Ayi Jufridar dan Sahabat Sabariah

17/06/2008

FOTO: FLICKR.COM
Sebelumnya, saya sudah sempat membaca cerpen itu: Sahabat Sabariah, yang dimuat di Harian Jurnal Nasional edisi Minggu, 15 Juni lalu. Itu jauh sebelum koran itu memuatnya. Saya membacanya bukan di koran, tapi di email. Maret lalu, Ayi mengirim cerpen itu ke saya dan beberapa teman lainnya dengan subject: “Tolong Kritisi”. Tapi, belum sempat saya beri komentar, cerpen itu sudah dimuat di Jurnal Nasional.

Tapi maaf, meskipun sudah membaca, saya tidak bisa menyebut bagaimana ceritanya. Juga, saya tidak akan mengomentari cerpen tersebut dalam kesempatan ini. Saya hanya ingin mengatakan: Ayi Jufridar adalah seorang cerpenis yang produktif. Ia hanya perlu satu langkah lagi untuk membuat cerpen-cerpen (sastra) karyanya menjadi lebih berisi, lebih dalam, lebih menukik, dan lebih berkarakter.

Sebetulnya, Ayi lebih dikenal di kalangan penulis cerita remaja dan ia sangat terampil untuk itu. Ia adalah penulis “tetap” di majalah-majalah cerpen remaja seperti Anita Cemerlang, Aneka, Ceria, dan seterusnya. Bahkan, ia sempat menjadi kontributor liputan di salah satu majalah itu, Anita Cemerlang, pada 1990-an. Ketika itu, ia masih kuliah di jurusan Teknik Elekto Politeknik Universitas Syiah Kuala, Lhokseumawe. Tak hanya cerpen, ia juga menulis cerita serial (cerita bersambung) remaja dan cukup segar.

Tapi, di sela-sela itu, ia juga menulis cerpen sastra, baik di koran yang terbit di Aceh, Medan, maupun Jakarta. Dalam sebuah tulisan di Serambi Indonesia pada awal 1990-an, saya sempat memuji Ayi yang cerpennya lebih dulu menembus ruang minggu sebuah koran nasional, dibanding kawan-kawan seusianya. Yang saya maksud adalah cerpen sastra, bukan cerpen remaja. Sebab, kalau cerpen remaja tentulah sudah tidak terhitung yang dimuat di majalah remaja nasional itu.

Ayi Jufridar lahir di Bireun, 18 Agustus 1972. Pada awal 1990-an, seorang rekan sastrawan Aceh, Naharuddin (dulu menulis dengan nama Anhar Sabar) sempat “naksir” dengan nama itu. Dalam bayangan Nahar, pastilah Ayi itu cantik dan pintar. Buktinya, ia begitu produktif menulis, terutama cerpen. Bahkan, ia juga menulis puisi. Belakangan, ketika tahu Ayi itu laki-laki, Nahar pun tergelak.

Saya mulai berinteraksi lebih erat dengan Ayi ketika ia bersama Nurdin Supi (penyair yang pada 1996 juga diundang dan mengikuti Mimbar Penyair Abad 21 di TIM Jakarta), mengundang saya dan penyair Sulaiman Juned menjadi pembicara seminar sastra di kampus mereka (Politeknik) di kawasan Buket Rata Lhokseumawe, Aceh Utara. (Di sini, saya juga bertemu dengan seseorang yang lain (cantik, tentu) yang, kemudian, seseorang yang dekat dengan orang itu secara khusus menemui saya di Banda Aceh untuk meminta sebuah pemakluman. Ah! Bagaimana kabar dia, Ayi? Sory, ini jeda saja).

Lalu, pada 1996, saya bersama Ayi dan kawan-kawan lain membentuk sebuah LSM (Centre for Development and Independence Studies) di Lhokseumawe. Tapi, kemudian pada akhir Oktober 1996 saya berangkat dari Aceh dan menetap di Jakarta. Komunikasi dengan Ayi hanya sesekali. Saya tidak tahu bagaimana nasib LSM itu kini.

