………..jalansetapak journal

Dari Ulee Kareng ke Puisi Lirik

Senin malam lalu, 14 Juli 2008, menumpang mobil penyair AA Manggeng Putra, kami (saya, Ahmadun Yosi Herfanda, dan wartawan senior Nasrun Marzuki) bergerak ke Episentrum Ulee Kareng, sekitar tujuh kilometer dari pusat kota Banda Aceh. Ini adalah sebuah komunitas kebudayaan yang dikelola oleh cerpenis Azhari dan kawan-kawan. Di sana berkantor Komunitas Tikar Pandan dan anak-anak lembaga itu seperti Aneuk Meulieng Publishing dan Sekolah Menulis Do Karim.

Azhari hanya sendiri malam itu di sana. Ketika sedang ngobrol, aku melihat selembar halaman budaya harian Jurnal Nasional di salah satu tempat. Aku meraih. Aku menduga, di koran itu ada wawancara Azhari. Sebab, beberapa waktu lalu, seorang redaktur koran itu menghubungi saya dan meminta nomor telepon Azhari. Rupanya bukan. Tapi isi halaman budaya itu sungguh menarik: membahas tentang arus puisi lirik.

Membaca sedikit, saya langsung tertarik. Saya minta izin Azhari untuk meminjam komputer jinjingnya yang nyala dan layarnya memperlihat barisan huruf-huruf. Aku ingin membuka koran itu versi online tulisan itu dan hendak memasukkannya ke blog ini. Baru sebentar membuka blog dan koran itu, salah seorang di antara kami menukas: “Ayo, biar tidak kemalaman.” Aku pun buru-buru log off dari blog dan meninggalkan komputer itu. Kami beranjak ke Ulee Kareng.

Memang, tujuan kami mau ngopi di Solong, Ulee Kareng, salah satu tempat ngopi paling terkenal di Banda Aceh. Kami berangkat dari Hotel Kuala Raja di Jalan Teuku Nyak Arief, persis di depan Rumah Sakit Zainal Abidin, sekitar pukul 21.00 WIB. Itu selepas saya dan Ahmadun menyelesaikan tugas malam itu: membimbing para santri menulis buku dengan pendekatan sastra. Ini sebuah acara yang diadakan oleh Lapena, sebuah lembaga kebudayaan di Aceh, bekerja sama dengan BRR Aceh-Nias.

Di tengah jalan, saya menelpon Azhari dan mengajaknya ikut ngopi. Dia menyambut. “Tolong bilang ke AA untuk jemput aku di Tikar Pandan,” katanya. AA setuju. Kami pun meluncur ke sana: sebuah rumah besar dan berlantai dua dengan halaman luas dan biasa digunakan untuk pertunjukan seni dan pemutaran film oleh komunitas itu. Tapi, malam itu, ia hanya sendiri. “Reza pulang, sedang kurang sehat,” kata Azhari. Reza dimaksud adalah Reza Indria, penyair muda usia yang karya cukup menjanjikan. ***

Inilah isi halaman budaya Jurnal Nasional yang saya maksud:

Dari Romantisme ke Lirikisme
by : Sjifa Amori
Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 11 Mei 2008

Mendedahkan langsung perasaan dan pemikiran sang penyair, lirikisme menjadi genre puisi yang paling digemari.
Pada sebuah wawancara dengan penyair Tan Lio Ie tentang musikalisasi puisi, ia memberikan pernyataan yang, buat saya, mengesankan. Bahwa, musikalisasi bukanlah bentuk pembacaan puisi dengan iringan ilustrasi atau latar musik. Yang seperti itu, sama saja memberi pengertian bahwa puisi itu tidak musikal sehingga harus dimusikalisasi. Puisi yang bagus, kata Tan, semestinya sudah musikal.

