Geunteut

16/04/2009

Mustafa Ismail, Wartawan Tempo

Sumber: Koran Tempo, Kamis 16 April 2009
[ http://epaper.korantempo.com ]

Ketika kecil, di kampung saya di Aceh, saya sering takut terhadap beragam makhluk halus yang seram. Salah satunya adalah geunteut. Makhluk ini digambarkan sebagai sosok yang tinggi besar. Ia suka mengambil seseorang, lalu menempatkannya di sebuah tempat yang sulit kadang dijangkau, misalnya, di tengah perdu bambu dan di atas pohon.

Dikisahkan, orang yang diambil oleh geunteut akan merasa seperti berjalan di sebuah jalan yang bagus sekali, bahkan seperti melayang. Namun, ketika sadar, ia telah berada di suatu tempat. Ada pesan dari orang-orang tua kepada anak-anak kecil: kalau berjalan malam-malam, sering-sering meraba rambut. Karena diyakini, geunteut membawa korbannya dengan memegangnya pada rambut.

Bukan cuma geunteut. Di Aceh banyak sekali makhluk halus yang seram. Ada yang namanya burong, burong tujoh, buno, dan sebagainya. Itu baru di Aceh. Di daerah lain, tentu banyak pula makhluk dalam khazanah horor ini. Ada yang namanya orang bunian, kuyang, dan semat beklat.

Tapi sangat jarang hantu-hantu lokal muncul di layar film. Ada kesan, makhluk halus di Indonesia cuma ada pocong, kuntilanak, dan setan yang wajahnya mengerikan. Sebab, makhluk seram inilah yang kerap tampil dalam film-film Indonesia, sehingga wajah horor di bioskop pun menjadi begitu seragam.

Kreator film Indonesia seperti kekurangan gagasan untuk menampilkan hal-hal baru dalam dunia horor. Bukan cuma dalam soal cerita, tapi juga sosok-sosok menakutkan itu. Karena itu, ketika berhadapan dengan layar bioskop, penonton tidak hanya menemukan sensasi ketakutan, melainkan sesuatu yang baru, unik, dan tidak membosankan.

Seperti disebutkan di atas, hantu-hantu lokal itu bisa menjadi pilihan untuk dieksplorasi satu per satu, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Bahkan hantu-hantu itu tak cuma berdiri sebagai sosok tunggal, yang tak jarang diwarnai dengan cerita-cerita bahkan legenda di baliknya. Tentu itu akan menjadi hal baru untuk disuguhkan kepada penonton.

Dengan demikian, wajah horor bioskop Indonesia pun akan lebih beragam. Tentu saja tetap tanpa melupakan orisinalitas cerita, logika, dan sensasi keseraman yang dihadirkan.

Entry Filed under: Berita Budaya, Catatan Ringan. .

1 Comment Add your own

  • 1. dijournalist  |  25/04/2009 at 9:59 pm

    sayangnya, ribuan film horor yang dibuat, tidak satupun itu saya tonton

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


INFO BUKU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Ditulis oleh novelis yang karyanya (Sintren) masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo dan di toko-toko buku online.

TERBANYAK DIBACA

Kategori

jaringanblogsastra-ok
Blog Penyair Aceh J Kamal Farza

KOMENTAR TERBARU

JUMLAH PENGUNJUNG

GUDANG TULISAN

Google Ranking Blog Ini

Search Engine Optimization

MEDIA

DIANING WIDYA YUDHISTIRA

PEMANGKU BLOG