Din Saja
07/04/2008
Sumber: Aliansi Sastrawan Aceh
Padang menjadi kota penting dalam awal kehidupan seni din saja yang bernama asli Fachruddin Basyar. Lelaki kelahiran Banda Aceh (31 januari 1959), yang mencukupkan masa pendidikan di sekolah menengah ini, mengenali seni dalam tahun 1980 selama di Padang, Sumatera Barat.
Menurut catatannya, din saja termasuk aktif berkiprah sebagai pekerja teater. Dia membentuk Teater Moeka Padang bersama sejawatnya Rizal Tanjung. Dengan itu dia mementaskan Oedipus Rex (Sophocles), Malin Kundang (wisran Hadi), Isa AS (teater tanpa kata), Malam Terakhir (yukio Mishima), Bantal (adaptasi A.Alin De), naskah-naskah perjuangan serta serta pementasan puisi. Dari data itu saja telah menunjukkan produktivitas diri din saja sebagai pekerja seni.
Selama di Padang puisi-puisi din saja di publikasikan di koran Singgalang, Haluan, Semangan dan SKM Canang. Selama di Banda Aceh sering di publikasikan di Harian Serambi Indonesia.
Setelah berjalan ke Palembang, Jakarta, Bandung, dan Medan, din saja kembali lagi ke Banda Aceh (1988). Di Aceh pun din saja menunjukkan vitalitasnya sebagai seniman. Tetapi din saja meyakini dirinya sebagai penyair barulah dalam tahun 1990, berarti din saja menggunakan masa tempaan yang cukup lama. Begitupun ada puisi-puisinya yang diciptakan sebelum 1990 telah di antologi-bersamakan seperti pada Sang Penyair (ed.Isbedy Stiawan ZS,1985) dan KSA-3 (TBA/KSA,1990).
Dalam 1993 ada empat antologi puisi yang memuat puisi-puisi din saja, yaitu Nafas Tanah Rencong (DKA), Banda Aceh (DCP Production), Lambaian (Deptrans Aceh) dan Sosok (LSA). Pada tahun 1995 terbit antologi pertama din saja berjudul Sirath (LSA). Setelah itu puisi-puisi din saja terdapat pada antologi Seulawah (yys Nusantara), Setengah Abad Indonesia Merdeka (TB Solo) serta beberapa antologi lainnya. Di Banda Aceh din saja membentuk Teater Alam dan Lembaga Seni Aceh (LSA), din saja juga aktif sebagai anggota Dewan Kesenian Aceh (DKA), Lembaga Penulis Aceh (Lempa).
Pada tahun 1993 din saja menemukan jodoh seorang wanita Aceh bernama Cut Sayuniar, dari perkawinannya itu din saja memperoleh 7 orang anak, 1 orang meninggal dunia. Selama di Banda Aceh, din saja bersama Teater Alam juga mementaskan drama dan pertunjukan puisi (MNA).
Entry Filed under: Biografi Sastrawan. .
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1. lidia | 23/06/2008 at 9:22 am
pak din
ternyata lama dipadang jg ya samo sm awak urang padang tapi pak din org aceh y
pgn seh dibuatin puisi lg ama pak din