………..jalansetapak journal

Menjadi Penyair Lagi Acep Zamzam Noor

Buku kumpulan puisi “Menjadi Penyair Lagi”  karya Acep Zamzam Noor terpilih sebagai buku puisi terbaik Khatulistiwa Literary Award yang diumumkan pada 18 Januari lalu di Plaza Senayan Jakarta. Berikut adalah beberapa puisi Acep dari buku tersebut, termasuk puisi yang menjadi judul buku itu yakni Menjadi Penyair Lagi. Puisi-puisi ini saya kutip dari Jurnal Nasional yang memuatnya pada edisi Minggu 27 Januari 2008.  Silakan dinikmati. 

Puisi-puisi Acep Zamzam Noor

Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 27 Jan 2008
MENJADI PENYAIR LAGI

Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai rambutmu
Di lantai keramik yang licin. Aku selalu terkenang kepadamu
Setiap melihat iklan sabun, shampo atau pasta gigi
Atau setiap kali menyaksikan penyanyi dangdut di televisi
Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Bau parfummu yang memabukkan
Tiba-tiba menyalinap lewat pintu kamar mandi
Dan menyerbuku bagaikan baris-baris puisi
Kau tahu, Melva, aku selalu gemetar oleh kata-kata
Sedang bau aneh dari tengkuk, leher dan ketiakmu itu
Telah menjelmakan kata-kata juga

Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Helai-helai rambutmu yang kecoklatan
Kuletakkan dengan hati-hati di atas meja
Bersama kertas, rokok dan segelas kopi. Lalu kutulis puisi
Ketika kurasakan bibirmu masih tersimpan di mulutku
Ketika suaramu masih memenuhi telinga dan pikiranku
Kutulis puisi sambil mengingat-ingat warna sepatu
Celana dalam, kutang serta ikat pinggangmu
Yang dulu kautinggalkan di bawah ranjang
Sebagai ucapan selamat tinggal

Tidak, Melva, penyair tidak sedih karena ditinggalkan
Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:
Misalkan peperangan yang tak henti-hentinya
Pembajakan, pesawat jatuh, banjir atau gempa bumi
Misalkan korupsi yang tak habis-habisnya di negeri ini
Kerusuhan, penjarahan, perkosaan atau semacamnya

O, aku sendirian di sini dan merasa menjadi penyair lagi

1996

DUA PANTAI

Di antara dua pantai. Seperti juga alamat rindu
Tersesatlah kita dalam panjangnya sebuah ciuman
Serta rimbunnya sulur-sulur pohon kenangan:
Tenggelam dalam tahun-tahun yang bergaram
Hanyut dan megap-megap dicumbu kesementaraan

Setangga demi setangga menapaki keagungan upacara
Luput menggapai pangkal kata, menyerah pada debar dada
Kembali merayap dari banjar ke banjar, dari kandang babi
Ke kafe sunyi. Dalam mabuk kita melihat sebuah gambar
Dan nampaklah tubuh-tubuh yang bergelimpangan
Seperti patung-patung yang hangus terbakar

Tertawa karena langit kita masih biru adanya
Perahu masih melaju dalam naungan angin sakal
Dari tenggara. Kita membaca jejak pada kilau ombak
Menenggak arak serta kandungan filsafatnya
Hingga gairah mistik itu kembali membakar udara
Dan tubuh kita menjelma anak-anak panah yang menyala

Di antara dua pantai, seperti juga dermaga cinta
Terkulailah kita dalam letihnya sekian persetubuhan
Serta berlikunya jalan menuju ruang pemujaan:
Ternyata kemesraan masih mempunyai wilayah di bumi
Seperti juga kedalaman hati dengan riak-riaknya yang sopan

1996

TERINGAT LI PO

Siapakah yang melangkah
Meninggalkan jejak gerimis?
Lengkung langit
Sejak semula hanya betah jadi saksi
Yang bisu. Dan angin risik dan daun-daun

Siapakah yang melangkah
Dan bergegas melupakan jejak
Kesedihan? Aku, bayang-bayang dan bulan
Hanya berpandangan. Menunggu. Dan taman lebih bisu
Juga pohon-pohon dan bangku-bangku. Juga waktu

1983

MEDITASI

Angin itu masih duduk-duduk
Di halaman. Merenungi bunga-bunga
Musik hanya lewat
Juga waktu. Angin itu
Seperti abadi. Ketika sunyi
Ketika dingin menggetarkan daun-daun
Membakar ngungun. Gerimis pagi

1983

Filed under: Karya Rekan

9 Responses

  1. zulkifli sy mengatakan:

    selamat buat kang acep atas terpilihnya ‘menjadi penyair lagi’sebagai buku terbaik khatulistiwa literary award,saya sudah khatam membacanya,dan penghargaan itu memang layak untuk akang.sukses terus !

