Tentang Seks dalam Lanang
01/06/2008
Ketika saya menjadi salah satu pembicara dalam bedah novel Lanang karya Yonathan Rahardjo di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta, 28 Mei lalu, salah satu yang saya kritik adalah novel itu banyak menyajikan pergumulan cinta (Kritik soal lain bisa dibaca dalam tulisan lain di blog ini: Lanang, Susu, dan Pasar Malam Sastra). Saya bilang: pola ini mengingatkan saya pada novel-novel Nick Carter, yang saya baca diam-diam ketika sekolah dulu. Isinya, selain upaya Carter memecahkan masalah sebagai detektif, juga banyak menyuguhkan adegan percintaan dewasa.
Saya juga bilang, waktu itu, dengan pola seperti ini, kesan saya, pengarang terjebak pada “pelajaran” menulis novel dari buku “Mengarang Novel itu Gampang” karya Arswendo Atmowiloto. Di buku itu dijelaskan, antara lain, novel itu mengandung banyak pemanis, seperti unsur seks, dan lain-lain. Saya katakan, mestinya, pengarang sekarang tidak terlalu terkekang pada teori-teori semacam itu. Mutu karya tidak terletak pada adanya unsur-unsur itu. Toh, unsur-unsur itu bukan “rukun” mutlak yang kalau tidak ada membuat tidak sahnya novel itu.
Diskusi berjalan. Tapi, saat itu, moderator diskusi, Feby Indirani di sela-sela ia menawarkan tanggapan dan pertanyaan kepada hadirin, sempat mengatakan: memangnya kenapa kalau mirip Nick Carter? Saya tidak sempat menjawab malam itu, karena pertanyaan itu menguap begitu saja oleh pertanyaan lain dari peserta diskusi.
Sebenarnya, memang tidak salah sebuah novel atau karya sastra mirip dengan karya sastra lainnya. Terpenting apakah yang disampaikan dalam karya itu adalah ada hal-hal baru. Kebaruan dimaksud tidak hanya dalam ide, juga dalam elemen-elemen lain di dalam cerita, seperti adegan. Sebuah adegan percintaan, buat saya, bukanlah sesuatu yang baru.
Saya melihat, dalam Lanang, pengarang masih terbuka banyak kesempatan untuk mengolah imaji sehingga menemukan adegan-adegan yang lebih cerdas ketimbang terus-menerus bergumul dengan persoalan seks.
Jika pun soal seks ini tetap ingin dikedepankan, mungkin untuk menggambarkan sosok Lanang yang doyan perempuan dan berhubungan seks, tentulah bisa dipilih cara-cara yang tidak klise, yang lebih cerdas (bisa simbolik), dengan bahasa tubuh, tidak harus sampai menjelaskan secara detil adegan itu, sampai perlu dialog penegas segala. Coba simak dialog ini: “Dewi…cinta. Basah cairanmu sungguh mengesankan….” (Tengok di hal 167). Ini salah satu contoh saja.
Buat saya, ini model penggambaran adegan percintaan yang sungguh klise. Padahal seks bisa dinarasikan dengan bahasa yang enak. Coba simak, salah satu penggambaran percintaan yang enak dibaca, dan tidak terkesan murahan:
Aku mencium mulutnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Dua kancing bajuku lepas oleh hentakan tangannya. Kudengar detasnya meluncur ke bahwa meja televisi. Rambutnya yang basah hinggap ke wajahku. Entah siapa yang lebih dulu tersengal, tapi sebagaimana keinginanku: Parastuti menari di atas tubuhku. Sepuluh menit kemudian pipinya direbahkan ke dadaku, telinganya mencoba mendengar proses degup jantung yang mereda.
Itu adalah petikan narasi dari cerpen Sang Penari karya Kurnia Effendi (dari buku kumpulan cerpen “Kincir Api”). Memang tidak adil membandingkan Yonathan dengan Kurnia Effendi yang sudah berkarat dan sangat berpengalaman menulis. Tapi ini hanya sebagai contoh saja bahwa seks bisa dijelaskan dengan bahasa simbolik, tidak perlu mendikte apalagi memperagakan.
Jadi, seks sah-sah saja hadir, tapi fungsinya sebagai bagian dari jalannya cerita (yang bisa dinarasikan dengan bahasa yang enak) bukan sebagai “sisipan” untuk merangsang saraf-saraf purba laki-laki atau perempuan. Lagian, apa sih menariknya hal “begituan” diumbar-umbar? DEPOK, 1 JUNI 2008 PUKUL 02.12 WIB. MUS.
Entry Filed under: Catatan Ringan. .
24 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1. Pembaca Novel Lanang | 03/06/2008 at 12:30 am
Prof. Dr. Apsanti Djokosujatno
Guru Besar Sastra Universitas Indonesia
Ketua Dewan Juri
Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006
mengatakan:
Banyak adegan seks dalam novel ini, bukan hanya antar manusia tetapi juga manusia dan binatang, yang disajikan secara cukup mendetil. Namun bila dilenyapkan atau dikurangi, kerangka cerita akan berubah, karena seks mempunyai kaitan erat dengan penyakit misterius, sekaligus sumber dan ”media” penyelesaiannya, selain juga kecenderungan tokoh Lanang sebagai ”lanang”. Di lain pihak, tampaknya dunia dokter (juga pakar) hewan yang sangat terobsesi masalah pembiakan, karena harus berpacu dengan pertambahan jumlah penduduk yang makin cepat, yang membutuhkan protein untuk kesehatan dan perkembangannya, berkaitan erat dengan seks.
2. pelanggar | 03/06/2008 at 4:33 pm
hehehehehe…
“Coba simak dialog ini: “Dewi…cinta. Basah cairanmu sungguh mengesankan….” (Tengok di hal 167). ” dibandingkan dengan “Aku mencium mulutnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Dua kancing bajuku lepas oleh hentakan tangannya. Kudengar detasnya meluncur ke bahwa meja televisi. Rambutnya yang basah hinggap ke wajahku. Entah siapa yang lebih dulu tersengal, tapi sebagaimana keinginanku: Parastuti menari di atas tubuhku. Sepuluh menit kemudian pipinya direbahkan ke dadaku, telinganya mencoba mendengar proses degup jantung yang mereda.”
ya mesti beda, to mas… memang indah… coba dibaca lagi, mas… ada juga lo.. yang indah.. mungkin keselip, waktu bacanya…
di samping itu, kepentingan untuk mengungkapkan kata “cairan” tentu tidak tanpa maksud, bukan? karena di akhir-akhir cerita, “cairan” itu punya kepentingan tersendiri, yang bukan sekadar untuk mengumbar “nafsu basah”…
Beberapa adegan seks dalam cerita ini juga tampaknya bukan untuk sekadar klise, membubuhi, novel ini seperti halnya kisah porno, bukan? Akan tetapi adegan seks di sini juga menjadi bagian dari pemecahan persoalan yang dihadapi lanang, kan?
hehehehe…
aku juga sedang membaca, mas… hehehehe…
3. syndicates | 03/06/2008 at 5:45 pm
Bung Mustafa,
Kenapa anda tidak menganggap adil membandingkan Yonathan dengan KEF. Ketidakadilan itu ada pada perbandingan yang anda buat. Kalau anda cermat dan teliti mana yang perlu diperbandingkan, tentu tidak ada ungkapan “tidak adil”.
Satu hal lagi, meskipun anda bukan dikenal sebagai kritikus sastra, dalam posisi ini anda berlaku sebagai kritikus sastra. Pada posisi ini, pengertian “kritikus” tidak mereferen ke kata “kritik” yang berarti kecaman. Akan tetapi, kalau anda merujuk ke KBBI anda akan melihat seperti di bawah ini.
kri·tik n kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk thd suatu hasil karya, pendapat, dsb;
– ekstern tahap penelitian berdasarkan liputan fisik berupa deskripsi bentuk, jenis aksara, bahan, lingkungan, dan lokasi keberadaan prasasti; — film kupasan dl media massa mengenai film yg dipertunjukkan di sebuah bioskop, ditinjau dr segi kekuatan dan kelemahannya, kelebihan dan kekurangannya yg dilandasi alasan yg logis; — intern tahap kerja yg dilakukan berdasarkan hasil liputan data lapangan, yaitu transliterasi dan transkripsi ke dl bahasa sasaran melalui analisis perbandingan dng berbagai terbitan yg ada, baik dr sumber tertulis maupun analogi epigraf; — membangun kritik yg bersifat memperbaiki; — naskah metode dl filologi yg menyelidiki naskah dr masa lampau dng tujuan menyusun kembali naskah yg dianggap asli dng cara membanding-bandingkan naskah yg termasuk dl satu jenis asal-usul, lalu menentukan naskah yg paling tinggi kadar keasliannya, kemudian mengembalikannya pd bentuk yg asli atau yg mendekati aslinya; — sastra pertimbangan baik buruk thd hasil karya sastra; — teks kritik naskah;
meng·kri·tik v mengemukakan kritik; mengecam;
peng·kri·tik n orang yg mengkritik; orang yg mengemukakan kritik
Jika demikian, kenapa tidak anda tampilkan seluruh narasi adegan seks dalam LANANG. Jelas, anda tidak memposisikan sebagai “kritikus yang obyektif”. Anda menafikan fakta yang lain untuk membangun kesan buruk, yang cenderung mengecam.
