Tamasya Bersama Puisi Sapardi

31/07/2008 § 5 Komentar

Sapardi Joko Damono-poster baca puisi Sapardi Djoko Damono adalah penyair terdepan yang mengusung lirisme. Puisi-puisinya ‘menghanyutkan’ sejumlah penyair muda sehingga ikut terbawa oleh arus puisinya. Memang, dalam arus lirisme, sajak-sajak penyair kelahiran Surakarta pada 20 Maret 1940 adalah gelombang besar. Ia bisa ‘menghanyutkan’ siapa saja. Dalam kesempatan ini, saya ingin menyuguhkan sejumlah puisi Sapardi yang terkumpul dalam kumpulan sajak “Perahu Kertas” (1982).

Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono

HATIKU SELEMBAR DAUN

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

GONGGONG ANJING
untuk Rizki

gonggong anjing itu mula-mula lengket di lumpur
lalu merayapi pohon cemara dan tergelincir terbanting di atas rumah
menyusup lewat celah-celah genting
bergema dalam kamar demi kamar
tersuling lewat mimpi seorang anak lelaki
siapa itu yang bernyanyi bagai bidadari?” tanya sunyi

DUA PERISTIWA DALAM SATU SAJAK DUA BAGIAN

1
sehabis langkah-langkah kaki: hening
siapa?
barangkali si pesuruh yang tersesat dan gagal menemukan tempat- tinggalmu padahal sejak

semula sudah diikutinya jejakmu
padahal harus lekas-lekas disampaikannya pesan itu padamu

2
seolah-olah kau harus segera mengucapkan sederet kata
yang pernah kaukenal artinya,
yang membuatmu terkenang akan batang randu alas tua
yang suka menjeritjerit kalau sarat berbunga

BUNGA, 1

(i)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padangwaktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca berdenyut ketikanampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas

padang itu;
malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, “Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput,

pilihan dewata!”

(ii)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-selageraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya menyadari
bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau
sisa bangm dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar
dan setelah api ….
Teriaknya, “Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia! Aku ini si bunga
rumput: pilihan dewata!”

BUNGA, 2

mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik
taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata
jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya — tak ada
alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin
menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu
kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya
selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan menjelma
pendar-pendar di permukaan kolam

BUNGA, 3

seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah berwarna coklat ketika tercium udara

subuh dan terdengar ketukan di pintu
tak ada sahutan
seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya mengeras di empat penjuru dan menjelma

kristal-kristal di udara ketika terdengar ada yang memaksa membuka pintu
lalu terdengar seperti gema “hai, siapa gerangan yang telah membawa pergi jasadku?”

PERTAPA

Jangan mengganggu:
aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah gua, atau sebutir telur, atau. sepatah kata –
ah, apa ada bedanya. Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar, sudah merupakan
benih, sudah mencapai makna — masih beranikah kau menyapaku, Saudara?

DI SEBUAH HALTE BIS

Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkanmu di sana.
Kau memang tak pernah berumah, dan hujan tua itu kedengaran terengah batuk-batuk dan
tampak putih.
Pagi harinya anak-anak sekolah yang menunggu di halte bis itu melihat bekas-bekas darah
dan mencium bau busuk. Bis tak kunjung datang. Anak-anak tak pernah bisa sabar
menunggu. Mereka menjadi kesal dan, bagai para pemabok, berjalan sempoyongan sambil
melempar-lemparkan buku dan menjerit-jerit menyebut-nyebut namamu.

DI ATAS BATU

ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana ke mari
ia pandang sekeliling : matahari yang hilang – timbul di sela goyang daun-daunan, jalan

setapak yang mendaki tebing kali, beberapa ekor capung
– ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini

CERMIN, 1

cermin tak pernah berteriak;
ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?

CERMIN, 2

mendadak kau mengabut dalam kamar, mencari dalam cermin;
tapi cermin buram kalau kau entah di mana, kalau kau mengembun dan menempel di kaca,

kalau kau mendadak menetes dan tepercik ke mana-mana;
dan cermin menangkapmu sia-sia

ANGIN, 1

angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke sudut dunia ini pernah pada
suatu hari berhenti ketika mendengar suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk
pertama kali, “hei siapa ini yang mendadak di depanku?”

angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita untuk pertama kali, sejak
itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi
– sampai pagi tadi:
ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di tengah bising-bising ini
tanpa Hawa

ANGIN, 2

Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.

