Ibu dan Tsunami

01/07/2008

Cerpen Mustafa Ismail

Sumber: Jurnal Nasional, 29 Juni 2008

IBU langsung tertegun mendengar kata-kata lelaki itu: aku ingin pergi jauh. Lelaki itu memandang ibunya lekat-lekat, menatap guratan-guratan ketuaan di wajahnya. Ada raut lesu memancar dari matanya, mungkin semacam rasa khawatir, bahkan rasa gundah. “Mengapa kau ingin pergi?”

Lelaki itu terlonjak mendengar pertanyaan ibu. Tidak biasa ibu menanyakan alasan, siapa pun yang pergi atau apa pun yang dilakukan. Ketika abangnya dulu pergi merantau ke luar negeri, dan meninggalkan bangku kuliah, ibu tidak pernah bertanya alasan. Ibu hanya mengatakan: “Biarlah abangmu pergi, dari pada di kampung mendatangkan petaka buatnya.”

Ia tahu maksud perkataan ibu. Waktu itu, memang lagi ramai-ramainya anak muda keluar dari kampung, karena takut disangkut-sangkutkan dengan kelompok pembangkang. Ia juga tahu, abang bersama kawan-kawannya suka berdemontrasi. Pernah pula ia menghilang beberapa hari, dan ketika pulang sudah babak belur. Ibu pun tidak bertanya abang ke mana saja.

Yang dilakukan ibu ketika melihat kondisi abang begitu hanya menangis, memeluk dan menciumnya. “Ibu percaya, kamu di jalan yang benar. Ibu percaya padamu.” Hanya kata-kata semacam itu yang keluar dari mulut ibu.

Kini, abang tidak pernah lagi pulang. Hanya sesekali menelpon dari tempat tinggalnya di luar negeri, di sebuah negara di Eropa.

“Mengapa Ibu kini menanyakan alasanku?”

“Ibu berat melepasmu.”

“Kenapa ibu tidak berat melepas abang dulu.”

“Terpaksa. Kondisi berbeda”

“Kalau kukatakan alasannya, apakah Ibu akan mengizinkanku pergi.”

“Iya. Ibu akan izinkan, apa pun alasanmu.”

“Aku ingin seperti ayah, yang ketika remaja juga pergi dari kampung dan pulang membawa Ibu.”

Ibu diam mendengar penjelasan itu. Justru lelaki itu merasa malu setelah mengatakannya. Ia merasa telah berkata sesuatu yang kurang wajar diungkapkan. Meski, begitulah keadaannya. Dulu, ketika ayahnya seumur dengannya kini, ia juga pergi dari kampung, merantau ke kota yang jauh. Berbilang tahun, ayah kemudian pulang, membawa seorang perempuan yang kini menjadi ibu lelaki itu.

Ia mendengar dari orang-orang di kampung, dulu neneknya, ibu ayahnya, sempat tidak setuju ayah membawa dan mengawini ibu. Sebab, nenek sudah mempersiapkan sendiri calon mantunya. Ayah tidak tahu nenek bertindak sejauh itu. Tapi ayah tidak perduli. Sebab, ayah memang sudah menikah dengan ibu.

Tahu begitu, nenek langsung pingsan. Kemudian, nenek menjadi sakit-sakitan. Belum setahun, nenek lalu meninggal.

“Ibu tidak ingin seperti nenekmu,” kata Ibu.

“Tidak mungkin begitu. Zaman telah berubah. Aku tidak akan pernah mengecewakan Ibu. Lagi pula, Ibu berbeda dengan nenek. Atau, ibu diam-diam juga sudah mempersiapkan jodoh buatku?”
Ibu menggeleng. “Tidak. Kamu benar, ibu tidak akan seperti nenekmu. Ibu menyerahkan seluruh hidup dan masa depanmu kepada dirimu sendiri.”

“Kalau begitu, izinkan aku pergi.”

“Ibu tidak melarangmu. Tapi ibu takut, kejadian yang terjadi pada nenekmu akan terjadi pula pada ibu.”

“Maksud ibu?”

