Azhari
[... Catatan: tulisan ini ditemukan di sebuah blog, diposting disini karena dianggap cukup menarik... ]
Tragik sastra bagi nasionalisme Indonesia ialah yang membayangkan sekaligus yang meruntuhkan. Konteks yang membayangkan, dalam histografi kebangsaan Indonesia, sastra dipuja-puji sebagai tangan tak terlihat dalam mendorong proses pemersatuan kampung-kampung, puak, suku-suku di Nusantara dalam nation keindonesiaan. Sastra ibarat sihir yang terus-menerus memberikan spirit magis bagi revolusi fisik, seolah ada semacam kepercayaan bahwa revolusi pra-Indonesia tidak akan terwujud jika an sich diperjuangkan lewat konfrontasi bersenjata atau diplomasi internasional.
Dan betapa kebutuhan terhadap legitimasi geografi mutlak dilakukan lewat kata-kata yang berpretensi sloganistik, menghasut, memberikan impresi secara intens bagi penduduk di Nusantara, yang secara ideologis akan mengeraskan betapa pentingnya kampung-kampung di Nusantara untuk berkumpul dalam sebuah rumah besar yang teduh, yang kelak dalam term modernisme disebut dengan nation-state. Itu diserukan lewat puisi atau prosa (cerpen, novel, atau drama). Dan, sastra menjadi juru kampanye kebangsaan yang signifikan. Read the rest of this entry »
Filed under: Esai, Kliping Sastra
Sumber: Koran Tempo, Jumat 2008
Sastrawan Hamsad Rangkuti, 65 tahun, menghabiskan akhir Ramadan di Bangkok. Kerajaan Thailand mengundang dia ke sana untuk menerima penghargaan sastra SEA Write Award. Ini penghargaan sastra tahunan dari kerajaan Thailand yang diberikan kepada pengarang Asia Tenggara.
Putri Maha Vhakri Sirindhorn menyerahkan penghargaan kepada Hamsad dan delapan pegiat sastra lainnya dalam sebuah upacara di Bangkok, 30 September lalu. Hamsad mendapatkan penghargaan itu karena buku kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot. Read the rest of this entry »
Filed under: Berita Budaya, Kliping Sastra
Senin malam lalu, 14 Juli 2008, menumpang mobil penyair AA Manggeng Putra, kami (saya, Ahmadun Yosi Herfanda, dan wartawan senior Nasrun Marzuki) bergerak ke Episentrum Ulee Kareng, sekitar tujuh kilometer dari pusat kota Banda Aceh. Ini adalah sebuah komunitas kebudayaan yang dikelola oleh cerpenis Azhari dan kawan-kawan. Di sana berkantor Komunitas Tikar Pandan dan anak-anak lembaga itu seperti Aneuk Meulieng Publishing dan Sekolah Menulis Do Karim.
Azhari hanya sendiri malam itu di sana. Ketika sedang ngobrol, aku melihat selembar halaman budaya harian Jurnal Nasional di salah satu tempat. Aku meraih. Aku menduga, di koran itu ada wawancara Azhari. Sebab, beberapa waktu lalu, seorang redaktur koran itu menghubungi saya dan meminta nomor telepon Azhari. Rupanya bukan. Tapi isi halaman budaya itu sungguh menarik: membahas tentang arus puisi lirik. Read the rest of this entry »
Filed under: Kliping Sastra
Ketika sedang mencari bahan tulisan di internet, saya tiba-tiba ketemu dengan sebuah tulisan yang cukup menarik. Itu tak lain adalah wawancara Koran Tempo dengan Joesoef Isak, pendiri penerbit Hasta Mitra, yang menerbitkan buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Dalam wawancara ini, Joesoef bercerita tentang banyak hal, terutama tentang karya-karya Pramoedya baik yang diterbitkan oleh Hasta Mitra maupun penerbit dari luar negeri. Read the rest of this entry »
Filed under: Kliping Sastra
Sumber: Serambi Indonesia, 25 Mei 2008
Oleh: Mukhlis A. Hamid
Nama saya Inong, hanya Inong. Saya bukan siapa-siapa. Kalimat pertama yang akan Anda baca di kover depan novel Bidadari Hitam karya T.I. Thamrin. Novel setebal 252 halaman ini memotret kekerasan demi kekerasan Aceh pascadeklarasi Gunung Halimun hingga Tragedi 26 Desember 2004 secara sastrawi.
