Posts filed under 'Esai'
Polemik PKA Masih Berlanjut

Ternyata polemik tentang Pekan Kesenian Aceh (PKA) masih berlanjut. Minggu (19/7) lalu, Jauhari Samalanga menulis di koran Serambi Indonesia dan menyebut PKA V sebagai moment pembodohan masyarakat. Sejauh itu? Entahlah. Saya tidak ingin mengomentari.
Saya cuma berpendapat: mengukur sesuatu sebaiknya kita menggunakan alat ukur yang tepat dan proporsional. Tanpa alat ukur yang tepat dan pasti, yang terjadi adalah berbicara tanpa dasar. Jangan lupa, PKA punya banyak sekali kegiatan dan event, termasuk kegiatan dagang itu. (lagi…)
Add comment 23/07/2009
Hmm, PKA Sebentar Lagi, Apa Kata Mereka?

Pekan Kebudayaan Aceh sebentar lagi: 2-11 Agustus 2009. Tinggal menghitung hari. Barusan saya melongok web koran Serambi Indonesia. Saya membaca sejumlah tulisan terkait PKA. Ada yang ditulis oleh Ampuh Devayan, Barlian AW, dan Zoelfikar Sawang. Secara umum, ketiga penulis itu pesimis dengan kualitas PKA mendatang.
Pelaksanaan PKA kali ini memang memasuki cara baru. Kalau dulu dikelola secara swakelola oleh Pemda Aceh, kini pelaksananya dipercayakan kepada event organizer (PT Dimeta Internusa, Jakarta). Ada yang setuju dengan pola ini, ada pula yang tidak. Semua sah, tentu. Tapi bagaimana persisnya pemikiran ketiga penulis itu? (lagi…)
1 comment 19/07/2009
Dunia Masa Depan
FILM INI MENGHADIRKAN KISAH AWAL SERIAL STAR TREK: KIRK DAN SPOCK KECIL HINGGA REMAJA
Sumber: Koran Tempo, Senin 8 Juni 2009
Bayi lelaki itu lahir dalam sekoci penyelamat. Ayahnya, George Kirk (Chris Hemsworth), tewas ketika menyelamatkan pesawat USS Kelvin dan awaknya dari serangan manusia Romulan. Ibunya, yang sedang mengandungnya, berhasil diselamatkan. Ia lalu tumbuh sebagai anak yang ugal-ugalan, suka kebut-kebutan, dan berantem. Namanya James T. Kirk. (lagi…)
Add comment 11/06/2009
Etno Nasionalisme Sastra
Azhari
[... Catatan: tulisan ini ditemukan di sebuah blog, diposting disini karena dianggap cukup menarik... ]
Tragik sastra bagi nasionalisme Indonesia ialah yang membayangkan sekaligus yang meruntuhkan. Konteks yang membayangkan, dalam histografi kebangsaan Indonesia, sastra dipuja-puji sebagai tangan tak terlihat dalam mendorong proses pemersatuan kampung-kampung, puak, suku-suku di Nusantara dalam nation keindonesiaan. Sastra ibarat sihir yang terus-menerus memberikan spirit magis bagi revolusi fisik, seolah ada semacam kepercayaan bahwa revolusi pra-Indonesia tidak akan terwujud jika an sich diperjuangkan lewat konfrontasi bersenjata atau diplomasi internasional.
Dan betapa kebutuhan terhadap legitimasi geografi mutlak dilakukan lewat kata-kata yang berpretensi sloganistik, menghasut, memberikan impresi secara intens bagi penduduk di Nusantara, yang secara ideologis akan mengeraskan betapa pentingnya kampung-kampung di Nusantara untuk berkumpul dalam sebuah rumah besar yang teduh, yang kelak dalam term modernisme disebut dengan nation-state. Itu diserukan lewat puisi atau prosa (cerpen, novel, atau drama). Dan, sastra menjadi juru kampanye kebangsaan yang signifikan. (lagi…)
1 comment 12/04/2009
Relasi Birokrasi dengan Kesenian
Mustafa Ismail
MAX WEBER memiliki kosa-kata yang cukup lugas untuk menggambarkan birokrasi. Menurut sosiolog Jerman itu, birokrasi adalah organisasi rasional yang memaksimalkan efisiensi. Kata kunci dalam birokrasi adalah rasionalitas dan efisiensi. Dua hal itu menjadi inti yang menggerakkan birokrasi agar berjalan sesuai diharapkan, elegan, sekaligus dapat mencapai tujuan.