Pada 2005, Ayi memenangkan juara ketiga lomba novel nasional kerja sama Grasindo – Radio Nederland Seksi Indonesia (Ranesi). Novel itu berjudul Alon Buluek, nama lain dari tsunami. Ia menulis tentang tsunami, tentang keluarga korban yang mencari anggota keluarganya. Novel ditulis dengan gaya cerita remaja, ringan, dan enak dibaca. Selain diterbitkan dalam bahasa Indonesia, Alon Buluek juga diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda.

Dulu, pada 1997, saya sempat menawari Ayi untuk menjadi koresponden sebuah media di Jakarta. Tapi waktu itu Ayi tidak menyanggupi. Saya tidak ingat alasannya waktu itu. Tapi, belakangan ia larut menjadi wartawan, baik di Serambi Indonesia (1997-2004) maupun menjadi stringer Associated Press, Asahi Shimbun, dan beberapa media lainnya.

Terakhir, saya dengar, ia menjadi wartawan Jurnal Nasional untuk Aceh. Di luar itu, ia anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Aceh Utara (2003-2008). Sory, jadi kepanjangan. Sekarang, silakan simak cerpen terbaru Ayi: Sahabat Sabariah itu.

Sahabat Sabariah
Cerpen Ayi Jufridar

Sumber: Jurnal Nasional, Minggu 15 Juni 2008

Menjelang pensiun musuh Sabariah semakin banyak. Di kantor, orang yang ia
dukung habis-habis dalam pemilihan kepala daerah yang lalu, kini menjadi
musuh pertamanya sejak bupati itu meleburkan Dinas Pemuda, Olahraga, dan
Pariwisata ke dalam Dinas Pendidikan. Padahal, semula bupati sudah
sepakat untuk tetap mempertahankan Dinas Pemuda, Olahraga, dan
Pariwisata. Dengan Sabariah sebagai kepala dinasnya.

Pertimbangannya, pertama: Dana Alokasi Khusus akan mudah mengalir dari
Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN. Kedua, kriminalitas di
kalangan pemuda kian meningkat dan mengkhawatirkan. Bukan hanya ganja yang
memang kebunnya ratusan hektar terdapat di sini, tetapi pemuda juga sudah
mengenal shabu. Laporan Pak Kapolres, setiap tahun jumlah kasus shabu
meningkat dengan melibatkan pemuda sebagai pemakai dan pengedar. Jadi,
butuh program khusus untuk menyalurkan kegiatan pemuda dengan olahraga,
dan ini mereka masukkan sebagai pertimbangan ketiga mengapa dinas tersebut
perlu dipertahankan.

Para pemuda akan menyalurkan energinya yang berlebihan melalui kegiatan olahraga, baik olahraga moderen seperti sepakbola, voli, bulutangkis, basket dan sebagainya, sampai olahraga tradisional. Nah, dipilihnya olahraga tradisional ini berkaitan dengan
pertimbangan keempat, yaitu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan untuk menyaksikan even olahraga tradisional yang tak akan mereka jumpai di daerah lain. Ada main galah, ada olahraga asah otak seperti catur yang disebut dengan bermain cabang, serta permaian geudeu-geudeu yang sangat menguras tenaga. Persis sumo di Jepang.

Namun, semua pertimbangan itu menjadi tawar ketika dinas dileburkan. Lebih menyakitkan lagi Pak Bupati sama sekali tidak mendiskusikannya dengan Sabariah sebelum peleburan itu dilakukan.

“Seharusnya saya dipanggil, dimintai pendapat. Bukan main lebur begitu saja,” gerutu Sabariah kepada Ibrahim Bewa yang kini dipercayakan menjadi kepala Dinas Pendidikan. Sayangnya, yang diajak bicara hanya diam tak menanggapi. Padahal, dulu Ibrahim itu bawahannya Sabariah. Lebih menyakitkan lagi, setelah Sabariah bicara panjang lebar soal keputusan bupati yang dianggapnya keliru itu, Ibrahim pamit dengan alasan dipanggil sekda. Sabariah menganggap alasan tersebut terlalu mengada-ada, hanya
ingin mengindar saja.

Setelah punggung Ibrahim yang berkemeja putih itu lenyap di balik pintu, Sabariah langsung menempatkan bekas bawahannya itu sebagai orang kedua yang diposisikan sebagai musuh. Di mata Sabariah, bukan tidak mungkin Ibrahim-lah yang mengasut bupati agar meleburkan dinas.