Jadi selain puisi itu mengandung unsur visual, seperti yang dinyatakan kurator Agus Dermawan T, “Su Shi (1036-1101), sastrawan dan pelukis zaman dinasti Song, ketika membicarakan lukisan dan syair Wang Wei memformulasikan gejala lukisan China dengan mengatakan lukisan adalah syair dalam gambaran, dan syair adalah lukisan dalam perkataan.” Rupanya puisi juga memuat melodi.

Dalam situs www.bisnet.or.id mengenai pengertian puisi. Masalah bunyi juga disinggung. Puisi dikatakan sebagai karya sastra yang memiliki struktur yang sangat kompleks yang terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma di bawahnya. Seperti dijelaskan kritikus dan pengamat sastra Rene Wellek, lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum). Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar adalah serangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Ini kemudian mendasari timbulnya lapis kedua, yaitu lapis arti (units of meaning), karena bunyi-bunyi yang ada pada puisi bukanlah bunyi tanpa arti. Bunyi-bunyi itu disusun sedemikian rupa menjadi satuan kata, frase, kalimat, dan bait yang menimbulkan makna yang dapat dipahami oleh pembaca.

Pembahasan lapis bunyi hanyalah ditujukan pada bunyi-bunyi yang bersifat “istimewa” atau khusus, yaitu bunyi-bunyi yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni. Misalnya rima yang berupa asonansi dan aliterasi yang berfungsi sebagai lambang rasa (klanksymboliek) sehingga menambah keindahan puisi dan memberi nilai rasa tertentu.

Melodius

Permasalahan puisi melodius ini, utamanya, terdapat pada puisi lirik. Seperti juga yang diungkapkan Kris Budiman saat dihubungi Jurnal Nasional, Selasa (6/5). “Pentingnya irama dan nada dalam puisi lirik berangkat dari awal sejarahnya. Nabi Daud, itu bernyanyi diiringi alat musil lyre. Dari situlah kata lirik diambil. Karena dia dinyanyikan.” Menurut pengamat sastra ini, ketika puisi otonom, lepas dari musik, unsur melodius itu tetap survive. Sekarang yang dielaborasi adalah melodi dan kekayaan bunyi dari bahasa.

Pertunjukan drama panggung di zaman Yunani kuno, misalnya, seperti dimuat dalam situs poetry.suite101.com, biasa menggunakan chorus. Yaitu sekelompok pembicara yang memulai adegan drama. Dan ketika ada salah satu individu mulai bernyanyi diiringi alat musik lyre, maka kata-kata yang ia suarakan disebut lirik. Kini, petunjuk dari sebuah puisi lirik, tak lagi hanya pada nilai bunyi sebuah kata, tapi lebih pada isinya yang mencakup emosi pribadi dan individual.

“Bunyi, rima dan irama, itu adalah ciri sekunder dari puisi lirik. Yang lebih penting untuk menandai genre puisi lirik adalah pada dimensi pragmatiknya. Maksudnya, situasi yang terbangun di dalam teks ada penutur. Ada pembicara dan ada pendengar di dalam teks, bukan di luar teks, lho. Pembicara adalah “aku”, si pendengar adalah “engkau”. Hubungan dialogis antara “aku” dengan “engkau” itu yang terutama menandai genre puisi lirik. Dia lebih cenderung egosentris dalam modus komunikasi internalnya. Karena antara “aku” dan “engkau”, “aku”lah yang jadi orang pertama. “Engkau” hanya orang kedua yang mendengarkan. Tapi kalau tema, sih, bisa apa saja,” ujar Kris yang tulisan-tulisannya, terutama mengenai sastra, gender, dan media, dipublikasikan di beberapa surat kabar, majalah, jurnal, dan buku bunga rampai.

Jika dilihat dari perjalanan sejarah perpuisian di Indonesia, dan bahkan di dunia, puisi lirik adalah bentuk puisi yang paling biasa ditemui. Dan yang selama ini juga paling banyak disukai. Makanya penyair-penyair puisi liriklah yang selama ini berpeluang besar dapat pengakuan. Pada puisi lirik, tiada penceritaan seperti yang ditawarkan epik dan naratif. Meski begitu, sejak perkembangannya dari Yunani kuno hingga saat ini, sudah banyak karya dengan ragam bentuk puisi lirik. Namun tidak begitu halnya yang terjadi pada perpuisian di Indonesia.

