Dunia Masa Depan

11/06/2009

FILM INI MENGHADIRKAN KISAH AWAL SERIAL STAR TREK: KIRK DAN SPOCK KECIL HINGGA REMAJA

Sumber: Koran Tempo, Senin 8 Juni 2009

Bayi lelaki itu lahir dalam sekoci penyelamat. Ayahnya, George Kirk (Chris Hemsworth), tewas ketika menyelamatkan pesawat USS Kelvin dan awaknya dari serangan manusia Romulan. Ibunya, yang sedang mengandungnya, berhasil diselamatkan. Ia lalu tumbuh sebagai anak yang ugal-ugalan, suka kebut-kebutan, dan berantem. Namanya James T. Kirk.

Sementara itu, di Planet Vulcan, seorang anak terus dicemooh oleh teman-temannya karena ia setengah manusia dan setengah Vulcan. Ibunya manusia dan ayahnya seorang Vulcan. Telinganya agak lebar dan memanjang ke atas. Anak cerdas itu kemudian tumbuh menjadi remaja bertubuh tinggi dan gagah. Pembawaannya tenang. Namanya Spock.

Dua tokoh inilah yang menjadi fokus dalam film Star Trek, yang disutradarai J.J. Abrams. Ini bukan kisah lanjutan Star Trek. Film ini justru kembali ke awal sekali: mengangkat sebuah masa yang belum pernah diangkat, yakni latar belakang tokoh Kirk dan Spock. Kedua tokoh ini kemudian bertemu di Starfleet Academy.

Sebetulnya, niat untuk membikin cerita yang memaparkan kisah awal tokoh-tokoh ini sudah muncul di kepala Gene Roddenberry pada 1968. Sampai Roddenberry meninggal akibat penyakit jantung dalam usia 70 tahun pada 24 Oktober 1991, niat itu belum juga terwujud. Baru pada 2005 film ini mulai disiapkan oleh Paramount Picture dengan mengajak J.J. Abrams.

Ini film layar lebar ke-11 Star Trek. Judul film ini cukup Star Trek. Tidak ada embel-embel apa pun sebagaimana ke-10 film sebelumnya, dari Star Trek: The Motion Picture pada 1979 hingga yang ke-10, Star Trek: Nemesis (2002). Penamaan itu seolah ingin menegaskan bahwa inilah Star Trek paling awal.

Maka, hampir semua tokoh dalam film ini berusia muda. Selain Kirk (Chris Pine) dan Spock (Zachary Quinto), ada tokoh-tokoh, seperti Sulu (John Cho), Uhura (Zoe Saldana), Nero (Eric Bana), dan Chekov (Anton Yelchin). “Semua tokoh dalam cerita itu adalah karakter asli dalam Star Trek The Original Series, yang pertama keluar pada 1966,” kata Bowo Trahutomo, eksponen Indonesia Star Trek Community.

Kirk dan Spock sejak awal digambarkan “berseberangan”. Banyak hal yang membuat mereka tidak sepaham. Puncak kekesalan Spock kepada Kirk adalah dengan mengusirnya dari kapal USS Enterprise. Pengusiran itulah yang mengantarkan Kirk bertemu dengan Spock tua (Leonard Nimoy) yang ramah. Spock tua lalu meminta Kirk kembali ke kapal itu dan bergabung kembali dengan Spock untuk menghadapi bangsa Romulan.

Konflik antara Kirk dan Spock tentu saja menjadi drama lain yang manusiawi dari film ini. Itu selain perjuangan mereka menghadapi Nero (Eric Bana) dan kawan-kawan dari bangsa Romulan yang ingin balas dendam serta menghancurkan Planet Vulcan. Konflik itu sekaligus mempertegas persaingan di antara keduanya. Baik Chris Pine maupun Zachary Quinto dengan cemerlang memerankan karakter masing-masing (Kirk dan Spock).

Selain itu, hal-hal komedikal yang muncul, misalnya lewat tokoh Chekov, menjadi semacam jeda di tengah ketegangan demi ketegangan yang dihadirkan. Sejumlah kata filosofis juga diselipkan dalam beberapa percakapan tokohnya. Nilai-nilai atau pesan kemanusiaan dan kehidupan memang selalu jadi asupan lain dalam film-film Star Trek.

Kekuatan lain adalah visual. Gambar-gambarnya begitu kuat. Desain dalam pesawat, termasuk ruang dalam pesawat berbentuk cakar besi milik Nero, beserta teknologi pesawat itu, misalnya, begitu tak terduga. Film ini begitu meyakinkan menghadirkan dunia masa depan. Itu ditambah lagi dengan kekuatan tata suara dan musik scoring, yang membuat film ini begitu bertenaga.

MUSTAFA ISMAIL

Entry Filed under: Esai. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


INFO BUKU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Ditulis oleh novelis yang karyanya (Sintren) masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo dan di toko-toko buku online.

TERBANYAK DIBACA

Kategori

jaringanblogsastra-ok
Blog Penyair Aceh J Kamal Farza

KOMENTAR TERBARU

JUMLAH PENGUNJUNG

GUDANG TULISAN

Google Ranking Blog Ini

Search Engine Optimization

MEDIA

DIANING WIDYA YUDHISTIRA

PEMANGKU BLOG