4. ilenk | 04/06/2008 at 7:33 am
wah…lagi-lagi sampeyan terjebak dalam pemikiran sempit. Mas Mus lupa yaa cairan yang digambarkan disitu bukankah ada hubungannya dng tindakan selanjutnya Lanang. Wah, payah, kalau sebagian besar pembaca dewasa kita masih terjebak dengan teks, padahal menurutku seks yg ada di buku Lanang tidak sevulgar yg dikawatirkan sampeyan. Banyak digambarkan disitu dengan metafora, kalau seandainya dia perjelas, itu ada konteksnya hubungannya dng alur cerita. Kalo Cak Yo dibandingkan KEF hahahahahah ya laen tenan. KEF suka menulis cerita romantis tis tis tak ada cerita thriller macam Lanang ini, jadi aneh kalo Lanang yg isinya sudah meledak ledak gini adegan seksnya kayak KEF…yg bener aja sampeyan ini mas. Setiap otak pengarang selalu lain dalam penggambaran imajinasi cerita, kita tidak bisa belajar menulis mengarang dng sama seperti guru/pengarang, karena karangan adalah hasil imajinasi otak, dan otak masing-2 orang berbeda, kalau sekedar mengikuti pola yang umum, okey, tapi untuk penggambaran walah….pengarang membeo namanya kalo gini…sumprit aq ga bakal baca bukunya….
aq suka penggambaran imajinasi pengarang itu tanpa pembatas teks..kotak..sama juga aq suka pelukis yang menggambar dengan hati…jiwa..bukan pesanan..bukan membeo…bukan ikut-ikutan….
5. jalansetapak | 04/06/2008 at 8:19 am
Wah, saya tepancing juga untuk menanggapi. Tapi begini saja, saya kira, sebuah pembacaan itu sah-sah saja. Mbak Ilenk (apa kabar Mbak, senang kenal Anda di Wapres itu), atau teman-teman lain yang sudah menanggapi, boleh punya pendapat lain dengan saya, begitu juga teman-teman lain. Masing-masing kita pasti punya kerangka analisis sendiri.
Saya kira, dari pada teman-teman menanggapi secara sepotong-sepotong, dan bisa menyebabkan distorsi makna dan konteks (dan distorsi itu sudah terjadi dalam beberapa komentar di atas), mendingan teman-teman membikin sebuah tinjauan panjang terhadap novel Lanang.
Saya ingin kita membangun diskusi yang enak (syukur-syukur ada kerangka analisis yang kuat) dan tidak saling mengecam. Jangan khawatir, pembaca tidak akan terpengaruh dengan tulisan saya. Pembaca cerdas kok, bisa membaca sendiri novel itu, ya seperti Anda.
Tapi baiklah, soal seks itu (di mana-mana soal ini memang lebih seru, he…he… ), saya bisa paham itu hadir dalam sebuah cerita, apalagi itu menjadi bagian tak terpisahkan cerita itu. Tapi lagi-lagi, seperti saya bilang dalam tulisan di atas (coba baca lagi deh), bagaimana “seks bisa dinarasikan dengan bahasa yang enak”, tidak terkesan klise, apalagi murahan (maaf, saya tidak mendapatkan kata-kata yang lebih “adem” dari pada dua kata itu). Ini saja kok.
Dalam konteks “cairanmu” tadi, saya bisa membayangkan ada cara lain yang lebih enak untuk menuturkan persenggamaan dan prosesi pengambilan “cairan” itu oleh Lanang. Begitu pula dalam beberapa adegan “percintaan” lainnya. Tentu itu tanpa menghilangkan atau mengecilkan maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang seputar “petualangan” Lanang itu.
Saya tak hendak “menjatuhkan” novel itu. Sejak awal, saya sudah katakan bahwa ide yang diusung novel ini sungguh menarik, dan jarang disentuh oleh pengarang lain. Tapi sebuah karya selalu tidak bisa lepas dari persoalan di luar ide: bagaiman ia dihadirkan secara menarik. Dari sisi ini, seperti saya pernah bilang, baik dalam diskusi di Wapres maupun dalam dua tulisan saya di blog ini, ada beberapa “lubang” yang terlupa ditutupi oleh pengarang. Saya mencoba memperlihatkan lubang-lubang itu. Maksudnya, agar di lain waktu pengarang bisa menghasilkan karya yang lebih baik. Itu saja.
Kalau teman-teman tidak bisa melihat lubang itu, ya itu hasil pembacaan teman-teman, dan sah-sah saja. Salam. MUS
6. Dedy | 04/06/2008 at 9:05 am
Salam, Abang Mus.
Saya setuju dengan Bang Mus yang berpendapat bahwa kalimat-kalimat klise sebaiknya tidak digunakan (terlalu banyak) dalam sebuah novel. Saya yakin bahwa dalam kalimat “Dewi…cinta. Basah cairanmu sungguh mengesankan….” yang dimaksud oleh Bang Mus ini bukan masalah kata “cairan” tetapi pengungkapannya yang cenderung klise. “Cinta” sebagai panggilan sayang, sudah biasa. Yang agak aneh adalah kata “mengesankan” yang menjadi kata sifat untuk kata benda “cairan”. Mungkin ini yang sebenarnya dimaksud oleh Bang Mus.
Saya pernah membaca sebuah novel berjudul “Almost Adam” di sana si tokoh utama memperinci detail perilaku seksual sebangsa “kera pra manusia” di pedalaman Kongo. Tapi tidak terkesan porno dan ‘ala Nick Carter. Malah cenderung ilmiah dan psikologis penulisannya. Saya kira gaya seperti itu lebih cocok untuk novel Lanang itu.
Tapi seperti Bang Mus bilang, hasil pembacaan orang berbeda-beda dan itu sah. Kecuali jika melanggar HAM untuk memaksakan pendapat kita pada orang lain. he.he.he.
Salam
7. pelanggar | 04/06/2008 at 9:43 am
Mas Mus, kalau perbandingan tulisan Kurnia Effendi dan Yonathan dalam agenda seks itu seperti ini di bawah ini, kira-kira pendapat Mas Mus bagaimana?
Kurnia Effendi menulis,
“Aku mencium mulutnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Dua kancing bajuku lepas oleh hentakan tangannya. Kudengar detasnya meluncur ke bahwa meja televisi. Rambutnya yang basah hinggap ke wajahku. Entah siapa yang lebih dulu tersengal, tapi sebagaimana keinginanku: Parastuti menari di atas tubuhku. Sepuluh menit kemudian pipinya direbahkan ke dadaku, telinganya mencoba mendengar proses degup jantung yang mereda.” (Kurnia Effendi)
Dan Yonathan menulis,
“Mereka masuk kamar.
Kain seprei yang semula rata dengan muda tiba-tiba menjadi bergelombang. Gelombang-gelombang itu bahkan bergetar laksana lipatan padang pasir terempas gunung-gunung yang roboh.
Langit kelam dalam ruang kamar tiada dapat menghambat aktivitas tersembunyi dua manusia berbeda jenis kelamin, yang terlucuti satu demi satu pakaian kesehariannya.
Namun, begitu cepat aktivitas itu kandas tatkala seluruh organ tubuh tak lagi ada pembatas dan saling bersentuhan…
Puncaknya, padang kain seprei yang bergetar dalam gelombang tiba-tiba basah dialiri sungai dengan sumber begitu meluap-luap. Lalu diam.
Afi lemas. Tapi puas. Walau, hatinya melayang-layang bagai kapas ditiup angin malam.” (Lanang: 117)
Bukankah sama-sama indah?
8. ilenk | 04/06/2008 at 9:45 am
Aloww…Mas Mus…..daku ya senang kenal sampeyan, apalagi setelah tahu garwane mbak Dyah….aq suka Sintren beliau..salam dari penggemarnya..
sebenarnya aku juga sudah buat semacam kesimpulan/resensi Lanang ini ditinjau tidak dari teks apa tatabahasa yg aq akui ada beberapa kelemahan, tapi aq berusaha membaca dalam kerangka pemikiran setiap penulis selalu ingin menyampaikan apa yanga kan dia sampaikan pada pembacanya, syukur-2 itu bermanfaat…ya kadang penulis kan bisa juga merangkap sebagai juru dakwah..dalam arti luas.
dalam novel Lanang ini, ada yg kutangkap dari penulis yg ingin disampaikan, yaitu 1) segi ilmiahnya (krn.sampai sekarang yg namanya rekayasa transgenik ini luar biasa sudah mengglobal, dan aq sendiri ada kekawatiran bahwa hasil-2nya itu nanti bisa bercampur antara yg halal dan haram (info dr teman yg bekerja di farmasi Jerman, dia bilang bisa jadi dimasa yg akan datang ada daging kambing rasa sapi..malah dengan tertawa dia juga bisa katakan daging babi rasa sapi supaya halal….byuh )
yang ke.2) pesan moral….pengarang tanpa menggurui mencoba menyampaikan pesan itu. Lanang yg hyperseks, juga perempuan-2 itu, juga ex. pendeta yg melecehkan umatnya. disitu diceritakan dengan polos…tak perlu klise karena kehidupan ini sudah polos los los….
ke 3) tentang maskulin di tubuh wanita dan feminim di tubuh lelaki.
