Novel: Perempuan Mencari Tuhan

Agustus 4th, 2008 § 9 Komentar

BAGIAN I

KAMAR rumah sakit memucat. Aroma kematian menyengat. Clara, perempuan belia tengah meregang nyawa dengan manis. Leukemia yang sejak kanak-kanak mengakrabi tubuhnya telah akut. Mendesak-desak urat nadinya, menyumbat nafasnya, menekan aliran darahnya teramat kuat. Tak seorangpun mampu menakar rasa sakit Clara.
Laksma, kakaknya, nafasnya tertahan. Tigabelas lilin warna ungu yang ia siapkan untuk Clara tergeletak ngungun di meja. Laksma tak mungkin, bahkan tak akan pernah bisa menyalakan lilin-lilin ungu itu. Kalau pun ia menyalakan lilin-lilin ungu itu, Clara tak akan mampu meniup. Lilin-lilin ungu itu meleleh menghancurkan tubuhnya sendiri, bila Laksma memaksa diri menyalakannya.

Ah, mestinya hari ini Clara tengah meniup tigabelas titik api dari lilin ulang tahunnya. Mestinya Clara mengenakan baju ulangtahun yang berenda-renda menjuntai hingga ke mata kaki. Baju yang ibu siapkan jauh-jauh hari. Mestinya sekarang ini Clara dikelilingi orang-orang yang mencintainya. Menyanyikan lagu ulang tahun dengan suka cita. Ada peluk dan cium dari mereka yang hadir dalam acara ulangtahun yang telah ibu siapkan jauh-jauh jari.
Laksma tertahan nafasnya. Tuhan berkehendak lain. Di hari lahirnya, Clara bukan dalam gebyar ulangtahun, Clara terkulai di kamar rumah sakit yang pucat. Tubuhnya dingin, wajahnya yang pucat, menyatu dengan warna seprei, bantal dan dinding yang putih. Laksma seperti menghadapi sesosok tubuh yang telah lama membeku.
Laksma kali ini merasa nafasnya tersengal-sengal. Clara semakin memucat di ranjang putih itu. Laksma tak sampai hati memandangi adiknya. Bertahun-tahun sudah Clara melawan sakit yang tak kunjung sembuh. Atau mungkin tak akan pernah tersembuhkan. Kadang jauh dalam benak Laksma, di ketinggian malam yang sempurna Laksma meminta agar Tuhan segera memanggil Clara.
“Kalau memang ia tak akan sembuh, Tuhan. Ambillah nyawanya.”
Tak jarang, Laksma merasa ia paling jahat di dunia, karena berharap adiknya meninggal. Di lain sisi Laksma tak kuasa melihat Clara terus-menerus dihantui rasa sakit. Laksma sendiri tidak yakin kalau Clara akan bahagia bila tetap terus hidup. Sedari kecil kesehatan Clara memang bermasalah. Tak pernah dalam satu bulan ia betul-betul sehat, selalu saja Clara sakit. Karena kondisi itu pulalah, orangtua mereka memutuskan untuk memanggil guru ke rumah, khusus memberi pelajaran pada Clara.
Aroma kematian kian mengental. Clara membuka mata pelan-pelan. Lirih dan lemah Clara bertanya sosok siapa yang berdiri di pintu. Laksma ternganga. Tak ada siapa pun di pintu.
“Itu, yang di sana. Wajahnya putih, rambutnya putih, giginya putih, matanya putih…”
“Clara.”
Laksma meraih tangan Clara. Menggenggamnya penuh kasih. Clara masih terus berujar tentang sosok yang dilihatnya di pintu.
“Gaunnya putih memanjang, kedua sayapnya indah Kak. Siapa dia.”
“Gaun putih? Bersayap? Ya Tuhan.”
Laksma merasakan desir darahnya. Mungkinkah yang dilihat Clara adalah malaikat? Malaikat Tuhan yang datang hendak menjemput Clara dengan kesaktiannya.
“Siapa dia, kak”
Laksma membimbing Clara dengan membisikkan kalam-kalam Tuhan. Ia bisikkan juga dua kalimat pengakuan di telinga Clara.
“Sosok itu, Kak. Sosok itu mendekat ke arahku.”
Clara membeku wajahnya kian pucat.
“Ikuti kakak.”
Tapi Clara hanya bisa berteriak-teriak lirih ketakutan. Nafasnya tersengal-sengal. Wajahnya semakin pucat.
“Sosok itu, Kak.”
Laksma tak peduli, ia terus mengaji di telinga Clara. Tetapi Clara masih saja berteriak-teriak ketakutan. Teriakkannya makin lama makin kencang, hingga menggelegar. Laksma panik. Ia tak bisa melakukan apa pun selain terus mengaji.
“Clara ikuti Kakak.”
Susah payah Laksma mengendalikan Clara. Hingga akhirnya nama Tuhan tereja di bibir Clara dengan terbata-bata. Sangat jelas bayang-bayang kematian Clara di mata Laksma. Wajah Clara begitu sunyi. Hening. Senyap.
Bila beberapa saat lalu Clara berteriak-teriak ketakutan, menjelang detik-detik terakhir ia tampak tenang. Kepasrahan, ketulusan, keikhlasan merona di wajahnya.
“Kakak, bila kematian ini dapat aku terjemahkan, pasti akan aku terjemahkan untukmu,” ucap Clara dengan nafas di ujung hidung.
“Sampaikan salam pada Zahra, kelak aku akan hadir dekat padanya. Sangat dekat.”
Laksma mengangguk-angguk. Zahra, sibungsu diantara mereka. Sesungguhnya Laksma sangat membenci adik bungsunya itu. Tetapi mengapa Clara menyampaikan salam buat adik yang malas menemani Clara.
“Dia terlalu kecil untuk menemani calon mayat,” ujar Clara lagi.
Laksma mengangguk-angguk lagi.
“Sampaikan peluk ciumku padanya, Kak.”
“Ya.”
“Janji?”
“Janji,” jawab Laksma.
“Bila Kakak mengingkari aku akan menghantui Kakak.”
Laksma tercengang. Bulu kuduknya berdiri. Clara mengancamnya. Mengancam akan menghantuinya.
“Hantu?”
Clara tersenyum.
“Jangan khawatir kelak kalau aku mati, hantuku sangat cantik.”
Ringan sekali Clara mengucapkannya. Seperti membicarakan hal yang sangat menyenangkan.
“Kamu masih muda.”
“Kematian tak mengenal usia.”
Laksma menunduk. Benar. Kematian tak pernah mempertanyakan berapa usia seseorang. Tetapi apakah Clara akan mati dalam usia relatif muda? Meski jauh di hati Laksma berharap penderitaan Clara segera berakhir.

…….

silakan lanjutkan membacanya di buku:
Judul novel : Perempuan Mencari Tuhan
Pengarang : Dianing Widya Yudhistira
Penerbit : Penerbit Republika, 2007
Tebal : 284 halaman

§ 9 Responses to Novel: Perempuan Mencari Tuhan

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Novel: Perempuan Mencari Tuhan at .

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.