Dengan hilangnya Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata, hilang pula peluang Sabariah untuk menjadi kepala dinas. Kariernya sebagai pegawai negeri tamat sudah. Sebentar lagi dia akan memasuki masa pensiun. Padahal, bila diberi jabatan kepala dinas, dia bisa mengabdi kepada daerah sampai tiga tahun lagi. “Banyak pikiran dan tenaga yang bisa saya berikan untuk daerah selama tiga tahun itu!”

Kalimat itu juga disampaikan kepada Ibrahim yang dibalas dengan anggukan kecil.

Sepekan kemudian, Dinas Pendidikan menggelar kegiatan Peyasan Pase atau hiburan dari Pasai, sebuah kegiatan seni yang mempertandingkan berbagai jenis tarian daerah. Ini tahun keempat kegiatan tersebut dilaksanakan. Dulu Sabariah termasuk penggagas bersama sejumlah seniman dan ia menjadi wakil ketua panitia dalam ketiga kegiatan. Sebenarnya, ia bisa menjadi ketua. Namun, harus puas di posisi wakil karena alasan politis, posisi itu harus diduduki ketua DPRD. Sabariah bisa menerima, yang penting baginya acara itu sukses.

Disaksikan puluhan ribu masyarakat, diikuti hampir seluruh sanggar seni di semua kabupaten dan kota, serta diliput wartawan dalam dan luar negeri. Peyasan Pase menjadi sangat penting karena digelar semasa konflik, di mana masyarakat butuh hiburan di tengah suasana mencekam akibat baku tembak yang terjadi hampir saban hari. Tiga tahun kegiatan itu dilakukan, Sabariah dan panitia lainnya berhasil mengembalikan semangat masyarakat.

Tapi tahun ini, Sabariah tidak dimasukkan ke dalam panitia. Jangankan sebagai wakil ketua, sebagai pembaca doa di akhir acara saja, namanya tidak tercantum! Sungguh ia merasa terhina.

Kejadian ini membuatnya tidak masuk kantor lagi. Pikirnya buat apa. Selama ini pun ia tidak punya jabatan, hanya diperbantukan di sekretariat daerah. Banyak pejabat lain juga tidak masuk lagi menjelang masa pensiun. Paling mereka hanya datang satu kali sebulan untuk mengambil gaji. Dan tidak ada yang mempersoalkan. Wartawan pun tidak pernah menulis.

Tatkala melihat namanya tidak tercantum dalam surat keputusan bupati, Sabariah merasa seluruh orang yang terlibat dalam kegiatan itu sudah menjadi musuhnya.

***

Di rumah, musuh Sabariah juga mulai bermunculan. Menyakitkan baginya saat menyadari bahwa musuh-musuh itu adalah orang-orang terdekatnya, orang pernah dibantunya, bahkan orang yang pernah dilahirkannya ke bumi ini. Salmi adalah musuh pertamanya di rumah. Perempuan itu adalah seorang janda beranak dua yang sudah kuliah. Setelah suaminya memutuskan kawin lagi, Salmi memutuskan bercerai. Sejak itu, Sabariah merasa Salmi selalu mencari-cari masalah dengannya. Niat baiknya selalu salah diartikan, dan apa pun yang dilakukan Sabariah selalu ada kurangnya. Mulai dari masakan yang terlalu asin, sampai perbedaan pendapat dalam memilih saluran TV.

Sepele sekali.

Kalau akhirnya Sabariah memutuskan pergi, itu bukan karena alasan sepele. Salmi hendak menikah lagi. Bukan sebuah kesalahan memang, kalau ia menikah dengan lelaki lajang atau duda. Tapi ini dengan suami orang. Sabariah tidak setuju. Ia memaparkan segudang kesalahan yang dilakukan anaknya itu dalam memilih lelaki pasangan hidup. Ia mengingatkan Salmi agar tidak mengulang kebodohan sama. Tapi Salmi tak mengindahkan.

