMS itu, saya pun mengontak seorang cerpenis/novelis Aceh, Saiful Bahri. Karena HP CDMA-nya tidak aktif, aku pun mengontak ke nomor GSM. Ia segera mengangkat. &#8220;Lagi di kantor?&#8221; tanyaku. Saiful selain sastrawan adalah salah seorang pejabat di lingkungan Pemko Kota Banda Aceh. &#8220;Masih di Lhokseumawe. Baru mau kembali ke Banda Aceh jam sembilan nanti,&#8221; katanya.</p>
<p>Rupaya, ia baru saja pentas teater bersama Teater Ampon Yan yang dipimpin Teuku Januarsah. Mereka pentas di tiga titik di Aceh Selatan dan Lhokseumawe. &#8220;Dari Aceh Selatan langsung ke Lhokseumawe,&#8221; katanya. </p>
<p>&#8220;Katanya ada penghargaan sastra di Aceh, penghargaan apa lagi,&#8221; tanya saya. &#8220;O, itu penghargaan dari Balai Bahasa (Provinsi Aceh),&#8221; ia menyahut. &#8220;Siapa yang dapat?&#8221; Aku tak sabar menanti jawabannya. &#8220;Yang dapat Saiful Bahri, Sulaiman Tripa, Arafat Nur, Musmarwan Abdullan, Azhari&#8230;&#8221; Ia tidak menyambung, tapi terkekeh. &#8220;Hebat kan, ha&#8230;ha..,&#8221; katanya bergurau.</p>
<p>Ia lalu menjelaskan ada sepuluh orang yang mendapatkan penghargaan itu. &#8220;Berapa hadiahnya?&#8221; tanyaku. &#8220;Belum tahu.&#8221; Saiful bercerita, penghargaan itu sudah diumumkan di Banda Aceh. Namun, ia juga belum tahu kapan penyerahan penghargaan itu. Berita penghargaan itu telah dimuat di sebuah koran lokal di Banda Aceh. Aku pun mencari berita koran dimaksud di internet.</p>
<p>Inilah lengkapnya nama penerima penghargaan sastra 2009 dari Balai Bahasa Provinsi Aceh itu: Saiful Bahri, Musmarwan Abdullah, Arafat Nur, Sulaiman Tripa, Azhari, Herman RN, Alimuddin, Ferhat, Nuril Annisa, dan Hendra Kasmi.</p>
<p>Dan berikut ini adalah lengkapnya berita yang saya kutip dari <a href="http://blog.harian-aceh.com/sastrawan-aceh-terima-perhargaan.jsp">Blog Harian Aceh</a> itu: </p>
<blockquote><p>Sastrawan Aceh Terima Perhargaan </p>
<p>SEPULUH sastrawan Aceh menerima penghargaan sastra 2009 dari Balai Bahasa Provinsi Aceh. Mereka adalah:  Saiful Bahri, Musmarwan Abdullah, Arafat Nur, Sulaiman Tripa, Azhari, Herman RN, Alimuddin, Ferhat, Nuril Annisa, dan Hendra Kasmi.</p>
<p>Ketua panitian, Baun Thoib S Siregar mengatakan, pemberian penghargaan itu untuk memperkokoh  motivasi para sastrawan sekaligus memberikan apresiasi terhadap sumbangsih mereka selama ini. Setelah meneliti berkas rekam jejak kandidat dan karya yang dihasilkannya dalam dua tahun terakhir yang diterima panitia sejak tanggal 7—30 Oktober 2009.</p>
<p>Pemberian penghargaan tersebut merupakan program rutin dua tahunan Balai Bahasa di samping kegiatan pembinaan dan peningkatan mutu kesastraan lain seperti Bengkel Sastra, Pelatihan Menulis Kreatif, Lomba-Lomba Kesastraan, dan Penelitian Bidang Kesastraan.[]</p>
</blockquote>
<p>Selamat kepada teman-teman yang menerima penghargaan itu. <strong>MUS</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak.wordpress.com/797/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak.wordpress.com/797/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak.wordpress.com/797/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak.wordpress.com/797/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak.wordpress.com/797/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak.wordpress.com/797/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak.wordpress.com/797/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak.wordpress.com/797/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak.wordpress.com/797/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak.wordpress.com/797/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak.wordpress.com&blog=534182&post=797&subd=jalansetapak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak.wordpress.com/2009/11/16/penghargaan-untuk-sastrawan-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img36.imageshack.us/img36/948/dsci0354x.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Saiful Bahri</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>