“Problemnya di Indonesia adalah puisi lirik ini kemudian berkembang menjadi lirisisme. Jadi ada isme-nya. Sebenarnya puisi lirik tak jadi soal, tapi lirisisme puisi Indonesia terjerat dalam kemandekan. Dalam aku lirik yang menderita, terlunta-lunta, tidak bahagia. Dan sebagainya. Sulitlah menemukan puisi Indonesia yang tidak sedih dan romantis di Indonesia,” kata penyair Binhad Nurrohmat pada Jurnal Nasional.

Puisi modern dunia

Namun menurut Kris, ini tak terjadi di Indonesia saja, tapi juga di seluruh dunia. Karena puisi modern memang berangkat dari lirisisme. Karena itu bagian dari ideologi lebih besar. Ideologi romantisisme yang beranak cucu. Dan salah satu anak cucunya itu adalah lirisisme. “Jadi selama ideologi romantik masih ada dan tetap bertahan, puisi lirik yang jadi kendaraan utamanya, ya masih terus ada.”

Sajak Kecil Tentang Cinta

mencintai angin harus menjadi siut

mencintai air harus menjadi ricik

mencintai gunung harus menjadi terjal

mencintai api harus menjadi jilat

mencintai cakrawala harus menebas jarak

mencintaiMu(mu) harus menjadi aku

(Sapardi Djoko Damono)

Tak hanya pada puisi, musik dalam negeri juga dirajai lirisisme. Lagu merupakan salah satu subdivisi puisi lirik. Ini, masih menurut situs poetry.suite101.com, juga termasuk lagu popular yang rutin diputar di radio. Seperti pada sejarahnya, meski sudah bukan diiringi alat musik Lyre, kata-kata yang dipakaikan pada sebuah lagu juga disebut lirik. Dan lagu-lagu yang naratif, seperti yang dilakukan Endank Soekamti lewat Asu Tenanan atau yang juga pernah dilakukan Potret dengan lagu Mak Comblang memang diminati. Meski tidaklah “semeledak” lagu dengan lirik romantisisme. Seperti yang diusung, sebut saja Peter Pan, Ungu, atau bahkan lagu-lagu Melly Goeslaw yang mendominasi baik di radio maupun sebagai soundtrack berbagai film dan sinetron.

Pencipta Kredo Celana Joko Pinurbo juga tak menampik akan kekuatan lirik, “Saya kira lirik tak bisa ditinggalkan sama sekali. Karena lirik itu kan suatu pola ekspresi yang mencoba menemukan kebeningan suasana, keindahan bunyi kejernihan perasaan. “Pasti setiap penyair seperti itu. Dan itulah ciri khas lirik. Tapi jangan terlalu lugu atau tidak diolah sama sekali. Misalnya, kalau saya, mengembangkan dengan gaya humor. Makanya sering dibilang cerita mini. Biar nggak lugu sekali, harus ada belokan. Saya ingin supaya semakin hari puisi saya semakin sederhana, dengan menjaga kompleksitas makna.” kata penerima Penghargaan Sastra Khatulistiwa untuk antologi puisi Kekasihku (2004) ini.

Joko tidak mau gegabah menghakimi puisi lirik. “Saya menemukan Celana justru setelah sekian lama saya dikuasai tradisi liris. Bukan menemukan begitu saja.”

Mengembangkan diksi

Bagi penulis puisi-puisi naratif ini, persoalannya bukan pilihan untuk meninggalkan lirik akibat dominasinya. Melainkan untuk mengatasi kurangnya dialog pada lirik. Serta mengembangkannya dengan diksi-diksi yang belum dituliskan penyair sebelumnya. “Lirik dalam perpuisian kita terkesan monoton dan tidak ada usaha memperkaya gaya penulisan. Seolah ada pakem, bahwa yang namanya menulis puisi ya seperti yang sudah-sudah ditulis penyair-penyair besar masa lalu.”