disini terlihat bagaimana seorang Lanang yg seharusnya sejatine Lanang malah menjadi seperti wanita (aq bicara hati, ketetapan dlm mengambil sikap,dll) sedangkan Dewi yang wanita malah maskulinnya dia lebih menonjol, bahkan cenderung sadis. Di keseharian itu banyak dijumpai hal-2 seperti ini, aq seperti melihat kehidupan nyata ini.
ke 4) tentang cinta, komitmen….dalam Lanang yang namanya cinta itu seprti ditelanjangi bahwa cinta sekedar basa-basi tak ada komitmen sama sekali, kesetiaan sebagai suami istri porak poranda….dan di kehidupan sekarang ini banyak seperti itu
sebenarnya masih banyak lagi mas Mus yg aq dapatkan dng membca Lanang terlepas dari apa cetaknnya bener, apa tata bahasa baku or not…halah…itu wes urusan ahli tata bahasa dan editor…
masih ingat buku Laskar Pelangi….itu banyak logika bengkoknya, tapi tidak di gubris oleh 400.000 pembacanya dan mereka apresiat terhadap ada pesan yg disampaikan dibalik cerita karangan tersebut.
nah aqpun demikian ketika membaca…apapun buku yg kubaca…mau cerita runut mau kocar kacir..mau mbluet kaya Milan Kumdera..atau mas SGA..atau runut kayak mbah Dyah…mas Kef…as the same…harus ada pesan yang disampaikan..
wah, ajakan diskusi aq tidak menolak, seperti kata alm. HB Yasin..setiap kita mengkritik harus ada juga memuji…positif negatif kudu balance…dan aq pribadi sangat menghargai atas jerih payah semua penulis…mau baru menulis apa mau udah karatan menulis..karena dengan menulis sudah membantu menyampaikan pesan Ilahi pada masyarakat banyak berupa pembelajaran tentang kehidupan..
monggo mas…hehehehe diskusi sambil makan pisgor karo ngupi…halahhh..
9. pelanggar | 04/06/2008 at 10:43 am
Mas Mus, kalau perbandingan tulisan Kurnia Effendi dan Yonathan dalam agenda seks itu seperti ini di bawah ini, kira-kira pendapat Mas Mus bagaimana?
Kurnia Effendi menulis,
“Aku mencium mulutnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Dua kancing bajuku lepas oleh hentakan tangannya. Kudengar detasnya meluncur ke bahwa meja televisi. Rambutnya yang basah hinggap ke wajahku. Entah siapa yang lebih dulu tersengal, tapi sebagaimana keinginanku: Parastuti menari di atas tubuhku. Sepuluh menit kemudian pipinya direbahkan ke dadaku, telinganya mencoba mendengar proses degup jantung yang mereda.” (Kurnia Effendi)
Dan Yonathan menulis,
“Mereka masuk kamar.
Kain seprei yang semula rata dengan muda tiba-tiba menjadi bergelombang. Gelombang-gelombang itu bahkan bergetar laksana lipatan padang pasir terempas gunung-gunung yang roboh.
Langit kelam dalam ruang kamar tiada dapat menghambat aktivitas tersembunyi dua manusia berbeda jenis kelamin, yang terlucuti satu demi satu pakaian kesehariannya.
Namun, begitu cepat aktivitas itu kandas tatkala seluruh organ tubuh tak lagi ada pembatas dan saling bersentuhan…
Puncaknya, padang kain seprei yang bergetar dalam gelombang tiba-tiba basah dialiri sungai dengan sumber begitu meluap-luap. Lalu diam.
Afi lemas. Tapi puas. Walau, hatinya melayang-layang bagai kapas ditiup angin malam.” (Lanang: 117)
Bukankah sama-sama indah?
10. jalansetapak | 04/06/2008 at 11:33 am
Wah, seandainya Anda ikut memberi masukan penyuntingan terhadap novel ini, tentulah akan lebih bagus hasilnya. Saya sepakat narasi di atas memang lumayan bagus menggambarkan suasana. Dan Anda sudah mengeditnya kan?
Ada kata-kata yang Anda hilangkan di bagian “titik-titik” ( … ) itu, yakni:
Rofiqoh mendesis ketika jari Lanang menyentuh organnya yang paling tersembunyi.
Dst. (Wah, orang makin penasaran pingin baca novel ini nih, he…he…) )
Di balik sejumlah kekurangan itu, seperti saya katakan ketika bedah novel itu, memang: pertama, pengarangnya tidak melakukan “pembacaan ulang” terhadap novel itu sebelum diterbitkan. Pembacaan ulang dimaksud ya melakukan penyempurnaan isi, editing, perbaikan bahasa jika ada yang kata-kata yang berpanjang-panjangan dan bertele-tele, dan seterusnya. Pembacaan ulang ini seperti pekerjaan seorang editor, bedanya ini dilakukan pengarangnya sendiri dan kewenanganya sangat luas, termasuk menambahkan dan mengurangi bagian-bagian yang tidak perlu atau dirasakan kurang asyik.
Kedua, ini juga saya sebutkan ketika diskusi itu, fungsi editor di sini juga tidak maksimal. (lihat lagi tulisan saya: “Lanang, Susu, dan Pasar Malam Sastra”). Salam. MUS
11. pelanggar | 04/06/2008 at 1:07 pm
Hehehe… Mas Mus… rupanya makin menarik diskusi ini…
Penghilangan dengan “titik-titik” (…) sebenarnya lebih karena saya mengurangi energi untuk mengetik ulangnya saja. Akan tetapi, baiklah, saya akan mengetik lebih lengkap terhadap bagian yang telah saya hilangkan itu.
“Mereka masuk kamar.
Kain seprei yang semula rata dengan muda tiba-tiba menjadi bergelombang. Gelombang-gelombang itu bahkan bergetar laksana lipatan padang pasir terempas gunung-gunung yang roboh.
Langit kelam dalam ruang kamar tiada dapat menghambat aktivitas tersembunyi dua manusia berbeda jenis kelamin, yang terlucuti satu demi satu pakaian kesehariannya.
Namun, begitu cepat aktivitas itu kandas tatkala seluruh organ tubuh tak lagi ada pembatas dan saling bersentuhan.
Hasrat masih terjaga. Harus ada cara.
Berhasil!
Rafiqoh mendesis, ketika jari Lanang menyentuh organnya yang paling tersembunyi.
Aktivitas di atas padang tempat tidur itu kembali menjadi penuh gelora dengan gerakan tak tertahankan sekalipun caranya begitu berbeda.
Puncaknya, padang kain seprei yang bergetar dalam gelombang tiba-tiba basah dialiri sungai dengan sumber begitu meluap-luap. Lalu diam.
Afi lemas. Tapi puas. Walau, hatinya melayang-layang bagai kapas ditiup angin malam.” (Lanang: 117)
Nah, sudah saya bayar. Lengkaplah narasi itu. Sebab, saya merasa tidak punya hak untuk mengeditnya. Dan maksud saya, saya hanya ingin menunjukkan bahwa mas Mus kurang proporsional dalam menyandingkan narasi yang dibuat oleh Yonathan dengan narasi yang buat oleh Kurnia Efendi. Tidak lebih. Sebagaimana yang saya bilang, “ya mesti beda, to mas… memang indah… coba dibaca lagi, mas… ada juga lo.. yang indah.. mungkin keselip, waktu bacanya…”
Begitu saja, mas Mus… senang berdiskusi dengan sampeyan…
12. pelanggar | 04/06/2008 at 1:24 pm
O, ya. Ada yang ketinggalan. Saya menghargai tindakan Yonathan dalam hal tidak mengedit Novel Lanang ini. Kenapa? Saya cenderung menafsirkan bahwa Yonathan tidak ingin mengubah terhadap karya yang telah dimenangkan oleh Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2006 itu. Dalam bahasa lain, “Ini lo novel yang menang itu.” Jadi, Yonathan tidak membohongi publik. Apalagi, ada beberapa kelompok sastrawan yang cenderung untuk tidak mau mengedit karya sastra, dikarenakan sastra adalah ungkapan spontan. Mungkin Yonathan memegang teguh pandangan itu. Dan siapapun yang mempunyai keyakinan tertentu, tentu, kita menghargainya, bukan? (Biar tidak seperti FPI yang memaksakan keyakinannya untuk diikuti oleh semua orang).
By the way, Lanang, bagi saya, menjadi salah satu bagian dari khazanah sastra Indonesia, yang mungkin mempunyai gaya pengucapan novel yang berbeda dengan gaya pengucapan novel Indonesia umumnya sebelumnya. Meskipun orang lain menganggap karya Novel Lanang ini adalah pelanggar. hehehehe.. saya jadi ingat analisa Ignas Kleden terhadap karya Sutardji Calzoum Bachri yang dianggap sengaja melakukan pelanggaran kaidah bahasa Indonesia, karena ingin menuangkan betapa bangsa Indonesia suka melakukan pelanggaran. Hahahahaha….
Okay, mas Mus..
salam pelanggar
di mana ada hukum, di sana ada pelanggar.
