Puisi Lebaran

05/10/2008

Saya menerima sejumlah SMS yang berisi puisi. Salah satunya dari Fikar W. Eda. Kawan penyair asal Aceh ini mengirim puisi berjudul Lebaran. Isinya:

Fikar W Eda-Repro

Malam basah
Netes doa pada sajadah
Di luar
anak-anak membakar (kembang) api.
.

Puisi itu diakhiri dengan kata-kata: “Selamat Idul Fitri 1429 H…dst”.

Semula, saya mengira itu puisi spontan, yang dibikin ketika mengirimkan SMS kepada orang untuk mengucapkan selamat Idul Fitri. Iseng-iseng, barusan saya mencari-cari buku kumpulan puisi “Rencong” milik Fikar. Dan saya menemukan puisi itu di dalam buku tersebut. Persisnya di halaman 59.

Bukan satu puisi Fikar yang bernuansa Lebaran dalam buku itu. Ada lagi.

Malam RE 4 (Mudik Lebaran).

angin pecah
di tangga masjid
menelanjangi diri satu, satu
bulan semu berjalan
birahi mengelapar
mati

Banda Aceh 1986.

Banyak cara penyair melihat dan memaknai Lebaran. Berikut adalah sejumlah puisi yang berbicara tentang Lebaran ini. Puisi paling terkenal ditulis oleh Sitor Situmorang. Judulnya Malam Lebaran.

Sitor Situmorang
MALAM LEBARAN

bulan di atas kuburan.

Doel CP Allisah
NYANYIAN MALAM LEBARAN

ketika barisan takbir menyeruak sunyi malam
menggemakan kebesaran Tuhan
kita telah menangkan perang, adik
bagaimana ibu di rumah
dan kabar bapak yang diam
sedih juga aku
ramadhan di perantauan
jauh dari semua kenangan
jauh dari kalian yang hangat
mengalirkan pengertian

ketika barisan takbir menyeruak sunyi malam
melantunkan Allahu Akbar, adik
aku gabungkan jiwa raga
dalam keramaian
dalam persaudaraan
kumenangkan perang itu dik
lupakan kampung yang jauh
lupakan dekki kecil kita
yang menyalakan lilin-lilin di teras
dengan teriakannya yang gaduh tentu
ah, dekki manis
bahkan kulupakan semua kenangan
dan mengusungnya di pundak
buat oleh-oleh datang padaNya
dalam penyerahan yang redam

ketika barisan takbir menyeruak sunyi malam
dan tinggalkan aku kembali
jalan ini jadi semati tugu
membentuk garis silang, merah biru
dan potret kalian
satu-satu masuk dalam panca indra
menyeretku dalam perih, ah

ketika barisan takbir hilang di telan kelam
aku langkahkan kaki
dengan kesendirian di tangan
menyusut airmata pada malam
dan menulisnya buat kalian
Allahu Akbar Walillahilham !

Medan,1985

LK. Ara
SAMPAI KE IDUL FITRI
Sumber: Serambi Indonesia, 5 Oktober 2008

Ya Allah
Inilah sujudku di bulan ramadhan
Kening menyentuh sajadah
Sahalat malam yang nyaman
Oleh angin yang Kau turunkan

Ya Allah
Inilah air mata rindu di bulan ramadhan
Mengalir untukMu
Saat masjid diserbu kelam
Saat alam mulai diam

Ya Allah
Inilah sujudku di bulan ramadhan
Sujud seorang hamba
Yang ngembara di bumi Mu
Membawa beban beribu keluh
Ingin merlindung pada Mu
Mohon ampun pada Mu
Di bulan penuh ampunan

Ya Allah
Bagai besi dibakar
Lalu ditempa
Begitulah aku terbakar
Menempa diri
Untuk sampai ke idulfitri

***

Saya pun pernah menulis sejumlah puisi tentang Lebaran. Puisi ini pernah muncul di sebuah koran pada 2004.

