
Ternyata polemik tentang Pekan Kesenian Aceh (PKA) masih berlanjut. Minggu (19/7) lalu, Jauhari Samalanga menulis di koran Serambi Indonesia dan menyebut PKA V sebagai moment pembodohan masyarakat. Sejauh itu? Entahlah. Saya tidak ingin mengomentari.
Saya cuma berpendapat: mengukur sesuatu sebaiknya kita menggunakan alat ukur yang tepat dan proporsional. Tanpa alat ukur yang tepat dan pasti, yang terjadi adalah berbicara tanpa dasar. Jangan lupa, PKA punya banyak sekali kegiatan dan event, termasuk kegiatan dagang itu. Read the rest of this entry »
Filed under: Catatan Ringan, Esai, Polemik

Pekan Kebudayaan Aceh sebentar lagi: 2-11 Agustus 2009. Tinggal menghitung hari. Barusan saya melongok web koran Serambi Indonesia. Saya membaca sejumlah tulisan terkait PKA. Ada yang ditulis oleh Ampuh Devayan, Barlian AW, dan Zoelfikar Sawang. Secara umum, ketiga penulis itu pesimis dengan kualitas PKA mendatang.
Pelaksanaan PKA kali ini memang memasuki cara baru. Kalau dulu dikelola secara swakelola oleh Pemda Aceh, kini pelaksananya dipercayakan kepada event organizer (PT Dimeta Internusa, Jakarta). Ada yang setuju dengan pola ini, ada pula yang tidak. Semua sah, tentu. Tapi bagaimana persisnya pemikiran ketiga penulis itu? Read the rest of this entry »
Filed under: Catatan Ringan, Esai, Polemik
KOMENTAR TERBARU