Posts filed under 'Cerpen'
Aku Ingin Jadi Kupu-kupu
Cerpen Mustafa Ismail
[ ... cerpen ini dimuat di Nova, 2-8 Februari 2009... ]
![]()
Bapak mengabarkan pekan depan kami pindah. Pindah lagi, lebih tepatnya. Hampir setiap tahun kami pindah. Tidak jauh-jauh memang, tetap di lingkungan ini-ini saja. Kami tidak mungkin pindah jauh, karena aku sekolah tidak jauh dari sini, di sebuah sekolah menengah atas. Jika pindah jauh, apalagi ke pinggiran kota, jelas akan membuatku kalang-kabut. (lagi…)
Add comment 12/02/2009
Legenda
DIA sendiri yang meminta dirinya dipanggil dengan Legenda saja. Pak Legenda, lengkapnya. Penarik becak yang stand by di persimpangan tugu. Ada atau tidak ada penumpang, ia tetap berdiam di sana.
Biasanya memang selalu ada orang yang menggunakan jasanya dan minta diantar entah ke mana. Jangkauannya bisa mencapai dua atau tiga kilometer.
Becak Pak Legenda dengan mudah dapat dikenali. Di kanan-kiri depan, terpacak bendera merah putih berukuran besar, mungkin 70 x 40 sentimeter. Padahal, mobil mewah sekalipun hanya memakai bendera kecil yang hanya 10 x 7 sentimeter saja. Demikian juga dengan becak-becak lain, hanya memakai bendera berukuran 20 x 15 sentimeter. Itu pun satu lembar. Bukan dua lembar. (lagi…)
Add comment 17/11/2008
Memburu Cahaya
Cerpen Dianing Widya Yudhistira
Matahari mengeliat tepat di atas menara masjid. Kezia dan anjingnya berjingkat-jingkat di atas aspal jalan. Siang itu udara seperti berlomba-lomba menaikkan suhunya dengan suhu aspal yang sesekali terlihat asap di bagian tengahnya. Dari kejauhan aspal itu menciptakan cahaya kebiruan.
Kezia, perempuan berkulit coklat dengan gigi berderet rapi. Wajahnya biasa saja. Tapi, coba lihat matanya yang bening, mengabarkan bahwa hidup mesti disikapi dengan kebeningan hati. Alisnya yang lebat melindungi sepasang mata beningnya. Tepat di atas alis matanya, ada bekas luka yang sulit dihilangkan. (lagi…)
1 comment 11/11/2008
Tetangga
Cerpen Dianing Widya Yudhistira
Sumber: Seputar Indonesia, Minggu, 19 Oktober 2008
MINGGU. Ini hari kedua aku menempati rumah sendiri.Kebanggaan sekaligus ketenangan mengalir dalam hatiku. Aku bisa mewujudkan keinginanku: punya rumah yang layak huni.
Ada halaman,ruang tamu,kamar,dapur,dan kamar mandi.Juga sedikit taman di bagian belakang. Tidak seperti rumah kontrakan yang kami huni sebelumnya.Tak ada pembagian ruangan yang tegas. Untuk membedakan ruang tamu dengan kamar tidur,aku dan istriku memisahnya dengan lemari pakaian. Kamar tidur tak ada pintu.
Jika ada tamu,mata mereka akan segera tertancap ke tempat tidur kami.Aku sering malu sendiri. Sering, saat melihat istri dan anakanak terlelap, aku merasa berdosa membiarkan mereka tinggal di tempat seperti itu. (lagi…)
2 comments 19/10/2008
Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin
Cerpen Azhari
Sumber: Koran Tempo, 12 Oktober 2008
TELAH diceritakan dalam kisah yang lebih panjang, bahwa sebuah sidang sedang menunggu dengan hati berdebar apakah Sultan Nurruddin memutuskan hendak membeli sebuah batu permata bernama Mutiara Tuhan atau tidak.
Sidang itu terdiri dari para tukang nujum yang sedang berupaya mendorong Sultan untuk memiliki permata itu, sebab dalam nubuat yang mereka terima, hanya dengan batu mulia itulah ratusan tahun kemudian Lamuri dapat diselamatkan dari pendudukan Jenderal Mata Sebelah yang muncul dari seberang lautan sebagaimana halnya nasib Negeri Khurasan yang pernah ditakbirkan Al-Hadis. (lagi…)
2 comments 14/10/2008
Sudah Delapan Lebaran
Cerpen Mustafa Ismail
Sumber: Republika, 28 September 2008
![]()
Ibu tiba-tiba murung dan menjadi begitu pendiam. Itu mulai terjadi beberapa hari setelah memasuki Ramadhan. Wajahnya yang mengguratkan garis-garis ketuaan terlihat makin jelas. Ia tidak bersemangat melakukan apa pun. Makan pun tidak lagi begitu lahap. Terkadang, ia menyendiri di teras. Matanya menerawang.
