………..jalansetapak journal

Lamlagang

kau mengirim parcel: sepotong langit, belahan apel, dan
potongan aspal jalan Seulawah
selamat menulis kota besar, katamu, awas ada donat mirip mataku
di iklan-iklan yang kau temukan

aku memang menemukan donat itu, seperti bola plastik
ditendang dari satu gawang ke gawang lain,
seperti musik ditinggal pergi: hari-hari suntuk dan
jam malam tak beringsut

kembali kucari-cari parcel itu: kini telah berganti
traktor, sepatu lars, dan anak kecil yang menangis
merentang sepanjang peta, tanpa sempat kita beri tanda
banyak orang pergi, menggigil di tepi

seperti aku, terperangkap hujan dan tangis banyak orang
mengusap-usap mata pedih dan hati letih
mengingatmu: perempuan-perempuan yang menulis
nasib di unjung rambut, dengan wajah kusut

sepotong langit, belahan apel, dan potongan
aspal jalan Seulawah: betapa hijaunya kenangan

Pamulang, 5 Januari 2004

Catatan:
Jalan Seulawah, nama sebuah jalan di kota Banda Aceh

Filed under: Puisi

One Response

  1. Mr WordPress mengatakan:

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Leave a Reply

http://novelweton.co.cc
Mempertanyakan Weton

Judul Buku: Weton (Bukan Salah Hari)

Penulis: Dianing Widya Yudhistira

Penerbit: Grasindo, 2009

Dalam masyarakat Jawa, weton adalah sesuatu yang berkaitan dengan hari lahir. Setiap nama hari (Senin-Minggu) dalam kalender Jawa memiliki pasangannya, yakni Wage, Pon, Legi, Kliwon, dan Pahing. Dalam sejumlah peristiwa sosial, weton memegang peranan penting. Misalnya soal perkawinan. Jika seseorang menikah dengan pasangan yang hari lahirnya secara weton tidak bagus, dipercaya ia akan menemui banyak masalah dalam keluarga nanti.

Novel terbaru karya Dianing Widya Yudhistira ini dengan baik mengangkat persoalan itu. Ada tokoh-tokoh yang menikah dengan weton yang tidak cocok, yang kemudian berakibat buruk. Tapi tidak semua orang percaya pada weton. Novel ini menyajikan pertentangan itu: antara yang percaya dan yang tidak. Dan bagi yang tidak percaya, tentu, ada konsekuensinya. Apa itu? Inilah yang dijawab satu per satu dalam novel ini.

Ini novel keempat Dianing, yang juga dikenal sebagai penyair dan penulis cerpen. Novel pertamanya, Sintren (Grasindo, 2007), juga mengangkat persoalan lokal di Jawa, yakni tari Sintren, dan masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2007. Novel lainnya, Perempuan Mencari Tuhan (Republika, 2007) dan Nawang (Republika, 2009). l DODY

Sumber: Koran Tempo, 18 Oktober 2009

-----------
Buku ini sudah bisa diperoleh di toko-toko buku Gramedia dan toko buku lain, juga di toko buku online seperti http://www.bukabuku.com, http://www.dinamikaebooks.com, http://bukukita.com, dan lain-lain. Bisa pula langsung ke penerbit Grasindo di http://www.grasindo.co.id. Untuk mengetahui lebih jauh tentang novel ini atau proses kreatif penulisannya silakan mengunjungi web http://novelweton.co.cc