Mustafa Ismail
LEBARAN 1
—- elegi kampung halaman

takbir itu meningatkanku pada lilin-lilin aneka warna
di sepanjang pagar halaman rumah
berbaris seperti membentangkan sejarah panjang
lalu iring-iringan orang lewat, sebuah karnaval,
mengkumandangkan bait-bait kemenangan

ibu bersiap di dalam: tepung beras, daun pisang muda,
juga kukusan. Di dapur, tungku menyala
besok lebaran, besok lebaran. Adik selalu girang
memandang timphan-timphan yang sudah matang
tadi siang, kami sudah pula menikmati daging makmeugang

malam bergulir seperti perlahan, banyak orang
menanti-nanti dan mata seperti tak hendak terpejam
sudah ada sejumlah rencana: batee iliek, krueng kumala,
atau ke sigli: mencatat keramaian demi keramaian
sekali setahun, setelah itu kembali ke arloji nan sibuk

tak ada yang bernama kerikil, apalagi tetesan darah
yang membuat kami cemas pergi jauh dan ingin cepat-cepat
pulang. Tak ada suara letusan, tak ada orang menangis
karena sang ayah tak pulang, juga tak ada kematian tanpa kubur
Tuhan selalu datang hati-hati: Maha Besar

tapi takbir kini membikinku makin jauh
dari lilin-lilin aneka warna di pagar halaman. Juga dari rumah
yang ditinggal pergi, setelah langit menjadi gelap dan
orang-orang menangisi nasib
menanti hujan yang pernah lagi turun

Depok, malam lebaran, 13 Nopember 2004

LEBARAN 2
—– ficer kota besar

angin dan hawa hujan seperti tak henti memukul-mukul
tubuh bayi itu. Di malam yang makin beringsut, ia menemukan
dunianya: mimpi tentang daun-daun dan tempat bermain

entah sudah malam keberapa ia bermimpi tentang daun-daun
dan tempat bermain, sejak ayah-ibunya ramai-ramai pindah
ke tepi jalan itu, yang padat dan berderang

ada yang selalu mereka tunggu: Tuhan datang membawa parcel,
sepatu dan baju baru. Tapi mobil-mobil yang lewat, juga rumah-rumah
yang berdiri tegak di sekelilingnya, seperti matahari tak bersinar

mereka adalah batu-batu yang berlalu ditelan malam

Depok, malam lebaran, 13 Nopember 2004

LEBARAN 3
—– nyanyian seorang perantau

aku mencari-cari kampungku yang tenggelam
setelah laut pasang dan mengirim orang-orang
ke negeri asing: sebuah gua di balik bukit dengan fosil-fosil
orang mati dan daun-daun berguguran

aku mencari-cari rumah yang menyimpan masa kecil
sekedar untuk rebahan, setelah lama tak pulang,
sambil membetulkan atap yang bocor, cat mengelupas
juga mencabut rumput-rumput di halaman

aku mencari-cari perempuan yang dulu kerap datang
dalam sekian banyak mimpi, untuk sekedar berbagi
sambil mengutip rencana-rencana yang tak sampai
dan menghapus noktaf-noktaf kecil di keningnya

aku mencari-cari laut setenang kolam
mengirim hawa biru ke dalam tubuhku yang kelelahan
laut yang selalu bikin aku ingin pulang
untuk berenang sambil bermain kecipak air seharian

aku mencarimu: tetap saja lelaki-lelaki asing itu
yang kutemukan. Seperti sebuah karnaval,
mereka merayakan kematian demi kematian
aku pun menunda pulang

Depok, malam lebaran, 13 Nopember 2004

Entry Filed under: Catatan Ringan, Puisi. .

1 Comment Add your own

  • 1. falah  |  08/10/2008 at 1:45 pm

    SELAMAT HARI RAYA IDHUL FITRI 1429H MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


INFO BUKU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Ditulis oleh novelis yang karyanya (Sintren) masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo dan di toko-toko buku online.

TERBANYAK DIBACA

Kategori

jaringanblogsastra-ok
Blog Penyair Aceh J Kamal Farza

KOMENTAR TERBARU

JUMLAH PENGUNJUNG

GUDANG TULISAN

Google Ranking Blog Ini

Search Engine Optimization

MEDIA

DIANING WIDYA YUDHISTIRA

PEMANGKU BLOG