Aku Ingin Jadi Kupu-kupu
Februari 12th, 2009 § 1 Komentar
Cerpen Mustafa Ismail
[ ... cerpen ini dimuat di Nova, 2-8 Februari 2009... ]
![]()
Bapak mengabarkan pekan depan kami pindah. Pindah lagi, lebih tepatnya. Hampir setiap tahun kami pindah. Tidak jauh-jauh memang, tetap di lingkungan ini-ini saja. Kami tidak mungkin pindah jauh, karena aku sekolah tidak jauh dari sini, di sebuah sekolah menengah atas. Jika pindah jauh, apalagi ke pinggiran kota, jelas akan membuatku kalang-kabut. « Read the rest of this entry »
Legenda
November 17th, 2008 § Tinggalkan sebuah Komentar
DIA sendiri yang meminta dirinya dipanggil dengan Legenda saja. Pak Legenda, lengkapnya. Penarik becak yang stand by di persimpangan tugu. Ada atau tidak ada penumpang, ia tetap berdiam di sana.
Biasanya memang selalu ada orang yang menggunakan jasanya dan minta diantar entah ke mana. Jangkauannya bisa mencapai dua atau tiga kilometer.
Becak Pak Legenda dengan mudah dapat dikenali. Di kanan-kiri depan, terpacak bendera merah putih berukuran besar, mungkin 70 x 40 sentimeter. Padahal, mobil mewah sekalipun hanya memakai bendera kecil yang hanya 10 x 7 sentimeter saja. Demikian juga dengan becak-becak lain, hanya memakai bendera berukuran 20 x 15 sentimeter. Itu pun satu lembar. Bukan dua lembar. « Read the rest of this entry »
Memburu Cahaya
November 11th, 2008 § 1 Komentar
Cerpen Dianing Widya Yudhistira
Matahari mengeliat tepat di atas menara masjid. Kezia dan anjingnya berjingkat-jingkat di atas aspal jalan. Siang itu udara seperti berlomba-lomba menaikkan suhunya dengan suhu aspal yang sesekali terlihat asap di bagian tengahnya. Dari kejauhan aspal itu menciptakan cahaya kebiruan.
Kezia, perempuan berkulit coklat dengan gigi berderet rapi. Wajahnya biasa saja. Tapi, coba lihat matanya yang bening, mengabarkan bahwa hidup mesti disikapi dengan kebeningan hati. Alisnya yang lebat melindungi sepasang mata beningnya. Tepat di atas alis matanya, ada bekas luka yang sulit dihilangkan. « Read the rest of this entry »
Tetangga
Oktober 19th, 2008 § 2 Komentar
Cerpen Dianing Widya Yudhistira
Sumber: Seputar Indonesia, Minggu, 19 Oktober 2008
MINGGU. Ini hari kedua aku menempati rumah sendiri.Kebanggaan sekaligus ketenangan mengalir dalam hatiku. Aku bisa mewujudkan keinginanku: punya rumah yang layak huni.
Ada halaman,ruang tamu,kamar,dapur,dan kamar mandi.Juga sedikit taman di bagian belakang. Tidak seperti rumah kontrakan yang kami huni sebelumnya.Tak ada pembagian ruangan yang tegas. Untuk membedakan ruang tamu dengan kamar tidur,aku dan istriku memisahnya dengan lemari pakaian. Kamar tidur tak ada pintu.
Jika ada tamu,mata mereka akan segera tertancap ke tempat tidur kami.Aku sering malu sendiri. Sering, saat melihat istri dan anakanak terlelap, aku merasa berdosa membiarkan mereka tinggal di tempat seperti itu. « Read the rest of this entry »
Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin
Oktober 14th, 2008 § 2 Komentar
Cerpen Azhari
Sumber: Koran Tempo, 12 Oktober 2008
TELAH diceritakan dalam kisah yang lebih panjang, bahwa sebuah sidang sedang menunggu dengan hati berdebar apakah Sultan Nurruddin memutuskan hendak membeli sebuah batu permata bernama Mutiara Tuhan atau tidak.
Sidang itu terdiri dari para tukang nujum yang sedang berupaya mendorong Sultan untuk memiliki permata itu, sebab dalam nubuat yang mereka terima, hanya dengan batu mulia itulah ratusan tahun kemudian Lamuri dapat diselamatkan dari pendudukan Jenderal Mata Sebelah yang muncul dari seberang lautan sebagaimana halnya nasib Negeri Khurasan yang pernah ditakbirkan Al-Hadis. « Read the rest of this entry »