“Ibu mungkin juga akan kecewa ketika kau pulang nanti, entah karena apa. Lalu ibu sakit-sakit, kemudian meninggal seperti nenekmu.”

Ia makin tidak mengerti apa yang dimaksudkan ibu.

Ibu menatapnya.

“Aku tidak mungkin membuat ibu kecewa. Aku janji, tidak akan pernah.”

“Ibu percaya padamu. Tapi orang tua selalu punya keinginan-keinginan dan perasaan sendiri. Kalau keinginan itu tidak terpenuhi padamu, ia bisa kecewa.”

“Apa keinginan ibu?”

“Keinginan ibu sekarang tidak aneh-aneh, hanya ingin kamu bahagia. Tidak tahu nanti, setelah ibu makin tua, mungkin akan punya keinginan lain, yang mungkin saja tidak sejalan dengan keinginanmu.”

“Aku mengenal ibu, tidak mungkin mempunyai keinginan berbeda dengan keinginanku.”

“Mudah-mudahan selalu begitu.”

“Jadi ibu mengizinkan aku pergi?”
Ibu tidak menjawab. Matanya memandang lurus ke depan, menembus kaca jendela, menabrak rumah-rumah di perkampungan itu.

“Ibu tidak akan memberi jawaban apa pun. Semua ibu serahkan kepadamu.”

Ibu diam.
* * *
Lelaki itu benar-benar pergi. Ia hanya membawa beberapa potong pakaian. Berangkat dari rumah dengan menumpang angkutan kota dan turun di terminal antar provinsi. Dari situ, ia naik bus menuju ke kota tujuan. Dalam bus, ia tak henti-hentinya membayangkan diri seperti ayahnya dulu. Ayah yang perkasa, pekerja keras, perantau, dan setiap pulang selalu membawa uang banyak.

Juga cerita-cerita. Ya, ayah selalu pulang membawa banyak cerita untuk diceritakan kepada orang-orang. Kalau ayah pulang, biasanya setahun sekali menjelang lebaran, banyak orang datang untuk mendengar cerita-cerita dari ayah. Dan biasanya, orang-orang itu diberi oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Lelaki itu membayangkan, alangkah indahnya bila banyak uang dan bisa berbagi dengan orang lain. Alangkah terpujinya tangan di atas, kata Teungku Maun, ustadz mengajinya dulu di meunasah. Ia pun membayangkan sebuah tempat yang sibuk, dengan orang-orang yang mungkin jarang bertegur sapa. Dan, seperti ia dengar dari televisi, tak jarang aparat merazia para pendatang yang ingin mengadu nasib di sana.

Ia berdoa dalam hati: mudah-mudahan tidak termasuk yang terkena razia itu. Sebab, kalau itu terjadi, bisa dipastikan ia akan dipulangkan. Kalau dipulangkan, apa artinya ia pergi jauh-jauh untuk mengubah nasib—-terutama untuk menjadi lelaki seperti ayah. Ia ingin menjadi lelaki yang memberi, punya banyak cerita, dan pulang tidak lagi sendiri, tapi membawa seorang perempuan berbudi baik dan cantik seperti ibu.

“Kalau kau besar nanti, kau harus mendapatkan perempuan seperti ibumu,” kata ayah suatu kali. “Ibumu sangat sabar, setia, dan selalu ingin membantu ayah. Kau lihat, meski hingga sekarang ayah tetap pergi merantau dan baru pulang setahun sekali, ibumu tidak pernah mengeluh. Ibumu begitu sayang pada ayah.”

“Pastilah aku mencari perempuan seperti Ibu. Aku ingin menjadi pasangan seperti ayah dan ibu.”
Seluruh kata-kata ayah, satu persatu terngiang-ngiang dalam benaknya, dalam pikirannya. Semua memberi dorongan dan semangat kuat untuk terus melanjutkan perjalanan. Ia bertekat belum pulang sebelum membawa sesuatu: uang dan cerita-cerita yang bisa menghibur orang-orang kampung, yang sekian lama terdera ketakutan dan kecemasan. Seperti pernah dilakukan ayah.

