………..jalansetapak journal

Puisi Kemerdekaan

Dua hari lalu, sebuah pesan singkat (SMS) masuk ke ponsel saya. Pengirimnya Kurnia Effendi. Isinya, saya kutip seperti aslinya: “Teman2, Sabtu tgl 16 Agst mulai jam 19, Pst Kesenian Jkt menyediakan panggung rakyat di Plaza TIM. Mari bc puisi n prosa patriotik dlm rngka HUT RI. Daftarkn segra ke saya (kurnia effendi) sampai 15/8 siang utk susunan acr. Trims. Salam”.

Saya terdiam sejenak. Saya ingin sekali ikut meramaikan sekaligus menikmati acara itu, namun pada tanggal disebutkan itu saya berada di luar Jakarta (di luar pulau Jawa) untuk sebuah urusan. Saya lalu membalas SMS itu, sambil minta maaf tidak bisa hadir. Belakangan, memang banyak kegiatan sastra yang tidak bisa saya hadiri, ya itu tadi karena berbenturan dengan kegiatan-kegiatan saya yang lain.

Saya lalu ingat juga sebuah acara lain yang diadakan oleh Komunitas Sastra Indonesia pimpinan Ahmadun Yosi Herfanda, pada 16 Agustus di RRI Pusat, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB itu, selain baca puisi oleh sejumlah penyair juga ada dialog interakif (yang biasanya disiarkan langsung oleh RRI). Acara itu, kabarnya, akan dihadiri oleh sejumlah menteri. Momentumnya sama: peringatan hari kemerdekaan.

Tapi saya belum sempat mengirimkan SMS ke Ahmadun untuk minta maaf karena tidak bisa menghadiri acara tersebut di RRI. Kini, saya hanya bisa bilang: selamat berpuisi. MUS

Filed under: Agenda Budaya

2 Responses

  1. debrajoem mengatakan:

    wah sekarang jadi tambah satu lagi orang yg ketinggalan berita dan gak bisa berpartisipsi dalam kegiatan tsb, telat tahu, he he, soalnya infonya baru baca di web log pak Mus sekarang.

    Saleum
    dedy

  2. gopal mengatakan:

    kalo orang indonesia yang membuka situs ini jangan bahasa inggris donkkk…… plizzz………………….!

Leave a Reply

http://novelweton.co.cc
Mempertanyakan Weton

Judul Buku: Weton (Bukan Salah Hari)

Penulis: Dianing Widya Yudhistira

Penerbit: Grasindo, 2009

Dalam masyarakat Jawa, weton adalah sesuatu yang berkaitan dengan hari lahir. Setiap nama hari (Senin-Minggu) dalam kalender Jawa memiliki pasangannya, yakni Wage, Pon, Legi, Kliwon, dan Pahing. Dalam sejumlah peristiwa sosial, weton memegang peranan penting. Misalnya soal perkawinan. Jika seseorang menikah dengan pasangan yang hari lahirnya secara weton tidak bagus, dipercaya ia akan menemui banyak masalah dalam keluarga nanti.

Novel terbaru karya Dianing Widya Yudhistira ini dengan baik mengangkat persoalan itu. Ada tokoh-tokoh yang menikah dengan weton yang tidak cocok, yang kemudian berakibat buruk. Tapi tidak semua orang percaya pada weton. Novel ini menyajikan pertentangan itu: antara yang percaya dan yang tidak. Dan bagi yang tidak percaya, tentu, ada konsekuensinya. Apa itu? Inilah yang dijawab satu per satu dalam novel ini.

Ini novel keempat Dianing, yang juga dikenal sebagai penyair dan penulis cerpen. Novel pertamanya, Sintren (Grasindo, 2007), juga mengangkat persoalan lokal di Jawa, yakni tari Sintren, dan masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2007. Novel lainnya, Perempuan Mencari Tuhan (Republika, 2007) dan Nawang (Republika, 2009). l DODY

Sumber: Koran Tempo, 18 Oktober 2009

-----------
Buku ini sudah bisa diperoleh di toko-toko buku Gramedia dan toko buku lain, juga di toko buku online seperti http://www.bukabuku.com, http://www.dinamikaebooks.com, http://bukukita.com, dan lain-lain. Bisa pula langsung ke penerbit Grasindo di http://www.grasindo.co.id. Untuk mengetahui lebih jauh tentang novel ini atau proses kreatif penulisannya silakan mengunjungi web http://novelweton.co.cc
rumahmadina.com

perdanakeren.co.cc