Jaringan Blog Sastra

Juli 23rd, 2008 § 10 Komentar

Jaringan Blog Sastra, antara lain, memuat alamat blog pelaku, pembaca dan pengamat sastra.

Sebentar, saya tarik nafas dulu. Maklum, baru bangun tidur. Tidak “baru amat” sih. Tadi saya sempat melengok blog seorang teman yang wartawan sebuah media cetak, juga ketua RT di lingkungan saya, Agustaman. Bukan blog sastra, tapi kiat usaha rumahan. Maka itu, saya tidak akan membahas di sini

Sabar ya, saya menghirup teh dulu. Hmm, menyegarkan. Maknyus, kata Bondan Winarno. Sudah pukul delapan pagi. Teh tidak lagi panas. Hanya sedikit hangat. Tidak soal. Itulah risikonya bangun kesiangan. Bangun dengan tubuh lelah. Lemas. Saya seperti baru kerja berat. Bekerja dalam mimpi. Saya sempat ketemu penyair Tulus Wijanarko di sana.

Saat itu, belum terlalu siang, saya berada di sebuah areal pegunungan. Entah di mana. Sepertinya di sebuah kota di Sumatera. Bukan di Aceh. Tampaknya ntara Lampung dan Jambi. Di sana, sedang ada peresmian sebuah proyek. Saya kesasar ke situ. Saya sedang pulang ke Aceh mengendarai kendaraan yang sehari-hari saya pakai. Sendiri. Tidak terlalu jelas, saya dari mana. Tampaknya dari arah Jakarta.

Tiba di sana, jalan seperti terputus. Ada jalan yang bisa dilalui menuju pulang (ke Aceh, pasti), tapi berlumpur. Jalan itu seperti baru dibuka, baru dibentuk dan dikeruk dengan alat berat. Tanah gunung yang telanjang kemerah-merahan, lalu disiram hujan, Anda pasti bisa membayangkan seperti apa. Sebetulnya, di sekitar itu ada tol, tapi tak jelas di mana pintu masuknya. Pejabat-pejabat yang meresmikan proyek itu datang melalui tol.

Prosesi peresmian proyek itu pun cukup lama dan melelahkan. Hingga di sini, saya juga belum mengerti betul proyek apa. Anehnya, saya pun tidak berusaha untuk mencari tahu proyek apa. Saya hanya sibuk dengan diri saya sendiri, sedang mencari jalan untuk pulang. Kendaraan saya parkir di sebalik sebuah pintu keluar. Pagarnya dari beton dan tinggi. Saya tidak bisa mengawasi kendaraan dari dalam kompleks — ya semacam komplek perkebunan.

Acara itu selesai sore. Tapi saya tidak menemukan matahari yang condong ke barat. Kini muncul persoalan baru: barang-barang saya tidak ketahuan di mana. Saya mencari-cari. Lebih parahnya lagi, kunci kendaraan saya pun raib. Saya mencari dua hal sekaligus: ransel pakaian sekaligus kunci kendaraan. Saya muter-muter nggak karuan, sambil memutar otak: di mana barang-barang itu saya letakkan.

Lelah mencari, saya menghampiri kendaraan. Jangan-jangan, kunci tertancap di sana. Sebab, pernah pula kejadian seperti itu: sibuk mencari, ee kunci kontak ada di sana. Saya berjalan ke mulut gerbang dan menghilang di luar tembok tinggi itu. Saya membuka pintu kendaraan, dan ternyata bisa dibuka. Dan benar, kunci tertancap di sana. Saya mencoba menghidupkan. Ya hidup.

Yang mengagetkan, tentulah pemandangan ini: dasboardnya sudah tidak ada, pemutar cakram padat sudah raib, dan setirnya berganti dengan stir mirip mobil-mobilan bayi. Bedanya, jika mobil-mobilan bayi — yang untuk berjalan kedua pedalnya diinjak-injak — stirnya terbuat dari plastik, stir kendaraan saya terbuat dari besi, agak kehitaman, dan tidak dicat. Kabin kendaraan juga tak karuan.