Lelaki itu pun menjadi teringat kampung. Satu persatu teman-teman sekolahnya terbayang, yang setelah tamat SMU, semua berpencar. Ada yang melanjutkan sekolah atau mencari kerja ke kota atau provinsi lain. Ada yang menjadi nelayan, petani, pedagang. Ada pula yang karena dendam tertentu, bergabung dengan kelompok pembangkang, naik ke gunung dan mengangkat senjata.
* * *

Dua tahun, bukan waktu singkat untuk tidak kangen pada kampung, pada ibu, juga pada ayah yang katanya mulai sering sakit: pegal-pegal dan encok, dan sejak setahun lalu tak bekerja lagi. Ibu kemudian membuka warung depan rumah, bermodalkan hasil tabungan ayah selama merantau itu.

Ia juga kangen pada dua adiknya: Mar yang centil dan masih duduk di bangku kelas V SD dan Ros yang sekolah kelas III SMP. Mereka adalah adik-adiknya yang manis, cantik, lagi pintar. Mereka adalah adik-adik yang begitu ia sayangi dan kangeni. Entah bagaimana kini wajah Mar. Entah bagaimana kini wajah Ros.

Hasrat pulang makin menjadi-jadi dalam diri lelaki itu. Sangat ingin pulang. Entah mengapa kangen itu seperti tak lagi bisa ditahan. Padahal ia telah berjanji pada dirinya sendiri: akan pulang ketika bisa membawa sesuatu. Membawa uang banyak, cerita-cerita, juga seorang perempuan seperti ibu, yang nanti menjadi ibu anak-anaknya. Tapi semua itu hingga kini belum ia punyai.

Siang malam ia berdoa agar Tuhan memberi kemudahan-kemudahan dalam rezeki, juga kemudahan dalam menemukan seorang perempuan yang sebaik dan secantik ibu. Tetapi, kedua hal itu hingga kini belum ia dapatkan. Ia belum punya uang yang cukup, untuk sekedar membantu ibu ketika pulang nanti, apalagi sedikit berbagi dengan tetangga dan keluarga besarnya di kampung.

“Pulang adalah untuk membawa kegembiraan, bukan ketidakberdayaan. Pulang bukan karena perasaan-perasaan cengeng.” Ia terngiang kata-kata ayah, membalas suratnya, ketika ia mengatakan hendak pulang barang sebentar. “Pulanglah seperti ayah pulang, pulang seorang pahlawan, pulang seorang pemenang perang.”

Bagaimana bisa?

Hasil kerjanya hanya lebih sedikit-sedikit, itu pun setelah ia berhemat-hemat dalam soal makan dan tempat tinggal. Ia belum berhasil mendapatkan pekerjaan lebih baik. Selama dua tahun itu, ia hanya menjadi tukang cuci mobil. Ia sempat berpikir untuk meninggalkan pekerjaan itu. Tapi tidak mudah mencari pekerjaan lain.

Lelaki itu sendiri tidak bisa tidur. Ia memikirkan pulang, memikirkan pekerjaan yang lebih baik dengan rezeki baik pula, juga memikirkan seorang perempuan yang didambakan. Celakanya, pekerjaan sangat dekat hubungannya dengan kesempatan untuk menemukan seorang perempuan yang diidam-idamkan itu. Perempuan manakah yang bersedia menikah dengan orang yang belum jelas pekerjaan? Mungkin ada, tapi mencarinya sama sulitnya dengan mencari jarum di jalanan kota yang sibuk itu.

Itu belum lagi keinginannya untuk mencari perempuan yang sebaik dan secantik ibu. Padahal dulu, ia dengan yakin pernah berkata: “Aku ingin seperti ayah, yang ketika remaja juga pergi dari kampung, dan pulang membawa Ibu.” Ia tidak ingin mengecewakan ibu yang melihatnya pulang tanpa membawa perubahan apa pun, tanpa membawa seorang perempuan yang dulu pernah dia janjikan.