13. syndicates | 04/06/2008 at 6:18 pm
HA HA HA HA
Bung Mustafa Ismail dan sidang pembaca sekalian…
Kita sekarang sudah melihat dengan nyata. Bung Mustafa Ismail ternyata memang editor handal. Komentarku pun dieditnya sesuai dengan kepentingannya sendiri. Fakta dihilangkan untuk membuat kesan tertentu sesuai dengan kepentingan sang editor, bukan kepentingan penulis. Dari diskusi yang panjang ini, bung mustafa juga tampak jelas bukan orang yang obyektif. tidak menjunjung tinggi fakta setinggi-tingginya sebagaimana motto seorang jurnalis. Dari salah satu tampilan yang disajikan oleh pelanggar menunjukkan anda memang tidak bisa membandingkan satu hal dengan hal lain secara berkesesuaian.
Bung Mustafa, ayo kita ubah cara pandang kritik sastra sebagai upaya pembantaian, pengecaman, penjelek-jelekan, dan segala tindakan yang tidak obyektif. Mari kita selamatkan tradisi kritik sastra yang tidak sehat. Tunjukkan kalau anda memang orang yang benar-benar obyektif dalam memberikan penilaian.
14. jalansetapak | 04/06/2008 at 7:24 pm
Bung Syndicates, saya kira cara Anda berbicara sudah tidak sehat. Bahkan, dalam tulisan Anda sebelumnya, Anda menyebut-nyebut tempat saya bekerja (bagian itu telah saya hilangkan). Itu tidak ada hubungannya dengan diskusi tentang Lanang. Selanjutnya, saya tidak akan menanggapi lagi omongan Anda. Saya berharap sebuah diskusi yang sehat dan mencerahkan. Jika bagi Anda Lanang banyak kelebihan, yang mesti Anda lakukan adalah menggali kelebihan-kelebihan itu. Jadi, dari pada marah-marah, mendingan Anda buat sebuah tinjauan panjang tentang Lanang. Itu jauh lebih positif. Salam. MUS
15. Pengelola Blog | 06/06/2008 at 9:19 am
MAKLUMAT
Kawan-kawan, terima kasih Anda telah ikut menikmati diskusi tentang Novel Lanang. Namun, buat teman-teman yang ingin memberi komentar, saya mempermaklumkan untuk selalu mengacu pada teks novel itu, bukan pada orang yang memberi pendapat terhadap novel itu. Ulaslah novel itu menurut pembacaan Anda, kelebihan dan kekurangannya. Komentar yang keluar dari fokus pembicaraan, apalagi bernada menghujat dan mencerca pihak lain yang memberi komentar, akan segera dihapus dari blog ini. Ini demi terciptanya diskusi yang sehat dan mencerahkan.
16. nedyasafira | 08/06/2008 at 8:11 pm
Peace forever for ACEH, Hai Tgk. Mus I was one of the Acehinese young men, NEDYASAFIRA I felt happy read blog you, evidently Aceh was still having the generation that dedicated himself in the field sastra. you were someone that conserved the literary work, Peace for Bang Mus…!!!
,I am still new in the world blogging, requested criticism of the suggestion to my blog at : http://nedyasafira.blogspot.com
17. nedyasafira | 08/06/2008 at 8:16 pm
Trims buat Tgk.Mus,Artikelnya bagus -bagus. blog anda sangat berharga karena turut melestarikan karya sastra. jarang ada blogger yang mau membuat blog dengan tema karya sastra. teruslah berusaha di update.
18. jalansetapak | 08/06/2008 at 8:56 pm
Terima kasih atas apresiasinya. Saleum, MUS
19. Shinta Suciati | 13/06/2008 at 12:36 pm
Like watching a movie
By:
Shinta Suciati
FKIP
Universitas Ibn Khaldun Bogor
06211210498
Semester IV Afternoon
Novel Lanang tell about a man the name is Dr. Lanang, he is veterinarian and he lived in the village and his wife was named Putri. The night he halp born Cow property Sukarya bat in the morning the little cow that he halp died. He was very shocked, then he had made some investigation.
All Doctor make a seminar for this cause, in the Seminar he meet Dr. Dewi she was a holder of doctorate who worked as a follower of foreign corporation, and than she was created transgenic animal that was able to spread the virus of diseae named ” Burung Babi Hutan ”
Actually Dr Dewi be an accessrt with Rajikun for distant Dr. Lanang. Dr. Lanang was a combination that surprised between the latest experiment of biology with the nature of traditional spiritual.
Reading Novel is like watching a movie, there is a psychological conflik among the A character that is appeared deeply and presented like real.
\ This story can be a reflection of wahat is being happened in the field of animal medical Wnd animal husbandry in this country.
20. Ai Tuti Alawiyah | 19/06/2008 at 11:58 am
Ai Tuti Alawiyah
FKIP
Universitas Ibn Khaldun Bogor
Name : Ai Tuti Alawiyah
NPM : 06221210680
Semester; IV afternoon
Title : Lanang
Author : Yonathan Rahardjo
Editor : A. Fathoni
Publisher: Alvabet Sastra
Year : 2008
Page : 416 pages
Toko Buku:TB Gramedia,Gunung Agung, Surabaya: TB Uranus
In general, this story vividly tells about disagreement, deception, religion, spiritual, accident, prostitution and sex. There is a psychological conflict among the characters that is appeared deeply and presented like real.
The novel was told about Ihe story of veterinary surgeon was named Lanang. Lanang was a veterinary surgeon in his village and has a wife was named Putri. His daily activity is help me dairy cow breeder. In the morning, the little cow that he help was died. He was very shocked, then he had made some investigation, but he still failed to find it. He doesn’t know that caused dairy cow was died. But he remember with “Burung babi hutan” that has come him.
Then, all doctor make a seminar for this case. In that seminar, he met Dr. Dewi. Dewi was a holder of doctorate who worked as a henchman of foreign corporation. She had a duty for supplying genetic engineer product from foreign country. She created transgenic animal that was able to spread the virus of disease named wild boar bird or Burung Babi Hutan. Since appearing of this peculiar animal, the area of dairy cow where Lanang worked suddenly attacked by the mysterious disease. Lanang was a clever veterinarian.
I think that is an impressive thing. An animal veterinarian who dominates the scientific language can also dominate poetic language. Apparently scientists also can be romantic person. I think Lanang is an interesting reading.
21. panitia_pds_hbjassin_novellanang | 26/06/2008 at 3:12 am
UNDANGAN PDS HB JASSIN BEDAH BUKU NOVEL LANANG
PUSAT DOKUMENTASI SASTRA H.B.JASSIN
Mengundang Anda Hadir pada:
BEDAH BUKU NOVEL LANANG
(Karya Yonathan Rahardjo, Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, diterbitkan oleh Pustaka Alvabet 2008)
Hari, Tanggal: Senin, 30 Juni 2008
Pukul: 15.00 – 17.30/ selesai
Tempat: Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin (PDS HBJ)
Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya 73 Jakarta Pusat
PEMBICARA UTAMA:
Prof.Dr.I.Bambang Sugiharto
(Guru Besar Fakultas Filsafat Universitas Parahiyangan Bandung )
PEMBANDING:
1. Chris Poerba
(Peneliti, Pemerhati Konsep Hegemoni, Penerima Selo Soemardjan Award
2004 /Riset, Juara I National Geographic Indonesia 2007 /Paper)
2. Sahlul Fuad
(Peneliti, Pemerhati Konsep Resistensi)
MODERATOR:
Endo Senggono
(Kepala Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin)
LAFALISASI CUPLIKAN NOVEL LANANG:
A. Badri A.Q.T.
TERBUKA UNTUK UMUM, TIDAK DIPUNGUT BIAYA
Kontak Panitia:
Endo Senggono (0817 0787724)
Alin SP (081 881 9944, 0813 1796 9944)
22. panitia_pds_hbjassin_novellanang | 04/07/2008 at 12:05 pm
“LANANG” : Imajinasi yang Menawan dalam Kemasan Canggung
Review: Bedah Buku Novel “Lanang”, karya Yonathan Rahardjo, PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, 30 Juni 2008
“LANANG” :
Imajinasi yang Menawan dalam Kemasan Canggung
Oleh: Bambang Sugiharto
Guru Besar Filsafat, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Juri Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006.
Novel “Lanang” adalah sebuah karya yang agak aneh dari Yonathan Rahardjo. Novel yang pada banyak bagiannya memainkan kekuatan bahasa puitik itu , ternyata berbeda dari novel-novel puitik yang telah melanda dunia sastra kita sekitar dasawarsa terakhir ini. Mereka yang terbiasa dengan kecanggihan memadukan bahasa puitik dan bahasa deskriptif ala Ayu Utami, Nukila Amal ataupun Linda Christanty misalnya, saat membaca novel “Lanang” akan menemukan adanya kepincangan antara kemampuan puitik dan kemampuan deskriptif itu. Membaca “Lanang” membutuhkan kesabaran untuk bertahan menghadapi kalimat-kalimat ganjil dan nyaris mentah terutama di bagian awal, sambil tetap berupaya memasuki bagian-bagian yang lebih jauh di tengah dan belakang. Betapa tidak, bagian-bagian awal penulisannya memang seperti agak canggung, terutama pada deskripsi-deskripsi suasana percintaan, yang sering terasa klise dan memberi kesan amatir. Namun, andai untuk sementara hal itu diabaikan, lama-kelamaan kesan itu agak terhapus dan perlahan-lahan kita akan terseret ke dalam irama penataan tegangan dan pengolahan jaringan tematik yang pelik, yang sesungguhnya mendalam, sangat imajinatif dan mengesankan. Bahkan, sisi substansi tematik itulah yang menonjol pada novel ini, unsur yang -antara lain- telah menjadikannya salah satu pemenang Sayembara Novel DKJ 2006. Tema rekayasa genetika dan pengolahan alur ceritanya yang memadukan unsur thriller dengan eksplorasi persoalan-persoalan pelik pada ranah psikologi, agama, bisnis, sosial dan politik itu mendudukannya pada posisi unik dalam khasanah sastra Indonesia.