Sabariah minggat, pindah ke rumah anak bungsunya. Rumah itu dihuni menantu perempuannya bersama dua anak lelaki dan satu perempuan. Karena menantu perempuannya bekerja sebagai guru, ia minta tolong adik ibunya menjaga anak-anak yang masih kecil, terutama yang nomor tiga. Mereka memanggilnya Let atau tante. Let tidak datang sendirian ke rumah itu. Dia membawa emaknya serta, atau nenek dari menantu Sabariah. Mereka sudah tinggal di rumah itu sejak menantunya melahirkan anak pertama. Let yang menjaga cucu-cucunya, dari yang pertama sampai yang ketiga. Sebenarnya menantunya itu masih memiliki ibu, tapi tinggal di kota lain dan hanya pulang saat momen khusus seperti hari raya. Sama seperti anak bungsu Sabariah yang hanya pulang dua bulan sekali karena bekerja di daerah lain.

Bulan pertama Sabariah tidak memiliki musuh di rumah itu. Ia merasa sudah menemukan surganya kembali. Menantunya sangat memperhatikannya. Membuat kopi sebelum berangkat, bahkan menyediakan koran untuk dibaca. Sungguh, ini sebuah pelayanan yang tidak pernah diberikan anak kandungnya sendiri. Kedekatannya dengan ketiga cucunya mulai terjalin. Cucu pertama sudah kelas dua SD. Sementara yang nomor dua, yang paling bandel, masih TK. Kendati laki-laki, tapi ceriwisnya mengalahkan seorang nenek seperti dirinya. Mereka kerap berselisih selera soal saluran TV. Ya, soal sepele
itu lagi.

“Mami jangan sok ngebos di rumah ini. Andek yang Bos di sini,” begitu kalimat yang sering diucapkan Aldi, cucu nomor dua. Sabariah memang dipanggil mami oleh seluruh cucunya. Mami artinya nenek, bukan mama.

“Ini kan rumah anak Mami,” protesnya sambil tersenyum.

“Dulu anak Mami, sekarang jadi Ayah Andek,” sahutnya. Ia memang menyebut dirinya Andek. Asal katanya dari Adek. Tapi tatkala itu ia tidak bisa mengucap Adek. Sebutan Andek melekat hingga sekarang. Teman-temannya juga memanggil Andek. Hanya di sekolah ia dipanggil Aldi.

Pertengkaran dengan Andek menjadi hiburan tersendiri bagi Sabariah. Namun, lama-lama ia baru menyadari kalau cucunya itu tidak pernah diajarkan sopan santun. Dia tidak pernah dinasehati ibunya agar menghormati orang tua. Karena tidak ingin menyinggung perasaan menantuanya, ia menyampaikan hal itu kepada anaknya saat ia pulang.

“Tolong nasehati istrimu agar mendidik anak-anak dengan benar. Ia kan seorang guru, seorang pendidik. Kalau dari kecil anak-anak tak diajarkan cara menghormati orang tua, sudah besar nanti susah mengubahnya.”

Anaknya itu hanya berjanji. Entah ia benar-benar menasehati istrinya atau tidak, tapi yang jelas Andek semakin kurang ajar terhadapnya. Kalau Sabariah sedang menonton TV sambil tiduran, bocah itu langsung melepaskan kalimat yang nyelekit. Mulanya, Sabariah mencoba untuk bersabar seperti namanya, tapi lama-lama ia tak tahan juga.

Andek menjadi musuh barunya. Kemudian daftar itu bertambah dengan menantunya yang seakan membiarkan anaknya bersikap kurang ajar. Lama-lama, sederet kekurangan menantunya mulai kelihatan. Menantunya itu ternyata sangat boros, suka membelanjakan uang untuk barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Terpikir olehnya untuk kembali berkumpul bersama Salmi dan suami barunya. Tapi ia sadar ketidaknyamanan juga akan menyambutnya di sana.

Ia merasa betapa tidak menyenangkan mengabiskan masa tua dalam kondisi seperti itu. Dimusuhi oleh banyak orang. Dianggap beban oleh banyak orang. Bukan orang lain, tapi orang-orang terdekat yang pernah ditolongnya, bahkan pernah dilahirkannya.