Sering lelaki itu tidur larut malam, terkadang setelah pukul dua dini hari, dengan pikiran terus menerawang. Ia kerap berpikir, kalau begini terus, kapan ia akan bisa pulang. Sementara kangennya makin mendesak-desak. Makin hari, kangen pada ibu, ayah, juga pada kampung, makin menjadi-jadi. Menjadi-jadi.

Pada satu malam, ia sampai pada puncak kangen. Ia bermimpi kampung telah sunyi dan ibu memanggil-manggilnya. Tapi ia hanya mendengar suara, dari jauh, samar-samar. Suara itu seperti datang dari langit. Ia tidak bisa melihat ibu. Sekelilingnya sepi. Rumah-rumah di kampungnya sudah tak ada. Hanya tinggal puing dan lumpur. Kampungnya berubah menjadi tanah lapang, yang luas, sejauh mata memandang.

Ketika terbangun, ia memutuskan untuk segera pulang. Ia ingin segera bertemu ibu. Perasaannya sungguh tidak enak, seperti ada sesuatu yang telah terjadi di kampungnya. Pikirannya makin gundah dan tak karuan ketika siang hari ia mendengar kabar bahwa gempa dahsyat yang diikuti gelombang laut baru saja menggempur kampungnya.

Tapi tak mudah baginya untuk pulang. Kemudian memang ada pesawat gratis yang disediakan bagi korban tsunami di kampungnya, tapi ia harus mengantri lama. Ia seharian menanti di bandara dengan perasaan tak menentu. Sementara bayangan ibu, ayah, dan kedua adiknya, Mar dan Ros, satu persatu membayang. Satu persatu senyum mereka mengembang dalam angannya. Oh Tuhan, selamatkan mereka.

Menunggu belasan jam, baru lelaki itu dapat berangkat dengan pesawat paling malam. Itu pesawat terakhir yang berangkat hari itu. Untung masih ada tempat, kalau tidak, ia harus menginap di bandara dan berangkat esoknya. Padahal, kangennya sudah tidak dapat ditahan. Perasaannya makin tak karuan. Apalagi ketika menyaksikan pesawat televisi yang memperlihatkan betapa banyak korban dalam gempa yang diikuti tsunami itu.

Ia menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan. Oh, apakah ibu, ayah, dan kedua adiknya ada di antara mereka? Ia berharap tidak. Tapi siapa yang bisa menolak takdir. Kata ustadz mengajinya dulu, jika azal sudah datang, ke mana pun kita pergi sang azal akan mengejar. Mengingat kata-kata itu, ia ingin pasrah saja. Tapi hatinya tidak semudah itu untuk didamaikan, tidak gampang untuk ditenteramkan.

Lelaki itu tetap berharap kampungnya tidak sampai dijamah tsunami. Namun mengingat jarak rumahnya dengan bibir laut hanya sekitar 500 meter, mustahil rumahnya kini masih ada. Meski begitu, ia masih punya harapan. Setidaknya, ia belum pernah melihat tayangan di televisi yang memperlihatkan gambaran kampungnya setelah tsunami itu. Yang banyak diperlihatkan pada hari-hari awal tsunami itu adalah kondisi di Banda Aceh dan Lhokseumawe.

Kampungnya berada di sebuah kecamatan di Pidie, sekitar 150 kilometer dari kota Banda Aceh. Maka, begitu sampai di Banda Aceh tengah malam itu, ia berusaha mencari angkutan ke kampungnya, yang susahnya minta ampun. Ia harus menunggu pagi di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, yang juga sangat ramai dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Baru pada paginya ia naik RBT (ojek) dengan bayaran Rp 250 ribu dari bandara ke Trienggadeng.
Tiga setengah jam perjalanan, ia sampai di rumah. Tapi rumah sepi. Ia hanya melihat rumahnya yang semi permanen masih berdiri kaku. Sampah-sampah menggunung di halaman. Ketika masuk ke dalam rumah, lumpur selutut. Ia memanggil-manggil ibu, ayah, dan kedua adiknya, tapi tidak ada yang menyahut. Sekeliling rumahnya juga sepi.
Beberapa rumah tetangganya tampak roboh dan ada yang hanya tinggal puing dan bekas semen lantai.