Alur penuh teka-teki
Pada dasarnya novel ini adalah cerita tentang dokter hewan bernama ‘Lanang’ yang terperangkap dalam jaringan intrik rumit bisnis rekayasa genetika dan akhirnya menjadi salah satu korban rekayasa tersebut. Itu terjadi di satu pihak akibat dendam percintaan para perempuan (Dewi dan Putri) yang merasa telah dipermainkan oleh Lanang, di pihak lain akibat kepentingan bisnis para perempuan tersebut di bidang rekayasa genetika yang memang membutuhkan tubuh manusia sebagai perantara untuk persilangan kecenderungan genetik positif burung dengan kecenderungan genetik negatif babi hutan.
Yang menarik adalah bagaimana alur cerita itu dikembangkan dan ditata dengan sisipan misteri atau teka-teki di sana sini, lantas diberi jawaban di bagian akhir novel. Bagai cerita detektif , Yonathan Rahardjo mengawali novelnya dengan semacam gimmick yang memancing perhatian, yaitu kemunculan suatu mahluk ganjil -‘Burung Babi hutan’- yang mengganggu kemesraan Lanang dan istrinya (Putri), serta kematian mendadak sapi-sapi perah di desa tempat kerja Lanang, bagai wabah yang mengerikan. Sejak itu Lanang terobsesi memburu penyebab utama wabah ternak itu sekaligus hendak mencari tahu apa gerangan Burung Babi hutan itu; dua hal yang tampak seperti saling berkaitan . Ketika masyarakat mulai ramai memerkarakan wabah itu, tiba-tiba tampillah sosok misterius bernama Rajikun, yang dianggap sebagai Dukun Hewan dan memastikan bahwa penyebab wabah memang burung babi hutan itu. Terjadilah kekisruhan politik akibat konflik antara pandangan ilmiah kedokteran-hewan dengan pendapat dukun yang tak masuk akal dan berbau klenik. Dari sana terjadilah perumitan persoalan berlapis-lapis : Lanang yang awalnya tampak bagai seorang dokter yang baik, religius, dan berdedikasi tinggi, ternyata suka pergi ke pelacuran, kendati sudah beristri masih juga mengencani Dewi mantan pacarnya seolah tanpa beban, gemar mengumpulkan cairan dari kelamin perempuan-perempuan, dibayangi terus oleh halusinasi melihat burung babi hutan, dst. Dan segala kerumitan itu lantas berakhir dengan berhasilnya Lanang membunuh burung babi hutan. Dengan ritual aneh yang memadukan rumusan ilmiah genetika dan keyakinan religius Lanang berhasil memancing kemunculan burung babi hutan itu, lantas menembaknya hingga tewas. Ini tampak sebagai semacam klimaks awal dari ketegangan yang ditata dengan bagus.
Namun ternyata itu bukan akhir cerita. Setelah situasi desa pulih kembali dan Lanang dielu-elukan sebagai pahlawan, perlahan-lahan Lanang memasuki jaringan bisnis penuh intrik. Tapi itu tak lama, sebab cerita menanjak dan mengklimaks lagi saat Lanang akhirnya dituding di depan umum oleh Rajikun sebagai pencipta burung babi penyebar wabah, dan sekaligus saat itu dibeberkan pula segala kebiasaan seksual Lanang yang penuh aib. Tentu saja reputasi Lanang mendadak jatuh berantakan. Ia menjadi skandal. Tak hanya itu, di saat lain Lanang memergoki Putri, istrinya, sedang bersetubuh dengan Rajikun. Celakanya itu terjadi atas permintaan Putri sendiri. Rajikun ternyata melakukannya sebagai balas dendam atas masa lalunya yang juga pernah dirusakkan oleh Lanang, kendati Lanang tak sepenuhnya menyadari. Alhasil Lanang lantas mengalami kehancuran batin bertubi-tubi dan seperti menjadi gila. Dalam situasi itu ia pun ditangkap dan dimasukkan ke dalam laboratorium sebuah perusahaan untuk bahan percobaan. Di puncak segala peristiwa itu dibukakanlah jawaban segala misteri: ternyata semua kejadian itu adalah rekayasa Dewi, direktur perusahaan genetika tersebut, yang hendak menghancurkan Lanang karena dendam sakit hati, tapi juga karena hendak menggunakan tubuh Lanang demi kepentingan bisnisnya bersama dengan perusahaan asing. Adapun Rajikun, Putri, Burung Babi, dsb. hanyalah bagian dari rekayasa yang didalangi Dewi itu.
Kerumitan tematik
Tema yang digarap Yonathan dalam novel ini berlapis-lapis. Tema utama barangkali cinta, seks, dan balas dendam. Di sini yang menarik adalah penampilan aspek ilusoris dari cinta. Pada tokoh Dewi maupun Putri, kendati sejak awal mereka paham bahwa cinta hanyalah ilusi, sepertinya tetap saja cinta itu mereka nikmati. Mereka seperti menjadi pribadi lain. Ketika ilusi itu akhirnya terbongkar, mereka pun berubah lagi. Sedang pada Lanang cinta sepertinya memang tidak mesti identik dengan kesetiaan seksual. Dan sebaliknya, perselingkuhan seksual tidak mesti berarti penghianatan atas cinta. Pada lelaki Lanang seks sepertinya hanyalah aliran naluriah-fisik belaka. Meskipun begitu diam-diam ia menikmati harga diri kelelakiannya dalam keperkasaan seksual itu juga. Di sana ia merasa bagai ‘Tuhan’, yang menguasai para perempuan. Namun persis titik itulah ilusi Lanang, ilusi kedigdayaan, sebab bagi para perempuan itu keperkasaan seksual Lanang hanya menunjukkan bahwa ia tak lebih dari sekedar pejantan. Sebuah permainan ilusi yang sebenarnya mencerminkan kebodohan laki-laki umumnya: pada saat ia merasa hebat dan menguasai, di situlah ia justru sedang dikuasai dan lemah. Di akhir novel supremasi kaum perempuan bahkan menjadi demikian eksplisit. Di sana akhirnya Lanang menjadi sekedar robot atau bahkan zombie belaka di bawah kendali Dewi, sang majikan.
Tema lain yang sangat menonjol tentu adalah ihwal bisnis dunia kesehatan dan industri obat. Novel ini mengeksplorasi dengan rinci, dan seringkali sangat teknis, kait-mengait berbagai instansi dalam jaringan penipuan yang teramat massif, termasuk permainan politik dengan pemerintah. Demikian banyak siasat dilematis ditampilkan. Bagaimana misalnya zat-zat transgenik tertentu bisa memacu produktivitas namun sekaligus menimbulkan kemungkinan penyakit. Dan itu justru disengaja, sebab kemudian perusahaan akan menjual obat penangkalnya. Semua hanya demi mata-rantai pemasaran belaka.
Tak kalah menariknya adalah perpaduan antara wacana bio-teknologi dengan perspektif spiritual religius nyaris klenik. Zat yang menjadi penyebab wabah misalnya, dilukiskan sebagai semacam gas dari persilangan antara gen kebodohan dan gen kemalasan. Gas ini perilakunya bagai roh , yang mencari tubuh-tubuh yang batinnya kosong, sekaligus bisa keluar-masuk tubuh bagai energi cahaya. Atau sewaktu Lanang membuat percampuran kimiawi demi menghadirkan burung babi hutan, ternyata percampuran itu menimbulkan reaksi karena dibarengi ritual doa, dan hasilnya pun menjadi sembilan ‘biji utama’ berwarna merah muda, yaitu biji ‘kasih’, biji ‘sukacita’, dst.seperti yang termaktub dalam Kitab Suci kristiani. Ini imajinasi brilian yang teramat ganjil dan tak terduga. Namun salah satu bagian terbaik dari novel ini adalah saat melukiskan konflik-konflik keagamaan. Di sana segala bentuk kemunafikan dan kerapuhan nafsu badani ditelanjangi; baik dalam konteks Lanang, Rajikun, Putri maupun Dewi. Yang menarik adalah bahwa segala keyakinan suci dilukiskan berdampingan tanpa beban dengan perilaku-perilaku bejat. Dan itu memang fenomena-fenomena menakjubkan yang lazim terjadi di negeri ini.
Pengembangan Tegangan dan Karakter
Keterampilan Yonathan menata alur dan mengembangkan ketegangan juga menawan. Bagai sutradara film yang berpengalaman ia menyeret pembaca mencapai ledakan-ledakan klimaks yang berrantai : segala adegan di bagian-bagian awal ditata menanjak menuju tertembaknya burung babi hutan. Setelah itu situasi mengendur dengan kesuksesan Lanang. Namun tak lama kemudian situasi digenjot lagi ke arah klimaks berikutnya, yaitu terbongkarnya skandal kehidupan Lanang secara mendadak oleh Rajikun. Pada bagian ini reaksi Lanang di depan umum yang kacau dan meracau dengan bait-bait puisi yang tak terpahami adalah pelukisan psikologi yang cerdas dan tak terduga atas kepanikan memuncak yang tak tertahankan. Dan setelah itu adegan dipacu terus hingga meledak di akhir cerita dengan kegilaan Lanang, yang diikuti pembongkaran aneka misteri dalam pidato Dewi. Di tangan sutradara yang piawai novel ini niscaya dapat diangkat menjadi film sci-fi terobosan yang menawan dan berbobot, mengingat belum ada film sci-fi cukup berarti yang dihasilkan oleh negeri ini.
