Pasar

01/05/2009

Mustafa Ismail
WARTAWAN TEMPO

Sumber: Koran Tempo, 30 April 2009

Pasar dan idealisme di Indonesia merupakan dua wilayah yang kerap dikesankan berseberangan. Mereka seolah berada berjauhan. Pasar identik dengan produk-produk yang laris, sedangkan idealisme adalah sebuah menara gading–sesuatu yang bertolak dari hal-hal ideal, bahkan sebuah cita-cita luhur.

Dalam dunia seni, termasuk film, pasar kerap menggeser idealisme. Menjamurnya film-film horor di layar bioskop Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, di mata pengusaha film, merupakan bagian dari kehendak pasar. Mereka tak mau rugi untuk memproduksi film yang belum teruji bakal laku di pasar.

Maka, seperti tidak terelakkan, bioskop pun terus digempur oleh film-film yang–lagi-lagi di mata produser–berpotensi untung besar. Dalam kategori ini, selain berjenis horor, ada drama dan komedi percintaan. Film-film yang berusaha mencoba keluar dari sana bisa dihitung dengan jari.

Anehnya, logika semacam ini kurang berlaku bagi film-film asing. Layar bioskop Indonesia tidak pernah sepi dari film-film asing. Jenis filmnya macam-macam, dari drama percintaan, komedi, thriller, horor, kisah perang, hingga film sejarah.

Film-film asing itu tak sedikit juga penontonnya. Bahkan, ada yang berminggu-minggu nangkring di bioskop. Pertanyaannya: mengapa logika pasar bisa berbeda antara film Indonesia dan film asing? Jawabnya sederhana saja: film-film asing itu menciptakan pasarnya sendiri.

Itulah yang seharusnya dilakukan oleh pengusaha film Indonesia, yaitu menciptakan pasar. Sebab, karakter sebagian besar penonton Indonesia, penonton televisi maupun film, bukan penonton yang cerewet dan kritis. Mereka cuma perlu hiburan, kadang untuk mengisi waktu senggang. Suguhan apa pun, yang dirasa bagus dan asyik dilahap saja. Itu membuka kemungkinan bagi produser untuk membikin banyak varian film.

Lakunya film-film asing itu–yang sebagian memperoleh banyak penghargaan, termasuk Academy Award–sekaligus membuktikan bahwa idealisme dan pasar bukan dua kutub yang berjauhan. Mereka tidak membuat film seperti yang dimaui pasar, melainkan film yang berangkat dari gagasan-gagasan dan semangat melahirkan sesuatu yang ideal.

Jadi, persoalan pokoknya ada pada pengusaha atau kreator film kita. Tampaknya mereka tidak mau terlalu capek untuk membuat film yang berbeda sekaligus berkualitas. Terasa betul sebagian pembuat film kita menggunakan hukum ekonomi kuno: menggunakan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya. Kerja enteng tapi hasil mentereng.

Alhasil, sikap semacam itu cuma membuat ramai layar bioskop, tapi tidak menyumbang apa-apa untuk perkembangan perfilman Indonesia.

Entry Filed under: Catatan Ringan. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


INFO BUKU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Ditulis oleh novelis yang karyanya (Sintren) masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo dan di toko-toko buku online.

TERBANYAK DIBACA

Kategori

jaringanblogsastra-ok
Blog Penyair Aceh J Kamal Farza

KOMENTAR TERBARU

JUMLAH PENGUNJUNG

GUDANG TULISAN

Google Ranking Blog Ini

Search Engine Optimization

MEDIA

DIANING WIDYA YUDHISTIRA

PEMANGKU BLOG