Nyanyian Sunyi Kardy Syaid
28/06/2009
Bagi generasi terbaru kepenyairan dan kesenian di Aceh, boleh jadi nama Kardy Syaid tidak dikenal. Maklum, ia memang angkatan lama. Sebelum hijrah ke Jakarta pada 1982, ia memimpin Federasi Teater Aceh. Ia juga pendiri sekaligus memimpin Teater Kuala dan Teater Aremba, Banda Aceh.
Nama aslinya Fachrurazi Syaid, berdarah Aceh-Minang, lahir di Pariaman pada 11 Desember 1956. Alumni Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) pada 1980 ini hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah pada STIA LAN dan lulus pada 1986. Disela-sela itu, ia juga kuliah di Fakultas Film & Televisi Institut Kesenian Jakarta. Kini memimpin sebuah PH dan sekolah akting Aksineas di Jakarta.
Berikut beberapa sajak Kardy Syaid yang dikutip dari notenya di Facebook:
MENUJU ‘ARASYMU
meski cinta tak sampai,
rintih sakit melilit tubuh,
kaki melepuh termakan usia,
aku tetap menerjang meneroka.
bukit terjal bukan penghalang,
tak kubiarkan tubuh renta hanyut,
sampai ajal menjemput,
detak jantung berhenti menghitung waktu,
tangan tak kuasa menggapaiMu.
ya Allah,
biarkan darahku berdenyut sesaat lagi,
kuatkan semangatku,
luruskan hati dalam kegelapan,
membalut sabarku dengan iman,
sampai aku tiba ‘arasyMu!
jatikramat, juni 2009
MOHON
Mengakulah…!
Dada siapa yang kuremas-remas di Changi Airport?
Luka siapa yang kumamah,
Melayu, Cina atau Tamilkah?
Kumohon,
Menjawablah walau untuk sebaris kalimat
Sebelum aku menyeret langkah
Menghamburkan resah demi resah
Di Coleman Street yang megah
Atau di Arab Street yang hingar
tak kucoba lena di kotamu yang ganas
Kukan berangkat sore ini juga
Dari perjalanan panjang dan letih
Biar kuraih mimpi baru di Malaka
Katakanlah!
Walaupun tanpa suara
Lewat bibir dan raut muka
Aku tahu kau siapa!
Singapura, Desember 1982
SIDANG PELOPOR DUNIA
Hari ini Socrates menghantam meja…
Kennedy menarik urat lehernya
Lincoln setengah mabuk membentak-bentak
Soekarno mohon sabar dan konsep proklamasi
Napoleon mengasah pedang
siap menghantam siapa menantang
Truman, Dulls, Aristoteles: “Kita harus menang”
“Mari sidang kita lanjutkan” kata Stalin dan Mao
“Negara akhirat, bebas kapitalis, bebas komunis dan bebas kolonialis, harus ditegakkan!”
sela Rosevelt dan Bung Hatta
Sidang belum usai
ketika aku terjaga dari mimpi…….
Banda Aceh, 21 September 1978
NYANYIAN SUNYI 23
kado Ultah buat: April Tiatco
Sinabang kian kelam,
Ketika bulan enggan menampakkan wajah
dan angin berhenti berhembus
Sepi dan terasing memeluk bayangmu
Kurajut kisah rindu yang membukit.
Di pantai kasih ini, hanya ombak yg mendebur
Bertalu-talu memukul harapan.
Menghitung janji yang kita ucapkan.
Takkuasa aku membunuh nyanyian sunyi
Kala perahu kecilku takkan pernah bertemu muara
Badai dan batu karang telah mengaburkan arahnya
Burung camar membeku dalam peraduan.
*sinabang,sebuah kota pantai di Aceh Barat
Jkt,23 april2009
Entry Filed under: Puisi. .
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1. madagumilang | 29/06/2009 at 7:56 am
nambah khasanah pengetahuanku
salam kenal