Dalam pengembangan karakter, yang menarik adalah bahwa ketika Lanang dilukiskan bergeser dari ideal tinggi perlahan menurun, rusak dan akhirnya gila, Dewi dilukiskan sebaliknya: menanjak, merumit dan akhirnya keluar aslinya yang bengis, ambisius dan luarbiasa cerdas. Sementara itu Putri adalah kelembutan misterius yang merayap tenang di bagian-bagian awal, namun menyeruak mengejutkan di bagian akhir, menyertai Dewi. Sosok unik yang pelik dalam novel ini sebenarnya adalah Rajikun, suatu tokoh yang tak persis hitam-putih, melainkan sebuah karisma yang licin, licik dan pandai memainkan situasi demi kepentingannya sendiri. Bila sosok Dewi masih terasa agak stereotipikal, sosok Lanang maupun Rajikun memperlihatkan keunikan dan kerumitan karakter, yang menunjukkan observasi psikologis lumayan tajam dari penulis novel ini.
Beberapa hal yang mengganggu
Seperti telah disinggung di depan, hal yang menganggu dalam novel ini adalah deskripsi-deskripsi puitik yang di bagian-bagian awal terasa canggung, klise dan amatiran. Lihatlah kalimat-kalimat ini misalnya “Kabut pun menutup rumah-rumah penduduk yang begitu berjauhan letak antara satu rumah dengan rumah lainnya; meski dikatakan, mereka bertetangga dekat” (hlm 2). Atau “Ah, ia pun takut jangan-jangan tempat tidur itu adalah batu cadas yang akan memecah pualam yang selalu dilindunginya sehati-hati mungkin, seperti perempuannya menjaga biji matanya yang bersinar lembut cemerlang.” (hlm 8). Juga ungkapan macam ini “Amboi, bahkan alam pun berpihak pada kita….Ia belai-belai kita dengan napasnya yang melambaikan buatan-buatan manusia, mengipas-ngipas agar kita makin membara.” ( hlm 9). Masih banyak frasa yang bukan saja canggung ungkapan puitiknya , melainkan juga kabur imajinasi logisnya seperti itu. Dan ini bertaburan dimana-mana. Tapi itu terasa terutama manakala Yonathan sedang mendeskripsikan situasi atau adegan. Ini misalnya :”Akankah Lanang bisa menahan gempurannya ? Tamu, tamu yang ingin datang yang dia tidak pernah merasa diundang tapi akan datang dan menjemput” (hlm 321). Seolah pada titik-titik tertentu kemampuan deskriptif Yonathan seperti tersesat dan struktur bahasanya menjadi kusut. Namun anehnya, secara keseluruhan alur cerita berjalan dengan baik, bahkan dengan peningkatan intensitas ketegangan yang lantas meledak. Sebetulnya di saat-saat ia membuat puisi saja dan tak mesti dibebani fungsi deskriptif Yonathan seperti tak punya masalah. Lihat misalnya ketika Lanang meracau mendaraskan puisi panjang setelah dipermalukan di depan umum oleh Rajikun. Yang muncul adalah frasa-frasa kacau yang menawan dan menggetarkan macam ini : “Baja telikung hati jadi banci/ terkabar dalam kecup bundar bumi/ Rombengkan mimpi kian membatu/…Konstata dalam goncangan kuantum/ harubirukan jilatan kadal buntung/ ketabahanku merajut benang menjadi jaket/ adalah kekuatan dalam jari bermata”,dst.dst.
Namun semakin ke dalam kelemahan itu seperti kian tak terasa. Seakan mesin penulisan Yonathan makin ke dalam makin panas dan fasih. Namun terlepas dari kecanggungan linguistik itu, toh bagian-bagian yang melukiskan reflektivitas atau perang batin masih cukup tersampaikan dengan baik dan tak banyak terganggu.
Akhirnya yang perlu diingat adalah bahwa dalam suatu kompetisi, kualitas yang dimiliki para pemenang umumnya adalah kualitas dalam arti ‘keunggulan komparatif’ yang tampak menonjol hanya dalam konteks kecil kalangan peserta saja. Dan dalam konteks komparatifnya itu tetaplah novel “Lanang” memiliki keunikan dan keunggulannya sendiri.
23. Panitia PDS HB Jassin Bedah Novel Lanang | 23/07/2008 at 12:12 pm
Tema Dan Bahasa Perlawanan Lanang[1]
(Sebuah Pengantar)
Sahlul Fuad[2]
Setelah membaca Novel Lanang, meskipun kita bukan kritikus sastra, kita pun dapat berposisi dan berlaku sebagai kritikus sastra. Pada posisi ini, pengertian “kritikus” tidak mereferen ke kata “kritik” yang berarti kecaman. Akan tetapi, kalau merujuk ke KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kita akan melihat seperti di bawah ini:
kri·tik n kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk thd suatu hasil karya, pendapat, dsb;
– ekstern tahap penelitian berdasarkan liputan fisik berupa deskripsi bentuk, jenis aksara, bahan, lingkungan, dan lokasi keberadaan prasasti; — film kupasan dl media massa mengenai film yg dipertunjukkan di sebuah bioskop, ditinjau dr segi kekuatan dan kelemahannya, kelebihan dan kekurangannya yg dilandasi alasan yg logis; — intern tahap kerja yg dilakukan berdasarkan hasil liputan data lapangan, yaitu transliterasi dan transkripsi ke dl bahasa sasaran melalui analisis perbandingan dng berbagai terbitan yg ada, baik dr sumber tertulis maupun analogi epigraf; — membangun kritik yg bersifat memperbaiki; — naskah metode dl filologi yg menyelidiki naskah dr masa lampau dng tujuan menyusun kembali naskah yg dianggap asli dng cara membanding-bandingkan naskah yg termasuk dl satu jenis asal-usul, lalu menentukan naskah yg paling tinggi kadar keasliannya, kemudian mengembalikannya pd bentuk yg asli atau yg mendekati aslinya; — sastra pertimbangan baik buruk thd hasil karya sastra; — teks kritik naskah;
meng·kri·tik v mengemukakan kritik; mengecam;
peng·kri·tik n orang yg mengkritik; orang yg mengemukakan kritik
Dengan demikian, dalam posisi sebagai pengkritik Novel Lanang, mestinya kita tampilkan seluruh narasi yang ada di dalamnya. Tujuannya jelas, agar kita memposisikan sebagai “kritikus yang obyektif”. Kita tidak pada tempatnya menafikan fakta-fakta yang ada hanya untuk membangun kesan buruk, yang cenderung mengecam saja, atau sebalinyamemuji dan memuja semata.
Setidaknya, membaca Novel Lanang ini memunculkan beberapa aspek yang perlu mendapat sorotan. pertama, aspek bahasa. Penggunaan bahasa yang dituturkan dalam novel ini jauh berbeda dengan novel-novel zaman sekarang, “yang apa adanya” dalam tradisi bahasa Indonesia sehari-hari. Pakcik Ahmad aktivis milis Apresiasi Sastra bilang, “Novel Puisi”.
Kedua, aspek tema. Novel Lanang ini mengandung beragam tema yang berpadu satu dalam kompleksitas kehidupan. Setidaknya, tema-tema yang mengemuka dalam novel ini antara lain: dunia perhewanan, dunia kesehatan, dunia seks, dunia politik kebijakan, dunia politik konspirasi, dunia intrik politik, dunia mistik, dunia agama dan moral, dunia tradisi, dunia lingkungan, dunia ilmiah, khususnya dunia kedokteran hewan.
ADEGAN SEKS SEBAGAI CONTOH PERPADUAN TEMA DAN BAHASA
Marilah kita membahas perpaduan antara dua hal tadi, bahasa dan tema dalam Novel Lanang dengan memasuki suatu hal yang sangat digandrungi banyak orang: Seks, yang banyak kita jumpai adegan-adegannya dalam Novel Lanang, yang bukan hanya antar manusia tetapi juga antara manusia dengan binatang yang disajikan cukup mendetil.
Dalam buku “Mengarang Novel itu Gampang” Arswendo Atmowiloto menjelaskan, antara lain, novel itu mengandung banyak pemanis, seperti unsur seks, dan lain-lain. Akankah di Novel Lanang unsur seks ini hanya menjadi sekedar pemanis saja? Ternyata tidak, karena bila adegan seks dalam Novel Lanang dilenyapkan atau dikurangi, kerangka cerita akan berubah, karena seks mempunyai kaitan erat dengan penyakit misterius, sekaligus sumber dan ”media” penyelesaiannya.