Sabariah merasa lebih baik bertahan di rumah menantunya. Meskipun ada musuh, ia juga memiki tempat untuk mencurahkan kekesalan hatinya. Ada tempat baginya untuk berkeluh kesah.

“Beginilah kalau kita sudah tidak dibutuhkan lagi. Kita sudah dianggap sebagai sampah!”

Orang yang diajak bicara itu hanya memandangnya, diam.

“Dulu, semua orang berbaikan sama saya karena ada yang diharapkan. Kalau mereka memberi hadiah, katanya tanpa maksud apa pun. Katanya ikhlas demi Allah. Padahal, saya tahu ada udang di balik pemberian. Mereka mengharapkan jabatan!”

Mata orang itu masih menatap. Bahkan kini dengan air mata yang mengenang di kelopak.

“Sekarang, semua orang memusuhi saya. Orang-orang yang pernah saya tolong, bahkan anak kandung yang saya lahirkan, tidak mau peduli sama saya. Persis seperti menolong anjing kecebur sumur. Bukannya balas menolong, tapi malah menggigit. Air susu dibalas air tuba. Bayangkan bagaimana sakitnya!”

Entah orang itu membayangkannya atau tidak. Tapi ia hanya diam memandang. Bila dada tipisnya tidak naik turun, dan matanya tidak berkedip, Sabariah pastinya menganggap orang itu sudah meninggal dunia.

“Kadang saya merasa betapa tak adilnya hidup ini. Orang berbuat baik malah dibalas dengan sikap bermusuhan. Apa semua orang tua mengalami hal seperti saya? Apakah kita tidak bisa berbahagia di masa tua sambil menunggu kematian datang? Tolong jawab!”

Tak ada jawaban yang diharapkan. Setelah diam beberapa jenak, hidung Sabariah malah mencium bau tak sedap. Ketika ia menyibak kain sarung yang menutupi tubuh ringkih itu, ia melihat setumpuk kotoran melekat. Orang itu baru saja membuang hajat pagi ini.

Tanpa mengeluh, Sabariah melangkah ke kamar mandi dan kembali dengan segayung air. Ia bersihkan kotoran orang tua itu tanpa merasa jijik sedikit pun, seolah ia sedang membersihkan kotoran anak-anaknya semasa bayi. Merasa belum cukup, ia lanjutkan dengan beberapa gayung lagi. Dilumuri sabun, dan dibilas dengan air hingga bersih dan wangi. Pantat keriput itu kemudian ia keringkan dengan handuk. Sebelum meninggalkan kamar itu untuk menyimpan kain kotor, ia menutupi tubuh keriput itu dengan kain sarung baru. Semuanya dilakukan dengan tulus, dengan ikhlas.

Hanya terhadap nenek menantunya itu Sabariah tidak menganggapnya sebagai musuh. Sebaliknya ia berlaku sebagai sahabat karena bisa melihat masa depannya dalam kehidupan perempuan pikun itu.***

Lhokseumawe, medio 2008

Entry Filed under: Biografi Sastrawan, Karya Rekan. .

3 Comments Add your own

  • 1. Ayi Jufridar  |  17/06/2008 at 4:13 pm

    Assalammualaikum Bang Mustafa….

    Kenangan jadi tergiring ke masa silam. Sepertinya baru kemarin.

    Saya jadi ingat dengan CDIS. Itu LSM nomor dua tertua di Lhokseumawe dan Aceh Utara. Saat itu, banyak orang masih asing dengan istilah LSM di Aceh, bahkan bagi saya sendiri sebelum dikenalkan oleh Bang Mus.

    Alhamdillah, CDIS masih hidup kendati seperti kerakap. Maklum, anggotanya sudah berpencar. Tapi kita masih dilibatkan dalam berbagai kegiatan. Dalam forum-forum LSM, nama CDIS masih ada. Bahkan, belakangan (sekitar sebulan lalu) CDIS diancam gugat oleh Tim Independen Penjaringan anggota KIP (atau KPU) Kota Lhokseumawe. Pasalnya, Lailan Fajri yang kini mengelola CDIS, berkomentar pedas tentang sistem rekruitmen anggota KIP di Lhokseumawe.

    Tapi, gugatan itu hanya ancaman. Padahal, kalau beneran digugat, nama CDIS akan semakin bersinar. Hehehehe…..