Lirisisme, menurut Kris yang juga peneliti Pusat Studi Kebudayaan UGM, merupakan paham estetis yang mengutamakan ekspresi perasaan dan emosi personal yang instens, serta kualitas musikal tertentu. Perkembangannya dimulai dari Amir Hamzah yang dikentalkan Chairil Anwar dan dilanjutkan oleh penyair seperti Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohammad. Artinya, penyair yang besar di Indonesia memang penyair dengan faham lirisisme.

Makanya Joko mencoba mengembangkan gaya tulisan naratif supaya tak terlalu dikuasai tradisi lirik. Meski ia akui, tak bisa meninggalkan sepenuhnya puisi lirik. Namun dengan variasi pengembangan corak, dari segi kosa kata dan juga penjelajahan tema. “Misalnya saja tentang kesepian. Kesepian masa kini akan sangat lain ekspresinya dengan zaman dulu. Jadi jangan terperangkap pada ekspresi sepinya Amir Hamzah dan Sapardi. Saya pun menggunakan menggunakan metafor celana, misalnya, dan dengan itu saya bisa gali berbagai macam tema kesepian dan sosial. Saya coba menciptakan diksi celana supaya saya tak hanya terkungkung metafor senja atau hujan.”

Celana,1

Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.

Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.

“Kalian tidak tahu ya,
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”

Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan,
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”

(Joko Pinurbo, 1996)

Syifa Amori

====

Riuh Rendah Mempersoalkan Lirik
by : Grathia Pitaloka

Ketika penyair hanya ‘menyuarakan’ dirinya, pilihan puitiknya boleh jadi menimbulkan pertanyaan.
Wajah dunia persajakan Indonesia dibanjiri puisi lirik. Ungkapan itu tak berlebihan rasanya mengingat puisi lirik menjadi arus utama yang dengan sangat kuat mempengaruhi wajah, ideologi serta pertumbuhan sastra.

Namun, bentuk serta alternatif lain yang pernah ditetaskan dan ikut menggelorakan sejarah perpuisian Indonesia tentu tidak dapat dinafikan begitu saja. Sederet nama telah memberikan warna berbeda dalam dunia sastra Indonesia, sebut saja Chairil Anwar dengan puisi epik yang cukup pekat, lalu puisi-puisi pamflet yang dimotori WS Rendra, puisi “mantra” oleh Sutardji Calzoum Bachri, puisi “visual” Danarto, hingga puisi “mbeling”-nya Remy Silado atau puisi “materialis” -nya Afrizal Malna.

Penyair Saut Situmorang mengatakan, “suburnya” perkembangan sajak lirik ketimbang non lirik di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan sastra itu sendiri. “Sejak zaman pujangga baru, puisi lirik memang lebih berkembang,” kata Saut.

Tak bisa dipungkiri, kata dia, sajak pendek serta ungkapan metafora pada puisi lirik memang lebih banyak diminati. Hal lain yang memikat dari puisi lirik adalah kecenderungan isi menuturkan pengalaman personal si penyair. “Entah karena penyair Indonesia lebih senang bercerita tentang diri sendiri atau karena mereka kurang mampu berkhayal untuk menceritakan negerinya,” papar Saut.

Sementara, lanjut Saut, puisi non lirik yang cenderung bertutur memerlukan kemampuan berbahasa. Lebih dari itu, kata dia, dalam puisi non lirik hidup tokoh fiktif di luar penyair. “Itu bisa dilihat dalam puisi Rendra, Blues untuk Bonnie,” kata Saut.