  2. Abi A. Ramdhani mengatakan:

    selamat ya A, ternyata saya gak salah memilih kumpulan puisi AA sebagai inspirasi bagi puisi-puisi saya. selamat “menjadi penyair lagi”!

  3. Ahmad Baequni mengatakan:

    meskipun terlambat memberikan selamat, sebagai pecinta puisi, saya bangga terhadap karya-karya kang Acep. puisi-puisi kang Acep mungkin lebih bisa saya nikmati dengan cara mendengarkan. karena dengan dibacakan, ‘ruh” dalam puisi Acep Zamzam Noor lebih “menghidupkan” imaji saya pribadi. sehingga pantas “menjadi penyair lagi” mendapatkan penghargaan sebagaimana semestinya. saya pribadi sangat meyayangkan sikap penghargaan negara ini terhadap karya puisi anak bangsa. tapi jalan terus! masa bodo dengan Indonesia. kita bangun kerajaan penyair sendiri !!!

  4. zaky mubarok mengatakan:

    ikutan mengucapkan selamat buat guruku kang acep, meskipun tidak berguru langsung, aku banyak belajar menulis puisi atas inspirasi dari sajak-sajak beliau semasa aku masih di Cipasung, sampai sekarang aku masih menulis puisi meski hanya jadi larik-larik basi.

  5. Abdul Mugni mengatakan:

    Selamat kepada guruku kang Acep zam-zam noer,puisinya sangat menggairahkanku,heeee

  6. ndutholigan@yahoo.co.id mengatakan:

    akang memang mempersembahkan hidup untuk menjadi penyair sukses kang kita dengarkan pada duni bahwa sang penyair tidak akan sakit bila akhirnya selalu di khianati

  7. afan dinata mengatakan:

    ikutan bergabung dengan blog jalan setapak

  8. algifari mengatakan:

    puisi adalah penggerak jiwa yang tak lepas dari kehidupan

  9. arie anggara r mengatakan:

    uluwatu dan venezia menyentuh hatiku

Leave a Reply

http://novelweton.co.cc
Mempertanyakan Weton

Judul Buku: Weton (Bukan Salah Hari)

Penulis: Dianing Widya Yudhistira

Penerbit: Grasindo, 2009

Dalam masyarakat Jawa, weton adalah sesuatu yang berkaitan dengan hari lahir. Setiap nama hari (Senin-Minggu) dalam kalender Jawa memiliki pasangannya, yakni Wage, Pon, Legi, Kliwon, dan Pahing. Dalam sejumlah peristiwa sosial, weton memegang peranan penting. Misalnya soal perkawinan. Jika seseorang menikah dengan pasangan yang hari lahirnya secara weton tidak bagus, dipercaya ia akan menemui banyak masalah dalam keluarga nanti.

Novel terbaru karya Dianing Widya Yudhistira ini dengan baik mengangkat persoalan itu. Ada tokoh-tokoh yang menikah dengan weton yang tidak cocok, yang kemudian berakibat buruk. Tapi tidak semua orang percaya pada weton. Novel ini menyajikan pertentangan itu: antara yang percaya dan yang tidak. Dan bagi yang tidak percaya, tentu, ada konsekuensinya. Apa itu? Inilah yang dijawab satu per satu dalam novel ini.

Ini novel keempat Dianing, yang juga dikenal sebagai penyair dan penulis cerpen. Novel pertamanya, Sintren (Grasindo, 2007), juga mengangkat persoalan lokal di Jawa, yakni tari Sintren, dan masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2007. Novel lainnya, Perempuan Mencari Tuhan (Republika, 2007) dan Nawang (Republika, 2009). l DODY

Sumber: Koran Tempo, 18 Oktober 2009

-----------
Buku ini sudah bisa diperoleh di toko-toko buku Gramedia dan toko buku lain, juga di toko buku online seperti http://www.bukabuku.com, http://www.dinamikaebooks.com, http://bukukita.com, dan lain-lain. Bisa pula langsung ke penerbit Grasindo di http://www.grasindo.co.id. Untuk mengetahui lebih jauh tentang novel ini atau proses kreatif penulisannya silakan mengunjungi web http://novelweton.co.cc