Selain itu, adegan seks di novel ini juga menunjukkan kecenderungan tokoh Lanang sebagai ”lanang”. Sementara di dunia dokter (juga pakar) hewan, kenyataannyalah kalangan ini sangat terobsesi terhadap masalah pembiakan, karena harus berpacu dengan pertambahan jumlah penduduk yang merupakan deret ukur dibanding pemenuhan pangan yang merupakan deret hitung. Penduduk manusia pun sangat membutuhkan protein untuk kesehatan dan perkembangannya, dan semua ini berkaitan erat dengan seks untuk perkembangbiakan.
Jelas, beberapa adegan seks dalam cerita ini bukan untuk sekadar klise dan membubuhi novel ini seperti halnya kisah porno. Akan tetapi, adegan seks di sini juga menjadi bagian dari pemecahan persoalan yang dihadapi Lanang.
Secara bahasa dalam adegan seks ini kita bisa membandingkan tulisan Yonathan Rahardjo dengan tulisan Kurnia Effendi sastrawan Indonesia yang terkenal tulisan-tulisannya yang indah tentang cinta dan percintaan.
Dikutip oleh Wartawan Koran Tempo Mustafa Ismail dalam blog-nya, Kurnia Effendi menulis:
“Aku mencium mulutnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Dua kancing bajuku lepas oleh hentakan tangannya. Kudengar detasnya meluncur ke bahwa meja televisi. Rambutnya yang basah hinggap ke wajahku. Entah siapa yang lebih dulu tersengal, tapi sebagaimana keinginanku: Parastuti menari di atas tubuhku. Sepuluh menit kemudian pipinya direbahkan ke dadaku, telinganya mencoba mendengar proses degup jantung yang mereda.”
Dan, Yonathan Rahardjo menulis:
“Mereka masuk kamar.
Kain seprei yang semula rata dengan muda tiba-tiba menjadi bergelombang. Gelombang-gelombang itu bahkan bergetar laksana lipatan padang pasir terempas gunung-gunung yang roboh.
Langit kelam dalam ruang kamar tiada dapat menghambat aktivitas tersembunyi dua manusia berbeda jenis kelamin, yang terlucuti satu demi satu pakaian kesehariannya.
Namun, begitu cepat aktivitas itu kandas tatkala seluruh organ tubuh tak lagi ada pembatas dan saling bersentuhan.
Hasrat masih terjaga. Harus ada cara.
Berhasil!
Rafiqoh mendesis, ketika jari Lanang menyentuh organnya yang paling tersembunyi.
Aktivitas di atas padang tempat tidur itu kembali menjadi penuh gelora dengan gerakan tak tertahankan sekalipun caranya begitu berbeda.
Puncaknya, padang kain seprei yang bergetar dalam gelombang tiba-tiba basah dialiri sungai dengan sumber begitu meluap-luap. Lalu diam.
Afi lemas. Tapi puas. Walau, hatinya melayang-layang bagai kapas ditiup angin malam.” (Lanang: 117)
Kita dapat merasakan, bahasa pengungkapan keduanya: sama-sama indah. Dan, secara proporsional kita telah melakukan perbandingan yang adil karena telah menyandingkan secara utuh narasi yang dibuat oleh Yonathan Rahardjo dengan narasi yang buat oleh Kurnia Effendi. Dan kelebihan pengadeganan seks oleh Yonathan dalam Novel Lanang sangat terkait dan tak terpisahkan dari misteri cerita utama dan media pengungkap kehadiran burung babi hutan itu sendiri.
Bahasa
Begitulah, dalam Novel Lanang, Yonathan Rahardjo bercerita dengan ungkapan yang, menurut saya, sangat indah. Sosok Drh. Lanang yang menjadi tokoh utama dalam kisah ini ditampilkan sebagai manusia yang kompleks. Pada saat tertentu, Lanang, adalah sosok yang penuh kasih sayang, tanggung jawab, dan kokoh, namun di saat yang lain, Lanang adalah sosok yang kurang peduli alias egois, tidak bertanggung jawab, dan rapuh. Saya suka sekali dengan pengungkapan yang seperti ini. Dengan demikian, Lanang menjadi sosok manusia yang memang mempunyai kelemahan dan kelebihan. Tidak seperti para tokoh dalam kisah-kisah lain yang menjadikan tokoh utama menjadi sosok yang benar-benar tanpa cela kelemahan.
Novel ini benar-benar memberikan warna bahasa sastrawi yang kental. Hal inilah yang membedakan dengan novel-novel yang beredar selama ini. Novel yang tidak semata-mata untuk bercerita. Melalui cara pandang sebagai dokter hewan, Lanang benar-benar memanfaatkan keilmuan dan pengetahuannya sebagai dokter hewan untuk bertutur dalam novel ini. Pantas saja kalau Prof. Drh. Charles Ranggatabbu, MSc, PhD, merekomendasi, “Novel yang patut menjadi bacaan “wajib” bagi kalangan kedokteran hewan dan peternakan serta peminat seni sastra pada umumnya.” Saya kira, ungkapan ini tidak berlebihan. Karena memang begitulah yang saya baca.
Saya tidak tahu, apakah pernah ada novel dari putra nusantara yang seilmiah dan sesastra ini? kalau ada, saya ingin sekali tahu…Sebaliknya, ada kritik yang menyatakan bahwa tata bahasa Lanang berantakan, saya menolak hal ini, sebab kalau tata bahasanya berantakan… berarti tulisan tersebut tidak bisa dibaca, dong… Untuk pengkritik yang demikian, saya minta diajari cara membaca tata bahasa yang salah. Saya juga ingin belajar gaya bahasa, sebab antara tata bahasa dengan gaya bahasa itu jelas beda, meski sering sekali saya memosisikan sama antara gaya bahasa dengan tata bahasa ini.
Kepada pengkritik semacam itu, saya katakan ayo tampilkan seluruh fakta yang “hancur” itu. Berapa persen “kehancuran” dari novel itu? Apakah persentasenya sudah sangat layak untuk membuang bacaan itu…. Kata dengan tanda kutip “hancur” adalah bahasa saya. Tampilkan semua hasil temuannya terhadap kesalahan (dalam istilah saya “kehancuran”) tata bahasa dalam novel lanang itu… Lalu, kita hitung seberapa parah kesalahan tersebut, sehingga kita tahu bahwa perdebatan tentang tata bahasa dalam Novel Lanang ini menjadi penting atau tidak…
Orang yang berpendapat demikian, menurut saya terlalu tekstualis. Saya sarankan, sedikit berkontekstuallah… Ajari saya juga membaca Lanang menjadi tidak nyaman… Sebab, saya sudah baca Novel Lanang dari halaman 1-416, dengan sedikit selip-selip, saya merasa nyaman… apa yang salah dari cara baca ini?
Beruntunglah kita, dengan lahirnya karya Lanang ini. Seandainya tidak ada gaya seperti Lanang, khazanah bahasa sebagian dari antara kita tidak akan pernah berkembang. Justru, salah satu kekuatan dari novel ini adalah dari gaya bahasa ini. Ambillah contoh keberanian Yonathan bergaya bahasa metafora tentang neraca, timbangan, yang dapat diartikan sebagai pertimbangan pemikiran, yang dilantunkan oleh Lanang dalam lamunan, atau perasaan, pikiran atau apapun pergumulannya:
“…Ketika aku melantunkan neraca-neraca merdu yang menuntun jari jemari jiwaku mendayu-dayu dalam liuk semenari tubuh gemulaimu dengan tarian rindu…” (Lanang:170)
Saya jadi teringat pidato Daoed Yoesoef, Mantan Menteri P dan K, dalam sambutan pengumuman Sayembara Novel DKJ 2006 waktu itu. Bangsa Indonesia justru lebih tertarik mengejar-kejar bahasa asing. Sekolah-sekolah kini lebih mengemukakan bahasa asing daripada bahasa Indonesia yang kita pakai sehari-hari. Naif sekali jika bahasa Indonesia terus mengalami kemrosotan keindahannya karena karya-karya yang tidak mengindahkan bahasanya. Alangkah miskin pengalaman bahasa kita selama ini, jika tidak ditunjang dengan produktivitas para sastrawan, termasuk penyair, dalam mengucapkan sesuatu seperti dalam pilihan metafora yang berani itu.
Pengalaman apa yang bisa kita peroleh dari bacaan-bacaan kita selama ini, tak lain pengucapan bahasa secara standar. Apakah dengan pengucapan bahasa standar tersebut mampu menyentil kesadaran kita untuk meningkatkan peradaban bahasa kita? Saya tidak yakin. Pengalaman pribadi saya belum pernah merasakan sentilan itu, selain dari membaca karya puisi dan prosa bermutu. Dengan demikian, apakah dengan pengucapan bahasa standar mampu mendobrak kebekuan bahasa Indonesia, yang semakin ditindas lewat chating, sms, dan bahasa-bahasa gaul itu?
Misalnya, seseorang yang suka abai terhadap karya puisi, lalu kita diberi sebuah puisi (atau kalimat puitis). Kira-kira, apa tanggapan seseorang yang suka abai terhadap karya puisi? “Entahlah, aku tidak paham bahasa seperti ini.” Lalu, siapa yang suka dengan ungkapan-ungkapan seperti karya puisi? Saya kira, mereka adalah kebanyakan orang-orang yang mempunyai informasi yang jauh lebih banyak dari kebanyakan orang. Mereka yang mempunyai imajinasi yang lebih jauh dari kebanyakan orang. Meskipun orang itu adalah seorang peternak sekalipun, seperti di bawah ini:
“Dalam waktu singkat, para malaikat pencabut nyawa melolong di tengah alam gelap menyebarkan rasa ngeri di hati kami akan datangnya kematian pada para sapi.