Celaka. Kendaraan saya ditelanjangi. Bagaimana bisa pulang? Kendaraan memang masih jalan. Stir, meskipun mirip stir mobil-mobilan bayi, tetap bisa dipergunakan untuk membelok ke kiri maupun kanan. Secara teknis, kendaraan masih berfungsi. Pikiran saya terpecah: terpikir kendaraan dan pulang. Di sebuah sudut di dalam kompleks perkebunan itu, saya melihat penyair Tulus Wijanarko sedang mengobrol dengan seorang temannya.

Saya pun menceritakan perihal itu. “Lapor ke panitia saja Mus,” begitu kira-kira katanya. Saya mencari-cari panitia, tak jelas yang mana. Orang-orang seperti tidak perduli. Mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Para pejabat dan tokoh yang terlibat dalam prosesi acara itu satu persatu pulang. Tinggal saya yang masih kebingungan…..

Barusan, ketika bangun pagi, saya punya pikiran aneh: jangan-jangan ada sesuatu yang hilang dari dalam kendaraan saya. Tapi pikiran sehat saya sempat menentang: Ah, masa sih. Ya, siapa tahu benar. Misalnya, pemutar cakram padat, yang biasa saya gunakan untuk mendengar musik, sudah raib. Siapa tahu aku lupa mengunci pintu kendaraan sepulang kantor tadi malam. Akhirnya, diam-diam, saya pun melongok ke dalam kendaraan lewat kaca jendela. Syukurlah, semua masih utuh.

Saya lalu berbalik. Duduk di depan komputer jinjing di ruang keluarga yang merangkap ruang tamu. Membuka blog. Lalu terpikir untuk menulis tentang Jaringan Blog Sastra. Tapi, sebelumnya istri saya berkata: “Tadi pagi, aku ketemu Pak Agus di jalan. Dia minta aku melihat blognya.” Ya, kataku. Kemarin ia juga mengatakan hal yang sama padaku. Aku lupa melihatnya.

Tapi, seperti saya katakan di atas, blognya bukan “bergenre” sastra. Maka, tidak akan kita bahas di sini. Saya hanya ingin fokus pada blog sastra, yang kemudian memunculkan ide di kepala saya untuk menjalin sebuah jejaring bernama Jaringan Blog Sastra. Idenya berawal dari begitu banyak daftar blog teman-teman penggiat sastra di blogroll saya. Panjangnya sampai melebihi panjang halaman depan blog.

“Kenapa blog-blog sastra itu tidak dikumpulin aja jadi satu dalam blog lain,” pikirku. Sehingga yang ditampilkan di blogroll adalah link Jaringan Blog Sastra, bukan semua daftar blog. Kalau pengunjung mau mencari blog sastra tertentu, tinggal masuk ke Jaringan Blog Sastra. Saya pun segera mewujudkan ide itu. Saya memindahkan semua daftar link di blogroll saya ke blog baru itu. Setelah selesai, saya mulai mencari blog-blog sastra lainnya dan memasukkan ke sana.

Pekerjaan itu belum selesai, dan tidak akan pernah selesai tentu. Baru segelintir blog sastra yang sudah saya masukkan. Pekerjaan itu kerap tertunda, disalip oleh pekerjaan-pekerjaan lain, baik pekerjaan kantor, menulis, juga pekerjaan-pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan kantor. Tapi, sedapat mungkin, saya terus berusaha untuk menambah isi/link blog-blog sastra di jaringan itu. Saya ingin mewujudkan sebuah jaringan yang memudahkan pembaca/penikmat, pemerhati, maupun para pelaku sastra itu sendiri untuk ajang silaturahmi.

Dan saya berharap, teman-teman yang blognya belum tercantum di sana, silakan mengirim email ke: suratmus@gmail.com. Isinya: nama blog, alamat, beserta penjelasan singkat (satu alinea saja) tentang blog itu. Sebab, sangat mungkin tidak semua blog sempat terpantau oleh saya. DEPOK, 23 JULI 2008. MUS

§ 10 Responses to Jaringan Blog Sastra

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jaringan Blog Sastra at .

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.