Tak hanya di bumi nusantara, lanjut Saut, fenomena dominasi puisi lirik juga menghinggapi sebagian besar budaya Timur, mulai dari China hingga Jepang. “Hanya di India berkembang puisi epik, seperti Mahabaratha dan Ramayana,” ujar Saut.

Penyair yang pernah melakukan studi mendalam tentang Chairil Anwar ini menilai, puisi epik di India memiliki banyak kesamaan dengan puisi-puisi epik di Yunani. Hal itu, kata Saut, diteropong dari sudut di mana para dewa digambarkan sama seperti manusia. “Nah ini tidak dapat dilakukan pada budaya lain,” tutur dia.

Di mata Ribut Wijoto, puisi non lirik sebenarnya sudah ada dalam tradisi sastra Indonesia. Pendapat ini dilontarkan mengingat, secara mendasar ketika seseorang berpuisi ia tidak selalu berhadapan dengan dunia dalam diri atau dunia sunyi.

Kekuatan metafor

Menurutnya, kekuatan metafor tidak berkaitan dengan aspek lirik. Ia memaparkan bahwa metafor lebih cenderung berurusan dengan semiotik. “Metafor lebih pada penciptaan makna, bukan penciptaan bunyi,” ujar Ribut.

Dalam pandangannya, banyak penyair yang menulis dengan cara meminimalisir rima irama dan hasilnya verbal. Padahal, bagi Ribut, kekuatan puisi sebenarnya terletak pada metafor. “Ketika metafornya kuat maka puisi pun jadi bermakna kuat,” kata dia pada Jurnal Nasional, Jumat (2/5).

Ribut memaparkan, suatu saat penyair akan berada pada keadaan di luar dirinya, melihat pada realitas sosial. “Ketika mengadopsi realitas sosial serta bahasa keseharian, puisi tidak lagi menjadi lirik. Dia akan lebih bersifat akrobatik,” tutur Ribut.

Ia memberi contoh, Chairil, Sutardji, Remy Silado, dan Afrizal Malna yang dengan bersemangat dan penuh konsentrasi mengadopsi bahasa keseharian. Nah, ketika bahasa keseharian tersebut dieksplorasi habis-habisan, hasilnya adalah puisi non lirik tapi estetis. “Di wilayah ini memang kesulitannya,” tukas dia.

Menengok kebelakang, Tan Lioe Ie melihat, ada beberapa puisi lama Indonesia dalam bentuk puisi epik, lontar contohnya. Namun, ketika hanya menjadi konsumsi segelintir orang, terjadilah keterputusan. “Terjadilah eksklusivitas, gejala itu diperparah dengan sedikitnya orang yang bisa berbahasa kawi atau sangsekerta,” kata pria yang akrab disapa Yoki ini.

Senada dengan Yoki, Ribut memberikan contoh puisi non lirik lainnya berupa puisi mantra. Meski bahasanya amat berima dan berirama, ujarnya, tapi realitas yang dibangun jauh dari dunia sunyi. “Bahkan, dunia jadi jungkir balik dalam puisi mantra atau pada gurindam juga lebih terfokus dalam ajaran Islam daripada permainan kata hati,” tutur dia.

Tetapi bagi Tan Lioe Ie, bukan hal yang gampang untuk seratus persen keluar dari puisi liris. Lihat saja puisi Chairil Anwar, Sutardji CB, ataupun puisi Afrizal Malna, yang diklaim tidak lirik. “Padahal, masih ada aspek lirik dalam puisi-puisi mereka,” ujar Yoki.

Berbeda dengan Tan Lioe Ie, Ribut mencoba menjabarkan dalam cakrawala yang lebih luas. Menurutnya, bila lirik dipahami sebagai adanya rima dan irama dalam pembentukan bahasa puisi. Ataupun, bila puisi dipahami sebagai cerminan kata hati, ekspresi diri, maka para penyair tidak bisa menghindar dari lirikisme.

