………..jalansetapak journal

Mewujudkan Impian Nawang

Novel Nawang

Nawang adalah sebuah novel yang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Menurut Nawang, perempuan tak sekedar pelengkap dalam rumah tangga. Ia adalah seseorang yang berhak menentukan hidup dan cita-citanya sendiri. Perempuan harus maju. Perempuan harus berjuangan untuk mewujudkan impian dan cita-citanya.

Novel ini ditulis oleh Dianing Widya Yudhistira. Perempuan kelahiran Batang, Jawa Tengah, 6 April 1974 itu, dikenal sebagai penulis produktif. Sebelumnya, ia telah meluncurkan sejumlah buku seperti kumpulan cerpen “Kematian yang Indah” (Grasindo, 2005), novel “Sintren” (Grasindo, 2007), “Perempuan Mencari Tuhan” (Pustaka Republika, 2007), kumpulan puisi “I Love You Ibu” (kata2hijau, 2008). “Sintren” masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2007. Sebelumnya, “Sintren” dan “Perempuan Mencari Tuhan” pernah dimuat bersambung di Harian Republika dalam waktu berbeda.

Di luar buku karya tunggal, sejumlah karyanya baik puisi dan cerpen juga masuk dalam puluhan antologi bersama, juga dimuat di berbagai media cetak, dalam dan luar negeri. MUS

Filed under: Berita Budaya

One Response

  1. David mengatakan:

    Kedengarannya bagus

Leave a Reply

http://novelweton.co.cc
Mempertanyakan Weton

Judul Buku: Weton (Bukan Salah Hari)

Penulis: Dianing Widya Yudhistira

Penerbit: Grasindo, 2009

Dalam masyarakat Jawa, weton adalah sesuatu yang berkaitan dengan hari lahir. Setiap nama hari (Senin-Minggu) dalam kalender Jawa memiliki pasangannya, yakni Wage, Pon, Legi, Kliwon, dan Pahing. Dalam sejumlah peristiwa sosial, weton memegang peranan penting. Misalnya soal perkawinan. Jika seseorang menikah dengan pasangan yang hari lahirnya secara weton tidak bagus, dipercaya ia akan menemui banyak masalah dalam keluarga nanti.

Novel terbaru karya Dianing Widya Yudhistira ini dengan baik mengangkat persoalan itu. Ada tokoh-tokoh yang menikah dengan weton yang tidak cocok, yang kemudian berakibat buruk. Tapi tidak semua orang percaya pada weton. Novel ini menyajikan pertentangan itu: antara yang percaya dan yang tidak. Dan bagi yang tidak percaya, tentu, ada konsekuensinya. Apa itu? Inilah yang dijawab satu per satu dalam novel ini.

Ini novel keempat Dianing, yang juga dikenal sebagai penyair dan penulis cerpen. Novel pertamanya, Sintren (Grasindo, 2007), juga mengangkat persoalan lokal di Jawa, yakni tari Sintren, dan masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2007. Novel lainnya, Perempuan Mencari Tuhan (Republika, 2007) dan Nawang (Republika, 2009). l DODY

Sumber: Koran Tempo, 18 Oktober 2009

-----------
Buku ini sudah bisa diperoleh di toko-toko buku Gramedia dan toko buku lain, juga di toko buku online seperti http://www.bukabuku.com, http://www.dinamikaebooks.com, http://bukukita.com, dan lain-lain. Bisa pula langsung ke penerbit Grasindo di http://www.grasindo.co.id. Untuk mengetahui lebih jauh tentang novel ini atau proses kreatif penulisannya silakan mengunjungi web http://novelweton.co.cc