Mereka seperti anjing-anjing yang menjadi gila, menggigit ternak tak berdosa hingga menemu ajal,” jerit Sukarya pilu. (Lanang: 25)
Mengapa bahasa peternak Sukarya bisa begitu puitis? Tahukah Anda, peternak sekarang banyak yang berpendidikan sarjana, ataupun kalau tidak, wawasannya banyak yang sudah terbuka. Dan, itulah yang saya jumpai di Novel Lanang, bahwa imajinasi menembus batas-batas status individu atau sosial.
Tema
Dari aspek tema inilah, menurut saya, orang awam dengan sedikit pemahaman tentang dunia-dunia yang tak tampak di permukaan, akan kerepotan membacanya. Jika seseorang yang kurang mempunyai informasi, pemahaman, atau wacana (diskursus) tentang filsafat, politik, dan pengetahuan umum lainnya secara kritis, akan merasa kesulitan menangkap pesan yang terkandung dalam Novel Lanang…
Sebaliknya, cerita ini akan sangat menarik bagi peminat atau pengamat sosial politik serta peminat sastra berat. Untuk itu, segmen pembaca novel ini memang bukan orang-orang awam, atau bukan “anak ingusan”, karena novel ini termasuk, menurut saya, novel berat. “Novel Berat” yang dikemas dalam bahasa yang indah, penuh metafora.
Secara kontekstual dengan kondisi bangsa ini di bidang kedokteran hewan dan peternakan, setelah membaca Novel Lanang kita dapat merasakan kaitannya dengan kondisi peneliti atau dokter/dokter hewan, atau politik kesehatan Indonesia saat ini. Dalam kasus flu burung kita menjumpai penelitian yang tidak tuntas, banyak yang tidak terdeteksi dan ahli-ahli yang asbun (asal bunyi/ asal omong), dan pemerintah yang plin-plan, seperi yang disindir dalam Novel Lanang berikut ini:
Para ahli berteori, kaitan makhluk aneh ini bisa langsung berhubungan dengan babi hutan (…)
“Barangkali babi itu tersesat sampai pucuk gunung, sedangkan jalan untuk kembali ke daratan sangat sulit. Ia bergaul dengan burung-burung rajawali dan burung-burung penyendiri di puncak gunung. Bergaul dan melakukan adaptasi pola hidup. Tumbuh sayap pada tubuhnya.” (Lanang: 191)
Bila kita memahami hal ini, akan dapat terasakan, pesan yang disampaikan penulis betul-betul menggetarkan. Sangat mengerikan bila ternyata kualitas peneliti dan dokter hewan di Indonesia ada yang seperti Lanang dan para ahli itu, baik sebagai ilmuwan atau pribadi, yang membuat hegemoni dari berbagai pihak dapat terjadi padanya secara menggurita, termasuk dari negeri asing.
“Memorandum of Understanding between Nusantara Country with World Animal Health Organization.”
Di bawahnya tertulis:
“Pengendalian Wabah Misterius Penyakit Sapi Perah.”
Dokumen itu dibuka Dewi, ia baca:
“Negara Nusantara menyatakan dan melaporkan kepada Badan Kesehatan Hewan Dunia: Penyebab kematian ribuan sapi perah di negara nasional adalah burung babi hutan. Kasusnya telah tertangani dengan baik, dengan dibunuhnya burung babi hutan oleh dokter hewan Negara Nusantara. Dengan terbunuhnya penyebab penyakit misterius itu, maka wabah telah dapat diatasi dan penyakit sudah tidak muncul lagi.”
…
“Selanjutnya untuk memelihara dan menjaga kondisi sapi-sapi perah pengganti ternak yang telah mati, tetap aman dari serangan penyakit berikutnya, dibutuhkan obat pencegahan yang dicampur dalam pakan ternak untuk dikonsumsi oleh sapi perah secara berkelanjutan pada periode-periode tertentu dari umur sapi. Obat yang direkomendasikan Badan Kesehatan Hewan Dunia dapat diperoleh satu-satunya di Institut Kesejahteraan Total sebagai satu-satunya produsen yang ditunjuk, dengan maksud untuk menghindari kekacauan pengelolaan.” (Lanang: )
Dalam konteks tema ini, bila Novel Lanang adalah sebuah fiksi, untuk menyandingkan dengan buku non fiksi kita dapat menyandingkannya dengan Buku “Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung”, tulisan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).
Dalam buku ini Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1). Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakukan negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung. Fadilah mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.
Untuk memperlancar konspirasi itu, AS memanfaatkan lembaga Namru 2 (Naval Medical Research Unit 2) yang merupakan unit kesehatan angkatan laut Amerika yang berada di Indonesia untuk mengadakan berbagai penelitian mengenai penyakit menular yang hadir di Indonesia sejak 1968. Memang, awalnya Indonesia yang mengundang mereka, tapi kemudian ngotot bertahan di sini. Selama periode tahun 2.000-2005, lembaga ini tetap beroperasi, kendati izinnya sudah habis. Dalam operasinya di Indonesia, NAMRU diberikan banyak sekali kelonggaran, terutama fasilitas kekebalan diplomatik buat semua stafnya; dan izin untuk memasuki seluruh wilayah Indonesia.
Selama ini, semua upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengontrol NAMRU tidak pernah dipublikasikan, sehingga rakyat Indonesia tidak tahu apa-apa. Barulah setelah Menkes menggebrak, keberadaan NAMRU terungkap ke masyarakat luas pada awal 2008. Ketika terbit akhir April 2008 dan diluncurkan Mei 2008, kabarindo.com mengatakan, “Novel ini ditulis dengan gaya thriller, plot cerita novel ini sungguh menegangkan. Karakter tokoh-tokoh pun rumit dan penuh intrik. Dengan pendekatan konspirasi, karya ini menjadi bacaan kritis bagi yang tertarik pada isu-isu social, psikologi, bioteknologi, dan politik kesehatan. Anda tentu masih ingat dengan polemic Namru 2 dan isu virus Flu Burung khan? Sepertinya penulis novel masih terperangkap dengan isyu-isyu tersebut.”
Benarkah Novel Lanang terperangkap isu-isu seperti kata kabarindo.com itu? Untuk kasus flu burung, kelihatannya memang iya, dan diakui pengarangnya memang terilhami kasus ini. Namun untuk kasus Namru, sudah tentu Novel Lanang mendahului terbongkarnya kasus Namru. Sebab Novel Lanang sudah menjadi peserta Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006, dan diumumkan menjadi pemenang pada awal 2007. Sedangkan tadi sudah jelas, terbongkarnya kasus Namru adalah pada awal tahun 2008.
Tak berlebihan bila saya katakan Lanang itu semacam buku primbon untuk menguak misteri Indonesia. Mungkin ini semacam ramalan Jayabaya. Selain, Lanang itu sastra. Sesastra puisi. Sepuisi Indonesia. Se-Indonesia yang misteri. Membaca lanang memang beda dengan logika. Dan, sebagai penutup pengantar perlawanan bahasa dan tema Lanang, bacalah cuplikan ini:
Mobil beranjak.
Jalan sangat menanjak.
Maklum daerah pegunungan.
Perjalanan berliku-liku, dengan setiap tepian adalah jurang terjal.
Ditambah dengan gelap dan kabut.
Kehati-hatian dan kemahiran mengemudi adalah kunci mengarungi samudera malam di pegunungan hitam. (Lanang: 5)
[1] Bedah Buku Novel “Lanang”, karya Yonathan Rahardjo, P.D.S.H.B. Jassin, Taman ismail Marzuki, 30 Juni 2008
[2] Peneliti, Pemerhati Konsep Resistensi, Magister Antropologi Universitas Indonesia
24. Pembaca Novel Lanang | 06/08/2008 at 6:17 pm
oleh:
Juni Eka Prihatini
Pengajar Bahasa Jepang
Novel Lanang adalah Novel bergizi dan mudah dicerna. Mengenyangkan dengan pengetahuan akan sainfuturistik, simbol-simbol filsafat.
Tapi, sebagai perempuan saya sedih dan pedih karena perempuan patah hati/kecewa bagaikan hewan transgenik (otak kancil+monyet yang dicangkok ke kepala singa betina dengan tubuh angsa).
Saya sendiri sangat senang membaca buku dengan beragam tema, fiksi ataupun non-fiksi. membaca Lanang saya merasa ada di antara keduanya. Apakah ada sebagian cerita tersebut merupakan fakta si pengarang dan lingkungan sekitarnya? Pastilah?! Karena Yonathan kan dokter hewan yang nJawani, jago filsafat dan seni dan juga fakta sains tentang hewani (makanya ngerti banget tentang hewan) sains tentang hewan dan manusia (mamalia dan primata). Kebetulan novelnya menyinggung hal-hal yang mengglobal, isu lingkungan dan sebagainya.
Terus terang, saya malas membaca buku dengan bahasa yang berat (apalagi Lanang banyak unsur filsafatnya!). Tapi Novel Lanang beda, bagaikan buku dengan berbagai informasi berat dengan bahasa ringan dan mengalir sehingga saya membaca tanpa putus dengan rasa penasaran dan tak terasa telah tuntas.