Posts filed under 'Puisi'
Nyanyian Sunyi Kardy Syaid
Bagi generasi terbaru kepenyairan dan kesenian di Aceh, boleh jadi nama Kardy Syaid tidak dikenal. Maklum, ia memang angkatan lama. Sebelum hijrah ke Jakarta pada 1982, ia memimpin Federasi Teater Aceh. Ia juga pendiri sekaligus memimpin Teater Kuala dan Teater Aremba, Banda Aceh.
Nama aslinya Fachrurazi Syaid, berdarah Aceh-Minang, lahir di Pariaman pada 11 Desember 1956. Alumni Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) pada 1980 ini hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah pada STIA LAN dan lulus pada 1986. Disela-sela itu, ia juga kuliah di Fakultas Film & Televisi Institut Kesenian Jakarta. Kini memimpin sebuah PH dan sekolah akting Aksineas di Jakarta. (lagi…)
1 comment 28/06/2009
Malam dan Kopi Din Saja
Sejumlah teman suka mengirim puisi lewat pesan singkat (SMS). Adakalanya, puisi itu langsung saya baca. Namun terkadang, karena keadaan tertentu, puisi itu saya simpan dulu. Salah seorang teman penyair yang kerap mengirimkan puisi lewat SMS itu adalah Din Saja. Berikut dua puisinya yang dikirim dalam waktu terpisah. (lagi…)
Add comment 23/06/2009
KUNANG-KUNANG
Sajak Mustafa Ismail
Sumber: Kompas, Minggu 10 Mei 2009
maafkan aku bila pada satu sore aku
menemukanmu dalam gelas kopi dan meminumnya
stasiun tugu dan kali code memang telah jauh
tapi aku takut kau makin dekat,
masuk dalam darah dan menjadi kunang-kunang
di tengah padang (lagi…)
1 comment 11/05/2009
Cerita untuk Ibu
Mustafa Ismail
![]()
aku menulis kesedihan dalam bis yang bergerak
kota mengajari aku menemukan air mata
tiap saat mesti dipahami dengan kekekalan cinta (lagi…)
4 comments 22/12/2008
Jalan Pulang
Puisi: Mustafa Ismail
aku tak lagi menemukanmu, jalanan menjadi
kubangan, kita merangkak meraih-raih tujuan
kaukah yang menyembunyikan peta itu, menggantikan
dengan kaleng-kaleng bekas, penanda setiap kenangan
di jalan orang-orang mondar-mandir dan saling
menadahkan tangan, mereka lupa jalan pulang.
kaukah yang menyembunyikan kitab dan ayat-ayat suci
tempat kau bercermin sendiri. (lagi…)
Add comment 08/12/2008
Malioboro
Sajak: Mustafa Ismail

di manakah kau menyimpan kenangan?
kita bersenandung di jalan, menembus malam,
menulis huruf di telapak tangan,
di atas becak yang melaju, di antara suara fals
bibirmu: kita satu! (lagi…)
1 comment 20/11/2008
Sajak-sajak Leon Agusta
Sumber: Republika, Minggu, 02 November 2008
DARI SUATU MASA
“Mungkin, masih ada yang tersisa dari prahara selain
kitab suci dan puisi,” katamu, sembari bergegas pergi
Aku tak begitu sadar, apa pernah mengucapkannya
Gerangan berapa kali atau mungkin tak pernah
Tapi kenapa ada yang mendengar dan mengingatnya
Aku ingin mengatakan, kau mungkin benar
Ketika kau melangkah, meningggalkan pagar terbuka
Aku kira kamu masih akan menoleh sejenak. Kau pun
berangkat, meninggalkan suatu masa yang pincang
Menuju sebuah zaman lain yang belum bernama (lagi…)
Add comment 09/11/2008
Sajak-sajak Mustafa Ismail
Sumber: Jurnal Nasional, Minggu 2 November 2008
MATA TEDUH
aku melintasi rumahmu siang itu dengan mata
mencari-cari. di manakah tersimpan mata teduh
beserta cerita masa lampau: desir angin dari
pantai dan liukan tanganmu di senja temaram
menebar cahaya di keheningan
menitipkan pagi di matamu, anak-anak rambutmu
seketika terbang, seperti tarian rumput di hening subuh
bersijengkat dengan butiran embun yang luruh
semalam kita bermimpi lebih awal: bocah-bocah lucu
bermain di halaman
aku ingin berbaring dalam desir angin yang
menulis riwayat kita di atas batu
membangunkanmu seperti subuh itu
dengan ketap mulut dari luar pagar
lalu kita menatap pagi dengan cerita sekarang (lagi…)
Add comment 02/11/2008
Puisi Lebaran
Saya menerima sejumlah SMS yang berisi puisi. Salah satunya dari Fikar W. Eda. Kawan penyair asal Aceh ini mengirim puisi berjudul Lebaran. Isinya:

Malam basah
Netes doa pada sajadah
Di luar
anak-anak membakar (kembang) api..
Puisi itu diakhiri dengan kata-kata: “Selamat Idul Fitri 1429 H…dst”. (lagi…)
1 comment 05/10/2008
Sore Jatuh di Rantau Kuala Simpang
Pertengahan Agustus 2008 lalu, ketika berada di Langsa, saya sempat menelpon penyair Deny Pasla. Saya bersama sejumlah kawan malam itu sedang duduk makan di sebuah tempat di kota tersebut. Saya hendak mengajak Deny bertemu.
Tapi waktu itu yang mengangkat isterinya. “Pak Deny sedang keluar,” katanya. Saya hanya menitip pesan: temannya yang tinggal di Jakarta menelpon. Saya berharap ia akan menelpon. Tapi tidak, mungkin ia lupa. Atau “orang rumahnya” lupa menyampaikan.
Saya kembali menelpon dia ketika saya bersama sejumlah teman ‘jalan-jalan’ (karena ada sebuah urusan) ke Kuala Simpang. Kuala Simpang berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari Langsa ke arah Medan. Di kota itulah Deny tinggal. Ia menjadi guru disana selepas lulus dari Jurusan Sejarah Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. (lagi…)
2 comments 25/09/2008