Rasionalitas tentu saja dimaksudkan bagaimana sebuah organisasi dijalankan dengan berpegang teguh pada hal-hal rasional, pada kaidah-kaidah yang masuk akal, bukan pada sesuatu yang bersifat instingtif, imajinatif dan spekulatif. Langkah-langkah pengelolaan birokrasi harus terukur dan bisa dipertangjawabkan. Sementara efisiensi merujuk pada upaya menciptakan organisasi berkualitas, praktis, dan tidak bertele-tele. Intinya, birokrasi bertujuan menjadikan sebuah organisasi tertata dengan pembagian kerja dan tanggungjawab yang jelas, rasional, dan efisien. (lagi…)
Add comment 04/12/2008
“Tarian Cermin”: 99 Sajak Mustafa Ismail
Oleh Adek Alwi
Sumber: Suara Karya, Sabtu, 1 Nopember 2008
PALING tidak ada tiga sebab mengapa tahun 1970-an dan 1980-an tak banyak benar sastrawan asal (dan yang tinggal di) Aceh kita kenal. Pertama, mereka mungkin tak serajin LK Ara, Isma Sawitri, Zakaria M Passe (untuk contoh yang tak banyak itu) mempublikasikan karyanya di majalah dan koran Jakarta. Kedua, teknologi informasi termasuk dunia penerbitan belum semaju periode-periode sesudah itu. Ketiga, jumlah sastrawan yang muncul di tahun 1990-an dan 2000-an bisa jadi memang lebih banyak, juga kerajinan mereka mengirimkan karya ke media Jakarta, dan mereka diuntungkan pula oleh kemajuan teknologi informasi termasuk dunia penerbitan.
Nah, apapun sebabnya namun sejak periode 1990-an gairah sastra di Nanggroe Aceh Darussalam memang tinggi frekuensinya. Hal itu ditandai oleh penerbitan buku kaum sastrawan di daerah itu, berita-berita tentang aktivitas mereka, serta karya-karya mereka yang dipublikasikan di media Ibu Kota. (lagi…)
Add comment 01/11/2008
Kesetiaan dan Kerinduan yang Romantis
Catatan : Mustafa Ismail
kesetiaan adalah,
senyum bocah-bocah
tanpa kebanggaan
kesetiaan adalah,
manusia-manusia lapang dada
solider dan toleransi
kesetiaan adalah,
kamu yang di jiwaku
dan kita saling memberi pengertian
makna cinta sebening embun pagi
Sajak berjudul “Kesetiaan” yang ditujukan kepada Baden dan Cut Tiwayla itu sajak paling tua dalam kumpulan ini. Sajak ini bertahun penciptaan 1976-1979. Saya menduga, sajak ini ditulis pertama kali pada 1976, lalu mungkin mengalami perbaikan akhir pada 1979. (lagi…)
2 comments 13/09/2008
Mewartakan Luka Aceh
Banyak persoalan muncul akibat konflik bertahun-tahun di Aceh. Yang utama adalah persoalan korban. Ada yang tertembak, terbunuh, teraniaya, dan minimal dicekam rasa takut berkepanjangan. Karena ketakutan itu pula membuat banyak orang mengungsi, untuk mencari tempat aman.
Tidak hanya menjadi pengungsi lokal, mengungsi dalam wilayah Aceh sendiri, juga mengungsi ke luar Aceh, salah satu tujuannya Jakarta, bahkan luar negeri. Sehingga muncullah kantong-kantong baru masyarakat Aceh di luar Aceh. TI Thamrin, penulis buku kumpulan cerpen ini, mencoba mengungkapkan warna pengungsian itu pada cerpennya berjudul “Agam”. (lagi…)
1 comment 05/09/2008
Membaca Ziarah Ombak Korban Tsunami
Sumber: WASPADA ONLINE, 1 Juni 2008
Oleh Mihar Harahap
Rinduku Padamu
Kata orang, sehari tak bertemu sudah merasa rindu, apalagi berminggu-minggu. Akan tetapi kali ini bukan kepalang, mencekam bahkan mengenaskan, karena merindukan orang-orang yang takkan pulang. Merindukan orang-orang yang telah pergi dan tak mungkin kembali lagi. Namun anehnya, para keluarga masih merindukannya, seakan-akan berharap pada suatu saat akan kembali padanya. Atau merasa orang itu takkan ke mana-mana, masih ada, paling tidak ada di dalam ingatan yang takkan terlupakan.
Simaklah puisi Jingga Gemilang berjudul “Ingat Ibu” (Untuk adikku : Dira). Katanya: Benar kata nenek/Bahwa aku mirip dengan ibu/ Tak hanya wajah yang meloncong dengan rambut bergelombang/Tapi kelembutan hati berwujud cerewet dan garang (bait 1). Aku begitu sayang pada ibu/Setiap hari ingat ibu/ Dalam doa kupanggil ibu/ Tapi kemana ibu?… aku merindukan ibu (bait 2). (lagi…)
Add comment 13/08/2008
Rumah, Puisi, Penyair
Tulisan ini adalah pemenang kedua Sayembara Kritik Sastra 2007. Saya menemukan tulisan ini ketika jalan-jalan di internet. Tulisan itu menarik: membahas tentang perpuisian Indonesia. Ditulis oleh seorang penggiat seni, Bandung Mawardi. Judulnya: Rumah, Puisi, Penyair (Kisah Rumah: Perpuisian Indonesia Modern).
Sekedar untuk mengingat: lomba yang diumumkam pada Desember 2007 itu menobatkan tulisan Arif Bagus Prasetyo (Tamsil tentang Zaman Citra: Perihal Segugusan Cerpen Nukila Amal) sebagai juara pertama. Juara kedua diraih Manneke Budiman (Memandang Bangsa dari Kota: Telaah atas”Cala Ibi” (Nukila Amal) dan “Jangan Main-main dengan Kelaminmu” (Djenar Maesa Ayu). Dalam kontes ini ada dua juara kedua. Juara kedua lainnya adalah tulisan Bandung Mawardi. (lagi…)
2 comments 01/08/2008