Tapi suasana tak seperti di kota Banda Aceh yang diperlihatkan televisi. Tak ada mayat yang bergelimpangan di sana-sini. Hanya rumah-rumah yang terlihat rusak dan beberapa ada yang rubuh. Ia lalu berjalan kaki menyusuri jalanan rel menuju ke kota kecamatan dan berharap bertemu dengan orang-orang kampungnya. Di kota kecamatan memang banyak orang.

Beberapa orang yang sedang duduk di warung kopi, menyapanya. “Orang kita tidak banyak yang jadi korban. Karena begitu air laut naik, kami langsung berlarian. Dari kampung kita hanya tujuh orang yang menjadi korban,” kata Apa Lah, lelaki penjual ikan yang tinggal tak jauh dari rumahnya.

“Bagaimana dengan keluarga saya.”

“Kebetulan, saat tsunami keluargamu sedang pergi ke Banda Aceh. Katanya ada orang pesta kawin.”

Lelaki itu terkesiap. Lalu lemas. Segera terbayang bagaimana dahsyatnya air menghempas ibu kota provinsi Aceh itu. Ia membayangkan, jika pada saat itu keluarganya sedang jalan-jalan di kota Banda Aceh, kecil kemungkinan untuk selamat. Oh Tuhan, bagaimanakah nasib mereka. Tiba-tiba ia merasa bersalah belum bisa memenuhi harapan-harapan ibu. Ia merasa bersalah belum memberi apa pun untuk ayah. Ia juga merasa bersalah belum berhasil membuat adik-adiknya sekolah tinggi supaya bisa mengubah nasib.

Entry Filed under: Cerpen. .

2 Comments Add your own

  • 1. suhadinet  |  03/07/2008 at 2:17 pm

    Tragedi Tsunami itu benar-benar telah menjadi sebuah pengalaman yang sangat traumatis bagi semua orang ya Pak.
    Mudah-mudahan semua korban mendapat kepanganNya. Amin.

    Saya guru SMP, waktu kejadian itu saya dan anak-anak cuma bisa membuat Mading kami terisi puisi-puisi tentang kepedulian kami pada saudara-saudara di Aceh. Hanya itu yang bisa kami lakukan.

    Balas
  • 2. Mus  |  04/07/2008 at 10:59 pm

    Ya, tsunami memang peristiwa paling memukul rakyat Aceh. Tapi orang Aceh cukup lapang dada menerima semua itu. Mereka ikhlas. Bahkan, mereka tidak banyak menuntut. Ibu saya, misalnya, meski rumah kami di Desa Meue, Trienggadeng (Kabupaten Pidie) — yang terletak sekitar 200 meter dari bibir pantai — terkena tsunami dan rusak di sana-sini, ibu saya ikhlas saja ketika tidak ada yang datang untuk memperbaiki.

    Memang, ketika ibu saya pulang ke kampung tahun lalu, memang sudah ada yang datang mendata. Dan sampai sekarang, rumah kami masih seperti semula. Hanya bersih dari puing-puing dan lumpur yang sempat menimbun sejumlah bagiannya. Alhamdulillah, rumah kami memang tidak ambruk.

    Lebih menyedihkan, tidak sedikit orang yang masih tidur di barak. Ya, ironis memang. Sementara banyak orang mendapatkan banyak kemudahan rezeki (bahkan berlimpah-limpah dan kaya raya) dari dampak/peristiwa tsunami, tidak sedikit pula yang terperosok di pojok sepi.

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


INFO BUKU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Ditulis oleh novelis yang karyanya (Sintren) masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo dan di toko-toko buku online.

TERBANYAK DIBACA

Kategori

jaringanblogsastra-ok
Blog Penyair Aceh J Kamal Farza

KOMENTAR TERBARU

JUMLAH PENGUNJUNG

GUDANG TULISAN

Google Ranking Blog Ini

Search Engine Optimization

MEDIA

DIANING WIDYA YUDHISTIRA

PEMANGKU BLOG