PKA V Mengembalikan Aceh ke Panggung Dunia

20/04/2009

Sumber: Harian Serambi Indonesia, Senin 20 April 2009

JAKARTA — Pekan Kebudayaan Aceh (PKA-V) yang dijadwalkan berlangsung 2-11 Agustus 2009 diharapkan selain tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi, juga memperlihatkan realitas Aceh masa kini pasca konflik dan tsunami, serta memiliki orientasi masa depan dalam rangka mengembalikan Aceh ke panggung dunia. Demikian rangkuman pendapat seniman Aceh Jakarta dalam sebuah diskusi terbatas di Hotel Borobudur Jakarta, Sabtu (18/4).

Diskusi tersebut dihadiri seniman teater Agus Nur Amal, koreografer alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Asnawi Abdullah, penyair Mustafa Ismail, Ahmad Mauladi dari Morenk Organizer, dosen IKJ Marzuki Hasan, dan penyair Fikar W.Eda. Diskusi tersebut khusus menyikapi rencana pelaksanaan PKA V yang dipandu pengamat teater Indonesia Arie F Batubara.

Mereka menilai, PKA kali ini harus dimaknai berbeda dengan PKA sebelumnya. Aceh baru saja lepas dari konflik telah membuat kreativitas terbelunggu. Ditambah lagi dengan tsunami yang telah memporak-porandakan struktur dan nasib kebudayaan di Aceh. PKA V harus menjadi momentum untuk kebangkitan kembali kebudayaan Aceh sekaligus mengantarkannya ke panggung dunia.

Karena itu, diharapkan karya-karya yang tampil dalam pesta kebudayaan Aceh itu nanti mencerminkan semangat tiga fase, yakni fase tradisi, Aceh masa kini (kontemporer), dan Aceh masa depan. “Ini menjadi starting point untuk membuat Aceh lebih mendunia,” kata Agus Nuramal. Agus menambahkan, kondisi Aceh yang paling demokratis saat ini harus disambut oleh kalangan seniman dengan ide-ide kreatif.

Ahmad Mauladi mengatakan pagu anggaran PKA senilai Rp 4,7 miliar diharapkan benar-benar dapat dimanfaatkan untuk membuat PKA menjadi lebih ideal. “Sebetulnya dana ini terhitung sangat kecil untuk membingkai sebuah kerja kebudayaan. Karena itu diharapkan dana ini dapat dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Ahmad Mauladi yang dikenal sebagai seniman disain grafis..

Terkait dengan materi acara, forum diskusi itu mengusulkan hadirnya seniman-seniman internasional baik di bidang tari, musik, sastra, dan teater yang berasal dari wilayah-wilayah yang merefresentasi nama A-C-E-H, yakni Arab, Cina, Eropa, Hindi. “Sejarah memperlihatkan bahwa Aceh sangat dekat dalam pergaulan internasional. Jejak ini bisa dilihat sejak zaman klasik sampai hari ini,” ujar Mustafa Ismail.

Asnawi Abdullah menambahkan, jangan dilupakan keberlangsungan seni-seni tradisi yang hampir punah baik yang disebabkan oleh konflik maupun akibat ketidakpedulian kita terhadap kekayaan kebudayaan. “Saya kira masing-masing daerah di Aceh harus kreatif menembukan seni-seni yang hampir punah. Itu adalah bagian dari kekayaan kita,” ujar Asnawi.

Marzuki Hasan menyebutkan inilah saatnya bagi Aceh untuk meneliti dan mempelajari kembali khasanah seni budaya Aceh. “Sebelum ini kita tidak punya ruang untuk melongok kebesaran kebudayaan kita, karena kita berada dalam pusaran konflik dan kemudian tsunami,” ujarnya.(fik)

Entry Filed under: Berita Budaya. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


INFO BUKU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Ditulis oleh novelis yang karyanya (Sintren) masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo dan di toko-toko buku online.

TERBANYAK DIBACA

Kategori

jaringanblogsastra-ok
Blog Penyair Aceh J Kamal Farza

KOMENTAR TERBARU

JUMLAH PENGUNJUNG

GUDANG TULISAN

Google Ranking Blog Ini

Search Engine Optimization

MEDIA

DIANING WIDYA YUDHISTIRA

PEMANGKU BLOG