Posts filed under 'Berita Budaya'
Khatulistiwa Award untuk F Rahardi
Tadi malam (Selasa, 10 November 2009), ada sejumlah acara. Ada pengumuman Khatulistiwa Literary Award di Plaza Senayan, pidato kebudayaan oleh Ignas Klenden di Graha Bhakti Budaya di TIM, pentas teater “Bunga Semerah Darah” karya Rendra untuk mengenang sang tokoh itu oleh Teater Tanah Air pimpinan Jose Rizal Manua, terus ada satu lagi pemutaran perdana film Emak Ingin Naik Haji. Semua acara itu, tentu saja, menggoda.
Tapi, tentu tidak mungkin menghadiri semua acara dalam waktu bersamaan. AKhirnya, aku memilih ke TIM bersama seorang teman kantor. Kami berangkat sekitar pukul tujuh kurang sedikit, dengan harapan begitu sampai kawasan Sudirman sudah tidak lagi terkena “3 in 1″. Lagi pula, menurut pengalamanku selama ini, berangkat lebih awal atau berangkat pukul tujuh, toh sama saja sampainya. Bagaimana bisa? (lagi…)
Add comment 11/11/2009
Khatulistiwa Award Sebentar Lagi Diumumkan
Dengar kabar — mudah-mudahan tidak ada perubahan — pemenang penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award 2009 akan diumumkan pada 10 Nopember 2009. Upacara pengumuman, seperti tahun-tahun sebelumnya, diadakan di Plaza Senayan, Jakarta. Nah, siapakah yang jadi pemenang?
Jika mau menebak-nebak, tentu berdasarkan pembacaan, silakan saja. Ini dia karya-karya yang masuk lima besar, yang kemudian dipilih masing-masing satu untuk dimenangkan. Untuk kategori prosa ada Meredam Dendam (Novel Gerson Poyk), Sutasoma (Novel Cok Sawitri), (lagi…)
Add comment 03/11/2009
Khatulistiwa Award Lagi
Khatulistiwa Literary Award telah merilis daftar panjang (10 besar) karya yang sedang dijaring untuk dipilih masing-masing satu pemenang. Seperti sebelumnya, kali ini juga menyuguhkan tiga kategori: puisi, prosa, dan pengarang muda berbakat. Nama-nama calon pemenang itu diumumkan di blog Khatulistiwa Literary Award.
Namun, ada yang mengejutkan. Nama-nama nominasi pengarang berbakat kemudian diralat. “Ini dikarenakan kesalahan teknis yang menyangkut data para peserta yang masuk kategori Penulis Muda Berbakat (yaitu harus karya fiksi yang pertama kali diterbitkan dan penulis berusia maksimal 30 tahun). Kami akan umumkan hasil RALAT secepatnya setelah diproses oleh para Juri,” tulis panitia dalam blog itu. (lagi…)
Add comment 08/10/2009
Sastrawan Luar Negeri Baca Puisi di PKA
JAKARTA – Seniman dari Austria, Werner Schulze, telah memastikan hadir dan tampil dalam acara pembacaan puisi “Panggung Sastra Perahu” di Krueng Aceh dalam rangka Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 5, 2-11 Agustus 2009 mendatang. Kepastian kehadiran sastrawan Austria tersebut disampaikan dalam surat balasan kepada panitia PKA.
“Pak Werner akan berada di Banda Aceh selama tiga hari,” kata Mustafa Ismail, representatif panitia PKA di Jakarta, Minggu. Werner Schulze adalah seorang seniman musik dan guru besar pada University of Music and Dramatic Arts Vienna (Internationales Harmonik-Zentrum). (lagi…)
Add comment 16/07/2009
Mewujudkan Impian Nawang
![]()
Nawang adalah sebuah novel yang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Menurut Nawang, perempuan tak sekedar pelengkap dalam rumah tangga. (lagi…)
1 comment 05/06/2009
Wagub: PKA Berbeda dengan Pameran Pembangunan
Sumber: Serambi Indonesia, 27 April 2009
JAKARTA – Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar menegaskan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang dijadwalkan berlangsung pada 2-11 Agustus 2009 harus berbeda dengan kegiatan Pameran Pembangunan. “PKA adalah perhelatan budaya, tidak sama dengan pameran pembangunan. PKA diharapkan benar-benar mampu memperlihatkan khasanah kebudayaan Aceh pasca konflik dan tsunami,” ujar Wagub menjawab Serambi, Sabtu di Jakarta.