Cerita dimulai dengan penggambaran keceriaan hidup anak-anak dan keluarga Mak Santan pada suatu sore yang tiba-tiba mencekam karena kedatangan satu regu tentera yang sedang melakukan patroli rutin. Cerita selanjutnya difokuskan pada kehidupan tokoh Ahya (cucu Mak Santan), Inong (anak angkat Mak Santan), Fitriah (anak Guru Najib), Teungku Murad, dan tokoh-tokoh lain dari kalangan aparat, aktivis LSM, dan masyarakat umum. Read the rest of this entry »
Filed under: Kliping Sastra
Sumber: Sinar Harapan, Sabtu, 24 Mei 2008
Tumpah darah nusa India/Dalam hatiku selalu mulia/
Dijunjung tinggi atas kepala/Semenjak diri lahir ke bumi/
Sampai bercerai badan dan nyawa/
Karena kita sedarah sebangsa Bertanah air di Indonesia
Jakarta – Inilah “Indonesia Tumpah Darahku” karya Muhammad Yamin (1903-1962) yang tergabung dalam Antologi Seratus Puisi Bangkitlah Raga Negeriku! Bangkitlah Jiwa Bangsaku! yang diluncurkan di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta Selatan (20/5). Read the rest of this entry »
Filed under: Kliping Sastra
Yang dibahas ini adalah novel karya Dianing Widya Yudhistira, berjudul “Perempuan Mencari Tuhan” (Pustaka Republika, 2007). Yang membahas novel itu bukan saya, tapi seorang penulis bernama Fahmi Alathas dan dimuat di Suara Karya , Sabtu, 24 Mei 2008.
Perempuan Mencari Tuhan sebelumnya pernah dimuat bersambung di Harian Republika pada 2006/2007. Lalu, penerbit milik koran itu menerbitkannya menjadi buku. Buku itu dua kali diluncurkan, yakni di Kampus UI Depok dan Perpustakaan Daerah Banten, Serang, pada Desember 2007. Ceritanya, tentang seorang perempuan muda yang gelisah untuk menemukan Tuhan. Perempuan itu selalu menemui hal-hal yang tak masuk akal dalam hidupnya.
Ini novel kedua Dianing. Sebelumnya, ia menulis novel Sintren (Grasindo, 2007). Sintren yang bercerita tentang seorang perempuan penari Sintren, tari gaib di Jawa Tengah, itu juga pernah dimuat sebagai cerita bersambung di koran Republika. Novel itu kemudian masuk jajaran lima besar Khatulistiwa Award 2007 dan mendapat apresiasi dari banyak kalangan sebagai novel yang (berani) mengangkat khasanah lokal di tengah maraknya novel-novel yang menyuguhkan potret urban.
Sory, kepanjangan. Sebaiknya, simak saja tulisan tentang Perempuan Mencari Tuhan berikut ini. Read the rest of this entry »
Filed under: Kliping Sastra
Penyair terkemuka angkatan 45 meninggalkan jejak yang begitu berpengaruh terhadap kesusastraan Indonesia. Ia lahir di Medan, 26 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949. Chairil adalah anak tunggal dari ayah bernama Toeloes, yang bekerja sebagai pamongpraja, dan ibu Saleha. Sang ibu masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.
Menurut Wikipedia, Chairil masuk Hollands Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan. Read the rest of this entry »
Filed under: Kliping Sastra
Oleh Adek Alwi
Sumber: Suara Karya, Sabtu, 23 Februari 2008
SEBUAH kumpulan puisi diluncurkan akhir Januari 2008 lalu di Depok. Judulnya “Gong Bolong-Antologi Penyair Depok”. Apa, atau di mana menariknya; toh sejak dulu sudah ada antologi puisi berembel nama kota atau daerah, seperti “Antologi Puisi Penyair Kedu”, atau Yogya, atau Tegal, Purwokerto, Kudus dan sebagainya?
Pertama, setahu saya, karena ini antologi karya sastra pertama yang menyertakan nama kota Depok. Padahal, dibanding Tangerang yang riuh-gempita dalam atlas sastra Tanah Air satu dekade terakhir, misalnya, Depok barangkali lebih kaya menyimpan kaum sastrawan. Di kota ini bermukim Rendra, Sapardi Djoko Damono, Gerson Poyk, Hamsad Rangkuti, Adri Darmadji Woko, Danil Ilyas, Hardjana HP, Diah Hadaning, Arief Joko Wicaksono, Sitok Srengenge, Arya Gunawan, Mustafa Ismail dan seterusnya. Read the rest of this entry »
Filed under: Kliping Sastra
Sumber: Koran Tempo Minggu, 15 Juli 2007
Menulis bukan hanya membuat cerpen dan novel.
Setelah beberapa jam berceloteh di depan kelas, Mustafa Ismail, 36 tahun, memberi aba-aba. “Mari kita mencoba,” ujarnya keras. Delapan belas siswa sekolah menengah atas yang berkumpul di lantai dua Lapena di Lambhuk, Banda Aceh, Minggu pekan lalu segera bersiap-siap dengan alat tulis mereka.
Mustafa, yang menjadi instruktur pelatihan menulis, memberi sebuah tema berikut tokohnya sebagai bahan mentah membuat cerita pendek. Idenya, seorang pengemis dan labi-labi (angkutan umum) yang sedang menuju Ulee Kareng. Dari bahan mentah tersebut, para peserta pelatihan lalu diminta membuat cerita pendek dalam waktu 10 menit. Read the rest of this entry »
Filed under: Kliping Sastra
KOMENTAR TERBARU