Gelisah juga aku menyaksikan perubahan yang terjadi pada ibu. Aku menjadi serba salah. Adakah kata-kataku, atau mungkin tingkah lakuku, yang membuat ibu tersinggung. Rasanya tidak. Aku merasa tidak pernah membantah, apalagi berdebat dengan ibu. Aku tahu, ibu paling tidak suka didebat. (lagi…)
1 comment 03/10/2008
Tuan Pembual
Cerpen: Saiful Bahri
Sumber: Serambi Indonesia, Minggu, 21 September 2008
Suatu hari pada 2006, di Langsa, Aceh Timur, saya dan Saiful Bahri membicarakan begitu banyak pembual berkeliaran dimana-mana. Mereka membual dimana-mana, di rumah, kantor, hotel, jalanan, warung kopi, hingga televisi. Mereka bermulut besar, menggombal, tak henti-henti. Bicara kepentingan orang banyak tak tahunya kepentingan diri sendiri.
“Pada dasarnya kita juga pembual,” kata saya. Saiful mengamini. Paling tidak membual untuk diri sendiri. Tawa kami pecah. Kala itu, kami sepakat untuk masing-masing membikin sebuah cerpen tentang pembual ini, sebagaimana kami pernah sepakat membikin cerpen dengan ide yang sama tentang seorang penyair senior Aceh. Tentulah hasilnya beda. (lagi…)
Add comment 22/09/2008
Lebaran Masih Jauh
Cerpen Mustafa Ismail
Sumber: Suara Karya, Sabtu, 20 September 2008
Baru beberapa hari puasa, isteriku sudah banyak menerima SMS dari adik-adiknya di kampung agar mudik. Bahkan, ibunya sengaja menelpon meminta agar kami sekeluarga pulang. Tapi, isteriku cuek saja. “Lebih baik ibu ke Jakarta saja. Nanti aku kirim uang untuk ongkos,” kata isteriku pada ibunya.
Aku tidak tahu bagaimana perasaan orang tua itu ketika mendengar ucapan anak tertuanya itu. Kata-kata isteriku, entah setan apa yang merasukinya, kala berbicara tampak sangat emosional. Aku yang duduk tak jauh dari tempat ia duduk menerima telepon sempat mencubit lengannya dia agar lebih lembut berbicara dengan ibu. (lagi…)
Add comment 20/09/2008
Kawla
Cerpen Dianing Widya Yudhistira
Sumber: Jawa Pos 10 Desember 2003
KAWLA adalah perempuan yang dianugerahi kecantikan alami. Tuhan memberikannya wajah Arabia yang khas. Hidungnya mancung, alis matanya tebal, sepasang matanya elok untuk dipandang. Usianya sama denganku. Baru menginjak empat puluh tahun. Tetapi nasib kami berbeda.
***
Senja mengapung di sudut langit. Di belahan bumi mana pun, senja tak pernah lupa menyemaikan damai. Tetapi di benak perempuan bernama Kawla, senja selalu menawarkan kericuhan. Hampir sepanjang hidupnya, ribuan senja terlewatkan sia-sia. Hampir tak pernah ada sepotong senja pun yang indah di langit Irak. (lagi…)
Add comment 14/09/2008
Jauh dari Ibu
Cerpen Mustafa Ismail
Sumber: Tabloid NOVA, 16-24 Agustus 2008
Belum beberapa meter beranjak dari stasion bus yang akan membawa ibu pulang ke kampung, hatiku menjadi tak karuan. Aku segera melambatkan laju mobil dan berhenti di pinggir jalan dan berharap bus yang membawa ibu segera lewat. Paling tidak, aku bisa melihat ibu yang duduk dekat jendela. Melihat dengan tatapan dan pikiranku yang tidak menentu.
Ya, sungguh sulit kujelaskan pikiranku kini. Tiba-tiba aku menjadi sendiri. Tiba-tiba aku merasa begitu kehilangan ibu. Ibu yang sebelumnya mengontrak rumah dan tinggal hanya beberapa meter dari rumahku, hanya beda gang, kini menjadi jauh. Ibu pulang ke kampung di ujung barat pulau Sumatera, yang jaraknya ribuan kilometer dari tempat tinggalku. (lagi…)
Add comment 19/08/2008