Lirik melankoli

Tapi, lanjut dia, apabila lirik dipahami sebagai puisi yang menekankan permainan batin melankoli, ada banyak puisi yang bersifat non lirik. Ribut menyebut sederet nama seperti, Mardi Luhung, Arif B Prasetya, Beni Setia, Afrizal Malna, Mashuri, dan lain-lain.

Bahkan lebih ekstrem lagi, Ribut berpendapat, tuduhan adanya ‘dominasi’ puisi lirik dalam sastra Indonesia adalah hal yang terlalu dibesar-besarkan. “Bicara soal teks, saya bisa katakan, tidak ada dominasi teks dalam perpuisian Indonesia,” kata dia.

Ia mengatakan, dominasi antarkomunitas sastra atau dominasi antarmedia sastra, tampaknya memang ada. Tapi, Ribut menegaskan sekali lagi dominasi tekstual tidak ada.

Ribut memandang, ke depan pergulatan lirik dan non lirikitas akan terus berjalan, karena keduanya susah dilepaskan. Sebagai teknik, puisi selalu dibentuk oleh rima dan irama, sekaligus dibentuk oleh bahasa realis, yang tidak selalu berirama.

Dulu pun, kata Ribut, selain pantun, juga hidup syair. Pantun mengedepankan kesamaan bunyi, sementara syair mengedepankan kebebasan kata-kata. Dalam hal isi, kita tidak bisa membebaskan diri dari dunia hati, dunia romantik ataupun dunia ekspresi diri. Sekaligus kita tidak bisa membebaskan diri dari kekacauan sosial. “Entah menitikberatkan pada lirisisitas atau kontekstualitas, puisi akan terus ditulis. Sejauh kita masih percaya pada bentuk jalinan kata bernama puisi,” tutur Ribut. ***

Filed under: Kliping Sastra

Leave a Reply

http://novelweton.co.cc
Mempertanyakan Weton

Judul Buku: Weton (Bukan Salah Hari)

Penulis: Dianing Widya Yudhistira

Penerbit: Grasindo, 2009

Dalam masyarakat Jawa, weton adalah sesuatu yang berkaitan dengan hari lahir. Setiap nama hari (Senin-Minggu) dalam kalender Jawa memiliki pasangannya, yakni Wage, Pon, Legi, Kliwon, dan Pahing. Dalam sejumlah peristiwa sosial, weton memegang peranan penting. Misalnya soal perkawinan. Jika seseorang menikah dengan pasangan yang hari lahirnya secara weton tidak bagus, dipercaya ia akan menemui banyak masalah dalam keluarga nanti.

Novel terbaru karya Dianing Widya Yudhistira ini dengan baik mengangkat persoalan itu. Ada tokoh-tokoh yang menikah dengan weton yang tidak cocok, yang kemudian berakibat buruk. Tapi tidak semua orang percaya pada weton. Novel ini menyajikan pertentangan itu: antara yang percaya dan yang tidak. Dan bagi yang tidak percaya, tentu, ada konsekuensinya. Apa itu? Inilah yang dijawab satu per satu dalam novel ini.

Ini novel keempat Dianing, yang juga dikenal sebagai penyair dan penulis cerpen. Novel pertamanya, Sintren (Grasindo, 2007), juga mengangkat persoalan lokal di Jawa, yakni tari Sintren, dan masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2007. Novel lainnya, Perempuan Mencari Tuhan (Republika, 2007) dan Nawang (Republika, 2009). l DODY

Sumber: Koran Tempo, 18 Oktober 2009

-----------
Buku ini sudah bisa diperoleh di toko-toko buku Gramedia dan toko buku lain, juga di toko buku online seperti http://www.bukabuku.com, http://www.dinamikaebooks.com, http://bukukita.com, dan lain-lain. Bisa pula langsung ke penerbit Grasindo di http://www.grasindo.co.id. Untuk mengetahui lebih jauh tentang novel ini atau proses kreatif penulisannya silakan mengunjungi web http://novelweton.co.cc
rumahmadina.com

perdanakeren.co.cc