Wagub sependapat bahwa PKA 2009 menampilkan pertautan Aceh dengan bangsa-bangsa lain, baik regional maupun internasional dengan mengundang delegasi seni dari daerah-daerah yang dimaksud. Ia mencontohkan, Aceh memiliki kaitan dengan Demak, Banten, Jayakarta (Jakarta) dan lain-lain. (lagi…)
Add comment 27/04/2009
PKA V Mengembalikan Aceh ke Panggung Dunia
Sumber: Harian Serambi Indonesia, Senin 20 April 2009
JAKARTA — Pekan Kebudayaan Aceh (PKA-V) yang dijadwalkan berlangsung 2-11 Agustus 2009 diharapkan selain tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi, juga memperlihatkan realitas Aceh masa kini pasca konflik dan tsunami, serta memiliki orientasi masa depan dalam rangka mengembalikan Aceh ke panggung dunia. Demikian rangkuman pendapat seniman Aceh Jakarta dalam sebuah diskusi terbatas di Hotel Borobudur Jakarta, Sabtu (18/4).
Diskusi tersebut dihadiri seniman teater Agus Nur Amal, koreografer alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Asnawi Abdullah, penyair Mustafa Ismail, Ahmad Mauladi dari Morenk Organizer, dosen IKJ Marzuki Hasan, dan penyair Fikar W.Eda. Diskusi tersebut khusus menyikapi rencana pelaksanaan PKA V yang dipandu pengamat teater Indonesia Arie F Batubara. (lagi…)
Add comment 20/04/2009
Geunteut
Mustafa Ismail, Wartawan Tempo
Sumber: Koran Tempo, Kamis 16 April 2009
[ http://epaper.korantempo.com ]
Ketika kecil, di kampung saya di Aceh, saya sering takut terhadap beragam makhluk halus yang seram. Salah satunya adalah geunteut. Makhluk ini digambarkan sebagai sosok yang tinggi besar. Ia suka mengambil seseorang, lalu menempatkannya di sebuah tempat yang sulit kadang dijangkau, misalnya, di tengah perdu bambu dan di atas pohon.
Dikisahkan, orang yang diambil oleh geunteut akan merasa seperti berjalan di sebuah jalan yang bagus sekali, bahkan seperti melayang. Namun, ketika sadar, ia telah berada di suatu tempat. Ada pesan dari orang-orang tua kepada anak-anak kecil: kalau berjalan malam-malam, sering-sering meraba rambut. Karena diyakini, geunteut membawa korbannya dengan memegangnya pada rambut. (lagi…)
1 comment 16/04/2009
Baca Puisi di Yogya dan Solo: Membandingkan TBA dan TBS
Sumber: Serambi Indonesia, 12 April 2009
TEATER Arena Taman Budaya Surakarta (TBS), Senin (30/3) malam pekan lalu, memberi saya dan tiga penyair asal Aceh lainnya, Mustafa Ismail, Wina SW1, Budi Arianto dan cerpenis asal Yogya, Dyah Merta tampil secara bergiliran membacakan puisi dan nukilan novel. Dibuka tarikan improvisasi serune kalee oleh Dedi Kalee yang sedang menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. “Baca Puisi Penyair Aceh; Sastra Pasca Tsunami,” demikian bunyi tajuk acaranya.
Kehadiran penyair Aceh di tempat itu memang mendadak. Kepala Divisi Sastra TBS, Wijang Jr Warek menyediakan waktu 30 menit untuk penampil Aceh di sela-sela launching dan diskusi “Littera” Buletin Sastra Dwi Bulanan. Penonton memang tak begitu ramai, tapi tekun mengikuti sampai acara selesai. Sehari sebelumnya, penyair Aceh tampil di Pendopo Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam acara “Malam Sastra Aceh.” Selain berpuisi juga digelar diskusi. Di Yogya pula, penyair Aceh diundang berdiskusi ke Pesantren Hasyim Asy’ari. (lagi…)
Add comment 12/04/2009
Peluncuran buletin Littera: Nyeri Aceh untuk Tanah Rencong
Sumber: Solo Pos, Rabu 1 April 2009
Lumatlah rumah
Lumatlah pohon
Dan tubuh kami, tubuh kami
Bercecer di himpitan pohon itu
Hanyut bersama papan berlumut
Itulah sepenggal bait dari puisi berjudul Nyeri Aceh yang dibacakan penyair asal Serambi Mekkah, Fikar W Eda dalam Baca Puisi Penyair Aceh, Senin (30/3) malam, di Teater Arena Taman Budaya Surakarta. Puisi yang ia buat pada akhir 2004 silam itu, merupakan gambaran bencana tsunami. Kepedihan yang dialami warga Aceh menyentuh hati, hingga peristiwa yang pahit itu selalu terbayang hingga kini. (lagi…)
Add comment 01/04/2009
