Posts filed under 'Catatan Ringan'
Khatulistiwa Award untuk F Rahardi
Tadi malam (Selasa, 10 November 2009), ada sejumlah acara. Ada pengumuman Khatulistiwa Literary Award di Plaza Senayan, pidato kebudayaan oleh Ignas Klenden di Graha Bhakti Budaya di TIM, pentas teater “Bunga Semerah Darah” karya Rendra untuk mengenang sang tokoh itu oleh Teater Tanah Air pimpinan Jose Rizal Manua, terus ada satu lagi pemutaran perdana film Emak Ingin Naik Haji. Semua acara itu, tentu saja, menggoda.
Tapi, tentu tidak mungkin menghadiri semua acara dalam waktu bersamaan. AKhirnya, aku memilih ke TIM bersama seorang teman kantor. Kami berangkat sekitar pukul tujuh kurang sedikit, dengan harapan begitu sampai kawasan Sudirman sudah tidak lagi terkena “3 in 1″. Lagi pula, menurut pengalamanku selama ini, berangkat lebih awal atau berangkat pukul tujuh, toh sama saja sampainya. Bagaimana bisa? (lagi…)
Add comment 11/11/2009
Dua Novel Terbaru Dianing: “Nawang” dan “Weton”
Dalam waktu berdekatan, dua novel Dianing Widya Yudhistira terbit: “Nawang” dan “Weton”. Nawang diterbitkan oleh penerbit Republika pada Mei 2009. Novel ini, mendapat apresiasi yang antusias dari pembaca, baik lewat sms, email, facebook, maupun lewat blognya (blog pribadi dan maupun blog novel Nawang). Para pembaca itu mengaku merasa terdorong untuk menjadi lebih maju. Mereka terinspirasi dengan tokoh Nawang yang tidak mengenal menyerah untuk mewujudkan impian-impiannya.
Dianing — seperti dia ungkapkan dalam bedah novelnya Sabtu (24/10) lalu di ruang Anggrek Istora Senayan, Jakarta — memang menghadirkan tokoh Nawang sebagai sosok yang getol dan begitu bersemangat untuk memperjuangkan hidup. Ia tidak pernah menyerah pada keadaan yang membelenggunya. Justru belenggu itu menjadi cambuk untuk membuatnya lepas dari sana. “Perempuan harus kuat. Perempuan harus kokoh, tidak boleh lemah. Perempuan harus menjadi subjek yang mandiri,” kata Dianing. (lagi…)
Add comment 26/10/2009
PKA-5, Aceh International Literary Festival, dan Tukang Obat (1)
Aku tiba lebih awal di Bandara Soekarno Hatta, Jumat pagi itu. Pengemudi taksi yang kupesan mengetuk-ngetuk pagar rumah pukul 04.40, ketika saya buru-buru mau mandi. Istri kemudian buru-buru ke depan dan meminta “Bapak Taksi” itu menunggu.
Sempat kudengar suara sang pengemudi itu, “Portalnya ditutup, Bu. Nggak bisa masuk.” Aku lalu berkata kepada istri, “Nggak usah dibuka. Aku aja yang jalan ke depan lorong nanti.” Setelah itu aku buru-buru mandi. Pagi itu, aku memang bangun terlambat. Taksi yang kutelpon sekitar pukul 01.00, kuminta datang pukul 04.30. (lagi…)
Add comment 01/08/2009
Aceh International Literary Festival
Hmm, akhirnya selesai juga kerja maraton membaca, memilih, merapikan dan mengurutkan karya-karya teman sastrawan untuk antologi sastra Krueng Aceh. Buku ini akan diluncurkan di Banda Aceh menandai panggung sastra terapung yang kami namai Aceh International Literary Festival. Acara ini bagian dari Pekan Kebudayaan Aceh ke-5 yang berlangsung pada 2-11 Agustus 2009 di Banda Aceh.
Ada lebih 30 sastrawan dalam dan luar negeri yang memastikan hadir dan menyertakan karyanya dalam buku itu. Saya dan Fikar W Eda, yang menggagas festival sastra itu, gembira sekali dengan sambutan teman-teman untuk menghadiri acara ini. Tugas kami selanjutnya adalah memastikan tempat pelaksanaan acara agar tertata sesuai harapan. (lagi…)
2 comments 25/07/2009
Polemik PKA Masih Berlanjut

Ternyata polemik tentang Pekan Kesenian Aceh (PKA) masih berlanjut. Minggu (19/7) lalu, Jauhari Samalanga menulis di koran Serambi Indonesia dan menyebut PKA V sebagai moment pembodohan masyarakat. Sejauh itu? Entahlah. Saya tidak ingin mengomentari.
Saya cuma berpendapat: mengukur sesuatu sebaiknya kita menggunakan alat ukur yang tepat dan proporsional. Tanpa alat ukur yang tepat dan pasti, yang terjadi adalah berbicara tanpa dasar. Jangan lupa, PKA punya banyak sekali kegiatan dan event, termasuk kegiatan dagang itu. (lagi…)
Add comment 23/07/2009
Nonton Harry Potter Sampe Nyasar

Dengan niat mau menulis resensi Harry Potter, Kamis malam lalu (16/7), saya bertolak dari kantor di kawasan Kebayoran Lama ke Pondok Indah Mall 2. Saya lihat disana ada jadwal pemutaran pukul 21.30 dan 22.00. Sampai di sana sudah pukul 21.40. Praktis, saya pun ambil sesi pemutaran pukul 22.00. (lagi…)
Add comment 19/07/2009
Hmm, PKA Sebentar Lagi, Apa Kata Mereka?

Pekan Kebudayaan Aceh sebentar lagi: 2-11 Agustus 2009. Tinggal menghitung hari. Barusan saya melongok web koran Serambi Indonesia. Saya membaca sejumlah tulisan terkait PKA. Ada yang ditulis oleh Ampuh Devayan, Barlian AW, dan Zoelfikar Sawang. Secara umum, ketiga penulis itu pesimis dengan kualitas PKA mendatang.
Pelaksanaan PKA kali ini memang memasuki cara baru. Kalau dulu dikelola secara swakelola oleh Pemda Aceh, kini pelaksananya dipercayakan kepada event organizer (PT Dimeta Internusa, Jakarta). Ada yang setuju dengan pola ini, ada pula yang tidak. Semua sah, tentu. Tapi bagaimana persisnya pemikiran ketiga penulis itu? (lagi…)
1 comment 19/07/2009
Pasar
Mustafa Ismail
WARTAWAN TEMPO
Sumber: Koran Tempo, 30 April 2009
Pasar dan idealisme di Indonesia merupakan dua wilayah yang kerap dikesankan berseberangan. Mereka seolah berada berjauhan. Pasar identik dengan produk-produk yang laris, sedangkan idealisme adalah sebuah menara gading–sesuatu yang bertolak dari hal-hal ideal, bahkan sebuah cita-cita luhur.
Dalam dunia seni, termasuk film, pasar kerap menggeser idealisme. Menjamurnya film-film horor di layar bioskop Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, di mata pengusaha film, merupakan bagian dari kehendak pasar. Mereka tak mau rugi untuk memproduksi film yang belum teruji bakal laku di pasar. (lagi…)
Add comment 01/05/2009
Geunteut
Mustafa Ismail, Wartawan Tempo
Sumber: Koran Tempo, Kamis 16 April 2009
[ http://epaper.korantempo.com ]
Ketika kecil, di kampung saya di Aceh, saya sering takut terhadap beragam makhluk halus yang seram. Salah satunya adalah geunteut. Makhluk ini digambarkan sebagai sosok yang tinggi besar. Ia suka mengambil seseorang, lalu menempatkannya di sebuah tempat yang sulit kadang dijangkau, misalnya, di tengah perdu bambu dan di atas pohon.
Dikisahkan, orang yang diambil oleh geunteut akan merasa seperti berjalan di sebuah jalan yang bagus sekali, bahkan seperti melayang. Namun, ketika sadar, ia telah berada di suatu tempat. Ada pesan dari orang-orang tua kepada anak-anak kecil: kalau berjalan malam-malam, sering-sering meraba rambut. Karena diyakini, geunteut membawa korbannya dengan memegangnya pada rambut. (lagi…)
1 comment 16/04/2009
Hujan Seperti Tak Berhenti
hujan seperti tak pernah berhenti
di kota ini, kadang seperti mimpi, kadang
seperti sunyi
Hujan mengguyur kota ini, Banda Aceh. Ketika saya datang Sabtu siang, langit tiba-tiba murung. Dalam perjalanan ke Trienggadeng (Kabupaten Pidie), kampung saya, hujan mengguyur kencang di jalanan. Jalanan mengkilat-kilat seperti cermin yang memantulkan warna langit.
Sebelumnya, di Seulawah, kabut dengan lebatnya turun. Bus mini travel (L300) yang saya tumpangi seperti pesawat terbang yang dengan susah payah menembus kabut. Jarak pandang hanya beberapa meter. Bus pun mesti gesit meliuk-liuk di tikungan pegunungan itu yang patah-patah. (lagi…)
Add comment 26/11/2008