ANGIN, 3

“Seandainya aku bukan ……
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,
menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.

“Seandainya aku . . . ., .”
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang perselisihan antara

cahaya matahari dan warna-warna bunga.

“Seandainya ……
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.

CARA MEMBUNUH BURUNG

bagaimanakah cara membunuh burung yang suka berkukuk bersama teng-teng jam dinding
yang tergantung sejak kita belum dilahirkan itu?
soalnya ia bukan seperti burung-burung yang suka berkicau setiap pagi meloncat dari

cahaya ke cahaya di sela-sela ranting pohon jambu (ah dunia di antara bingkai jendela!)
soalnya ia suka mengusikku tengah malam, padahal aku sering ingin sendirian
soalnya ia baka

DI TANGAN ANAK-ANAK

Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk pada gelombang,
menjelma burung . yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan; di mulut
anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.
“Tuan, jangan kauganggu permainanku ini.”

AKULAH SI TELAGA

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
– perahumu biar aku yang menjaganya

AIR SELOKAN

“Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit,” katamu pada suatu hari minggu pagi.
Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
– ia hampir muntah karena bau sengit itu.

Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir:
campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di
kamar mati.

Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba
berdiri dan menuding sesuatu:
“Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu — alangkah indahnya!”
Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air
yang anyir baunya itu, sayang sekali.

Sumber:

http://www.geocities.com/paris/parc/2713/sdd.html

——

Tentang Sapardi Djoko Damono
Sumber: Wikipedia

http://id.wikipedia.org/wiki/Sapardi_Djoko_Damono

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir 20 Maret 1940 di Surakarta) adalah seorang
pujangga Indonesia terkemuka. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang menggunakan
kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer. Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah.

Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah “Horison”, “Basis”, dan “Kalam”.

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.

Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet “Dua Ibu”). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.

Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.
Kumpulan Puisi/Prosa
“Duka-Mu Abadi”, Bandung (1969)
“Lelaki Tua dan Laut” (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
“Mata Pisau” (1974)
“Sepilihan Sajak George Seferis” (1975; terjemahan karya George Seferis)
“Puisi Klasik Cina” (1976; terjemahan)
“Lirik Klasik Parsi” (1977; terjemahan)
“Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak” (1982, Pustaka Jaya)
“Perahu Kertas” (1983)
“Sihir Hujan” (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
“Water Color Poems” (1986; translated by J.H. McGlynn)
“Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono” (1988; translated by J.H.

McGlynn)
“Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
“Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia” (1991; antologi sajak

Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
“Hujan Bulan Juni” (1994)
“Black Magic Rain” (translated by Harry G Aveling)
“Arloji” (1998)
“Ayat-ayat Api” (2000)
“Pengarang Telah Mati” (2001; kumpulan cerpen)
“Mata Jendela” (2002)
“Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?” (2002)
“Membunuh Orang Gila” (2003; kumpulan cerpen)
“Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an – 1910an)”

(2005; salah seorang penyusun)
“Mantra Orang Jawa” (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)

Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di

dalamnya.

Album “Hujan Bulan Juni” (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu.
Album “Hujan Dalam Komposisi” (1996) dari duet Reda dan Ari.
Album “Gadis Kecil” dari duet Dua Ibu
Album “Becoming Dew” (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu
satu lagu dari “Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti”, berjudul Aku Ingin, diambil dari

sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya

Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.
Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata “Ars Amatoria”

yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.

Buku
“Sastra Lisan Indonesia” (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim

Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
“Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan”
“Dimensi Mistik dalam Islam” (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel “Mystical

Dimension of Islam”, salah seorang penulis.
Pustaka Firdaus

“Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia” (2004), salah seorang penulis.
“Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas” (1978).
“Politik ideologi dan sastra hibrida” (1999).
“Pegangan Penelitian Sastra Bandingan” (2005).
“Babad Tanah Jawi” (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa Jawa karya Yasadipura, Balai Pustaka 1939).

§ 5 Responses to Tamasya Bersama Puisi Sapardi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Apa ini?

Saat ini Anda membaca Tamasya Bersama Puisi Sapardi pada .

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: