Bidadari Hitam: Novel Jurnalistik T.I. Thamrin

Juni 3rd, 2008 § 10 Komentar

Sumber: Serambi Indonesia, 25 Mei 2008
Oleh: Mukhlis A. Hamid

Nama saya Inong, hanya Inong. Saya bukan siapa-siapa. Kalimat pertama yang akan Anda baca di kover depan novel Bidadari Hitam karya T.I. Thamrin. Novel setebal 252 halaman ini memotret kekerasan demi kekerasan Aceh pascadeklarasi Gunung Halimun hingga Tragedi 26 Desember 2004 secara sastrawi.

Cerita dimulai dengan penggambaran keceriaan hidup anak-anak dan keluarga Mak Santan pada suatu sore yang tiba-tiba mencekam karena kedatangan satu regu tentera yang sedang melakukan patroli rutin. Cerita selanjutnya difokuskan pada kehidupan tokoh Ahya (cucu Mak Santan), Inong (anak angkat Mak Santan), Fitriah (anak Guru Najib), Teungku Murad, dan tokoh-tokoh lain dari kalangan aparat, aktivis LSM, dan masyarakat umum.

Konflik cerita dibangun secara beragam. Konflik
antara Ahya dengan neneknya (Mak Santan) yang
menginginkan Ahya melanjutkan pendidikannya ke
luar Aceh karena kondisi Aceh yang tidak kondusif,
Tapi Ahya yang begitu cinta pada neknya Mak
Santan, pada Inong, dan Fitriah. Konflik juga
terjadi antara Ahya dan Teungku Murad, orang kaya
kikir yang diam-diam mengharapkan Fitriah menjadi
istrinya yang kesekian.

T.I. memperkuat konflik ceritanya dengan
mengedepankan peristiwa penangkapan Fitriah yang
dituduh sebagai mata-mata GAM wilayah Tamiang,
perkawinan siri Fitriah dengan Lettu Anton,
Komandan Pos Sattis Montasiek, penyiksaan Fitriah
oleh Anton, dan pelarian Fitriah ke markas GAM.

Fokus cerita ini pada konflik yang dihadapi oleh
Inong yang sudah mengetahui jatidirinya sebagai
anak Ti Timah, salah seorang perempuan Paya Lhok,
yang ditangkap dan diperkosa ramai-ramai oleh
aparat. Karena Mak Santan keberatan Ahya
mempersunting Inong sebagai istrinya, Inong
melarikan diri dari rumah Mak Santan dan menjenguk
nenek kandungnya di Paya Lhok. Ia menemukan
neneknya terkapar tak bernyawa di rumahnya.
Permintaan tolong Inong pada masyarakat disambut
dengan kedatangan dan penagkapan Inong oleh
pasukan baret merah dan membawa Inong ke Rumoh
Geudong. Di Rumah Geudong inilah Inong
menghabiskan malam-malamnya dengan penuh
penderitaan. Ia harus menerima siksaan dan
perkosaan secara bergilir saban malam. Di tempat
ini pula Inong bertemu dengan Mawar, aktivis LSM
yang ditangkap dengan tuduhan anggota pasukan
Inong Balee . Penderitaan Inong dan tawanan lain
di Rumoh Geudong berakhir saat rumah tersebut
dibakar massa.

Inong tidak kembali ke Paya Lhok atau ke Lampoh
Santan. Ia lebih memilih tinggal di rumah salah
satu korban lain di Kampung Ateuk Munjeng. Hasil
pemeriksaan laboratorium di rumah sakit
menunjukkan Inong positif mengidap HIV/AIDS
sebagai akibat perkosaan bergiliran di Rumoh
Geudong. Khawatir menulari penyakit tersebut pada
induk semangnya di Kampung Ateuk, Inong melarikan
diri dan memilih tinggal di Lhoknga. Ia menyewa
kamar di rumah salah seorang penduduk dan berniat
menulari HIV/AIDS pada penghuni tangsi militer di
sana sebagai balas dendam. Di Pantai Lhoknga Inong
bertemu dengan Laila, perempuan lacur, dan Lettu
Joni yang ditugasi mencari perempuan untuk
melayani tamu penting dari Jakarta. Laila dan
Inong kemudian diminta melayani tamu-tamu
tersebut. Ia bahkan melayani juga Lettu Joni. Di
Lhoknga juga Inong bertemu dengan Indrajit,
wartawan Tamil yang sedang berkunjung dan
melakukan reportase investigative di Aceh.
Indrajit lalu meminta Inong menceritakan seluruh
kisah hidupnya untuk dipublikasikan di New York.

Bagian akhir novel ini menceritakan kesaksian
Inong saat gelombang tsunami datang dan menghantam
pantai Lhoknga. Ia melihat air laut surut setelah
gempa besar pagi Minggu itu. Ia juga melihat
gelombang hitam kecoklatan setinggi gunung
mendamparkan kapal-kapal yang sandar di pelabuhan
PT SAI Lhoknga dan menggulung semua bangunan yang
ada di sekitarnya. Inong hanya mampu mengucapkan
Allahu akbar lalu tak sadarkan diri.

Bagi saya, membaca Bidadari Hitam seperti membaca
ulang kilasan berbagai peristiwa kekerasan masa
DOM diberlakukan di Aceh dalam rentang waktu yang
cukup panjang itu. Sebagaimana dikatakan T.I.
Thamrin dalam pengantar saat peluncuran buku ini,
novel ini memang dimaksudkan untuk menyajikan
kembali informasi, data, dan fakta yang telah
dipublikasikan oleh berbagai media selama ini
dengan cara yang berbeda, yaitu novel. Karenanya,
latar tempat, waktu, dan peristiwa dalam cerita
didasarkan pada kenyataan yang pernah ada
sedangkan tokoh cerita merupakan tokoh-tokoh
imajiner, tokoh rawian saja. Itu sebabnya novel
ini saya sebut novel jurnalistik , karya sastra
yang bahan dasarnya diambil dari hasil riset
berita media dan disampaikan dengan selingkung
jurnalistik: menggunakan teknik piramida terbalik,
fokus, dan lugas.

Pengalaman T.I. Thamrin sebagai mantan wartawan
dan redaktur di majalah Ambassador, Kadin, Matra,
Tempo, dan Aceh Kita tentu saja berpengarh secara
langsung pada cara beliau bercerita. Karenanya,
jangan terkejut bila Anda menemukan deskripsi yang
cukup detail saat T.I. mencoba menjelaskan latar
dan peristiwa tertentu dalam cerita. Pembaca
benar-benar terbawa dalam tiap detail itu. Imaji
visual, auditif, kinestetik, dan imaji taktil akan
bermain mengikuti paragraf demi paragraf dalam
cerita ini. Hal ini secara khusus akan ditemukan
dalam bagian awal buku, dalam penggambaran Lampoh
Santan, Pagarayeuk, Simpang Surabaya, Peuniti, dan
kampung-kampung lain di sekitarnya. T.I. Thamrin
memanfaatkan kenangan masa lalu, masa kecil
beliau, tentang kampung-kampung ini sebagai titik
awal bercerita, meski penggambaran tersebut
mungkin berbeda dengan realitas real saat ini.
Tapi, itulah uniknya karya sastra. Latar,
peristiwa, dan tokoh dalam dunia sastra sebagai
salah satu karya fiksional, rekaan, tidak harus
persis sama dengan apa yang ada dalam dunia nyata.
Pembaca harus menciptakan dunia lain , dunia yang
dirujuk oleh rangkaian kata dalam karya tersebut.

Sisi lain yang patut juga dicatat adalah novel
Bidadari Hitam ini memiliki hubungan interteks
dengan Aceh Bersimbah Darah, buku Al Chaidar yang
dipublikasikan pascapencabutan DOM di Aceh. Dalam
kajian intertekstual, setiap karya diduga memiliki
hubungan yang bersifat meneruskan (myth of
concern) atau menolak (myth of freedom) dengan
karya sebelumnya. Kedua buku tersebut mengangkat
tema yang sama dengan cara yang berbeda.

Bidadari Hitam yang diterbitkan oleh
Imparsial-AJMI tahun 2008 ini diluncurkan
serangkai peringatan 100 Tahun Kebangkitan
Nasional di Toko Buku Dokarim, Ulee Kareng, Kamis
(22/5), tidak semata-mata dimaksudkan untuk
memaparkan informasi, fakta, dan peristiwa yang
pernah terjadi pada masa lalu. Ia lebih
dimaksudkan untuk menumbuhkan empati,
keberpihakan, dan mengajak para pembaca untuk
lebih peka dalam memaknai setiap peristiwa di
jagad raya ini. Karenanya, buku ini selayaknya
menjadi bacaan pengingat bagi generasi muda
tentang betapa getirnya hidup di negeri yang tak
pernah reda didera konflik agar mereka lebih bijak
dalam memaknai realitas. Buku ini patut pula
dijadikan bacaan alternatif bagi pengambil
kebijakan dan aktivis pembela HAM agar mereka
lebih bijak dalam mengambil keputusan. Apalagi di
saat issu KKR lokal semakin gencar disuarakan.

*) MUKHLIS A. HAMID, Dosen Bahasa dan Sastra, PBS
FKIP Unsyiah
.

§ 10 Responses to Bidadari Hitam: Novel Jurnalistik T.I. Thamrin

  • rijalon mengatakan:

    dimanaya ngedapatin novel Bidadari Hitam?

  • Herman mengatakan:

    Coba hubungi Imparsial–penerbit buku tersebut. Atau kontak AJMI.
    Seru sekali novelnya. Saya membaca novel itu persis seperti pengalaman membaca “Ayat-ayat Cinta”, yang belum puas sebelum membalik halaman berikutnya. Walhasil, dua malam saya begadangm demi menikmati buku tsb. Coba deh..

  • jalansetapak mengatakan:

    Saya mendapat informasi dari Imparsial — penerbit novel itu — seperti ini:

    Kawan Mustafa yang baik,

    Menjawab pertanyaan Anda, untuk pembelian novel Bidadari Hitam karya TI. Thamrin,
    - di Aceh bisa dibeli di kantor AJMI, kontak Hendra Budian di 08126974724.
    - di Jakarta bisa dibeli di kantor Imparsial, kontak Anto/Dyah di 021-3913819.

    Terima kasih banyak atas perhatiannya.

    Salam,

    Poengky Indarti.
    Direktur Hubungan Eksternal Imparsial.

  • lufi mengatakan:

    terimakasih informasinya…

  • Ferzya Farhan mengatakan:

    yap, saya juga lagi baca bukunya..menarik sekali! membuat matanya ingin terus melek membacanya!, aku dapet bukunya di Gramedia-Jogjakarta :)

    Salam,
    Ferzya Farhan
    aneuk Atjeh yang sedang belajar di UGM

  • saiful mengatakan:

    Cerita Dlm Novel ini Bagus, Apa bisa Novel Ini Di FilmKan?
    Klo bisa Pasti Banyak Menimbulkan Kotrofersi…..
    Tul Nggak…

  • ullia rahmah mengatakan:

    aslamualaikum…
    air mata saya jatuh ketika saya membasca novel bidadari hitam, kisahnya yang sangat menyedihkan, membuat saya ingat masa lalu.ketika saya masih kecil dulu…..

    saya sangat setuju kalo novel ini di filmkan, untuk menyadari setiap org, bahwa masa lalu kita dulu terekam dalam novel ini

  • ullia rahmah mengatakan:

    LUAR BIASA….

    ALLAHU AKBAR

  • Nadia Dinata mengatakan:

    Membaca novel Bidadari hitam, membuat saya menangis terisak-isak, mengingat sedikit pengalaman yang juga pernah saya rasakan dalam novel tersebut.

  • Nuraida mengatakan:

    Cukup bgs.
    Novel@ krna wkt konflik sya msh kecil

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bidadari Hitam: Novel Jurnalistik T.I. Thamrin at .

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.