    Jadi ingat juga dengan kalimat Bang Mustafa saat di Politeknik Syiah Kuala (kini Politeknik Lhokseumawe). Bang Mus bilang, ada tiga hal yang membuatnya terkesan dengan Politeknik Negeri Syiah Kuala. Pertama, budaya Assalammualaikum kalau berjumpa. Kedua, semua mahasiswinya berjilbab . Saat itu, perempuan berjilbab benar-benar atas kesadaran. Bukan karena takut ditangkap wilayatul hisbah atau polisi syariah seperti sekarang.

    “Dan yang ketiga?” tanya sang gadis sambil menatap Bang Mus dengan mata berbinar.

    “Yang ketiga besok Bang Mus jawab….”

    Mereka berpisah dengan segudang tanda tanya di hati sang gadis. Apa sih, hal ketiga yang membuat Bang Mus terkesan. Mungkin, pertanyaan itu dibawa sampai ke alam mimpi.

    Bang Mus sudah melempar pancing. Sebuah awal yang manis dan romantis. Membuat sang gadis hidup dalam pertanyaan selama semalam. Membuat rasa seperti diperam, tinggal menunggu matang untuk disantap.

    Endingnya sebenarnya sudah terbaca. Ini seperti kisah-kisah percintaan yang sering saya tulis di majalah-majalah remaja.

    Keesokannya, jawaban pun diberikan. “Hal ketiga yang membuat Bang Mus terkesan adalah…..”

    Dan mata sang gadis itu pun kian berbinar.

    Lhokseumawe, 17 Juni 2008
    Saleum;

    Ayi Jufridar

    Balas
  • 2. jalansetapak  |  18/06/2008 at 3:28 pm

    Ayi, mendengar ceritamu aku jadi pingin napak tilas ke Buket Rata. Terima kasih telah terus menghidupkan CDIS. Suatu kali, saya akan main ke kantornya. Jadi ingat bagaimana dulu kita mendeklarasikan CDIS di Pantai Ujong Blang. Ingat Ujong Blang, jadi ingat juga ketika latihan alam latihan X-Map. Ah, kenangan memang tak habis-habisnya. Salam untuk pengurus CDIS, untuk Supi, untuk semua yang pernah bersinggungan secara emosional maupun bersingungan secara kreatif.

    Balas
  • 3. mukhlis aminullah  |  29/07/2009 at 2:43 pm

    Assalamu’alaikum bang mus….

    Saya penyuka sastra, terutama sajak dan puisi. Sejak th 90-an sudah suka mengkliping puisi, termasuk puisi-puisi Bg Mus yg dimuat di Serambi Indonesia. Puisi2 Ayi juga sy kliping. Saya ingin bercerita sedikit terkait “nama” Ayi itu.
    Alkisah; dulu, saya selain suka puisi2 Ayi, saya juga membayangkan Ayi ini orangnya pasti cantik, dan suatu ketika saya berkorespondensi dengan ybs (sahabat pena)….. eh baru tau dianya laki-laki.
    Saya tidak pernah ketemu langsung dgn ybs, sampai tahun 2003 kami sama2 terpilih jadi Anggota KPU, dia di Aceh Utara,saya di Bireuen. Dan, kamipun jadi teman, Insya Allah sampai sekarang.
    Ternyata, banyak kejadian yg hampir sama, menganggap Ayi itu seorang perempuan. (ceritanya kpd saya kemudian hari)

    Weleh….weleh…..
    aneh dan lucu…… mudah2an Ayi sudah punya konsep cerpen atau cerbung soal nama itu.

    “Apalah arti sebuah nama…?” by William S

    Wassalam
    mukhlis, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


INFO BUKU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Ditulis oleh novelis yang karyanya (Sintren) masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo dan di toko-toko buku online.

TERBANYAK DIBACA

Kategori

jaringanblogsastra-ok
Blog Penyair Aceh J Kamal Farza

KOMENTAR TERBARU

JUMLAH PENGUNJUNG

GUDANG TULISAN

Google Ranking Blog Ini

Search Engine Optimization

MEDIA

DIANING WIDYA YUDHISTIRA

PEMANGKU BLOG